DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 09


__ADS_3

"Vano...!"


Vano dan Santi yang dikejutkan dengan suara tersebut, sontak menjauhkan badan masing-masing.


"Kalian." Nyonya Risma menatap dengan tatapan menyalang yang penuh amarah.


Santi langsung menundukkan kepalanya, karena rasa takut. Bahkan penampilannya masih acak-acakan. Begitu pula dengan Vano. Jasnya masih berada di atas meja. Kancing kemeja sudah terlepas semua. Bahkan gesper di pinggangnya juga terbuka.


Sebelum Ella datang, Nyonya Risma sudah terlebih dahulu mendatangi perusahaan Vano. Niat hati ingin membicarakan hubungannya dengan Ella, beliau malah di beri kejutan yang sangat hebat dari anak kebanggaannya.


"Pak Vano nya ada?" tanya Ella pada resepsionis.


"Nona Ella. Ada. Silahkan langsung saja ke ruangannya. Sebentar saya panggilkan satpam untuk mengantar Nona."


Resepsionis dan juga semua karyawan kantor mengetahui tentang Ella, sebagai kekasih dari pemilik perusahaan. Setiap Ella datang, mereka selalu menyambutnya dengan senyum yang ramah.


"Terimakasih. Tidak perlu. Saya bisa sendiri."


"Nyonya Risma juga ada di atas. Beliau baru sampai."


"Oh iya. Kebetulan sekali kalau begitu. Terimakasih." Ella berjalan melenggang menuju ruangan Vano pastinya dengan senyum yang selalu terukir di bibir seksinya.


"Pantas menjadi Nyonya Vano Reyandli. Selain cantik juga sopan."


"Lagi pula dia kan anak dari Tuan Hari Subagyo. Dan keluarga mereka juga terkenal baik dan ramah."


Dua resepsionis tersebut memandang Ella hingga yang di pandang sudah tidak lagi terlihat oleh mata mereka.


"Gak ada orang. Kemana?" Ella sudah sampai di depan ruangan Vano. Ella melihat ke arah kursi sekertaris.


"Ada apa sih."


Ella mendengar ada suara-suara keras di ruangan Vano. Ella membuka sedikit pintunya dan mencoba melihat apa yang terjadi di dalam.


"Ma, ini tidak seperti yang mama lihat." ucap Vano mengancingkan kembali kemejanya.


"Kamu pikir mama bodoh. Lalu apa yang kalian lakukan di dalam. Dengan penampilan seperti ini." Nyonya Risma menunjuk ke arah Santi dan Vano.


"Pantas saja kamu masih belum mau menikah dengan Ella. Jadi karena dia. ****** ini. Astaga Vano, mama nggak habis pikir." Nyonya Risma memegang kepalanya.


"Ma." Vano memegang tubuh mamanya.


"Jangan pegang mama. Jijik mama di pegang sama tangan kotor kamu. Dan kamu. Selamanya saya tidak sudi punya menantu seperti kamu. Murahan. Kamu tahukan Vano itu calon suami Ella."


"Ma. Vano sama dia nggak ada hubungan apa-apa." Vano dengan santai mencoba menjelaskan pada Nyonya Risma.


Di balik pintu, Ella mendengarkan semua perkataan Nyonya Risma. Di lihatnya penampilan Vano dan juga Santi. Sekertaris Vano. Dada Ella terasa sesak. Sebisa mungkin Ella menahan air matanya.


"Ternyata. Ella, kamu benar-benar bodoh." Ella memejamkan mata. Air matanya meluncur ke pipi. Segera mungkin tangan Ella menghapusnya.


"Non Ella." gumam Reza yang melihat Ella menangis di depan pintu ruangan Vano.


"Ma." teriak Vano saat Nyonya Risma hendak pingsan.


"Nyonya." seru Santi.


Segera Vano menggendong mamanya keluar ruangan.


"Ella."


Vano melihat Ella tepat di depan ruangannya dengan Nyonya Risma berada di gendongannya. Samar-samar Nyonya Risma melihat Ella.

__ADS_1


"Van, cepat mama kamu." ucap Santi.


"Tuan. Nyonya Risma."


Reza segera membantu Vano dan membawa Nyonya Risma ke rumah sakit. Tidak ketinggalan, Santi pun mengikuti mereka dengan tidak tahu malu.


"Semoga, Nyonya Risma merestui hubungan gue dan Vano setelah melihat kejadian tadi." batin Santi berharap dengan duduk di samping Reza dibalik kemudi.


Sesekali Reza melirik ke arah Santi dengan rahang yang mengeras. Bayangan Ella yang sedang menangis mengusik hatinya. Sementara Vano di belakang bersama mamanya. Pikiran Vano juga sedang terarah pada Ella.


"Apa yang terjadi dengan mama mu?" tanya Tuan Danto sampai rumah sakit.


"Mama masih di dalam." jawab Vano tanpa melihat ke arah papanya.


Entah bagaimana Tuan Danto bisa mengetahui jika istrinya di larikan ke rumah sakit. Padahal Vano maupun Reza tidak memberitahunya.


"Bagaimana Tuan Danto bisa ada di sini." batin Santi.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini." ucap Tuan Danto pada Santi dengan tatapan tajamnya.


"Tapi Nyonya, Tuan.." perkataan Santi terhenti saat semua mata mengarah pada dirinya.


"Baik. Permisi."


"Sial. Padahal kan gue udah berniat baik. Malah di usir." batin Santi sambil berjalan meninggalkan semuanya.


