
Dengan sebuket bungan di tangannya, Egi berjalan dengan langkah pasti. Matanya memandang ke arah Ella. "Maaf terlambat." Egi menyerahkan sebuket bunga pada Ella.
Ella mengambil bunga tersebut dan cipika cipiki dengan Egi. "Terimakasih." Ella mencium bunga tersebut dengan mata sedikit melirik ke arah Vano.
Nyonya Tiwi mendekat ke arah Egi. "Akhirnya kamu datang juga. Kalau begitu mama pamit dulu. Mama ada pekerjaan." pamit Nyonya Tiwi.
Vano mendekat ke arah Ella dan memegang tangan Ella. "Kita pergi sekarang." ucapnya.
Vano sudah tidak tahan lagi melihat Ella di kelilingi banyak lelaki di sampingnya. Emosi yang di tahannya sedari tadi sudah memuncak di ubun-ubun. Hanya tinggal menunggunya untuk meletup.
Ella dengan senyum dan tenang melepaskan tangan Vano dari lengannya. "Setelah ini aku ada acara. Dim,, Vik,,," Ella menatap ke arah kedua temannya secara bergantian.
Dimas yang mengerti dengan bahasa isyarat dari Ella segera merapat ke samping Ella. "Kita sudah lama tidak berkumpul. Jika Tuan Vano mengizinkan, kami akan pergi bersama."
Dimas mencoba meminta izin pada Vano yang semua orang tahu, jika sampai detik ini, mereka masih berstatus sepasang kekasih.
"Jika mau, Tuan Vano juga boleh ikut." secara mengejutkan, Viki sudah berada di belakang Vano dan berbicara di samping telinga Vano.
Vano sedikit kaget dan menyisih beberapa langkah dari Viki. Vano memegang tengkuknya. "Kenapa gue merinding." batin Vano memandang ke arah Viki.
"Ih iya. Eg, kenalkan. Mereka teman ku saat SMA. Dia Dimas, dan ini Viki." Ella mengenalkan mereka berdua pada Egi.
"Senang bisa bertemu lagi." Viki mengulurkan telapak tangannya.
"Saya juga." Egi menerima uluran tangan dari Viki.
Egi dan Viki sempat bertemu di sebuah restoran saat keduanya menghadiri acara pertemuan bisnis.
Jika Dimas adalah seorang fotographer terkenal dengan hasil amazing di setiap jepretan kameranya. Viki termasuk pengusaha seperti Vano dan Egi. Tetapi perusahaan Viki masih berada di bawah perusahaan Vano maupun Egi dalam segala aspek.
Dimas akan lebih memilih berkencan dengan perempuan untuk menemaninya di atas ranjangnya. Tidak dengan Viki. Dia memiliki kelainan. Viki sama sekali tidak tertarik dengan kaum hawa.
Penyuka sesama. Gay.
Tapi hanya Ella dan Dimas yang mengetahui tentang kelainan yang di derita temannya tersebut. Mereka mengetahuinya sejak berteman di SMA. Tapi keduanya tidak lantas meninggalkan Viki. Persahabatan mereka malah semakin erat.
Hingga sekarang, bahkan saat mereka tinggal di belahan dunia yang berbeda. Sewaktu SMA, Ella dan Dimas bahkan sering membantu Viki untuk keluar dari penyakitnya tersebut. Tetapi hasilnya nihil.
Bahkan, Ella pernah menahan Viki di dalam kamar mandi bersama dirinya. Ella yang saat itu masih perawan dan tidak pernah berhubungan dengan lelaki, rela bertelanjang di depan Viki.
Sementara, Dimas menunggu di balik pintu. Dia bersiap untuk segala sesuatu yang di luar rencana.
Namun, Viki tidak bereaksi sama sekali. Dia benar-benar tidak bernafsu atau tertarik dengan Ella yang sudah bugil di depannya.
"Pastinya Tuan Vano mengizinkan bukan?" tanya Dimas karena Vano hanya diam tanpa menjawab.
Tanpa menjawab, Vano mengambil tangan Ella dan membawanya pergi. "Van, lepas." ucap Ella sembari berjalan.
__ADS_1
Egi segera menyusul keduanya dan memegang tangan Ella yang satunya. "Jangan memaksa." ucap Egi.
Vano menarik tangan kanan Ella, sementara tangan kiri Ella berada dalam cekalan tangan Egi.
"Apa yang kalian lakukan. Lepas!" bentak Hana pada keduanya.
Hana langsung memeriksa kedua pergelangan tangan Ella. "Sakit?" tanya Hana dengan wajah sendu.
Ella mencubit gemas kedua pipi Hana. " I am fine bestie." ucapnya.
"Maaf Ell." ujar Egi.
Ella hanya tersenyum simpul menanggapi permintaan maaf dari Egi. Tanpa berkata apapun Vano membalikkan badan dan meninggalkan gedung tanpa membawa Ella bersamanya.
"Maaf semuanya, saya permisi dulu." ucap Reza dan segera mempercepat langkahnya menyusul Vano.
"Nggak elo kejar?" tanya Viki.
"Jadi pergi nggak nich." ujar Ella.
