DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 158


__ADS_3

Sore hari Ella pergi ke perusahaan Vano. Sesuai rencana, Ella akan menemani Vano menghadiri acara bersama para pengusaha muda yang di adakan di sebuah gedung.


"Makasih Han, udah nganterin." ucap Ella. Karena Ella akan berangkat ke acara bersama dengan naik mobil Vano. Sementara mobil Ella akan di bawa oleh Hana.


"Ini kan mobil elo." ucap Hana.


"Ya tetap saja gue ngrepotin elo. Gue masuk dulu." pamit Ella saat dirinya ingin masuk ke dalam perusahaan sang suami.


"Oke. Hati-hati!!" teriak Hana dari dalam mobil. Ella hanya melambaikan tangan menanggapi teriakan sahabatnya tanpa membalikkan badan.


"Selamat datang Nyonya." ucap keamanan yang bertugas di depan pintu perusahaan.


"Makasih pak, mari." sahut Ella.


"Mbakk,,, Vano ada?" tanya Ella pada resepsionis.


"Nyonya Ella. Ada. Beliau sedang di ruangannya." jawabnya dengan sopan. "Sebentar, saya panggilan keamanan untuk mengantar Nyonya." tawarnya.


"Tidak perlu, saya akan ke sana sendiri." tolak Ella halus.


"Baiklah, silahkan Nyonya." Ella melangkah pergi meninggalkan tempat resepsionis. Padahal Ella bisa saja langsung menuju ruangan Vano.


Tapi dirinya tetap seperti sebelumnya, sebelum menjadi istri Vano. Dia akan selalu bertanya pada resepsionis.


Dan ini pertama kalinya Ella datang ke perusahaan Vano setelah dirinya menyandang status sebagai istri dari pengusaha muda dan sukses tersebut.


Ella beberapa kali berpapasan dengan karyawan di perusahaan sang suami. Dan dia selalu tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala ketika ada yang menyapanya.


"Suami saya ada?" tanya Ella pada sekertaris Vano yang tengah sibuk dengan lembar-lembar kertas di atas meja.


Segera Imey bangun dari duduknya, mengetahui siapa yang datang. "Nyonya. Ada, Tuan Vano ada di dalam." ucapnya sambil tersenyum.


Dan Ella tahu betul jika senyum yang merekah di bibir Imey, hanyalah senyum palsu. "Tidak perlu tersenyum, kalau terpaksa." sindir Ella meninggalkan meja sang sekertaris.


Imey memandang Ella dengan penuh benci. "Sekarang elo bisa senyum. Pasti kalau Vano ninggalin elo, elo nangis kejer." ucap Imey meremas kertas di atas meja.


"Kamu yang akan nangis kejer kalau sampai berkas itu rusak." ujar Reza yang ternyata sudah berdiri di samping meja kerja Imey.


Segera Imey melepaskan tangannya. Dan menunduk. "Kerja yang benar, jika tidak ingin di pecat." ucap Reza dengan nada ancaman.

__ADS_1


Imey hanya diam dan menundukkan kepala, tidak ada niat untuk menjawab perkataan Reza. "Asisten brengsek." umpat Imey lirih saat Reza sudah meninggalkan mejanya.


Perlahan Ella membuka pintu ruangan Vano. Dirinya ingin membuat Vano kaget. "Kok nggak ada." ucap Ella saat dirinya masih berada di ambang pintu, melihat kursi sang suami kosong.


"Kata karyawannya tadi ada di ruangannya. Kelayapan ke mana tu orang." Ella melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam ruangan Vano.


"Aaa...." teriak Ella kaget saat lengan kekar memeluk pinggangnya dari belakang dan sedikit mengangkat tubuhnya. Hingga beberapa paper bag yang di bawanya terjatuh ke lantai. "Vanooo....!!! seru Ella.


"Usil banget sih. Nggak lucu." Ella melepas lengan sang suami dan mengubah posisinya.


Niat hati ingin membuat kaget sanga suami, malah dirinya sendiri yang terkejut karena aksi dari Vano.


"Astaga,,,, dia kira ini hutan. Teriak-teriak." omel Imey dengan cemberut mendengar teriakan dari Ella. Lagi pula suka-suka Ella, ini perusahaan suaminya.


"Kok tahu, aku datang?" tanya Ella dengan mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Apasih yang aku nggak tahu soal kamu." Vano menggesek-gesekkan hidungnya pada hidung sang istri.


"Astaga." segera Ella menjauhkan tubuhnya dari tubuh sang suami. Di ambilnya paper bag yang tergolek di lantai.


"Aduhhh,,, kamu sih sayang. Jadi jatuh." Ella menaruhnya di kursi panjang dan empuk yang berada di dalam ruangan Vano.


"Iya. Pakaian kita." ucap Ella.


"Kita?" tanya Vano.


"Katanya mau pergi ke acara. Nggak mungkinkan aku pakai baju ini. Dan kamu juga. Masa mau pakai ini." tunjuk Ella pada tubuh Vano.


