DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 212


__ADS_3

Di dalam mobil, baik Vano maupun Ella tidak ada yang membuka suara. Seperti perang dingin, keduanya hanya diam dalam pikiran masing-masing.


Bahkan sampai di rumah, Ella masih diam. Turun dari mobil dengan menutup keras pintu mobil, tanpa menghiraukan Vano. Membuat orang yang berada di dalam mobil sedikit berjingkit kaget. Dan langsung masuk ke dalam rumah.


"Ckkk." Vano berdecak kesal melihat tingkah Ella. Ella segera bergegas masuk ke dalam kamar, segera membersihkan badan dengan singkat. Bahkan sebelum Vano masuk ke dalam kamar, Ella sudah selesai. Benar-benar kilat.


Segera dia berganti dengan piyama dan merebahkan badannya di ranjang besar miliknya. Menutup badannya sampai leher dengan selimut. Matanya sangat tidak ingin memandang wajah suaminya.


Vano masuk ke dalam kamar hanya memandang ke arah sang istri yang sudah berada di bawah selimut. Tidak ada niat dari Vano untuk mendekat ke arah sang istri. "Lebih baik aku biarkan dulu, sampai emosinya mereda." batin Vano.


Segera Vano masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan badannya dan berganti pakaian. Vano hanya mendengus sebal.


Karena malam ini dia tidak akan mendapatkan jatah. Padahal dirinya sudah mengantarkan Ella ke rumah Viki. Tapi kesepakatannya dengan Ella gagal total. Hanya karena keinginan sang istri tidak terpenuhi.


Bahkan, Vano enggan menemani Ella tidur di atas ranjang besar milik mereka. Vano lebih memilih keluar dari dalam kamar, masuk ke dalam ruang kerjanya. Menyelesaikan pekerjaannya yang belum rampung.


Ella mendengar suara pintu tertutup. Dengan malas, Ella membuka matanya. Ingin menangis karena keinginannya tidak terpenuhi. Tidak akan. Ella bukan perempuan cengeng. Yang akan menangis karena hal sepele.


Ella menyibakkan selimut di badannya. Dipikirannya, masih terbayang betapa enaknya makan lalapan lele. Ditemani minum teh hangat.


Tanpa menunggu waktu lebih lama, Ella mengambil ponsel miliknya. Menghubungi seseorang dari ponselnya. "Belikan aku lalapan lele. Cepat. Sekarang. Aku tunggu di rumah." ucap Ella di ujung ponselnya.


Segera Ella menutup panggilan ponselnya tanpa menunggu suara yang hendak menjawab di seberang telepon, dan turun ke bawah untuk membuat teh hangat. Sementara seseorang yang di telepon Ella hanya bisa membulatkan kedua matanya.


"Biasanya dia akan menelpon karena menyuruhku menghabisi musuh. Atau melakukan pekerjaan berbahaya lainnya. Ini, dia memintaku membelikan nasi lele. Sungguh, luar biasa." ucapnya memandang ke layar ponselnya yang sudah tidak menyala lagi dan menggelengkan kepala.


Tidak ingin membuang-buang waktu, segera dia melesatkan motornya. Melaksanakan perintah majikannya.


"Nyonya, apa yang sedang anda lakukan?" tanya seorang pembantu yang tidak sengaja melihat Ella berada di dapur saat larut malam.


"Membuat teh." jawab Ella enteng tanpa menengok ke arah pembantu tersebut.


"Biar saya yang buatkan Nyonya." ucapnya.


"Tidak perlu. Oh iya, bisa aku minta tolong." ucap Ella dengan sopan.


"Tentu. Katakan saja Nyonya." ucapnya dengan sopan. Lagi pula, mana mungkin dia akan menolak perintah dari majikannya. Memang dia sudah tidak ingin bekerja lagi.


"Kamu tunggu di depan. Sebentar lagi akan ada seseorang yang mengantarkan makanan pesanku. Uangnya sudah aku bayar." pinta Ella.


Padahal Ella tidak memberi uang pada bawahannya. Hanya lalapan lele. Tidak akan menghabiskan uangnya. Kapan lagi Ella akan di belikan makanan oleh bawahannya.


"Baik Nyonya." segera dia melangkahkan kakinya ke depan. Menunggu di teras rumah dengan setia.


Dan Ella, menunggu pesanannya dengan tenang di meja makan sembari memainkan ponselnya. Entah kenapa dirinya teringat akan Hana.


"Kenapa Hana tidak memberi kabar padaku sama sekali." batin Ella.


"Apa mereka baik-baik saja. Atau bahkan,,,," batin Ella. "Semoga semua lekas membaik." imbuh Ella dalam hati.


