DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 121


__ADS_3

"Bu..." suara panggilan Hana, membuat bu Ningsih mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ella.


Hana keluar dari kamar dan melihat ibunya menggenggam ponsel. Seperti ingin menghubungi seseorang.


"Maaf, ibu khawatir. Makanya ibu mau menelpon Non Ella." ucap Bu Ningsih.


Beruntung Hana segera keluar dan membuat ibunya tidak jadi menghubungi Ella. Bayangkan saja jika bu Ningsih bertanya pada Ella.


Melihat ibunya yang khawatir Hana pun bercerita. Meski semua ceritanya adalah sebuah kebohongan. Paling tidak sang ibu tidak khawatir lagi.


Dan Ella tidak akan tahu yang sebenarnya. "Bu, Hana mau cerita sama ibu. Tapi jangan menghubungi Ella." Hana duduk dan bersender di badan bu Ningsih.


"Bu, semalam kami bertengkar." Hana menghembuskan nafas. Menjeda perkataannya.


"Ini semua salah Hana. Hana lupa jika sebentar lagi Ella akan menikah." Hana menarik diri dari pelukan sang ibu.


Bu Ningsih menatap anaknya. Dengan sabar beliau menunggu setiap perkataan yang akan keluar dari mulut Hana. "Hana menerima job pemotretan. Sehari sebelum Ella menikah." ucap Hana sambil menangis.


"Husss,,,, jangan menangis sayang." bu Ningsih menghapus air mata di pipi Hana.


"Apa perlu ibu yang bicara dengan Non Ella." tawar Bu Ningsih.


Hana menggelengkan kepala pelan. "Baru saja Ella menelpon Hana. Kami akan berbicara dengan pihak penyewa jasa Ella. Kelihatannya Ella sudah tidak marah lagi." Hana tersenyum. Meskipun semuanya hanyalah kepura-puraan.


"Syukurlah, ibu senang mendengarnya. Kamu sedikit-sedikit jangan menangis, jangan di ambil hati omongan Non Ella. Sebenarnya dia itu anak yang baik. Tapi mungkin dia sedang capek. Dan kecewa sama kamu."


"Buktinya saja sampai sekarang ibu masih sering di kirimi uang sama Non Ella. Meskipun sudah ibu tolak. Tapi tetap saja. Non Ella tetap kekeh. Bahkan Tuan Haris dan Nyonya Ane juga sangat sayang sama kamu. Sama adik kamu juga. Arik."


"Semua biaya sekolah SMA, bahkan sampai kuliah. Mereka semua yang tanggung. Arik juga bercerita, dia sering di suruh mampir ke kantor Tuan Haris. Ternyata beliau memberi uang saku pada adikmu."


"Bu,, bagaimana jika ibu tahu kejadian semalam. Pasti ibu sangat kecewa. Tapi tenang saja bu. Semua akan tetap seperti sebelumnya." batin Hana.


"Tapi Hana minta sama ibu, jangan bilang jika Hana menangis. Dan Hana cerita sama ibu." ujar Hana.


"Nanti jika Ella nggak marah lagi, pasti Hana akan di ejek. Ibu tahukan Ella itu bagaimana." rajuk Hana.


"Kalian ini. Tidak kamu, tidak Ella. Sama saja. Padahal kalian sudah dewasa, sudah besar." bu Ningsih memeluk Hana.


"Kita harus bersyukur sayang, di pertemukan dengan keluarga seperti mereka. Semuanya orang baik. Dan kita harus membalas kebaikan mereka." ujar bu Ningsih.


"Pasti bu. Semua ada pada tempatnya." batin Hana.


"Jangan lupa, pakai kaca mata." ucap Bu Ningsih mengingatkan sang putri yang hendak meninggalkan rumah.


Vano menyuruh seseorang untuk menjemput Hana. Dan untuk Ella, Vano menyuruh seseorang untuk mengawasinya.


"Apakah sudah siap?" tanya Vano pada tiga orang dokter di sebuah ruangan.