"Kalian mau ke mana?" tanya Egi penasaran.
"Kalau mau ikut saja Tuan." ajak Viki.
"Panggil saja Egi." pungkas Egi.
Malam ini, Ella, Egi, Hana, Dimas, dan Viki menyewa tempat karaoke. Mereka bernyanyi dan bersenang-senang bersama.
Dengan berdiri memegang mic, Ella bernyanyi sembari menggoyangkan tubuhnya. Di sampingnya Viki berjingkrak-jingkrak. Sementara yang lainnya duduk di sofa sembari menyemangati Ella.
"Ella,,, love you." teriak Hana. Ella membalikkan badan dan menyatukan jempol dan jari telunjuk kepada Hana. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Egi merekamnya dan membagikannya di sosmed.
Ella menarik tangan Egi untuk berdiri. "Jangan duduk saja Tuan. Kita di sini untuk bersenang-senang." ucap Ella.
Egi mengikuti intruksi Ella untuk menggerakkan badan bersama Ella dan Viki. Meskipun badannya bergerak seperti robot. Yang terpenting, dia bisa dekat dengan pujaan hatinya.
"Kalian, ayo. Jangan mojok terus." Viki menyeret Dimas dan Hana supaya bergabung bersama dengannya.
Dimas dan Hana saling menatap sekian detik hingga mereka memutus pandangan mereka.
"Kenapa gue salting. Sebelumnya gue udah pernah ketemu dia." batin Hana.
Dimas melihat Hana diam tanpa menggerakkan badannya. "Kenapa tadi kamu berdiri jika hanya diam saja." bisik Dimas di samping telinga Hana.
Hana langsung mengangguk dan mencoba menguasai keadaan. "Jangan sampai dia tahu gue deg-deg kan dekat dia. Padahal tadi biasa-biasa saja. Apa gue laper." batin Hana.
Dimas malah memegang tangan Hana dan mengajaknya berjingkrak-jingkrak dengannya. "Ternyata dia tampan banget Tuhan." batin Hana tersenyum kaku.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, ponsel Egi dalam keadaan menyala. Dan menyiarkan secara langsung kegilaan mereka.
Dimas dan Hana saling berhadapan dan menggoyangkan badan mereka mengikuti musik. Hana mencoba tenang. Sementara Ella sebagai biduan dengan suaranya yang pas-pasan berteriak-teriak.
Di depan Ella, Viki dengan berbagai gaya lucu menggerakkan badan, yang membuat semuanya tertawa lepas.
Pandangan Egi tidak pernah lepas dari wajah Ella. Baginya ini adalah kesempatan langka. Bisa sedekat ini bersama dengan perempuan yang dia sukai.
Bahkan tanpa sadar Ella sering merangkul Egi. Yang membuat hati lelaki tersebut semakin berbunga-bunga.
Tidak membutuhkan waktu lama, kolom komentar sudah penuh dengan berbagai pertanyaan dan pemikiran dari netizen.
Itu Ella kan kekasih Vano Reyandli. Mana Vanonya?
Apa Vano dan Ella sudah putus?
Ternyata mereka asyik juga.
Kenapa gue nggak di ajak.
Siapa kedua lelaki itu?
Ella lebih cocok dengan Tuan Egi.
Pandangan Egi pada Ella,,, dalem banget.
Dan masih banyak komentar dari netizen yang telah membanjiri kolom komentar.
Di tempat karaoke Ella sedang bersenang-senang dengan yang lain, beda halnya dengan Vano. Dia sedang mengamuk saat melihat siaran langsung dari sosmed milik Egi.
Dari luar kamar, Reza beberapa kali mencoba menghubungi Ella. Berharap Ella mengangkatnya dan bisa datang untuk menenangkan Tuannya. "Elll." geram Reza karena panggilannya tidak di jawab oleh pemilik ponsel.
Doorrr... dorr terdengar suara tembakan dari dalam kamar. "Astaga." Reza memegang dadanya karena terkejut dan kaget.
Kamar Vano sudah seperti tempat penampungan rongsokan. Bahkan foto Ella yang terpasang di dinding sudah berlubang karena mesiu yang keluar dari senjata api milik Vano.
"Apa gue telepon Tuan Danto saja. Tapi,, Ahhh. Lebih baik gue biarkan saja dulu. Dari pada Tuan Vano semakin murka. Nanti malah gue kena imbasnya." gumam Reza.
Reza duduk di kursi depan kamar Vano. Sesekali dia memejamkan mata saat mendengar suara barang pecah. Bahkan suara tembakan pistol dari dalam.
Pintu kamar Vano terbuka dengan keras dari dalam. Dengan tampilan kacau Vano keluar dari sarang. Reza berdiri dengan mata mengintip ke dalam kamar Vano. "Gempa." batin Reza melihat keadaan kamar Vano.
"Telepon beberapa orang untuk ikut bersama kita." perintah Vano.
"Baik." tanpa banyak bertanya, Reza segera menghubungi beberapa bawahan Vano dan menyuruhnya segera datang ke apartemen Vano.
*****
__ADS_1
Apa yang akan di lakukan Vano. Kenapa mesti membawa beberapa bawahannya. 😱😱