DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 115


__ADS_3

"Ellll...." Viki bangun dan membalikkan tubuh Ella.


"Elo mau bunuh gue." seru Viki dengan wajah kesalnya, saat Ella menaruh bantal di wajah Viki. Kekesalan Viki ditanggapi tawa oleh Ella.


Ella berada di bawah tubuh Viki. Dengan kedua tangan di pegang ke atas kepala oleh Viki. "Elo sih, cuekin gue." Ella cemberut dan memasang raut wajah bete.


"Elo cantik Ell. Tubuh Elo juga bagus." Ella spontan melepaskan cekalan tangan Viki dan menaruhnya di depan dada.


Viki masih duduk di atas paha Ella. Tak beringsut sedikitpun. "Tapi kenapa gue sama sekali nggak ada getaran apa-apa ya Ell." Viki menundukkan kepala.


"Vik." ucap Ella lirih. Viki beralih dari paha Ella. Duduk di samping Ella.


"Kita kan teman. Mana mungkin elo tertarik sama gue." ucap Ella menghibur Viki.


"Elo nggak usah menghibur gue Ell." ujar Viki.


"Sini." Ella membawa Viki tidur di sampingnya. Mereka tidur dengan posisi miring saling berhadapan.


"Elo pasti sembuh. Pasti ada jalan. Dan ada waktunya. Elo harus yakin. Dan gue, gue akan selalu membantu. Dan berada di samping elo. Kapanpun. Apapun keadaan elo. Gue akan selalu mendukung elo." Ella mengelus pipi Viki.


Viki merangsek ke depan. Memeluk erat tubuh Ella. Terdengar suara tangis dari bibir Viki.


"Beruntung Vano nggak ikut. Yang ada malah keadaan makin runyam." batin Ella.


"Coba saja jika Vano melihat. Pasti akan terjadi perang." batin Hana.


Berdua di atas ranjang. Tidur dan berpelukan. Pasti Vano akan cemburu, meskipun dia tahu bahwa Viki penyuka sesama. Dia tetap tidak akan rela Ella di sentuh lelaki lain.


"Sudah. Cengeng." ejek Ella melepaskan pelukan Viki. "Gue pengap Vik." ujar Ella.


"Kalau gue normal, gue pasti akan jadi pacar elo ya Ell."


"Ngaco." Ella menoyor kepala Viki. "Gue nggak suka sama elo." Viki tertawa mendengar perkataan Ella.


"Ya, gue tahu siapa lelaki yang elo suka sedari SMA." ujar Viki.


Ella tersenyum mengingat bagaimana dirinya bertemu Vano pertama kali. "Ckk,,, seandainya saja elo nggak mabuk waktu itu Vikk. Pasti gue nggak perlu nunggu lama." keluh Ella.


"Ckkk,,, tapi tetap saja. Memang Vano mau sama anak SMA." ucap Viki membela diri.


"Tapi setidaknya gue kan sudah kenal." ujar Ella membela diri. Hana hanya mendengarkan obrolan keduanya dari kursi. Sebenarnya dia juga tidak mengerti apa yang sedang di bicarakan oleh keduanya.


Semenjak Ella bertemu dengan Vano di bar saat dirinya, Denis dan Viki pertama kali datang ke tempat surga dunia tersebut, Ella terpesona dan jatuh hati pada sosok Vano yang tampan, kekar, dan gagah.


Tapi karena Viki mabuk, dirinya terpaksa meninggalkan tempat tersebut tanpa mengetahui siapa nama Vano saat itu.


Bahkan beberapa lelaki sempat mengungkapkan cinta pada Ella. Tetapi Ella menolaknya. Hanya karena dirinya sudah terlanjur jatuh cinta dengan Vano.


Sampai Ella terjun menjadi model untuk yang pertama kali. Ella di pertemukan kembali dengan Vano pada sebuah acara.


Dan sejak saat itulah, Ella mencari informasi mengenai sosok Vano. Mendekatinya terus-menerus. Hingga mereka akhirnya menjalin hubungan.