"Bagaiman keadaan istri saya?" tanya Tuan Danto saat seorang dokter keluar dari dalam ruangan Nyonya Risma.


"Nyonya hanya mengalami tekanan. Lebih tepatnya syok. Selebihnya baik-baik saja. Istirahat cukup dan mengurangi beban pikiran. Hanya itu yang saya sarankan Tuan." jelas Dokter dengan sopan.


"Baik, terimakasih."


Rumah sakit tersebut adalah rumah sakit milik Oma Yeti. Neneknya Vano.


Tuan Danto mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Tidak ada rasa sungkan meskipun di ruangan tersebut juga ada Vano dan Reza.


Pandangan mata Nyonya Risma menatap tajam pada anaknya. Vano.


"Sayang, lebih baik kamu istirahat saja dulu. Jangan memikirkan hal-hal yang membuat keadaan kamu jadi tambah buruk." Tuan Danto membelai lembut rambut istrinya.


"Reza." Nyonya Risma menyuruh Reza mendekat pada dirinya dam membisikkan sesuatu pada Reza.


"Baik Nyonya."


"Saya permisi dulu." Reza keluar dari kamar Nyonya Risma.


Vano hendak melangkah meninggalkan ruangan mamanya, tapi suara dari Tuan Danto menghentikannya.


"Temui papa nanti malam."


Vano hanya mengangguk dan meninggalkan kamar mamanya.


"Pa, jangan pakai kekerasan. Vano tetap anak kita. Papa jangan sampai apa-apain dia."


"Memang papa mau apain Vano sih ma. Papa mau bicara soal bisnis."


"Mama tahu siapa papa. Pasti anak buah papa kan yang melapor pada papa. Ingat ya pa. Jangan pakai kekerasan. Mama nggak suka."


"Iya mama sayang." Tuan Danto mencium pipi istrinya.


"Papa. Jangan begitu, kita sudah tua." Nyonya Risma berkata dengan malu-malu.

__ADS_1


Meskipun Nyonya Risma kecewa dan marah pada Vano, tetapi sebagai seorang ibu beliau tetap tidak ingin melihat anaknya sampai mengalami hal yang tidak dia inginkan. Apalagi Vano adalah putra satu-satunya.


"Mbak, kita kemana?" tanya sopir taksi pada Ella.


"Jalan saja pak. Nanti saya beritahu." pandangan Ella melihat keluar jendela taksi.


HANA calling.


Elo di mana?


^^^Di jalan.^^^


Bentar lagi kita ketemu Nyonya Tiwi.


Gue jemput elo


^^^Nggak usah.^^^


^^^Gue ke sana sendiri saja.^^^


Ella lalu mematikan sambungan teleponnya dengan Hana. Ella memberitahu tempat tujuannya pada sopir taksi.


"Huft,,, Ella, elo harus kuat. Elo jangan cengeng. Elo pasti bisa." air mata Ella kembali mengalir di pipi.


"Kenapa elo tega Van, kenapa. Apa salah gue." bukannya diam, Ella malah menangis terisak.


"Kelihatannya mereka juga sangat dekat. Ya iyalah Ella. Tidak mungkin mereka tidak dekat." Ella teringat saat Santi memanggil nama Vano tanpa menggunakan embel-embel Tuan atau bos.


Sopir taksi pun melihat dari kaca spion. Dia pun bingung. Apa yang harus di lakukannya.


"Aduh neng, sudah jangan nangis. Neng kan cantik. Masa nangis gara-gara cowok. Sudah diam neng, jangan nangis lagi." sopir taksi berusaha menenangkan Ella.


"Saya cinta banget sama dia pak. Saya sudah ngajak dia menikah. Dia selalu menolak. Ternyata dia selingkuh pak." Ella masih menangis terisak-isak.


"Ya Alloh. Padahal Neng nya cantik kayak gitu. Masih selingkuh. Neng cari yang lain saja. Jangan nangis neng. Lelaki seperti itu nggak pantes di tangisi. Sudah Neng."


"Makasih ya pak." ucap Ella.


"Sebentar ya pak, saya mau make up dulu."


"Silahkan Neng, silahkan. Lama juga nggak apa-apa."


Ella sudah sampai di tempat tujuan. Tapi dia tidak segera keluar dari taksi. Dia memakai make up dulu untuk menyamarkan matanya yang bengkak. Tapi ternyata tidak berhasil. Matanya tetap terlihat bengkak karena tangisannya.


"Pakai kaca mata hitam saja Neng." ucap sopir taksi.


"Iya pak. Makasih pak. Ini." Ella memberikan uang pada sopir taksi.


"Kebanyakan Neng."


"Nggak apa-apa pak." Ella keluar dari dalam taksi.


"Terimakasih Neng. Bapak doakan Neng dapat lelaki yang baik. Yang tidak akan membuat Neng menangis lagi."


"Amin. Makasih pak."


Ella berjalan dengan tenang ke dalam restoran di mana dia akan bertemu dengan Nyonya Tiwi. Meskipun hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak bisa mengabaikan pekerjaannya.


Apalagi dia sudah berjanji sebelumnya pada Nyonya Tiwi. Dia harus bisa mengendalikan emosinya. Dan bersikap profesional.


"Kamu kemasi barang-barang kamu sekarang juga." Reza menatap tajam pada Santi.

__ADS_1


"Siapa kamu. Yang berhak pecat saya cuma atasan saya. Vano." ucap Santi dengan berani.


"Vano. Kamu panggil dia apa. Vano." kata Reza.


__ADS_2