
"Papa tidak di undang ma?" tanya Ella.
"Di undang, tapi papa tidak bisa datang. Asistennya yang akan mewakilinya." jelas sang mama.
"Loh kenapa ma?"
"Kata papa, ada temannya yang sedang kesusahan. Dan saat ini papa sedang membantu temannya tersebut." ungkap sang mama.
"Sudah, jangan banyak tanya. Lebih baik kamu segera bersiap. Nanti keduluan Vano. Kasihan jika dia harus menunggu." ucap sang mama.
Ella segera meninggalkan mamanya dan pergi ke dalam kamarnya. "Temannya. Berduka." gumam Ella melepaskan pakaian yang menempel pada tubuhnya.
"Morgan." batin Ella. Dirinya mendapat kabar jika Morgan di makamkan malam ini. Hanya ada kerabat terdekat yang menghadiri pemakamannya.
Entah bagaimana Tuan Haris membawa Morgan kepada keluarganya. Apalagi Morgan meninggal dengan luka tembak di dadanya. Ella tersenyum, dirinya tidak ambil pusing soal Morgan. Yang terpenting parasit itu sudah lenyap.
Untuk sang papa. Jika Tuan Haris akan bertanya pada dirinya. Dengan senang hati Ella akan menjawab dengan jujur. Mana mungkin sang papa akan marah.
Lagi pula sekarang tua bangka itu sudah berada di dalam tanah. Dan tidak mungkin akan hidup kembali. Memang zombie.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana? Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Tuan Haris pada asistennya. Yang beliau suruh untuk menyelidiki penembak yang telah menghabisi nyawa Morgan.
"Tidak ada Tuan. Bahkan CCTV di markas Nona Ella tidak memperlihatkan sesuatu yang aneh." jelasnya.
"Apa mungkin Vano." tebak Tuan Danto. Keduanya saling melempar tatapan.
"Kamu yakin?" tanya Tuan Haris.
"Yakin Tuan." Tuan Haris mengibaskan telapak tangannya, menyuruh asistennya meninggalkan ruangan.
"Vano dan Ella. Bisa jadi mereka berdua." tebak Tuan Danto.
"Ella, apa mungkin dia. Tapi selama ini aku sudah menyuruh Haki untuk terus berada di sisinya. Mengawasi setiap gerakannya."
"Haki. Apa kamu masih percaya pada Haki. Singgasanamu sudah di duduki Ella. Begitu juga diriku. Vano melanjutkan apa yang sudah aku tanam." ucap Tuan Danto, seketika Tuan Haris merasa ragu dengan Paman Haki.
"Entahlah, apalagi putriku ternyata melebihi apa yang aku duga. Sekarang aku sedang berpikir. Siapapun yang menembak Morgan, pasti bukan orang sembarangan. Dia sangat terlatih." Tuan Haris mengingat bagiamana Morgan meregang nyawa tepat di pelukannya.
"Kurasa perkataanmu benar. Pasti Vano atau Ella yang melakukannya. Tidak mungkin dengan mudah ada penyusup yang masuk ke dalam markas." Tuan Haris mencubit pangkal hidungnya.
"Sudahlah." Tuan Danto menepuk pelan pundak sahabatnya tersebut.
__ADS_1
"Jangan salahkan anak-anak jika mereka yang melakukan. Mereka pantas marah dengan apa yang di lakukan Morgan." imbuh Tuan Danto.
"Aku tidak akan marah pada mereka. Hanya sedikit kecewa. Apalagi Morgan meninggal dengan kesalahpahaman di antara kita." ungkap Tuan Haris.
"Takdir Morgan memang seperti itu."
"Sepertinya aku harus bertanya pada mereka." ujar Tuan Haris memutuskan, dari pada dirinya terus merasa penasaran. Tuan Dantopun setuju dengan apa yang di katakan sahabatnya sekaligus besannya tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Van, kenapa kamu diam saja?" tanya Ella pada suaminya yang sedang mengemudi mobil.
"Kenapa kamu pakai baju seperti itu?" bukannya menjawab pertanyaan dari sang istri, Vano malah balik bertanya.
"Ternyata sola baju." batin Ella melihat ke tubuhnya sendiri.
"Maaf." ucap Ella lirih, Vano melirik ke arah Ella.
"Aku tidak menemukan gaun pesta yang tepat di rumah mama. Sebagian besar pakaianku sudah dipindahkan ke rumah kita." ucap Ella dengan tatapan sendu.
Ella berpikir jika Vano malu mengajak Ella pergi ke acara tersebut. Lantaran Ella hanya memakai gaun yang menurut Ella sangat sederhana.
Vano melirik ke arah istrinya, tersenyum dan menggelengkan kepala pelan. Menghentikan laju mobilnya dan menepi.
Ella memandang Vano dengan tatapan penuh pertanyaan. Pandangan polos dan menggemaskan di mata sang suami.
"Kamu terlalu seksi malam ini sayang." ucap Vano lirih. Matanya memindai tubuh Ella, seperti menelanjangi badan seksi milik sang istri.
