
Vano duduk di depan kemudi, dengan Ella duduk di sampingnya. Tidak ada percakapan di antara keduanya hingga Vano membuka mulutnya untuk memulai berbicara dengan sang model.
"Ell, berikan aku kesempatan." ucap Vano memohon. Ella terdiam dan melirik ke arah Vano.
"Aku janji. Akan segera menikahi mu. Seperti permintaan mu." kata Vano.
"Kapan pun kamu mau. Aku bersedia." imbuhnya.
"Aku tidak akan menduakan mu. Aku berjanji. Tidak akan ada perempuan lain dalam hubungan kita." ucap Vano menyakinkan Ella bahwa dirinya sudah berubah.
Ella memalingkan kepala ke arah jendela di sampingnya. Tidak bisa di pungkiri. Bibir Ella tersenyum mendengar perkataan dan ajakan Vano. Apalagi Vano berbicara dengan lembut.
"Menikah." batin Ella.
Sungguh, di hatinya masih ada perasaan khawatir. Bagaimana pun juga, dia menginginkan pernikahan sekali seumur hidup.
Tidak ada penghianatan. Rumah tangga yang harmonis tanpa orang ketiga. Tapi hati Ella masih menyisakan rasa tidak percaya pada Vano.
Mengingat bagaimana Vano melakukan hubungan dengan banyak wanita saat masih menjalin hubungan dengan dirinya, membuat Ella sedikit berhati-hati untuk mengambil keputusan.
Masih memiliki rasa. Memang benar. Ella masih berharap hubungannya dengan Vano kembali membaik.
Apalagi Ella sangat mencintai Vano. Mustahil bagi Ella untuk melenyapkan perasaannya pada Vano dalam hitungan hari, bahkan bulan.
"Lebih baik kita begini saja dulu." kata Ella datar.
"Saat ini aku tidak menginginkan sebuah pernikahan. Aku hanya ingin fokus ke duniaku. Model." kata Ella lagi.
"Aku akan tetap mengizinkanmu melakukan apapun yang kamu suka setelah kita menikah sayang. Bahkan tetap menjadi seorang model seperti keinginanmu." bujuk Vano.
"Papa juga sudah memasuki usia tua. Ke depannya pasti aku akan mengambil alih perusahaan." jelas Ella.
Meskipun Ella yang notabennya adalah model. Tapi dia juga pernah kuliah jurusan bisnis, di salah satu universitas ternama di kotanya. Dan lulus dengan nilai terbaik.
Hanya saja, dia belum ingin masuk atau membantu sang papa. Karena merasa papanya masih mampu mengelola perusahaan. Meskipun sendiri.
Dia lebih memilih menjalani hobinya terlebih dahulu sebagai model, sebelum nantinya fokus pada perusahaan milik sang papa.
"Kita bisa menggabungkan perusahaan kita. Bukannya itu akan lebih hebat." rayu Vano.
"Apa segitunya kamu ingin segera menikah?" selidik Ella.
"Iya sayang." jawab Vano.
"Baiklah."
Vano tersenyum senang mendengar perkataan Ella. Berhasil. Itulah yang Vano pikirkan saat ini. Tenyata meluluhkan hati perempuan sangat mudah.
"Menikahlah dengan perempuan lain." ujar Ella tenang.
"Apa maksud kamu Ell." Vano terkejut mendengar penuturan Ella. Seketika senyum di bibirnya menghilang entah kemana bersama dengan mobilnya yang perlahan mulai berhenti.
"Baiklah. Menikahlah dengan orang lain. Bukannya saat ini kamu sangat ingin menikah. Pasti banyak perempuan di luar sana yang akan dengan senang hati mau menikah dengan kamu." Ella melepas sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.
Dengan cepat Vano memegang lengan Ella saat Ella hendak membuka pintu mobil. Karena sekarang mereka sudah berada di depan gedung, tempat Ella akan melakukan pemotretan dengan Jonathan. Kekasih Viki.
__ADS_1
"Dengan kamu. Aku hanya akan menikah dengan kamu. Tidak dengan perempuan lain." ucap Vano dengan menatap tajam pada Ella.
Bukannya takut, Ella malah tersenyum dan melepaskan cekalan tangan Vano di lengannya. "Bukankah sudah ku katakan. Saat ini aku belum ingin menikah." ujar Ella keluar dari dalam mobil Vano.
Di tutupnya pintu mobil Vano. Tapi sebelum meninggalkan mobil Vano Ella memandang Vano dari jendela. Dan berucap "Jika ingin menikah denganku. Kamu harus menungguku. Apa kamu sanggup." Ella tersenyum mengejek dan pergi melangkahkan kaki ke dalam gedung.
"Pagi semua, apa saya terlambat?" tanya Ella begitu sampai di sebuah ruangan. Di mana sudah banyak yang datang. Termasuk Jonathan.
"Tidak Nona Ella. Masih ada banyak waktu untuk bersiap." ucap seorang kru pemotretan.
Dari arah lain, Hana mendekat dan merentangkan tangannya. "Maaf, Tuan Muda Vano yang menyuruhku." bisiknya dengan memeluk tubuh Ella.
Ella mengurai pelukannya dan menganggukkan kepala sembari tersenyum tipis.
"Apa hanya sang model saja yang mendapat pelukan." celetuk seseorang di samping mereka. Yang tak lain adalah Denis.
Hana memandangi Denis dengan tersenyum malu. Dan Denis dengan genit mengerlingkan sebelah matanya pada Hana. Ella bergantian memandang keduanya. Menaruh curiga pada mereka.