"Emm,,, tapi aku sudah ada baju ganti." jelas Vano. Lantaran Vano selalu menyiapkan pakaian ganti di ruangannya. Untuk jaga-jaga. Seperti sekarang ini.


"Aku tahu. Tapi nanti warnanya gak serasi sama milik aku. Makanya aku belikan."


"Iya, terserah. Aku nurut saja." ucap Vano pasrah.


"Sayang, boleh nggak aku minta sesuatu." Ella merapatkan duduknya di samping Vano.


"Bisa tidak jika Hana bekerja di sini. Kamu ajari dia tantang bisnis." Ella memegang lengan Vano dengan manik mata mengharap.


"Jika dia bekerja di sini, lalu bagaimana dengan kamu?"

__ADS_1


"Sekarang aku kan nggak terlalu sibuk." ucap Ella beralasan.


"Nggak bisa sayang, mau aku taruh di mana? Lagi pula perusahaan sedang tidak ada perekrutan karyawan." ucap Vano mencari alasan.


"Jika tiba-tiba aku memasukkan Hana, pasti karyawan lain akan bertanya-tanya. Dan takutnya malah mereka akan membuat Hana tertekan bekerja di sini." ucap Vano.


Tidak mungkin Vano mau menerima Hana untuk bekerja di perusahaannya. Yang artinya dia akan melihat wajah Hana setiap hari. Dan berinteraksi dengannya.


Bukannya Vano memiliki rasa suka atau tertarik dengan Hana, tapi Vano lebih baik menjaga jarak dengan Hana setelah kejadian malam itu. Toh, sejak awal dia dan Hana memang tidak akrab.


Dan yang Vano takutkan. Semakin sering mereka bertemu, akan semakin besar pula kemungkinan jika kejadian malam itu akan terbongkar. Dan Vano tidak ingin jika sampai Ella mengetahuinya. Yang artinya, pasti Ella akan meninggalkannya.


"Hana hanya lulusan SMA. Posisi yang dapat dia duduki posisi apa coba. Dan lagi, apa otak Hana akan mampu berpikir. Kamu tahu sendiri, jika bisnis memerlukan otak yang cerdas." jelas Vano lantaran asisten Ella tersebut memang pernah mengeyam pendidikan di universitas, tapi tidak lebih dari satu tahun.


Lantaran Hana terbentur masalah keuangan. Dan saat itu, Hana dan Ella masih belum terlalu kenal dan akrab.


"Iya juga sih." Ella mengalihkan pandangannya. Dirinya mengerti kenapa sang suami berkata demikian. Lantaran dirinya juga pernah kuliah di salah satu universitas ternama di negara ini, mengambil jurusan bisnis. Dan Ella mendapat nilai terbaik saat kelulusan.


"Memang kamu siap mengambil alih perusahaan papa Haris?" tebak Vano lantaran menyuruh Hana belajar bisnis.


"Belum, lagian nggak ada sangkut pautnya antara aku nyuruh Hana belajar bisnis sama kesiapan aku mengambil alih perusahaan papa." jelas Ella.


"Aku kira kamu sudah siap mengambil alih perusahaan papa. Makanya kamu suruh Hana belajar bisnis." ujar Vano.


"Sayang..." Ella memeluk tubuh Vano dari samping dengan manja.


"Kasihan Hana. Kelihatannya mamanya Denis kurang suka dengan dia." Ella menatap wajah sang suami dari samping.


Ella mencium pipi Vano. "Kamu tahu sendirikan, bagaimana sifat mamanya Denis. Pasti dia kan menyuruh Denis mencari pendamping yang sesuai kriteria keluarganya." curhat Ella.


Apalagi mamanya Denis pernah bercanda jika dirinya menginginkan menantu seperti dirinya. Tapi saat itu Ella sudah menjadi kekasih dari Vano.


Vano mengambil nafas dalam-dalam. Melepaskan pelukan Ella. Dan memegang kedua pundak sang istri. "Aku harap, kamu jangan terlalu jauh mencampuri urusan mereka. Takutnya jika keluarga Denis tidak senang. Apalagi selama ini keluarga Denis dan keluarga kamu sangat dekat." ucap Vano mengingatkan.


"Iya, aku tahu. Tidak mungkin aku bilang sama mamanya Denis secara langsung untuk menerima Hana. Pasti percuma. Dan malah, hubungan keluarga kita akan renggang." ucap Ella.


"Satu-satunya cara adalah, bagaimana Hana bisa di terima oleh keluarganya Denis. Dan sekarang aku sedang memikirkan itu. Kamu tahukan, aku dan Hana bukan hanya sekedar sebatas asisten dan atasan. Tapi kami sudah seperti saudara." imbuh Ella.


"Baiklah. Tapi ingat. Jangan terlalu di paksakan. Karena sesuatu yang dipaksakan, pasti akan berakhir tidak baik." ucap Vano.

__ADS_1


"Ya ampunnn,,,, suamiku kok pintar banget sih. Kata-katanya itu loh." Ella mencubit gemas kedua pipi Vano hingga mulutnya melebar.


__ADS_2