DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 37


__ADS_3

"Setelah pekerjaan dia selesai, bawa dia ke Rumah Sakit Jiwa sebagai upahnya. Mengerti." ujar Ella.


"Baik Nona. Bagaimana artis lelakinya?"


Vano, Reza, dan Hana tercengang mendengar Ella akan memasukkan Vera ke rumah sakit jiwa. Vano tersenyum samar mendengar penuturan Ella.


"Untuk dia, terserah. Kamu lebih tahu untuk masalah itu." ucap Ella.


"Benar-benar wanitaku." batin Vano.


"Serius Ell.." tanya Hana memastikan.


"Satu lagi." Ella mengangkat jari telunjuknya ke atas.


"Aku ingin gambar dan suara yang jernih. Jangan kecewakan penonton." tambahnya dengan senyum menyeringai.


"Baik Nona." kata mereka bersamaan.


Ella dan Hana segera meninggalkan tempat tersebut karena Ella akan ada pekerjaan setelah ini. Di depan gedung, mereka bertemu dengan Vano dan Reza.


"Sayang, biar aku yang antar kamu." Vano memegang lengan Ella.


Ella tersenyum dan melepaskan tangan Vano dengan pelan. "Terimakasih Tuan, saya tidak ingin merepotkan anda. Saya punya asisten yang setia di samping saya. Dan saya yakin, dia tidak akan pernah mengkhianati saya." Ella meninggalkan Vano yang masih memandangi dirinya pergi.


Hati Vano tersentil mendengar ucapan dari Ella. Kesetiaan dan pengkhianatan. Vano merasa dirinya tidak pernah mengkhianati hubungannya dengan Ella.


Selama ini Vano memang selalu bermain bersama dengan perempuan lain selain Ella. Tapi dia tidak pernah memasukkan pusakanya ke dalam gowa perempuan lain selain milik Ella.


Dan menurutnya, hal yang di lakukannya masih dalam tahap wajar.


(kalau author sih,, udah ogah sama kamu Van. Tapi,,, entah si Ella. 🤔🤔)


Hana tersenyum di balik kemudinya. "Aku makin cinta sama kamu cyankkk..." ucap Hana centil.


"Sorry ya. Meskipun gue ogah sama Vano, bukan berarti gue belok." pungkas Ella.


Hana tertawa mendengar perkataan Ella. "Lagian masa lubang sama lubang. Gimana jadinya." kata Hana sembari membayangkan sesuatu.


"Elo mau. Gue punya temen yang seperti itu. Kalau elo mau, gue bisa bilang sama dia."


"Wahh wah wah,,, ni anak. Meragukan gue."


"Betul. Gue nggak pernah lihat elo jalan sama cowok selama ini. Gimana gue nggak ragu. Jangan jangan." Ella menatap Hana dengan mata menyelidik.


"Apa. Elo mao bilang apa. Gue sibuk bestie. Sibuk sama elo."


"Elo nggak itukan. Emmm,,,, sama gue." Ella menyatukan jati telunjuk kanan dan kiri.


"Nggak lah." teriak Hana nggak terima.


"Kayaknya elo deh yang perlu di masukin RSJ. Bukan si onoh." tambah Hana enggan menyebut nama Vera.

__ADS_1


"Aduhh,,,, Gue nggak bisa ngebayangin. Setelah dia live streaming adegan hot, terus di masukin ke RSJ. Pasti bakal rame."


"Ell,," panggil Hana lirih.


"Hemm."


"Gue kok takut ya."


"Apa."


"Ntar keluarganya bagaimana." tiba-tiba Hana kepikiran keluarga Vera. Hana takut jika keluarganya tidak terima dan malah menyusahkan Ella nantinya.


"Udah gue urus. Mereka nggak mungkin akan macam-macam. Kalaupun itu terjadi, mereka akan menyusul Vera ke dalam rumah mewah juga."


"Elo yakin?"


"Keluarganya termasuk keluarga rumit. Nyokapnya tukang main ama brondong. Bokapnya, sama. Dia juga suka daun muda. Dan juga, bokapnya banyak mempunyai bisnis ilegal. Jadi elo tenang saja."


"Syukur deh."


"Dia tidak begitu di anggap di keluarganya. Meskipun keluarga mereka termasuk keluarga kaya. Kedua orang tuanya lebih menyayangi adiknya. Entahlah. Gue nggak peduli." ucap Ella.


"Siapapun yang mengusik ketenangan gue, pasti akan gue pangkas. Gue nggak peduli, siapapun orangnya." tambah Ella.


"Serem banget omongan elo. Pangkas. Emang pohon."


"Gue pangkas hidupnya."


"Elo juga. Kalau banyak tingkah. Nafas elo akan hilang."


Hana bergidik mendengar penuturan Ella. "Gue bukan orang yang nggak tahu terimakasih. Tenang saja. Elo minta nyawa aja gue kasih." ucapnya.


"Nyawa siapa?"


"Nyawa ayamlah. Masa nyawa gue. Mati dong gue." canda Hana.


Ella dan Hana tertawa bersama di dalam mobil. Tujuan mereka adalah apartemen Ella. Karena setelah membersihkan badan dan bersiap, mereka akan langsung menuju lokasi peragaan busana. Dan apartemen Ella dengan lokasi tersebut tidak terlalu jauh.


