
"Sayang,,, pulang yuk." lagi-lagi Ella menunjukkan kemesraan di depan Viki dan Jo.
Ella mendaratkan pantatnya di paha Vano. Tak lupa tangannya melingkar posesif di leher sang kekasih. Dan yang lebih gila, Ella mengecup sebentar bibir tebal milik Vano.
Tak tinggal diam, Vano tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera Vano meraih tengkuk Ella saat Ella ingin menjauhkan wajahnya. Terjadilah pertukaran saliva tepat di depan Viki dan juga Jo.
Viki meremas lengan Jo dengan gemas. Sementara Jo, mengepalkan tangannya dan memejamkan mata.
Ella tersenyum saat pangutan Vano terlepas, ekor matanya melirik ke arah Jo. Dengan penuh kasih sayang, jari Vano terulur mengusap bibir Ella. Dimana lipstik yang menempel di bibir Ella menjadi rusak. "Maaf, jadi belepotan." ucap Vano tersenyum manis.
"Tidak masalah. Hanya lipstik. Bisa di benahi lagi. Tapi,,, kalau rasa yang tadi. Aku suka." ucap Ella manja dengan mengedipkan sebelah matanya. Ella memegang gemas dagu Ella.
"Sudahhhh....!!!! Kalian mengotori mata suci kami." teriak Viki bergelayut di lengan Jo.
Sedangkan Jo memasang wajah datar dan mengalihkan pandangan. Ella dan Vano tersenyum licik dan saling memberi isyarat.
"Kenapa, pasti iri." goda Ella.
"Pulang Elll,,, pulang. Dasar." seru Viki.
Ella dan Vano bergandengan tangan melangkahkan kakinya. "Ehh,, tunggu sayang." ucap Ella menghentikan langkah kakinya dan Vano.
Ella membalikkan badan dan tersenyum ke arah Viki. "Senyummu pasti mengandung sesuatu yang tidak menguntungkan diriku." ucap Viki menatap tajam Ella.
"Di dalam, ada pakaian kotorku. Nitip, sekalian loundri. Dan maaf, kamarnya belum aku bersihkan." ucap Ella dengan ber-kiss bye pada Viki sembari mengajak Vano segera meninggalkan apartemen milik Viki.
Viki memejamkan mata. Mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. "Ellaaaaaa.......!!!" teriak Viki, membuat Jo reflek menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Viki menyenderkan badannya ke badan Jo. "Sayang,,,,,," ucap Viki sembari memainkan jarinya di pundak Jo.
Jo menggeser duduknya. "Kamu mandi gih, bau." Jo menutup hidungnya dengan telapak tangannya.
Viki sontak sedikit menjauh dan mencium sendiri badannya. "Nggak deh, nggak bau. Tapi ya sudah lah, aku mandi dulu." Viki mencium singkat pipi Jo dan melenggang pergi.
Viki,,,, sebegitu cintanya kamu sama Jo. Bagaimana jika kamu tahu yang sebenarnya. Tak dapat di bayangkan. Lagian, aneh juga si Viki. Punya penyakit yang sulit di sembuhkan.
Jo segera bangkit dari duduknya setelah memastikan Viki masuk ke dalam kamarnya. Tempat yang di tuju Jo adalah kamar di mana Ella dan Vano melakukan kegiatan panas mereka.
Kreeekkkk,,,, dengan pelan Jo membuka pintu kamar. Dari ambang pintu di lihatnya, bagaimana keadaan kasur yang sangat berantakan. Seprei dan bantal bahkan berada di lantai. Selimut sudah berada di tepi ranjang, dan hampir terjatuh ke lantai.
Langkah Jo menuju tempat sampah. Entah apa yang ada dalam benaknya. Tanpa rasa jijik, dia mengambil tisu yang berada di dalam tempat sampah. Dan dapat dipastikan, tisu tersebut sudah terkontaminasi dengan cairan milik Ella maupun Vano.
Di buang kembali tisunya ke dalam tempat sampah dengan kasar. Jo teringat saat Ella memberitahu Viki jika dirinya meninggalkan baju kotornya di dalam kamar.
Segera kaki Jo melangkah ke dalam kamar mandi. Mencari baju yang di maksud oleh Ella. Sebuah ranjang berukuran sedang mencuri perhatiannya. Ternyata benar, disitulah Ella menempatkan pakaian kotornya.
__ADS_1
Diambilnya pakaian kotor milik Ella dari dalam keranjang. Diciumnya bau wangi parfum bercampur wangi badan Ella yang masih melekat di pakaian tersebut.
Jo menghirupnya berulang sembari memejamkan kedua matanya. Pikirannya tertuju pada lekuk tubuh Ella yang indah.
Dan yang lebih parah, tangan Jo terulur mengambil kain tipis berbentuk segitiga dan juga bra. Sudah bisa ditebak, kain apa yang di ambil olehnya. Dalaman milik Ella.
Jo pun mencium dalaman milik Ella. Terlintas dalam bayangannya betapa menggodanya Ella dengan hanya memakai selimut yang di lilitkan di badan seksi sang model.
"Ellaaaa...." gumamnya dengan hasrat menggebu menginginkan Ella berada di atas ranjang bersama dengan dirinya. Berharap Ella berada di bawah kungkungannya. Berdua memadu kasih.
"Sial,,, kenapa gue mesti terjebak dalam permainan rumit ini." batin Jo.
"Gue memang bodoh. Kenapa dulu gue mendekati Viki untuk mengorek informasi keluarga Haris. Kenapa gue begitu bodoh." Jo dengan kasar melemparkan dalaman Ella ke arah cermin di depannya. Merasa menyesal dengan langkah yang telah di diambilnya.
