
Vano sampai di depan rumah yang Ella sebutkan. Di keluarkannya senjata api dari balik jaket. Saat Vano hendak keluar dari dalam mobil, ponsel Vano berbunyi.
"Tunggu papa, jangan masuk dulu." ucap Tuan Danto dari sambungan telepon.
"Persetan dengan perintah papa. Di dalam ada istriku. Aku harus segera menyelamatkannya." Vano tak menggubris perkataan dari Tuan Danto.
Apa kamu lupa Tuan, siapa istrimu. Dia bisa menghabisi musuh dengan mudah. Bahkan, kemungkinan dia akan menjadi lawan seimbang untuk dirimu. Mungkin.
Dengan berhati-hati Vano masuk ke dalam. "Apa Ella nggak salah kirim alamat." batin Vano mengamati keadaan rumah yang di sebutkan oleh istrinya. Sepi tanpa penjagaan. Bahkan satu orangpun tak ada di depan.
"Masih ramai kuburan. Ada suara burung hantunya." celetuk Vano.
Vano memasukkan kembali pistolnya ke balik baju yang di pakainya. Dengan tenang Vano melangkah masuk. Tapi jangan salah, insting kewaspadaannya tetap bekerja.
Saat di teras rumah, pintu terbuka lebar. Membuat Vano dengan gampang melihat keadaan di dalam. Tapi sayang, Vano tidak melihat Ella. Karena terhalang tembok.
Yang Vano lihat hanyalah beberapa lelaki bertubuh tegap dengan memakai jaket hitam dengan posisi semua berdiri. Bahkan di antara mereka ada yang menodongkan pistol ke sebuah arah.
Dan Vano yakin, pistol itu di todongkan ke arah istrinya. "Jika kalian berani menarik pelatuknya. Saat itu juga, kalian semua akan berakhir." seru Vano di depan pintu. Membuat semuanya berbalik dan bersiap, waspada akan kedatangan tamu tak di undang.
Vano masuk ke dalam lantaran dirinya tahu dan hafal wajah-wajah dari semua lelaki tersebut. Bawahan Tuan Moreno.
"Mana Tuan Moreno?" tanya Ella melihat suaminya datang.
"Van..." seru Kayla memelas. Meminta pertolongan.
Anak buah Kayla, hanya diam dan mundur beberapa langkah. Karena mereka tahu betul, siapa sosok laki-laki yang sedang memandang tajam ke arah mereka.
Sebab Tuan mereka, Moreno. Pernah bekerja sama dengan Vano di bidang legal, maupun ilegal.
"Vanooo.... " Kayla mengulang lagi, memanggil nama Vano.
Vano menatap Ella dan Kayla bergantian. Ella duduk seperti seorang boss. Sementara Kayla. Layaknya sandra dengan tangan terikat. Padahal tempat ini adalah salah satu rumah milik Tuan Moreno.
Vano bernafas lega melihat keadaan Ella. Terlebih Ella dengan santai memakan camilan di depannya. Bahkan ada botol air minum juga di meja depan Ella duduk.
"Apa masih lama?" tanya Ella dengan tangan mengambil camilan di depannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Apa Ella tidak takut jika makanan dan minuman tersebut di beri racun. Jawabannya tidak. Karena Ella sudah memastikan terlebih dahulu. Ella memasukkan camilan dan juga minuman ke dalam mulut Kayla terlebih dahulu sebelum dia akan mencicipinya.
Dirasa aman. Barulah Ella dengan santai memakan dan meminumnya. Mudah bukan.
"Van...." panggil Kayla kembali saat Vano berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apakan?" tanya Vano dengan lembut, duduk di samping Ella.
Ella menodongkan pistolnya tepat di kening Kayla. Sementara wajahnya mengarah kepada Vano. "Apa aku terlihat lemah." ucap Ella.
Vano terkekeh. Dia mencium singkat bibir Ella. Membuat anak buah Kayla merasa kikuk sendiri. Wajah Kayla memerah menahan amarah.
"Kenapa kalian hanya diam saja. Bodo." teriak Kayla pada anak buahnya. "Membiarkan orang asing dengan mudah masuk ke dalam." Kayla melirik tajam ke arah Vano.
Dan Ella malah semakin suka bermain dengan Kayla. Apalagi membuat hati Kayla panas. Ella menaruh jarinya di bibir, mengusap bekas ciuman singkat dari Vano.
"Manis." ucap Ella membuat Kayla semakin meradang.
"Papa.......!!!!!" teriak Kayla.
Sementara anak buah Kayla malah saling lirik. Menyerang Vano. Pasti akan terjadi pertarungan besar.