"Tuan, sepertinya anda berhasil menyakinkan sahabat saya." Ella merangkul pundak Denis.
"Mana mungkin dia tidak luluh dengan rayuan seorang Denis." bisiknya.
"Jangan pernah macam-macam dengannya." ucap Ella lirih dengan mengepalkan tangannya di depan Denis.
"Tenang saja. Gue bukan Vano." ujarnya memainkan kedua alisnya, membuat Ella sebal.
"Kenapa bawa-bawa nama dia." batinnya dengan langkah meninggalkan Denis yang masih tersenyum karena berhasil membuat Ella kesal.
"Kamu apakan dia?" Hana memukul pelan pundak Denis.
Denis hanya nyengir. Menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Aku hanya sebut nama Vano sayang." ucapnya dengan tatapan mata yang teduh.
Hana menggelengkan kepala melihat tingkah usil Denis pada Ella. "Sudah tahu hubungan mereka sedang bermasalah. Awas kalau sampai model ku jadi bad mood saat pemotretan." ancam Hana.
Denis dengan muka melas mencoba merayu Hana. "Astaga sayang, aku ini kekasihmu. Tega sekali." ucapnya dengan raut wajah yang lucu. Membuat Hana tersenyum gemas.
"Sudah ah, aku mau membuat wajah Ella jadi cling-cling." ucap Hana dengan memainkan jari di depan Denis.
Denis memandang punggung Hana yang menjauh darinya, seorang perempuan yang belum lama ini berhasil membuat hidupnya jungkir balik karena harus berusaha mendapatkan cintanya.
Tapi saat ini Hana sudah menjadi kekasihnya. Mengisi ruang hatinya yang sudah lama kosong. Dan Denis berjanji akan selalu menjaga dan menyayangi Hana.
"Cie,,,cie,,,, roman-romannya ada harum bunga mawar nih." goda Ella saat Hana baru saja memasuki ruang ganti Ella.
"Jangan gitu dong Ell." Hana menutup wajahnya karena malu dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan lupa PJ,, PJ,,, Pajak Jadian."
"Apasih Ell, emang kamu mau apa?" tanya Hana dengan muka merah karena masih merasa malu.
Ella memandang Hana dengan jari telunjuk berada di keningnya. "Belum kepikiran. Nanti saja deh."
Hana segera meraih tempat make-up dan memoleskannya pada wajah cantik Ella.
"Ella, elo sudah bertemu dengan Jonathan?"
__ADS_1
"Belum." jawab Ella sembari memainkan game di ponselnya.
"Dia ada di ruangan sebelah kita."
"Hemmm." Ella masih fokus pada layar ponselnya.
"Ternyata dia benar-benar tampan."
"Baru saja jadian sudah memuji lelaki lain." ucap Ella.
"Gue hanya bicara fakta sayang. Tapi masih tampan Denis." Hana menghentikan jari jemarinya di wajah Ella, melompat kecil seperti anak-anak.
"Astaga. Kerja-kerja. Nggak gue bayar tahu rasa." canda Ella.
"Kamu pecat. Tidak masalah. Gue bisa minta uang pada Denis."
"Matre." ucap Ella hingga keduanya tertawa.
Mereka berdua berbincang hal-hal yang tidak penting, hingga Hana selesai merias wajah Ella.
"Permisi." ucap seseorang di depan ruang ganti Ella.
"Tuan Jonathan, silahkan masuk." ucap Hana dengan sopan.
"Nona Ella sedang berganti pakaian." imbuh Hana, seolah mengerti tujuan sang model datang ke ruangan Ella.
Keduanya saling memandang saat Ella keluar dari kamar ganti. Sementara Hana sibuk merapikan alat make-up yang berantakan di atas meja.
Jonathan tersenyum pada Ella. Begitupun dengan Ella. Menyadari Ella sudah keluar dari kamar ganti, Hana segera mendekat dan memperkenalkan Ella pada Jonathan.
"Ell, dia Tuan Jonathan. Eh,,, pasti kalian sudah tahu ya. Kan sama-sama model." ucap Hana canggung.
"Han, ambilkan gue minum. Sekalian Tuan Jonathan." pinta Ella.
"Tidak perlu. Saya baru saja minum." tolak Jonathan dengan halus.
Hana yang sudah lama bekerja dengan Ella mengerti maksud perkataan Ella.
"Sepertinya Ella ingin berbicara berdua dengan Tuan Jonathan." batin Hana.
"Baiklah. Sebentar, gue ambilkan Ell." pamit Hana meninggalkan ruang ganti Ella.
Tidak ada rasa penasaran di hati Hana tentang apa yang akan mereka bicarakan. Karena menurut Hana, Ella pasti akan menceritakan apapun pada dirinya jika memang Ella berniat untuk menceritakannya.
Jikapun Ella tidak mengatakannya, Hana tidak marah. Karena dirinya tahu, setiap orang punya privasi masing-masing. Termasuk dirinya.
*****
Vano... kira-kira apa yang akan Vano lakukan. Menunggu Ella. Sanggup nggak. 🤔🤔
Othor kok nggak yakin, Vano bakal sanggup menahan hasratnya. ðŸ¤ðŸ¤
Dan apa yang akan Ella bicarakan dengan Jo, kenapa mesti menyuruh Hana meninggalkan mereka berdua.
Jadi kepo nih othor. 🤔🤔🤔
__ADS_1