DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 70


__ADS_3

"Siapa Paman?" tanya Ella.


Paman Haki membawa Ella ke ruang pemantau atau ruangan CCTV. Di salah satu layar, terlihat jelas sebuah mobil yang sedari tadi berhenti tanpa bergerak di seberang jalan tak jauh dari rumah Paman Haki.


"Mobil itu berhenti setelah Non Ella masuk ke dalam rumah. Dan sampai sekarang belum meninggalkan tempat tersebut." jelas anak buah Paman Haki dengan jari menunjuk pada mobil di layar monitor.


"Perbesar." ucap Ella ingin melihat plat nopol nya.


Ella mengeluarkan ponsel. Dan menghubungi seseorang. Menyuruh seseorang yang di hubungi untuk mencari informasi mengenai mobil tersebut.


Tidak membutuhkan waktu lama, ponsel Ella berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


"Siapa Non?" tanya Paman Haki.


"Orang kesasar Paman." ucap Ella tersenyum miring.


"Maksud Non Ella."


"Saya pulang dulu Paman. Tapi sebelumnya, Ella ingin meminjam empat anak buah Paman." izin Ella.


"Mereka bukan anak buah Paman Non. Kami semua bawahan papa Non Ella. Yang berarti juga bawahan Non Ella." jelas Paman Haki.


"Suruh mereka bersiap Paman. Ella akan mengirim lokasinya nanti."


"Yakin, hanya empat orang." tanya Paman Haki sedikit khawatir.


"Yakin Paman. Hanya untuk berjaga-jaga. Lagi pula cuma orang yang tersesat. Setelah Ella berikan petunjuk arah, pasti selesai." ucap Ella menatap layar monitor pengawas di depannya.


"Baiklah." ucap Paman Haki merasa sedikit keberatan dengan permintaan Ella yang hanya ingin membawa empat orang saja.


Beliau hanya takut jika terjadi apa-apa dengan anak majikannya. Apalagi beliau juga menyayangi Ella seperti menyayangi anaknya sendiri.


"Sebaiknya Paman saja yang mengikuti Non Ella." ucap Paman Haki menawarkan diri.


"Tidak perlu Paman." ujar Ella.


Akhirnya Ella menceritakan siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Supaya Paman Haki tidak khawatir.


"Dia adalah Deon. Dia rivalnya Vano. Perusahaannya di buat hancur oleh Vano." jelas Ella.


"Tuan Muda Vano. Orang licik. Bermasalah dengan Tuan Muda Vano, kenapa malah menguntit Non Ella. Benar-benar manusia sampah."


"Pasti dia tidak bisa mendekati Tuan Muda Vano. Makanya beralih ke Non Ella untuk target meruntuhkan Tuan Muda Vano. Tidak berguna. Pantas saja perusahaannya dengan mudah bisa di hancurkan." ucap Paman Haki.


"Paman tenang saja. Kalau dia macam-macam, Ella masukkan ke dalam karung. Terus di kubur. Lumayan, buat sedekah ke bumi." ucap Ella sambil tertawa.


"Baiklah. Hati-hati Non."


"Kalian. Siapkan empat orang." perintah Paman Haki pada anak buahnya.


Ella meninggalkan rumah Paman Haki menggunakan sepeda motor milik Paman Haki, tanpa menggunakan helm. Dia memang sengaja. Supaya dapat terlihat oleh Deon.


"Masuk perangkap juga." gumam Ella melihat mobil yang sedari tadi bertapa di seberang jalan rumah Paman Haki berjalan mengikuti dirinya.


Ella tidak melewati jalan yang biasanya dia lewati saat hendak pulang ke rumah. Karena jalan tersebut terlalu ramai karena bertepatan dengan jam pulang kerja.


"Nggak asik kalau ramai." gumam Ella membelokkan motornya. Ella malah mengendarai motornya melewati jalan sepi. Dimana kanan kiri jalan tersebut hanya di tumbuhi pohon dan rumput. Dan tidak ada perumahan satu pun.