"Gombal." Ella menarik tangannya dan memukul pelan dada bidang milik Vano. Entah kenapa, Ella masih saja merasa malu saat Vano berkata manis atau menggoda dirinya.
"Di sana, jangan pernah berani melepaskan tanganmu dari lenganku." ucap Vano, memandang Ella dengan menyiratkan sebuah ancaman. Dan dengan pelan Ella mengangguk.
Ella datang dengan gaun malam berwarna hitam yang tertutup. Namun cukup menunjukkan lekuk tubuhnya yang sempurna. Tak lupa Ella menempelkan asesoris pemberian sang suami di bagian dada, kiri atas.
Rambut semburat berwarna merah yang di gerai, dengan diikat setengah dengan pita hitam. Membuat wajah Ella semakin bertambah cantik dan menggemaskan. Seperti kucing kecil yang ingin di sayang.
Ella seperti seorang dewi malam ini. Dengan berpakaian sederhana, namun mampu menghipnotis banyak mata. Terutama kaum adam yang pastinya akan memandangnya seperti singa lapar.
Ella menyimpan tangannya di balik siku pria yang datang bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Vano. Sang suami.
Dia menggunakan jas berwarna hitam yang di rancang hanya tiga puluh lima saja setiap tahunnya. Dengan badan tegap dan maskulin. Rahang tegas, dengan hidung menjulang mancung melebihi bibir.
Wajahnya seperti pahatan patung dewa Yunani. Sangat sempurna tidak ada cela. Membuat kaum hawa bahkan rela merangkak naik ke atas ranjangnya.
__ADS_1
Sontak keduanya langsung menjadi pusat perhatian begitu masuk ke dalam ruang acara. Ella dengan senyum di wajahnya. Dan Vano, seperti biasa tatapan tanpa ekspresi berada di wajahnya.
Dengan langkah pasti, tanpa menghiraukan pandangan para tamu yang lain. Keduanya melangkahkan kaki menghampiri pemilik acara.
"Tuan Vano, Nyonya Ella. Selamat datang. Terimakasih sudah berkenan hadir." ucapnya, bergantian menjabat tangan Vano dan Ella.
"Sama-sama. Selamat. Semoga perusahaan anda semakin sukses." ujar Vano.
Mata Ella bertatapan dengan seorang gadis perempuan di sebelah Tuan Boran, penyelenggara acara. Segera Ella mengalihkan pandangannya. Memutus kontak mata dengan gadis tersebut.
"Dan juga, kita akan lebih dekat ke depannya. Bukankah proyek bersama kita masih banyak." ucapnya, dibalas anggukan kecil oleh Vano.
"Maaf, kenalkan. Dia putri saya." ucapnya mengenalkan anaknya, yang tidak jauh berdiri di sampingnya.
"Selin." ucapnya menyebutkan namanya dengan tangan mengulur ke arah Vano.
Vano menerima uluran tangan perempuan yang bernama Selin dan segera menariknya. Tanpa menyebutkan namannya kembali.
Ella hanya diam. Dirinya juga tidak berniat untuk bersalaman dengan Selin. Gadis bar-bar yang beberapa waktu lalu mempunyai masalah dengannya.
"Maaf, sepertinya istri saya sedikit capek." ucap Vano, yang sepertinya mengerti dengan mood Ella.
"Silahkan." ucapnya mempersilahkan Ella dan Vano untuk mencari tempat duduk.
Vano mengajak Ella bergabung dengan beberapa rekan kerja sekaligus temannya. Duduk di depan meja yang berbentuk melingkar.
"Gue pikir elo nggak datang." ucap Dami, yang juga ada di tempat tersebut. Bersama dengan Ibra. Vano hanya tersenyum menanggapi perkataan Dami.
Vano menggeser sedikit tempat duduknya. Mendekat ke arah sang istri. "Mau minum apa?" tanya Vano lembut.
Sontak perlakuan Vano pada Ella mendapat perhatian dari orang di sekitarnya. Ada yang memandang kagum, tapi ada juga yang memandang heran.
Bahkan sebagian dari mereka berpikir keduanya hanya menjaga pandangan orang terhadap mereka.
Ella memandang Vano, seperti sedang berpikir. Bola matanya bergerak lucu. Menggigit ujung-ujung kukunya. Vano segera menurunkan tangan Ella. Karena Ella terlihat cantik dengan kepolosannya.
"Terserah." ucap Ella, mengeluarkan kata yang membuat sebagian kaum adam merasa bingung. Bahkan Vano sekalipun.
Vano menegakkan kembali tubuhnya. Melirik ke arah Ella yang masih memandangnya.
"Huffttt... senjata wanita. Kata terserah. Membuat pria akan serba salah." gumam Vano masih terdengar di telinga sang istri.
Segera Vano berdiri dan mengambilkan makanan serta minuman untuk belahan hatinya. Ella tersenyum lebar saat Vano sudah berjalan meninggalkan meja mereka.
__ADS_1