Di tempat lain, Vano sedang dalam keadaan bad mood. Mendapat penolakan dari Ella membuat dirinya tidak terima.


Tarrrr.... terdengar suara gelas pecah dari dalam kamar.


"Tuan." Reza segera berlari dan masuk ke dalam kamar Vano.


Terdapat cipratan air di tembok samping Vano berdiri. Dan di lantai, tercecer banyak serpihan kaca dari gelas yang di banting Vano.


"Berani sekali Ella menolak gue." ucapnya geram.


Reza menghembuskan nafas dan melihat Vano dari belakang. "Maaf Tuan, jika di izinkan. Saya ingin mengatakan sesuatu."


Vano hanya diam tidak menjawab perkataan Reza. Dia tetap berdiri membelakangi Reza.

__ADS_1


"Pasti sekarang Nona Ella sedang marah."


Vano membalikkan badan dan menatap Reza. Vano tidak mengatakan apapun, tapi dari tatapan matanya, Reza tahu jika Vano merasa penasaran kenapa dirinya berbicara seperti itu.


"Setiap pasangan akan marah dan kecewa jika mendapati pasangannya berada di atas ranjang bersama orang lain. Dan itu tanpa sehelai benangpun."


"Tapi aku tidak pernah melakukan hal lebih. Aku tidak pernah memasukkan bendaku pada milik wanita lain." ucap Vano tidak terima dengan perkataan Reza.


Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Apa Nona Ella tahu tentang itu semua. Yang di lihat Nona Ella hanya foto kalian berdua." Reza tidak habis pikir. Kenapa Tuannya tidak peka dengan perasan kekasihnya.


"Seharusnya Ella bertanya dulu." ucap Vano kekeh.


Reza mencoba berkata dengan sabar. Dia sangat tahu bagaimana sifat dan karakter atasannya tersebut.


"Seandainya, foto tersebut bukan Tuan. Melainkan Nona Ella bersama lelaki lain. Apa yang akan Tuan pikirkan."


"Akan aku bunuh lelaki tersebut. Karena sudah berani menyentuh wanitaku." ucap Vano dengan menggebu-gebu.


"Tapi tidak tahu apa yang terjadi di sana. Disitu hanya ada foto Nona Ella bersama lelaki lain dalam satu ranjang. Tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka."


"Sudah. Berhenti bicara omong kosong." seru Vano dengan mata merah menyalang.


Reza menggeleng pelan melihat sikap keras kepala atasannya tersebut. "Biarkan saja." Vano melarang Reza saat dia ingin membersihkan pecahan gelas di lantai.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Sebentar lagi kita akan pergi ke peragaan busana Nona Ella. Apa Tuan berniat membatalkannya." Vano memandang tajam ke arah Reza.


Reza malah tersenyum samar mendapati Vano memandang tajam ke arah dirinya. "Baiklah, saya permisi dulu." ucapnya.


Reza menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, kembali menghadap ke arah Vano. "Sekali lagi saya ingatkan Tuan. Jika Tuan memang mencintai Nona Ella, perjuangkan cinta Tuan. Buktikan pada Nona Ella. Dan juga,,, emm sebaiknya Tuan meminta maaf pada Nona Ella. Perempuan akan senang mendapat perhatian lebih dari pasangannya. Dan juga, mereka senang di perlakukan dengan lembut dan penuh cinta." ucap Reza panjang kali lebar.


"Apa kamu pernah melakukannya. Dekat dengan wanita saja kamu tidak pernah." cibir Vano saat Reza menasehati dirinya.


"Hehehe,,, saya memang tidak pernah melakukannya Tuan. Tapi saya membaca di buku." kata Reza dengan tersenyum canggung.


"Buku. Apa ada buku seperti itu."


"Ada Tuan, mau saya bawakan." ucap Reza antusias.


"Tidak perlu. Memalukan. Saya tidak pernah sekalipun di tolak oleh yang namanya kaum hawa. Buku. Menggelikan." kata Vano sombong.


Selama ini Vano memang tidak pernah merasakan sakit hati karena wanita. Siapapun wanita yang dia inginkan pasti mereka akan dengan senang hati datang dan merangkak di atas ranjang miliknya.


Termasuk Ella. Tapi dia berbeda dengan wanita di luar sana yang mencoba mendekati Vano. Kebanyakan dari mereka menginginkan bisa masuk ke dalam keluarga Reyandli. Dengan begitu mereka akan hidup dengan banyak harta dan di segani oleh semua orang.


Sementara Ella, dia benar-benar mencintai Vano. Tapi sekarang semua berbeda. Ella sudah terlanjur sakit hati dan kecewa dengan dirinya. Dan ini akan menjadi pertama kalinya bagi Vano untuk berbalik mendapatkan hati wanita yang sudah terlanjur sakit karena kelakuannya. Ella.


"Di tolak. Ada Tuan. Sekarang Nona Ella secara terang-terangan menolak anda." celetuk Reza.


Reza segera pergi meninggalkan Vano sebelum dirinya menjadi sasaran kemarahan dari Vano.


"Rezaaaaaa.....!" teriak Vano dari dalam kamar.

__ADS_1


Reza menutup kedua telinganya dari balik pintu dan tersenyum senang.


__ADS_2