"Dan hebatnya elo Ell. Bisa bertahan sampai sekarang. Dengan satu lelaki." ucap Viki memuji sahabatnya.

__ADS_1


"Bukankah kita semua memang hebat. Denis, sebelum dengan Hana. Dia juga mempunyai seorang mantan. Dan kekasihnya, yang bodoh itu meninggalkannya demi lelaki lain. Benar-benar brengsek." Ella teringat kenangan saat kekasih dari Denis meninggalkan Denis.


"Dan elo. Bukankah elo juga setia. Gue yakin, jika elo sembuh. Elo sama seperti kita. Tidak pernah mempermainkan kata cinta." ucap Ella menghibur Viki.


Meskipun mereka bertiga tinggal di negara berbeda, namun ketiganya selalu berkomunikasi dan bertukar kabar dengan sangat baik.


"Do'akan Ell. Do'akan gue sembuh. Supaya gue bisa merasakan apa yang elo dan Denis rasakan." Viki menatap Ella dengan senyum, tapi jelas tergambar raut wajah sedih di balik senyumannya.


"Gue akan cari cara. Elo tenang saja." ucap Ella dengan sungguh-sungguh.


"Sudah cukup Ell. Gue nggak mau ada orang yang mengetahuinya lagi."


"Vano dan Reza tahu tentang keadaan elo karena mereka menyelidiki tentang Jo. Sementara Hana, Denis terpaksa memberitahunya. Karena dia curiga." ucap Ella lirih.


"Sudah gue duga." batin Viki. Bahwa Ella tidak mungkin sengaja memberitahu Vano tentang penyakit yang di derita oleh dirinya.


"Untuk Jo. Sekarang berada di tangan bokap gue. Gue nggak tahu apa yang bakal terjadi sama dia. Semua wewenang ada di tangan bokap." Ella berbicara dengan hati-hati tentang Jo pada Viki. Ella khawatir jika Viki masih mengharapkan Jo.


"Tenang saja Ell,, gue akan buang rasa suka gue sama lelaki brengsek itu." ucap Viki tersenyum pahit.


"Elo akan melupakan dia seiring berjalannya waktu. Saat ini, kita harus fokus dulu. Bagaimana cara untuk menyembuhkan kamu." ucap Ella memberi semangat pada Viki.


Ella bangun dari tidurnya. "Elo ngapain sih pake ngurung diri di kamar. Sudah kayak anak gadis saja." kelakar Ella.


"Aaawww." seru Ella saat sebuah guling mengenai bagian belakang kepala Ella.


"Gue cuma nggak tahu mau ngapain." Viki merebahkan badannya. Menatap langit-langit kamar.


"Vik, gue punya berita bagus nih." Ella sedikit memiringkan tubuhnya supaya menghadap ke arah Viki.


"Beneran. Sama siapa?" tanya Viki lempeng.


"Vano lah. Kok elo gitu, elo nggak seneng denger kabar ini."


"Elo hamil?" tanya Viko semakin aneh.


"Nggak lah. Enak saja. Gue main aman." ucap Ella.


"Terus, pasti elo paksa Vano kan." ujar Viki semakin membuat Ella malas berbicara dengannya.


"Sumpah. Tahu gitu gue tadi nggak kasih tahu elo." Ella menimpuk tubuh Viki dengan bantal di sampingnya.


"Bukannya gitu Ell. Dari dulukan cowok elo sulit banget di ajak nikah. Lah ini, tiba-tiba nikah." Ella juga paham kenapa Viki berkata demikian.


"Itu dulu. Sekarang nggak. Kita mau nikah bertepatan dengan ulang tahun gue."


"Selamat ya. Semoga semua berjalan lancar sampai hari H."


"Amin."


"Dan setelah menikah, bikinkan gue ponakan-ponakan yang lucu."


"Siap." Ella mengangkat kedua jempol tangannya ke atas.

__ADS_1


Hari-hari Ella dan Vano semakin sibuk dengan semakin dekatnya hari pernikahan mereka. Mereka sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing.


