DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 131


__ADS_3

Vano terus mencumbu dan ******* bibir seksi sang istri.


tok,,, tok,,, tok,,,


Beberapa kali terdengar suara ketukan pintu. Vano menarik bibirnya. "Ckk,, siapa sih." gerutu Vano, merasa kesal karena ada yang mengganggu kesenangannya.


Ella tersenyum dengan jari membersihkan bibirnya yang basah. "Kita lanjutkan." bisik Vano saat Ella ingin berdiri dari pangkuannya.


Ella tersenyum dan mengikuti keinginan sang suami. Baru saja Vano menempelkan bibir mereka. Terdengar kembali suara ketukan pintu dari luar kamar Ella.


"Pengganggu." geram Vano emosi. Ella mengelus pelan pundak Vano.


"Biar aku yang buka." Ella mengecup pipi Vano dan membuka pintu kamar.


"Ada apa bi?" tanya Ella setelah membuka pintu kamarnya.


"Maaf Non, bibik mengganggu. Tadi mamang datang kesini. Mau kasih tahu Non Ella jika kudanya sudah siap. Tapi tadi Non masih tidur." jelas bibik.


"Oke bik. Ella bersihkan badan dulu."


"Baik Non." bibik kembali bekerja.


"Siapa. Ada apa?" tanya Vano.


Ella duduk di samping Vano dan menaruh dagunya di pundak sang suami. "Aku mau berkuda. Mau ikut?" tanya Ella.


"Berkuda." gumam Vano.


"Iya, ikut?" tanya Ella lagi.


Vano kembali menaruh Ella di atas pahanya. "Kenapa kita tidak berkuda di sini saja?" ucapnya membuat Ella mengernyitkan dahi.


"Kamu kudanya. Dan aku penunggangnya." bisik Vano di samping telinga Ella. Membuat Ella meremang karena nafas Vano mengena ke leher sampingnya.


Ella memandang Vano dengan wajah cemberut. "Kenapa?" tanya Vano menarik bibir Ella gemas.


"Tapi aku ingin berkuda." ucap Ella lirih dengan menundukkan kepala.


Vano menghembuskan nafas kasar. Sebenarnya dirinya menginginkan Ella dan dia menghabiskan waktu di atas ranjang.


Apalagi hawa yang menyelimuti vila, dingin. Membuatnya ingin berlama-lama berada di dalam kamar. Dam tentunya bersama dengan istrinya yang cantik dan seksi.


"Baiklah. Kita akan segera bersiap." Vano mengecup kening Ella dan tersenyum.

__ADS_1


Ella memandang Vano dengan tatapan tidak percaya. Sebenarnya Ella hanya ingin melihat sikap dari suaminya. Apakah Vano akan menuruti permintaannya, atau malah melarangnya.


Sama seperti sebelum mereka menikah. Dimana Vano selalu bersikap otoriter. Selalu melakukan apapun yang dia inginkan. Bahkan apapun keinginan yang Ella mau tidak pernah dia pikirkan.


"Kenapa. Katanya mau berkuda." Vano melihat Ella dengan mata berkaca-kaca melihat ke arahnya. Dengan erat Ella memeluk Vano.


Ella tidak menyangka, jika Vano benar-benar berubah. Kesabarannya selama ini ternyata tidak sia-sia. Dan membuahkan hasil.


"Awww...." seru Ella saat tangan Vano meremas pantat Ella.


"Jadi apa nggak?" tanya Vano tersenyum melihat Ella melotot pada dirinya.


"Ikut?"


"Iya."


"Makasih sayang." Ella mencium pipi Vano dan segera bersiap.


"Melihat kamu senang, hatiku juga senang Ell." ucap Vano lirih melihat Ella berlari masuk ke kamar mandi.


Vano tersenyum sendiri mengingat bagaimana bodohnya dia dulu. "Seandainya sejak dulu kita seperti ini. Mungkin kita sudah bahagia. Dan mempunyai anak-anak yang lucu." gumam Vano dengan mata mengarah pada pintu kamar mandi.


"Aku berjanji sayang. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari sisiku."


Ella keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya. Membuat Vano bernafas berat. "Sayang, cepat pakai baju. Atau kita tidak jadi berkuda." ujar Vano melihat Ella begitu menggoda.


"Iya, lebih baik kamu segera mandi." Ella mengambil baju di dalam almari. "Ayo, cepat." ucap Ella manja.


"Baiklah." Vano segera bangkit dari duduknya dan segera pergi ke kamar mandi. Mungkin saja dengan guyuran air dingin, bisa meredam juniornya yang sedang menegang sempurna karena melihat sang istri yang tampak seksi menggoda dengan lilitan handuk di badannya.


