DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 177


__ADS_3

Pyaarrrrr.....


Mangkok berisi bubur yang Lena pegang terjatuh dari tangannya saat melihat Ella dan Vano keluar dari dalam kamar mandi.


Apalagi terlihat keduanya hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuh mereka. Dan terlihat keduanya nampak sangat bahagia. Bahkan Vano juga nampak baik-baik saja.


"Lena..." seru Vano. Terlihat ekspresi wajah dari Vano nampak murka. Dan Ella hanya diam. Masih berada di gendongan sang suami. Melingkarkan tangannya di leher Vano, dengan ekspresi datar.


"Katanya kamu sedang sakit." ucap Lena lirih.


"Lancang sekali kamu. Keluar!!!" bentak Vano marah. Segera Lena berlari keluar dari kamar Vano dan Ella. Air mata sudah membasahi pipinya.


"Sudah Van.." ucap Ella menenangkan Vano. Karena Vano paling tidak suka ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya tanpa izin.


Niat hati ingin memberi perhatian pada Vano, Lena malah di suguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Membuat hati Lena seakan tertancap sebuah belati tajam.


Di tangga, Lena bertemu dengan bibik. "Ada apa Non?" tanya Bibik yang melihat Lena menangis. Tanpa menjawab pertanyaan bibik, Lena terus melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar.


Entah apa yang sekarang Lena rasakan. Sakit hati melihat keintiman pasangan suami istri tersebut. Atau justru rasa takut. Karena melihat kilat amarah pada bola mata Vano.


"Sayang." Ella mencoba meredam amarah Vano.


Vano bahkan tidak menggubris perkataan Ella. Dirinya sibuk memakai pakaian dan celana. Dan segera keluar dari dalam kamar. Segera Ella memakai pakaian dan menyusul sang suami.


"Dimana Lena?" tanya Vano saat berpapasan dengan bibik di depan kamarnya.


"Mungkin di dalam kamar Tuan." ucap Bibik dengan hati-hati. Lantaran bibik melihat jika Vano sedang dalam keadaan marah.


Segera Vano bergegas pergi ke kamar Lena. Dirinya sungguh sudah tidak tahan dengan kelakuan asisten Oma Yeti yang tidak tahu aturan tersebut.


"Lena!!!" teriak Vano menggedor kencang pintu kamar Lena yang terkunci dari dalam.


Sementara Lena, dirinya duduk di atas ranjang tempat tidurnya dengan kedua tangan menutup telinganya. Tampak kedua bola matanya menyiratkan ketakutan.


"Lena,,, buka!!!" teriak Vano. Membuat semua pembantu segera melihat ke arah dirinya secara sembunyi-sembunyi.


"Ada apa sih, kenapa Tuan terlihat sangat marah." ujar pembantu yang melihat dari balik tembok.


"Mana aku tahu. Sumpah, mengerikan." imbuh yang lainnya melihat wajah menyeramkan dari Vano.


Brakkkk.... Vano membuka paksa pintu kamar Lena dari luar. Membuat semuanya terlonjak kaget.


"Vannn....." ucap Lena lirih. Merasa ketakutan melihat ekspresi Vano.


"Van,,,, lepasss.... sakit....!!!!!" teriak Lena saat tangan Vano menarik kasar rambut Lena. Membawa Lena keluar dari dalam kamar.


"Aaawww..." Lena meringis dan memegang kepalanya saat Vano melepaskan serta mendorong tubuh Lena ke lantai.


"Masukkan dalam tas semua pakaian perempuan ini." ucap Vano tegas.

__ADS_1


"Baik." segera dua orang pembantu berlari ke dalam kamar Lena. Segera memasukkan semua pakaian Lena ke dalam koper.


"Tidak, jangan. Aku tidak mau pergi dari sini." ucap Lena memohon sembari menangis.


"Angkat kaki dari rumah ini, sebelum aku berubah pikiran." hardik Vano tanpa memandang ke arah Lena. Seorang pembantu menaruh sebuah koper berisi pakaian Lena di samping Lena.


"Tidak Van, aku mohon. Jangan usir aku." Lena berlutut di bawah kaki Vano.


"Aku akan melakukan apapun Van, tapi jangan usir aku."


Di dalam kamar, Ella menyuruh bibik untuk membereskan kekacauan yang di buat Lena di dalam kamarnya. "Bersihkan semua bik. Aku turun ke bawah dulu." ucap Ella.


"Baik Nya."


Ella khawatir jika sampai Vano gelap mata. Dia tidak ingin Vano sampai melukai Lena. Bukan Ella ingin melindungi Lena, tapi Ella hanya khawatir dengan Oma Yeti.


Biar bagaimanapun, Oma Yeti adalah ibu kandung dari mertuanya, Nyonya Risma. Apalagi keadaan Oma Yeti saat ini sudah mulai membaik.


"Van, dengarkan aku." Lena berdiri, menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya dengan kasar.


"Aku bisa melakukan apapun untuk kamu. Apapun." dengan lancang dan berani, Lena menaruh telapak tangannya di dada Vano.


"Aaakkkkkhhhhh.... Vann.....va."