"Begini kan nyaman. Sejuk lagi." ucap Ella mengendarai kendaraannya dengan pelan di sore hari.

__ADS_1


"Mau ke mana dia. Kenapa malah melewati jalan ini. Lambat sekali. Bisa apa nggak sih naik motor." gumam Deon di dalam mobil sembari melihat ke arah Ella.


Deon berpikir Ella tidak mahir mengendarai sepeda motor. Makanya dia melewati jalan sepi supaya tidak bersimpangan dengan kendaraan lain. Dan juga berjalan pelan saat berkendara karena Ella masih dalam tahap belajar naik motor.


"Kesempatan." ucap Deon dengan tersenyum senang.


Di dalam kediamannya, Paman Haki tetap merasa khawatir. Akhirnya beliau menghubungi Vano dan menceritakan semuanya pada Vano tentang rencana Ella pada Deon.


"Brengsek. Sepertinya apa yang ku lakukan padanya masih kurang." seru Vano.


"Akan ku habisi jika sampai dia menyentuh Ella." Vano segera menghubungi Reza dan menyuruhnya untuk menyiapkan mobil.


Vano berdiri dan hendak melangkahkan kakinya, tapi berhenti karena pintu ruangannya terbuka dari luar. Nampak Imey, sekertaris seksi Vano masuk dengan berkas di tangannya. Berjalan dengan gaya seksinya. Dan kedua ujung bibir terangkat ke atas.


"Tuan, ini berkas yang memerlukan tanda tangan anda." Imey menyerahkan berkas pada Vano dengan membusungkan dadanya. Sengaja untuk menggoda Vano.


"Taruh saja di meja."


"Kelihatannya sedang ada masalah." batin Imey melihat raut wajah Vano. Dia berpikir mungkin ini kesempatan untuk lebih dekat dengan Vano.


Langkah kaki Vano kembali terhenti karena tangan Imey dengan berani memegang lengannya. "Tuan. Jika ada masalah, Imey siap membantu." ucapnya dengan penuh harap.


Dengan sekali sentak, tangan Imey terlepas dari lengan Vano. "Jaga batasan mu." tegas Vano.


"Tuan." rengek Imey kembali memegang lengan Vano tanpa rasa malu.


"Aku tidak tertarik dengan ****** seperti mu." geram Vano menyentak kembali tangan Imey dengan kasar. Membuat Imey yang menggunakan sepatu ber-hak tinggi terhuyung ke belakang. Dan akhirnya terjerembab ke lantai.


Tanpa menghiraukan sekertaris nya yang duduk di lantai menahan rasa sakit , Vano melangkahkan kakinya meninggalkan perusahaannya. Saat ini yang ada di benaknya hanya keadaan Ella. Hanya keselamatan seseorang yang dia cintai.


Kreeekkk... terdengar bunyi sobek.


Saat Imey hendak berdiri, rok bagian belakang sobek. Mungkin karena rok tersebut terlalu ketat di pakai oleh Imey.


"Aaaa. Sial. Vano,,,, ini semua karena kamu." seru Imey dengan sebal dan marah.


Di rabanya rok bagian belakang. "Iiiihhhhh. Panjang sekali." ucap Imey saat mengetahui roknya sobek begitu panjang. Bahkan ********** saja terlihat jelas.


Imey menghentakkan kakinya ke lantai berkali-kali. Melampiaskan rasa kesal karena di tolak Vano. Dan rasa kesal karena ternyata roknya sobek sangat panjang.


*


*


Ella tersenyum samar saat mobil yang di kemudikan oleh Deon akhirnya berhenti di depannya. "Udah gue tunggu dari tadi, sampai tangan gue pegel." gumamnya karena harus mengendarai motor dengan kecepatan pelan seperti kura-kura.