"Kenapa?" tanya Vano saat Ella menatap dirinya yang sedang berada di depan cermin.


Ella memeluk Vano dari belakang. Melihat wajah tampan milik suami dari pantulan kaca. "Kamu tidak capek?"


"Bertemu dengan kamu, semua rasa capek hilang." Vano mencium pipi Ella dari samping. Membuat sang model tersenyum malu.


Vano membalikkan badan. Menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Ella. "Mulai sekarang, apapun yang ada di dalam hatimu, ucapkanlah. Jangan hanya kamu pendam. Paham." Vano memeluk erat tubuh sang istri. Mengecup mesra pucuk kepalanya.


Pelukan ternyaman yang Ella rasakan. Sebelumnya, Ella sama sekali belum pernah merasakan kenyamanan seperti ini. Semoga saja, ini bukan hanya sementara waktu. Ya, semoga saja.


"Sudah siap." Vano mengurai pelukannya. Membuat Ella menatap dengan jelas wajah tampan dam menggoda milik suami.


Ella mencium bibir Vano. "Akan aku kenalkan dengan Miki." ucap Ella.

__ADS_1


Keduanya bergandengan tangan berjalan ke arah tempat Miki. Kuda kesayangan milik Ella yang nerada di belakang villa.


Tampak Miki langsung meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas melihat kedatangan majikannya.


Spontan Ella melepaskan genggaman tangan Vano dan berlari menuju ke arah Miki. "My love, Miki." Ella langsung memeluk leher Miki. Kuda jantan kesayangannya.


Vano melihat telapak tangannya yang di lepas oleh Ella. Tersenyum dan menggelengkan kepala. "Gue di kalahkan sama kuda." gumam Vano sambil melangkahkan kakinya.


"Terimakasih mang." ucap Ella.


"Sama-sama Non." ujarnya. "Tuan. Maaf, saya tidak tahu kalau Tuan Vano ada di sini." imbuhnya dengan sopan. Vano hanya mengangguk dan tersenyum menanggapinya.


Miki beberapa kali berjingkrak saat Vano mendekat. Seperti waspada. Mungkin karena Miki hanya sekali bertemu dengan Vano. Itupun saat hubungan Vano dan Ella masih seperti es yang belum mencair. Tahu sendirilah, bagaimana sikap Vano.


"Husssstttt...." Ella mengelus punggung Miki. Mencoba menenangkan. "My love. Perkenalkan. Vano. Dia suami aku. Jangan takut ya." Miki mulai tenang seperti sebelumnya.


"Kuda saja di panggil seperti itu." batin Vano disambut gelengan kepala dan suara aneh dari kuda. Membuat Vano terkejut.


"Astaga, apa dia mengerti." batin Vano menatap sang kuda. Dan sepertinya Miki juga tengah menatap Vano dengan tatapan tak kalah tajam.


"Van, kamu ikut sayang." tanya Vano.


"Tidak perlu. Biar aku menunggu di sini saja." ucap Vano. Bukannya Vano tidak bisa menunggang kuda, hanya saja sepertinya dirinya tidak akan cocok dengan Miki. Entahlah, sepertinya Vano todak terlalu suka dengan kuda milik Ella.


Come on Vano,,,,, nggak mungkinkan elo cemburu. Haisshhh, sama kuda. Astaga. Beruntung Ella nggak tahu. Pasti dia akan tertawa terbahak-bahak jika mengetahuinya.


Dengan tubuh tegap Ella menaiki kudanya. Berlari keliling halaman yang luas di belakang vila.


"Ckkk,,,, kami sangat seksi my wife." gumam Vano.


"Coba saja jika aku duduk di belakang kamu. Memeluk tubuh indahmu dari belakang. Pasti akan sangat menyenangkan." Vano membayangkan jika dirinya ikut berkuda dengan Ella.


"Tapi sayang, kudamu tak bisa di ajak bekerja sama. Haaahhh." Vano menyandarkan punggungnya ke kursi dengan mata terus memandang ke arah Ella yang tengah berkuda dengan seksinya.


Manik mata Vano menangkap beberapa lelaki yang sepertinya juga sedang memperhatikan Ella. "Mang...!!" teriak Vano.


"Ada apa Tuan." ucapnya setelah berada di dekat Vano.


"Apa di sini ada orang selain kita?" tanya Vano dengan mata masih memandang ke arah mereka.


Mata Mamang mengikuti ke mana arah pandangan mata dari Vano. Kemudian mengangguk pelan. "Ada Tuan." Vano beralih pandangan menatapnya.


"Mungkin mereka orang dari kota yang sedang meninjau perkebunan milik mereka. Perkebunan teh di sekitar vila" jelasnya.

__ADS_1


__ADS_2