Ingin sekali Ella menanyakan hal itu pada Hana secara langsung. Tapi Ella tahu betul dimana batasannya. Dia memang sahabat Hana maupun Denis.


Tapi dirinya juga tidak bisa terlalu jauh ikut campur masalah pribadi di antara mereka. Ella hanya akan membantu, saat mereka datang dan meminta. Tidak lebih.


"Apartemen." saat memikirkan Hana, Ella kembali teringat dengan apartemen miliknya yang sempat terlupakan sejenak.


"Lebih baik aku besok ke sana." ucap Ella lirih. Dirinya merasa penasaran. Kenapa raut wajah Hana seketika berubah saat dirinya menyebut kata apartemen.


"Nyonya, ini pesanannya." ucap pembantu menemui Ella dengan membawa kantong kresek di tangannya.

__ADS_1


"Terimakasih." ucap Ella mengambil kantong plastik tersebut.


"Ada lagi yang bisa saya kerjakan Nyonya?"


"Emm,,,, tidak. Kamu bisa istirahat." ucap Ella.


"Baiklah. Saya pamit undur diri Nyonya. Permisi." ucapnya. Sementara Ella hanya mengangguk pelan.


Ella segera membuka kantong plastik tersebut. Kedua mata Ella berbinar sempurna, melihat makanan yang sedari tadi di inginkan berada di depannya.


"Selamat makan." ucap Ella pada dirinya sendiri. Dengan lahap, Ella makan nasi dengan lauk ikan lele yang di goreng, tidak lupa memakai sambal.


Dari balik tembok, tampak sepasang mata memandang pada Ella dengan tatapan penuh sesal. Bagaimana tidak. Hanya makanan seperti itu saja, Vano tidak bisa memenuhinya.


Vano, tenggorokannya terasa kering. Dia melangkahkan kakinya untuk pergi ke dapur. Mengambil minuman, karena air minum yang biasanya sudah tersedia di ruang kerjanya sudah habis.


Langkahnya terhenti mana kala melihat sosok perempuan cantik sedang duduk di meja makan memakai setelan piyama. Dengan lahap memakan makanan yang berada di depannya.


"Kakak, mama kenyang. Kakak juga pasti sudah kenyang." ucap Ella mengelus perutnya yang masih rata, tertawa pelan.


Dengan nasi bungkus di depannya tak tersisa. Hanya ada sisa duri dan kepala dari ikan lele tersebut. "Sekarang kita bisa tidur dengan nyenyak kak." imbuh Ella tersenyum puas.


Vano mengepalkan kedua tangannya. Ada rasa sesak di dada. Merasa dirinya tidak berguna. Tanpa banyak bicara, Vano melangkahkan kaki mendekati sang istri.


"Maaf." ucap Vano melingkarkan tangannya di leher Ella dari belakang, dengan menaruh dagunya di pundak sang istri.


Ella mengelus pelan telapak tangan sang suami. Sembari tersenyum. "Maafkan papa kak." ucap Vano, mencium pipi sang istri dari samping.


Tak ada raut sedih atau kecewa dari Ella, bahkan marah. Dia hanya tersenyum. Berkali-kali Vano mengucapkan kata maaf, dan mencium wajah Ella. "Sudah selesai?" tanya Vano.


"Sudah." jawab Ella.


"Kita ke kamar." Vano mengecup lembut kepala sang istri.


"Sebentar. Aku mau cuci tangan dulu." ucap Ella. Melangkahkan kakinya ke arah wastafel, dengan Vano mengekor di belakangnya.


"Van..." seru Ella dengan nada rendah. Saat Vano menggendong tubuhnya di depan. Dengan segera, Ella melingkarkan tangannya di leher sang suami.


"Aku berat. Turunkan." rengek Ella meminta diturunkan. Karena Vano sedang menaiki tangga.


"Jangan remehkan kekuatan suamimu ini." ucap Vano dengan nada tidak terima.


"Sebaiknya kamu diam. Jika tidak ingin jatuh bertiga." imbuh Vano melangkah kakinya menaiki tangga dengan santai dan tenang. Ella menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Vano dan tersenyum samar.


"Tidurlah." sampai di dalam kamar, Vano membaringkan badan sang istri di ranjang besar.


Malam ini, mereka tidak melakukan olah raga malam seperti yang di rencanakan Vano. Padahal Vano bisa memintanya pada Ella.


Dan pastinya Ella juga tidak akan menolak. Tapi entah kenapa, ada perasaan menyesal di hati Vano. Dan itu masih terasa.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, sudah terdengar suara dengkuran halus dari Ella. Menandakan istri dari Vano sudah berada di alam mimpi.


"Cepat sekali kamu tidurnya sayang." bisik Vano, menarik selimut di bawah kaki mereka.