Jo berjalan meninggalkan kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat foto Ella bersama kedua sahabatnya. Viki dan Denis.
"Kenapa dulu gue tidak mendekati Ella. Membuatnya bertekuk lutut. Melakukan apapun yang gue minta. Dengan begitu, gue bisa membalas dendam pada keluarga mereka lewat dia. Dan juga, pastinya gue akan sering mencicipi tubuh seksinya." Jo tersenyum menjijikkan, membayangkan badan seksi sang model. Ella. Berada dalam dekapannya.
Pasti Jo tidak mengira seberapa berbahayanya Ella. Seberapa beringasnya jika Ella sudah bertindak.
"Bego." gumam Jo merasa dirinya begitu bodoh. Kenapa dirinya malah terjebak dengan Viki saat ini.
*****
"Van, aku ingin menemui Denis. Jika kamu ada kepentingan lain, turunkan saja aku di sini." pinta Ella pada Vano yang sedang menyetir mobil.
"Bukankah sudah aku bilang. Kamu bisa bertemu denganku kapan saja. Tidak ada batasan waktu."
"Tapi sayang..." ucap Vano kembali.
"Turunkan aku di sini saja. Segera akan ku selesaikan masalah ini." ucap Ella gamblang.
"Biar aku yang menangani masalah Jo. Kamu tinggal terima hasilnya."
"Ini bukan hanya masalah Jo. Sekarang masalahnya lebih dari itu. Persahabatan kami taruhannya."
"Baiklah Tuan Putri. Hamba akan mengantar Tuan Putri kemana saja. Bahkan ke luar angkasa pun akan hamba antar." ucap Vano dengan nada bicara di buat-buat.
"Kami pikir aku astronot." celetuk Ella tersenyum.
"Bukanlah, siapa bilang kamu astronot. Kamu itu butronot. Aku paktronot." ucap Vano aneh membuat Ella mencubit lengan Vano gemas.
"Sayang, aku lagi nyetir. Jangan di goda dong."
"Apa sih Van." Ella memukul pelan lengan Vano.
__ADS_1
"Idiiihhhh,,, sayang. Jika mau nambah ***-*** di rumah saja. Oke." goda Vano.
"Astaga,,, bicara kamu semakin ngawur." Ella berpura-pura merajuk dengan bibir di monyongkan.
"Minta di kiss tuh bibir. Nggak sabar banget."
"Aaaa,,,, Vano nyebelin." Ella mencubit kecil lengan berotot Vano. Membuat sang pemilik tubuh menjerit karena rasa sakit.
"Jahat banget sih Ell..." rajuk Vano.
Ella terdiam bersedekap menahan senyum dengan pandangan mata lurus ke depan.
"Sayang..." goda Vano dengan suara manja.
Ella langsung menutup kedua telinganya. Matanya melotot ke arah Vano. Membuat Vano tertawa.
Vano benar-benar merasakan bahagia. Sebelumnya tidak pernah dirinya bercanda dengan kekasihnya. Tapi sekarang, sikap Vano berubah 360⁰
Apalagi Ella, semenjak Vano merubah sikapnya, Ella selalu tersenyum bahagia. Seakan senyum tak akan pernah menghilang dari hidupnya lagi.
"Kita pergi ke studio Denis." jelas Ella sembari menyebutkan alamat yang akan mereka tuju.
"Dia punya studio?" tanya Vano.
"Sekedar hobi. Studio kecil di gang kecil padat penduduk."
Ella segera menghubungi Denis. Memberitahunya jika dirinya dan Vano hendak menuju ke tempatnya.
Ella juga menghubungi bawahannya yang di tugaskan untuk mengawasi Dian. Adik tiri Vera. Menanyakan keadaan gadis tersebut. Dan Ella nampaknya puas dengan jawaban yang di berikan bawahannya. Bahwa keadaan Dian lebih baik dari sebelumnya.
Ella sengaja belum melepaskan Dian. Dirinya takut jika seseorang akan melukai dia di luar. Yang lebih parah, Dian akan di habisi. Dan Ella tidak akan membiarkan gadis tidak bersalah kehilangan nyawanya secara sia-sia.
Dan Vera, jangan tanyakan lagi. Sekarang dia benar-benar gila. Ella menyuruh bawahannya untuk menyuntikkan obat yang membuat Vera terus berhalusinasi. Ella melakukan tanpa memberi tahu siapapun. Bahkan Vano. Hanya dirinya dan seorang suruhannya yang mengetahuinya.
Dan pastinya, bawahan Ella tidak akan membuka mulut. Karena Ella tidak sembarangan memilih seseorang untuk melakukan hal tersebut.
"Ell,,, sayang. Setelah masalah selesai. Aku ingin segera menikah denganmu." ucap Vano.
"Nanti kita bicarakan dengan para orang tua. Kapan kita akan bertunangan."
"Tidak perlu sayang." kata Vano membuat Ella seketika menoleh ke arahnya.
"Aku tidak ingin bertunangan. Kita langsung menikah saja. Terlalu lama."
"Mana ada Van. Biasanya orang-orang akan bertunangan dulu.''
__ADS_1
"Biarkan saja jika mereka ingin bertunangan dulu sebelum menikah. Tapi aku tidak ingin melakukannya. Kita langsung menikah saja." kekeh Vano.
"Dulu saja di ajak menikah tidak mau. Sekarang kekeh ingin segera menikah." batin Ella.