"Kamu tahu, apa yang aku inginkan dari kamu." tangan Vano mencekik leher Lena. Membawanya mendekat ke arahnya.


Semua pembantu yang menyaksikannya hanya diam. Mereka juga merasa takut melihat kemarahan dari majikannya tersebut.


"Vano....!!!!" teriak Ella dari atas tangga. Segera Ella berlari ke bawah, melihat Vano mencekik Lena. Jelas terlihat gurat amarah di wajah Vano. Bahkan Ella melihat, Vano benar-benar ingin menghabisi nyawa Lena.


"Apa kamu sudah gila!" Ella menarik lengan Vano. Melepaskan tangannya dari leher Lena.


Membuat Lena tersungkur di lantai. Badannya terasa seperti jeli. Lemas. Tangannya yang gemetar memegang lehernya yang terlihat merah. Nafasnya tersengal-sengal. Bahkan mata Lena sudah menyipit.


"Ambilkan minum." perintah Ella. Seorang pembantu segera berlari dan mengambilkan minum untuk Lena.


"Kamu bisa membunuhnya Van!!" geram Ella.


"Memang itu yang aku inginkan. Melenyapkan salah satu parasit di dunia ini." Vano memandang Lena dengan tatapan membunuh.


Ella mencubit pangkal hidungnya, sembari memejamkan mata sebentar. Segera Ella memeluk tubuh dari suaminya. "Sudah, jangan emosi." ucap Ella, mencoba menenangkan Vano.


Ella melihat ke wajah suaminya, dengan tangan tetap melingkar di pinggang Vano. "Senyum dong sayang." ucap Ella manja.


Vano mencubit gemas dagu Ella. Tersenyum, dan mencium dahi sang istri. Ella mengurai pelukannya dari Vano.


Melihat ke arah Lena yang masih duduk lemas di atas lantai. Sambil minum segelas air putih. "Kamu kembali ke atas, nanti aku susul." pinta Ella pada Vano.


"Aku tidak ingin dia tinggal di sini." ucap Vano.

__ADS_1


"Iya, sana. Nanti aku susul. Hust,, hust,," usir Ella pada Vano. Mengibas-ngibaskan telapak tangannya dan tersenyum.


"Baik Nyonya." ucap Vano lembut. Mencium singkat bibir Ella dan berlalu.


"Bukankah sudah pernah ku katakan. Jaga batasan mu, Nona Lena." ucap Ella tegas.


"Kau benar-benar belum mengenal siapa suamiku. Ku harap ini terakhir kalinya, kau membuat masalah dengan kami."


"Jika di kemudian hari kamu tetap mencari masalah dengan kami, aku tidak akan bisa menolong mu lagi."


"Jangan memintaku untuk berbuat kasar. Lebih baik kamu angkat kaki dari rumah ini." usir Ella.


"Setelah ini, pastikan dia tidak menginjakkan kaki di kediaman ku lagi." ujar Ella memandang ke arah pembantunya.


"Baik Nyonya." ucap mereka.


"Lepaskan tangan kalian." bentak Lena saat pembantu di rumah Ella memegang lengannya. Niat hati ingin membantu, mereka malah terkena omelan Lena.


Lena memandang sinis ke arah semuanya. Berlalu meninggalkan rumah mewah milik Vano dan Ella. Entah apa yang sekarang ada di dalam benak Lena.


Rasa kapok, atau malah rasa dendam.


"Pak, tadi Nyonya berpesan. Supaya tidak membiarkan perempuan itu masuk lagi ke dalam rumah." ucap seorang pembantu pada satpam rumah.


"Dasar perempuan gila. Beruntung Nyonya datang. Jika tidak, pasti sudah ko-id."


"Ada perempuan seperti itu. Tidak punya malu."


"Bisa-bisanya mau menggantikan posisi Nyonya. Sama sekali tidak pantas."


Dengan langkah gontai, Lena meninggalkan rumah Vano. Mau tidak mau Lena kembali tinggal bersama ibunya. Tinggal di rumah kecil dan sempit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hana tidak menyangka, jika mamanya Denis masih terus menerus mengiriminya pesan yang menohok di hati Hana.


Memang perkataannya tidak secara langsung mencela Hana, tapi di dalamnya jelas tersirat hal itu. Jika Hana tidak pantas bersanding dengan Denis.


HANA SAYANG, TOLONG BESOK-BESOK KALAU INGIN MENEMANI DENIS PERGI KE SEBUAH ACARA KAMU BILANG DULU SAMA SAYA.


SAYA BISA MEMBELIKAN KAMU BAJU DAN PERLENGKAPAN LAINNYA YANG BAGUS.


SAYA HANYA TIDAK INGIN PUTRA SAYA MENJADI BAHAN GUNJINGAN ORANG.


KARENA MEMBIARKAN KEKASIHNYA TAMPIL APA ADANYA.


"Astaga..." desah Hana. Dirinya mengira mamanya Denis tidak akan lagi begitu membencinya, saat Denis sendiri yang mengenalkan dirinya pada beliau. Tapi semuanya salah.


"Ayo,,, Hana. Semangat." ucap Hana menyemangati dirinya sendiri untuk membuat mamanya Denis mau menerima dirinya.

__ADS_1


__ADS_2