Vano fokus pada perusahaannya. Meskipun ada Reza. Ada beberapa hal yang harus Vano tangani sendiri. Dan Ella, menyelesaikan pemotretan yang sudah di sepakati sebelumnya bersama pihak pengguna jasanya.


Itu semua mereka lakukan lantaran keduanya berencana menghabiskan waktu berdua di luar negeri. Atau lebih tepatnya berbulan madu.


Karena untuk urusan pernikahan, keduanya menyerahkan pada WO yang sudah mereka tunjuk. Dan pastinya dengan arahan dan konsep dari Ella dan Vano.


"Hati-hati sayang." teriak Nyonya Ane saat sang anak pergi ke perusahaan Vano dengan membawa rantang berisi makanan.


Sudah selama seminggu Vano dan Ella tidak bertemu secara langsung. Mereka hanya melakukan komunikasi melalui ponsel mereka karena kesibukan masing-masing.


Hari ini Ella membawakan makan siang untuk Vano. Sekaligus keduanya akan pergi ke butik mama Vano untuk mencoba gaun pengantin yang akan mereka pakai di hari pernikahan mereka


"Iya ma." ucap Ella dengan suara sedikit di keraskan.


Dengan senyum yang seolah tidak pernah pudar, Ella berjalan dengan hati riang menuju mobilnya.


Lagi-lagi di tengah perjalanan, Ella melihat Marcell. Saudara Vano. "Ngapain tu anak berdiri di pinggir jalan. Hobi banget. Mana mungkin ngamen." gumam Ella.


Terlihat Marcell menendang-nendang ban mobil. Yang berarti mobilnya berhenti karena bannya bermasalah.


Tiiiiitttt. Ella membunyikan klakson dan berhenti tepat di samping Marcell. Membuka jendela mobil. "Mobil elo kenapa?" tanya Ella tanpa turun dari mobil. Hanya menampakkan kepala di jendela.


"Bannya bocor kali." ucapnya terkesan sombong dengan arah mata memandang bannya yang kempes.


Mata Ella mengikuti arah mata Marcell. "Pantas banget jadi saudara Vano." batin Ella teringat bagaimana sombong dan angkuhnya Vano.


"Mau ke mana?"


"Sana." tunjuknya hanya dengan menggerakkan bola mata dan kepalanya.


Tapi kelakuan Marcell biasa bagi Ella. Karena pertama kali Ella mendekati Vano, sikap Vano lebih menjengkelkan dan lebih sombong dari Marcell.


"Butuh bantuan nggak. Mungkin mau num-pang." ucap Ella dengan penekanan.


"Gue nggak punya waktu lama untuk tunggu jawaban elo." ucap Ella melihat Marcell masih berdiri dengan mata memandang ke arah yang di tuju.


Tanpa berkata apapun, Marcell membuka pintu mobil Ella dan duduk di samping Ella yang sedang mengemudi.


"Buat Vano." ucap Ella saat menangkap mata Marcell melihat ke arah rantang tempat makanan.


Selama di dalam mobil, keduanya hanya diam. Sepatah katapun tidak terucap dari keduanya. Bahkan Ella juga tidak bertanya ke mana harus membawa Marcell.


Marcell melirik ke arah Ella yang terkesan cuek. "Kenapa dia nggak tanya gue mau kemana. Nggak mungkinkan dia mau bawa gue ke perusahaan Vano." batin Marcell sembari melihat ke mana arah mobil di jalankan.


Ella tersenyum samar melihat Marcell. Ella sangat tahu apa yang di pikirkan Marcell. "Elo yang numpang. Elo yang harus buka mulut." batin Ella.


Ella tersenyum samar, seolah tahu apa yang sedang ada di dalam benak Marcell.


"Berhenti." Ella menghentikan laju mobilnya.


"Makasih." Marcell keluar dari mobil Ella, masih tanpa memandang wajah Ella.

__ADS_1


Ella tersenyum dan melajukan kembali mobilnya. "Mercell, Marcell. Gue udah khatam lelaki kayak elo. Bahkan Vano lebih sombong dan angkuh dari pada elo." ucap Ella.


__ADS_2