"Siap Tuan." jawabnya serempak.

__ADS_1


Hana memandang seluruh ruangan. Dimana di sana banyak sekali alat medis. Dan juga ada tiga orang berpakaian seperti dokter. Dan Hana yakin, mereka memang dokter sungguhan.


"Kamu harus membersihkan rahimmu. Jangan sampai benih ku tertinggal di dalam." ucap Vano.


Kini Hana mulai mengerti mengapa Vano menyuruhnya datang ke tempat ini. "Baik." ucap Hana menyetujui permintaan dari Vano.


"Aku yakin, inilah yang terbaik. Semua ada tempatnya Han." batin Hana.


"Jelaskan." pinta Vano pada dokter dia depannya.


"Nona akan kami bius. Jadi nanti tidak terlalu sakit. Tapi kemungkinan biusnya akan bekerja hingga malam." jelas dokter, memberitahu jika Hana akan sadar malam hari.


"Tapi setelah semua proses ini selesai, Nona harus di rawat. Sekitar dua hari. Karena jika Nona melakukan aktifitas seperti biasa, di takutkan akan terjadi pendarahan." Hana memandang ke arah Vano.


"Semua sudah aku urus." ucap Vano membuat Hana tersenyum lega.


"Bilang pada Ella jika kamu kecapekan, jika dia datang ke sini." ucap Vano sambil meminta ponsel milik Hana.


Vano keluar dari ruangan saat Hana melakukan pembersihan ****** dari dalam rahim. Kini Vano memegang ponsel Hana.


Memberitahu bahwa Hana sedang di rumah sakit. Dan meminta untuk merahasiakan pada ibunya, tentang keberadaannya.


Vano juga meminta pada dokter yang merawat Hana untuk membuka semua obat yang Hana konsumsi, dan di taruh di wadah lain. Seperti layaknya vitamin.


"Baik Tuan, saya akan memastikan semuanya berjalan seperti yang Tuan inginkan." ucap Dokter dengan sopan. Mana mungkin sang Dokter berani membantah perkataan Vano. Jika berani membantah, berarti dia juga berani menerima resikonya.


Mungkin saja di pecat dari rumah sakit tersebut. Dan yang lebih parah, kehilangan sertifikat sebagai seorang dokter. Yang artinya tidak bisa bekerja lagi di bidang kesehatan. Dimanapun tempatnya.


Beberapa jam kemudian, Ella datang ke ruangan Hana. Ternyata di dalam dokter sedang memeriksa Hana. "Non Ella, teman anda hanya kecapekan. Tapi kami terpaksa memberi obat bius dosis rendah. Karena pasien sulit untuk tidur." jelas sang dokter.


"Terimakasih dok." ucap Ella ramah.


"Maaf, kira-kira berapa lama Hana akan opname?"


"Sekitar dua hari. Tapi jika kondisinya belum membaik. Bisa lebih dari dua hari."


"Baiklah." Ella menatap nanar pada tubuh Hana yang terbaring tidak sadarkan diri.


"Permisi Non, bagaimana dengan administrasi pasien atas nama Hana?" tanyanya dengan ramah. Vano memang sengaja tidak membayar sepeserpun biaya rumah sakit Hana. Dirinya tidak ingin Ella mengetahui rencananya.


"Maaf, saya yang akan membayar semuanya. Bisa minta tolong." Ella menyerahkan sebuah kartu ajaib pada perawatan tersebut.


"Dengan senang hati." ucapnya mengambil kartu ajaib yang di sodorkan Ella.


"Apa Denis sudah tahu." Ella berencana memberitahu Denis. "Tapi, Hana tadi bilang jangan memberitahu ibu. Kemungkinan besar, Denis juga belum tahu." batin Ella mengurungkan niatnya memberitahu Denis.


"Sebaiknya gue telpon ibu. Bilang jika Hana malam ini menginap di apartemen gue, sampai beberapa hari ke depan." Ella mencari nomor bu Ningsih dan memberitahu pada beliau, jika mereka berdua menginap di apartemen Ella.