Tingg.... Ponsel Ella berbunyi, Vano mengulurkan tangannya untuk mengambilnya di atas meja tepatnya di samping tempat tidur.


"Mama." gumam Vano, melihat siapa yang berkirim pesan larut malam. Mama mertuanya.


Ada sebuah pesan bergambar yang dikirim sang mertua pada istrinya. Dan sebuah pesan tertulis untuk melengkapi gambar tersebut.

__ADS_1


SAYANG, MAMA SUDAH MENYIAPKAN BENDA YANG KAMU CARI. MAMA TARUH DI MEJA KAMAR KAMU. BESOK MAMA ADA KEGIATAN AMAL DI LUAR KOTA. LOVE YOU MY PRINCE. 😘😘


Vano segera membalas pesan tersebut. Dan mengirimkannya pada sang mertua.


ELLA SUDAH TIDUR MA, BESOK AKAN VANO SAMPAIKAN.


"Astaga Ell, padahal di ruangan melukis sudah ada benda ini. Walau bentuknya beda." gumam Vano melihat ke arah layar ponsel milik Ella.


Vano mengembalikan ponsel Ella ke atas meja. Segera Vano menyusul sang istri untuk masuk ke dalam mimpi. Tidak lupa, Vano membawa tubuh Ella ke dalam pelukannya.


"Hari ini aku akan ke apartemen sebentar." ucap Ella di sela-sela melayani sang suami di meja makan saat mereka sarapan.


"Kenapa? Bukankah kamu mau memulai melukis?" tanya Vano dengan tenang.


"Ada sesuatu yang harus aku ambil." kilah Ella. Tidak mungkin dirinya berbicara jujur pada Vano.


Apalagi menyangkut Hana. Pasti Vano akan melarangnya. Dengan alasan, jangan pernah mencampuri urusan orang lain.


Sebenarnya Ella juga tidak ingin mencari tahu ataupun mencampuri masalah pribadi dari Hana. Hanya saja Ella merasa penasaran. Kenapa dan ada apa dengan apartemen miliknya.


"Jangan terlalu lelah. Suruh orang lain saja." saran Vano mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Tidak. Lagi pula aku tidak akan menyetir sendiri. Ada Rio." ucap Ella mencoba membuat Vano mengizinkannya.


"Baiklah. Setelah itu pulang." ujar Vano memberi izin pada sang istri.


"Pasti. Terimakasih." ucap Ella dengan senang.


"Oh iya, semalam mama mengirim pesan pada ponsel kamu. Sudah kamu lihat?" tanya Vano, dijawab gelengan kepala dari Ella.


"Nanti saja, setelah sarapan." ucap Ella dengan lahap memakan bubur sum sum buatan bibik. Vano tersenyum melihat ke arah sang istri.


Vano berangkat ke kantor di jemput oleh Reza. Di kursi belakang, nampak Vano tidak tenang. Dan Reza dapat melihat semua itu.


"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Reza.


"Fokuslah menyetir." ucap Vano. Setelahnya, Reza hanya mencuri pandang pada majikannya tersebut dari kaca mobil.


"Seharusnya Ella tidak menemukan apapun. Semua sudah bersih dan aman." ucap Vano dalam hati. Vano menyandarkan badannya di kursi mobil, dengan kedua mata terpejam.


Dan Ella, dia akan pergi ke rumah mamanya terlebih dahulu, sebelum mengunjungi apartemennya yang sudah lama tidak dia kunjungi.


"Nona." sapa pembantu di rumah Tuan Haris pada Ella.


"Nyonya sedang tidak ada Non." imbuhnya memberitahu.


"Iya, Ella tahu. Ella hanya ingin mengambil sesuatu saja." jelas Ell dengan senyum di bibirnya.


"Mau minum apa Non?"


"Tidak perlu, setelah ini Ella akan langsung pulang. Ada sesuatu yang Ella harus lakukan." terang Ella. Selesai mengambil barang yang di inginkannya, Ella bergegas pergi ke apartemen.


"Siapa?" tanya Ella saat ada mobil yang dengan sengaja menghalangi jalannya. Membuat Rio menghentikan laju mobilnya.


Seseorang dengan berpakaian rapi dengan setelan jas menghampiri mobil Ella. Mengetuk kaca mobil. "Sebentar Nyonya." ucap Rio, keluar dari mobil.


Tampak Rio berbincang dengan orang tersebut sembari sesekali menengok ke arah Ella. Kerena Ella sudah membuka jendela kaca mobil miliknya.


Pandangan Ella tertuju pada mobil di depannya. Nampak ada seseorang di dalam mobil itu. Dan Ella melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2