Dan lagi, jika mereka benar-benar menyerang Vano, pasti mereka akan kalah. Di tambah Ella berada di sana. Meskipun mereka menang jumlah.
Apalagi Tuan Moreno tidak tahu menahu tentang acara penculikan yang di rencanakan oleh putri tersayangnya. Bisa-bisa mereka yang akan di habisi oleh Tuan Moreno.
*
*
*
"Kenapa aku harus ikut denganmu bedebah." seru Tuan Moreno yang berada satu mobil dengan mertua dari sang model. Ella.
Di belakang mereka ada dua mobil yang mengikuti. Mereka anak buah dari Tuan Moreno.
Sungguh, Tuan Moreno sangat kesal terhadap sahabatnya tersebut. Bisa-bisanya datang ke rumah larut malam dan mengajaknya keluar.
"Dimlah. Jika kau masih bicara, kusumpal mulutmu dengan kaos kakiku." kata Tuan Danto.
"Hah,,, kau mau membunuhku." ujar Tuan Moreno.
"Makanya kau diam pak tua." ketus Tuan Danto.
"Aku lebih baik di tembak pistol, dari pada mencium bau kaos kakimu. Amit-amit."
Keduanya terus berdebat receh. Itulah mereka. Keduanya adalah sahabat lama. Mereka saling kenal sejak keduanya SMA.
Asisten Tuan Danto hanya tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar perdebatan unik keduanya. Karena mereka akan selalu berdebat jika bertemu.
__ADS_1
"Kenapa kau bawa aku ke rumahku sendiri?" tanya Tuan Moreno setelah mobil yang ditumpanginya berhenti di salah satu rumahnya yang tidak terpakai.
"Cerewet sekali kau ini. Mantuku yang menyuruhku." ketus Tuan Danto.
"Mantu. Jadi budak menantu mu kau Danto." Tuan Moreno terkekeh.
"Kau akan lihat, dan pastinya akan terkejut melihat menantuku." kata Tuan Danto.
Tuan Moreno memang tidak bisa hadir saat acara pernikahan Vano. Beliau juga tidak di beri undangan. Hanya di telepon oleh sahabatnya. Tuan Danto.
Bukankah, acara Ella dan Vano sangat ramai di bicarakan dan di siarkan oleh media. Kenapa Tuan Moreno tidak tahu.
Tuan Moreno tidak terlalu mengikuti acara di televisi. Bahkan, perusahaannya di jalankan oleh putranya. Beliau hanya fokus menjalankan bisnis tanah bawahnya, yang dianggap lebih menguntungkan.
"Keluar. Kau tidak berharap aku membukakan pintukan!" seru Tuan Danto yang sudah berada di liar mobil.
Saat ada bawahannya hendak membukakan pintu mobil, Tuan Danto menggeleng dan menyuruhnya pergi dengan mengibaskan telapak tangannya.
Kedua orang tua ini, ada-ada saja hal yang mereka bisa ributkan. 😊😊
Tuan Moreno keluar dengan pandangan mata menyalang pada bawahannya yang berdiri di samping mobil. "Kelihatannya kalian sudah bosan memiliki tangan." ucapnya tersenyum menakutkan. Sontak semua bawahannya menundukkan kepala.
"Jangan manja orang tua. Tangan mu masih bisa di gunakan." ucap Tuan Danto duduk di mobil bagian depan.
"Ya,, di gunakan untuk membunuhmu." Tuan Moreno menatap tajam ke arah Tuan Danto.
Bukannya takut, Tuan Danto malah tertawa senang. Seakan-akan kemarahan Tuan Moreno terlihat lucu di matanya.
Mereka berhenti berdebat saat terdengar suara teriakan dari dalam. "Kayla." gumam Tuan Moreno saat mendengar anaknya memanggilnya dengan suara keras.
"Sepertinya menantuku melakukan sesuatu pada putri kesayanganmu." ucap Tuan Danto dengan santai.
"Menantu mu. Berani sekali menyentuh putri kesayangan ku." geram Tuan Moreno melangkahkan kaki dengan buru-buru.
Dia ingin segera melihat keadaan sang putri. Sampai-sampai dia berteriak memanggilnya.
"Kau tidak tahu siapa menantuku orang tua. Bahkan menyentuh rambutnya saja kau tidak akan bisa setelah tahu siapa dia. Meskipun kau ingin melenyapkannya." gumam Tuan Danto mengikuti langkah kaki sahabatnya.
******
Bagaimana ekspresi Tuan Moreno saat melihat tangan putri kesayangannya terikat.
Dan juga, kenapa Tuan Moreno tidak akan bisa menyentuh Ella, bahkan jika dirinya sanggup untuk menghabisi nyawa Ella sekalipun.
__ADS_1