"Bangun Han, maaf. Gue nggak tahu jika elo down. Kenapa elo nggak bilang." Ella berbicara sendiri saat Hana masih belum sadar.

__ADS_1


Ella yang juga lelah karena seharian tidak beristirahat, tertidur dengan posisi duduk di samping Hana.


"Ella,,,," gumam Hana saat dirinya sudah membuka mata dan mendapati Ella tertidur dengan posisi duduk di sampingnya. Hana tersenyum melihat Ella begitu peduli terhadap dirinya.


"Mana mungkin aku tega melukai perempuan sebaik kamu." batin Hana.


"Elll..." Hana mencoba membangunkan Hana.


"Han,, syukurlah. Elo sudah sadar. Kenapa elo nggak bilang jika elo capek. Kenapa elo nggak minta istirahat. Pantas elo di telpon begitu sulit. Kenapa sendirian datang ke rumah sakit. Kalau terjadi apa-apa di jalan bagaimana?"


Hana tersenyum samar mendengar rentetan pertanyaan dari Ella. "Elll..."


"Sudah jangan bicara dulu. Lihat, kamu masih lemas. Astaga, gue merasa bersalah. Elo sampai segininya." ucap Ella merasa bersalah.


"Oh iya, elo pasti lapar kan. Mau makan apa?"


"Kepengen yang hangat dan lembut." ucap Hana pelan.


"Bubur. Mau?" tawar Ella. Hana mengangguk pelan.


Dua hari Hana di rawat di rumah sakit. Dan selama itu, Ella yang menjaga dan merawat Hana. Karena Ella sudah tidak ada jadwal pemotretan lagi sampai acara pernikahan.


Tidak lupa Ella juga memberitahu Vano jika dirinya merawat Hana di rumah sakit. Ella begitu senang saat Vano mau mengerti tentang kondisi Hana. Dan mengizinkan Ella merawat Hana. Padahal,,,,,,, 😏😏


Tapi Ella tidak memberitahu mamanya jika Hana berada di rumah sakit. Karena Hana melarangnya. Alhasil, Ella berbohong jika mereka masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah mengontrak Ella.


Dan Denis, beruntung bagi Hana. Karena Denis berada di luar kota sampai beberapa hari ke depan, karena ada pekerjaan di sana. Sehingga Hana tidak perlu berbohong pada Denis.


Pulang dari rumah sakit, Ella membawa Hana ke apartemennya. Ella menginginkan Hana benar-benar pulih seperti semula. "Han,, gue keluar sebentar ya. Jangan ngapa-ngapain. Jangan lupa minum vitaminnya." ucap Ella dijawab anggukan oleh Hana.


"Satu lagi. Kalau elo nggak suka makanan yang sudah gue pesan. Elo bisa pesan makanan lain."


"Iya Ell,, elo tenang saja. Maaf ya Ell, gara-gara gue elo sampai belum membeli cincin."


"Santai, gue udah pesan kok. Tinggal lihat hasilnya." ujar Ella.


"Gue keluar dulu ya."


Hari ini Ella dan Vano berencana untuk melihat hasil dari cincin yang telah mereka pesan.


Semoga kesalahan yang tidak di sengaja di lakukan oleh Vano, tidak akan menjadi bumerang untuk keluarga kecilnya dengan Ella di kemudian hari.


*****


Haloo man-teman... Semoga semua dalam keadaan baik dan sehat ya....


Maaf,,, jika alur ceritanya membuat teman-teman tidak suka. 🙏🙏


Othor hanya menuangkan apa yang ada di dalam pikiran othor saat imajinasi terlintas di otak kecil milik othor nih....

__ADS_1


Dan terimakasih sudah mendukung karya othor sampai sejauh ini. Dan terimakasih atas segala saran dan kritiknya.


TERIMAKASIH...


__ADS_2