
"Jam berapa besok kita pulang?" tanya Ella kembali memastikan pada suaminya.
"Agak siang." Vano memeluk tubuh Ella dari belakang. Mencium wangi sabun di tubuh seksi istrinya yang masih memakai baju handuk.
"Lepas sayang." Ella merasa geli saat bibir Vano bermain di leher jenjang miliknya. "Aku ganti baju dulu."
Tubuh Ella tetap berada dalam dekapan suaminya. "Tidak perlu. Sebentar lagi, ini akan terlepas dari tubuh seksimu." Vano memegang kain yang menjadi penghalang kulitnya untuk bertemu dengan kulit Ella.
Ella membalikkan badan. Mengalungkan tangannya di leher Vano. "Kenapa. Kamu pasti sangat beruntung mendapatkan suami seperti diriku." ucap Vano, saat Ella menatap dirinya.
"Tampan." bisik Vano di dekat telinga Ella dengan menggigit kecil daun telinga sang model.
"Pede boros." kekeh Ella.
"Sayang,,, dingin.." keluh Ella saat Vano melepas kain penutup di badan Ella.
"Tenang, sebentar lagi akan hangat." ucap Vano dengan jari mengelus punggung mulus sang istri.
Vano mengecup bibir Ella. Berulang-ulang. Kecupan lembut yang berubah jadi *******. Tangan Vano membuka kancing bajunya. Dan melepaskan pakaian serta celana dari tubuhnya dengan bibir tetap menempel di bibir sang istri.
Segera Vano menarik pinggang Ella. Membuat kulitnya dan kulit sang istri bergesekan. Vano melepaskan pangutan bibirnya, beralih ke leher jenjang sang istri.
Tangan Vano tak tinggal diam. Dengan lihai memainkan benda kenyal yang menggantung di dada Ella.
Bibir Vano beralih ke benda kenyal sebelahnya yang bebas. Dengan bibir dan tangan masih asyik bermain di dada Ella, Vano membawa Ella duduk di tepi ranjang.
Memangku sang istri di atas pahanya. Membuatnya lebih nyaman memainkan benda kenyal milik Ella baik dengan bibir maupun dengan tangannya.
Sementara tangan Vano yang lainnya dengan bebas menjelajah di setiap lekuk tubuh milik sang istri. Dengan perlahan Vano membaringkan Ella di atas ranjang.
Seperti biasanya, Vano dengan liar memanjakan sang istri di bawah kungkungan badannya. Padahal niat Vano adalah Ella yang memimpin olah raga malam ini.
Tapi entahlah. Vano seakan lupa, dan menikmati permainan mereka. Malam ini menjadi malam panas selanjutnya untuk mereka berdua.
Suara erangan nikmat menggema di kamar hotel. Hingga keduanya melakukan pelepasan bersama. Badan keduanya basah bermandikan keringat.
Vano membaringkan badannya di samping badan sang istri. Nampak nafas keduanya masih tersengal. Vano memiringkan tubuhnya. Menggunakan tangannya sebagai penopang kepala.
"Ada apa sayang?" tanya Vano melihat Ella tersenyum sendiri dengan mata menatap ke langit-langit kamar.
"Kamar ini tidak kedap suara." bisik Ella terkekeh pelan.
Apa mereka lupa jika kamar hotel tersebut tidak ada alat kedap suara.
Byuuuhh, bagaimana dengan tetangga kamar mereka. Semoga saja suara mereka tak sampai di kamar sebelah. Atau lebih baik jika kamar sebelah mereka dalam keadaan kosong. Atau tak berpenghuni.
Kasihan juga harus mendengar suara laknat dari bibir Vano dan Ella. Apalagi jika yang mendengar seorang jomblo. Hemmmmm,,,,, pasti dia akan mengumpat sepanjang malam. Bahkan, mungkin tidak bisa tidur.
Vano menyatukan keningnya dengan kening sang istri. "Bagaimana kalau kita ulang lagi." ajak Vano, padahal baru saja Ella bilang jika kamar hotel yang mereka tempati tidak kedap suara.
"Kapan istirahatnya. Besok kita akan pulang. Perjalanannya membutuhkan waktu lama." Ella memanyunkan bibirnya.
"Baiklah, memang sebaiknya kita istirahat." Vano membawa Ella ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kamu lengket." bisik Vano.
"Hemmm,,, tadi aku sudah mandi. Semua gara-gara kamu." keluh Ella.
"Tapi kamu malah sangat menikmati." goda Vano.
"Aku nggak mau mandi. Besok saja. Capek. Ngantuk." rajuk Ella.
Vano dengan gemas semakin mengeratkan pelukannya. "Sayang,,, sesak." keluh Ella.
"Maaf." Vano sedikit meregangkan pelukannya.
"Iiihhh,,, kamu juga lengket." Ella mencubit ****** Vano.
"Aaawwww. Elll,,, jangan pancing-pancing. Akan sulit menidurkan jika junior sudah bangun." ingat Vano berbicara dengan mata terpejam.
Ella membalikkan badan, memunggungi badan Vano. Membuat Vano memeluknya dari belakang. "Sayang,,,,,, jangan gerak-gerak terus. Lama-lama junior akan bangun."
"Aku masih cari tempat yang nyaman." ujar Ella mencari alasan. Padahal dia sengaja melakukannya. Hanya untuk menggoda suaminya.
Tak lama kemudian, kedua pasangan suami istri yang baru saja melakukan kegiatan panas mereka tampak tertidur pulas dengan Vano memeluk Ella dari belakang.