Dengan percaya diri Deon turun dari dalam mobil dan menghampiri Ella. "Kita bertemu lagi." ucapnya.


"Ada apa?" tanya Ella santai dengan masih berada di atas motornya.


"Bisa kita berbicara."


"Bukankah sekarang kita sudah berbicara."


"Baiklah. Kalau begitu ikut dengan saya." Deon memegang lengan Ella. Menyuruh Ella turun dari motornya.


Ella melepaskan cekalan tangan Deon. "Bisa lebih sopan." pinta Ella.


Deon menatap Ella dengan pandangan menjijikkan. Dia memindai tubuh Ella dari atas hingga bawah. "Saya jamin. Saya lebih hebat dari pada Vano soal urusan ranjang. Bagaimana." tawar Deon.

__ADS_1


"Maaf. Saya tidak tertarik."


"Maaf juga kalau begitu. Saya tidak biasa menerima penolakan." Deon menarik paksa Ella untuk turun dari motor dengan kasar.


"Lepas." Ella menghentakkan tangan Deon setelah kedua kakinya benar-benar berdiri sempurna di atas aspal.


Deon memegang dagunya, tersenyum remeh dengan menatap Ella. "Ayolah baby, tidak usah jual mahal. Perempuan seperti mu pasti sudah tidak perawan." ejek Deon.


"Memang. Tapi sayangnya saya sangat pemilih dalam urusan itu. Tidak sembarang pria bisa naik ke atas ranjang saya Tuan." ucap Ella sombong.


"Ciihhh, berapa tarifmu."


"Tarif. Jangan bicara soal harga Tuan. Memangnya anda masih punya uang. Bukankah perusahaan anda sudah bangkrut." ejek Ella.


Mendengar cuitan dari mulut Ella membuat kepala Deon memanas. Niat ingin mengajak Ella pergi bersamanya dan menikmati tubuh sang model, untuk membalas Vano. Malah mendapat hinaan dari Ella.


"Jangan uji kesabaranku." desisnya.


"Jika begitu. Enyahlah dari hadapanku." sinis Ella.


"Kau." geram Deon.


Dengan kasar Deon menarik Ella. Berniat membawa Ella masuk ke dalam mobil.


"Bukankah sudah ku peringatkan. Jangan bermain kasar." Ella mendorong dan menendang tubuh Deon.


Tubuh Deon terhuyung ke belakang beberapa langkah. "Wanita milik Vano, ternyata kuat juga."


Dengan cepat Deon maju ke depan. Dan menyerang Ella dengan mengayuhkan kakinya. Ella yang sudah terbiasa menghindar dan tersenyum remeh pada Deon.


Merasa di pecundangi Ella, Deon lagi-lagi melancarkan serangan ke Ella. Namun Ella lagi dan lagi hanya menghindar. Membuat Deon semakin kesal karena sedikitpun serangannya tidak ada yang mengenai tubuh dari sang model.


"Anda tahu Tuan, saya seorang model. Tentu saja tubuh saya adalah aset yang sangat berharga." ejek Ella dengan mengerlingkan sebelah matanya.


Membuat Deon semakin kesal dan menyerang Ella dengan membabi buta. Ella dengan tenang selalu menangkis dan menghindar.


"Brengsek." ucap Deon.


Saat satu pukulan hendak di arahkan ke wajah Ella, sebuah tangan dengan kuat menghalangi dan memegang lengan Deon.


Membuat Deon dan Ella sama-sama menoleh ke pemilik tangan tersebut.


*****


Salam hangat dari othor untuk kaka...


Jangan lupa bunga mawarnya ya kaka...


Jangan lupa like untuk othor ya kaka...


Jangan lupa masukannya, dengan berkomentar...


Dan....


Jangan lupa masukin karya othor ke novel favorit kaka...


Makasih.... Makasih.... dan Makasih.


😘😘

__ADS_1


__ADS_2