Bahkan, dering ponsel pun tidak mampu menganggu tidur mereka. Terlihat mereka sangat lelah setelah melakukan olah raga ranjang.
Pagi hari di rumah sakit, Oma Yeti tampak uring-uringan. Beberapa kali beliau menghubungi cucunya, namun tidak ada jawaban dari pemilik ponsel.
"Risma,, kemana perginya anakmu." kesal Oma Yeti karena belum berhasil menghubungi Vano.
"Ya tahulah Risma ma, Vano pergi ke mana. Tapi maaf mama, rahasia." batin Nyonya Risma.
"Apa dia tidak pamit sama kamu." tanya Oma Yeti dengan nada kesal.
"Tidak ma, Risma semalam tidur. Pasti Vano tidak tega membangunkan Risma. Lagi pula mama jangan marah-marah. Nanti kambuh lagi low." ucap Nyonya Risma.
"Ngapain pergi menemui istri pake izin sama Risma. Terserah Vano lah." batin Nyonya Risma menebak jika sang putra saat ini tengah berada di balik selimut bersama menantu tersayangnya.
"Bukankah hari ini dia dan Lena akan kembali. Kenapa dia belum juga menunjukkan batang hidungnya." ujar Oma Yeti.
"Mama, sudahlah. Biarkan Vano. Mama tidak perlu terlalu memikirkan Vano." tegur Nyonya Risma khawatir mamanya akan anfal lagi.
"Kasihan Lena. Dia menunggu Vano." ucap Oma Yeti.
Nyonya Risma melirik tajam ke arah Lena. "Apa kamu capek Lena. Sini saya pijitin." ucap Nyonya Risma ketus.
"Tidak Nyonya." segera Lena menjawab perkataan Nyonya Risma.
Ella meregangkan ototnya. Berbalik dan melihat wajah suaminya masih dengan mata terpejam. Ella mencium bibir Vano sekilas. "Sayang,,, bangun." Ella memainkan jemarinya di dada bidang milik Vano.
"Sayang,,, katanya hari ini kita pulang." rajuk Ella dengan jarinya masih bermain di dada Vano.
"Iya, sebentar lagi. Masih ngantuk" jawab Vano dengan mata masih terpejam dan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Nanti kita ketinggalan pesawat." ledek Ella.
__ADS_1
"Jangan ngaco kamu Ell... Kita tidak naik milik mereka." ucap Vano.
"Mereka siapa?" tanya Ella semakin gemas, karena Vano masih bicara dengan mata terpejam.
"Kita naik pesawat milik kita sendiri kan sayang..." Vano membuka matanya malas.
"Selamat pagi." ucap Ella dibarengi senyum manis di bibir.
Vano tersenyum. "Apa ini cara baru membangunkan pasangan. Mengajaknya berbicara." ujar Vano.
"Buktinya kamu bangun." Ella memegang dagu sang suami.
Ponsel Vano berdering. "Sebentar." Ella menggeser tubuhnya dan meraih ponsel Vano yang tergeletak di atas meja dekat ranjang mereka.
"Oma sayang." Ella memberikan ponselnya pada Vano. Dan kembali ke bawah selimut. Karena dia maupun Vano masih dalam keadaan telanjang tanpa pakaian.
"Lohh..." ucap Ella saat Vano malah meletakkan ponselnya, alih-alih menjawab panggilan telepon dari Oma.
"Pasti Oma bertanya pukul berapa akan berangkat." ujar Vano.
"Apa hubungannya dengan Oma?" tanya Ella bingung. Lantaran Vano belum memberitahu perihal Lena pada Ella.
"Oma menyuruhku mengajak Lena pulang." ucap Vano dengan malas.
"Kamu tidak cemburu." tanya Vano, saat Ella hanya manggut-manggut.
"Cemburu." Ella terkekeh mendengar perkataan Vano. "Beda level mah kita." ucapnya sembari memainkan alisnya.
"Tapi kalau kamu mau sama dia, silahkan." tawar Ella.
"Aku akan mencari lelaki lain." imbuh Ella mendapat tatapan tajam dari sang suami.
"Cari saja. Aku pastikan mereka akan tinggal nama." ancam Vano.
"Kejam sekali suamiku ini." Ella menelusupkan kepalanya di dada Vano.
"Oma menyuruhku menjaga Lena selama Oma di sini." ucap Vano, dirinya ingin melihat reaksi Ella.
"Bagus deh. Kamu bisa ajarin dia caranya berbisnis. Biar dia tidak mengharap hartanya Oma." celetuk Ella mendapat sentilan jari di kepalanya oleh Vano.
"Mama bilang, kamu yang akan bertanggung jawab sama Lena. Akukan sibuk." ucap Vano memainkan rambut Ella.
"Serahkan padaku. Akan aku gembleng dia." ucap Ella.
Keduanya beranjak dari ranjang dan membersihkan badan. "Kamu jadi jemput Lena?" tanya Ella di depan cermin mengoleskan riasan di wajahnya.
"Ckk,,, bisa besar kepala dia." ucap Vano. Tapi Vano terpaksa melakukannya karena perintah dari Oma Yeti.
"Tidak apa sayang. Sebelum aku gembleng dia. Setidaknya dia merasakan bahagia dulu." ucap Ella santai.
"Nanti aku antar kamu dulu. Setelah itu,akan ku jemput perempuan tak tahu diri itu." ucap Vano kesal karena harus mengajak Lena. Makhluk tak kasat mata.
"Tidak perlu sayang. Aku akan naik taksi. Kasihan kamunya, nanti capek bolak-balik." ujar Ella.
__ADS_1