DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 58


__ADS_3

"Apa Ella sudah menghubungi kamu?" tanya Vano.


"Belum Tuan. Tadi saya sempat menghubungi Nona Ella. Tapi tidak di jawab." jelas Reza.


Di sinilah sekarang mereka berada. Di Club malam, di mana para pengunjungnya rata-rata para sosialita dan pengusaha kaya.


Tempat di mana Vano dan teman-temannya sering berkumpul. Tempat Vano melakukan ehem-ehem dengan para perempuan. Melampiaskan nafsunya yang sering kali tak bisa dia kendalikan.


Memang kalau orang yang sudah bernafsu bisa di kendalikan ya 🙄🙄 Maaf, author nggak tahu. Cuma asal nulis. Mangap ya 🙏🙏 peaceeee ✌️


Tapi itu beberapa waktu yang lalu. Dan sekarang, Vano ingin menghentikan kebiasaan tersebut. Kebiasaan yang apabila di teruskan akan mempengaruhi hubungannya dengan Ella. Bahkan bisa kehilangan Ella. Selamanya. End. Finish.


Apakah bisa Vano menghentikan kebiasaannya 🙄🙄 Kita pantau bersama temannn.... 😎😎


Lagi pula, mana ada pasangan yang akan menerima jika pasangannya melakukan itu-itu sama orang lain. Heloooo,,,, pikir Vano 🤔🤔 Meskipun elo tampan, tajir melintir tir tir.....!!


Beberapa lelaki menghampiri Vano dan Reza.


"Kenapa elo selalu bawa anjing penjaga sih Van?" ucap Deon dengan ekor matanya melirik ke arah Reza.


Reza sadar jika perkataan lelaki tersebut ditujukan pada dirinya. Reza hanya diam. Mencoba menguasai dan meredam amarahnya. Vano masih duduk tenang dengan tangan kanan memegang dan menggoyang pelan wisky di dalamnya.


Mereka duduk dan memesan minuman. "Sepertinya elo lama nggak datang ke sini. Apa ada tempat baru?" tanya Ibra pada Vano.


Vano menyeruput sedikit wisky yang berada di tangannya. "Banyak kerjaan." ucapnya.


Lagi-lagi Deon menyindir Reza. "Elo punya babu. Untuk apa elo bayar, kalau nggak becus kerja." ledeknya.


"Gue dengar elo kerja sama dengan Egi." tanya Dami.


"Ya." jawab Vano singkat.


Dua wanita cantik dan seksi dengan pakaian kurang bahan menghampiri mereka. "Hai, boleh gabung?" tanyanya.


Dami sedikit menggeser duduknya. "Dengan senang hati." ucapnya.


Keduanya menatap ke arah Vano. Wanita mana yang tidak terhipnotis akan ketampanan dan nama besar dari kekasih Ella tersebut.


Deon membisikkan sesuatu pada salah satu wanita tersebut. Dia melihat ke arah Deon dan tersenyum. Lantas beranjak dari duduknya.


Dengan berani dia langsung mendaratkan pan**tnya di paha Vano. Kedua tangannya melingkar di leher Vano.


Vano terdiam, memejamkan mata dengan satu tangan masih memegang gelas berisi wisky. Rahangnya mulai mengeras.


Reza yang mengerti gelagat dari Vano segera menyingkirkan wanita tersebut dari pangkuan Vano. Sebelum sesuatu terjadi pada wanita tersebut.


"Sebaiknya anda jangan mencari masalah." Reza menarik lengan wanita tersebut.


"Hey.." seru wanita tersebut kesal dengan kelakuan Reza.

__ADS_1


Deon yang tidak terima langsung mencekal lengan Reza. "Babu, elo duduk manis saja. Jadi anjing penjaga yang baik." ujarnya dengan senyum remeh.


"Hentikan Yon." ujar Ibra yang sepertinya tahu apa yang akan terjadi.


"Duduklah Yon, habiskan minuman mu." timpal Dami.


"Hey kalian. Suruh babu ini yang berhenti. Suruh anjing penjaga ini yang duduk manis." seru Deon dengan tangan masih mencekal erat lengan Reza.


Penggg......


Darah mengucur deras dari kepala Deon. Membuatnya melepaskan cekalan tangannya pada Reza. Badannya terhuyung ke belakang dengan tangan memegang kepalanya.


"Yon." seru Ibra dan Dami berdiri dan melihat keadaan Deon.


Kedua wanita seksi dan cantik tadi langsung berlari menjauh dari meja mereka.


Reza memundurkan langkahnya. Membuka jalan untuk Tuannya. "Jaga mulutmu jika masih ingin bernafas. Anjing." ucap Vano tegas.


Kalian tahu apa yang sudah terjadi. Ya benar teman....


Gelas di tangan Vano meluncur bebas ke arah kepala Deon. Membuat darah muda mengucur dari kepalanya.


Vano sudah menahan kesal mendengar Deon menyebut Reza babu dan anjing peliharaannya. Sebenarnya Vano tidak ingin melakukan apapun pada temannya tersebut.


Tapi, mulut Deon terus menggonggong. Membuat Vano muak. Dan Reza, kenapa dirinya hanya diam dan hanya bisa menahan rasa kesalnya.


Karena Reza sadar siapa dirinya. Mereka adalah teman dari Tuannya. Tidak mungkin dirinya menyerang orang, yang notabennya adalah teman dari atasannya.


Mana mungkin ada yang berani ikut campur permasalahan mereka. Apalagi jika mereka harus berhadapan dengan pengusaha satu ini. Vano Reyandli.


Dami memandang ke arah Vano. "Elo gila. Apa yang elo lakuin." ucapnya dengan suara lantang.


Vano berdiri didepan Deon yang duduk dengan memegang kepalanya, dan Ibra yang berada di samping Deon.


"Jangan biarkan dia masuk lagi ke tempat ini." ucap Vano. Membuat semua orang yang berada di sana berbisik.


*Apa sebenarnya yang terjadi.


Bukankah mereka berteman.


Gila, kenapa Deon membangunkan singa tidur.


Tamat riwayatmu Deon*.


Vano berjalan santai, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Reza tersenyum remah saat berjalan melewati Deon.


Dengan memegang kepalanya Deon berdiri.


"Elo akan menyesal telah melakukan ini Van. Elo akan menyesal sudah membela babu elo." teriak Deon.

__ADS_1


"Sudah Yon, hentikan." bentak Dami, pandangan matanya segera beralih ke arah Ibra.


Ibra seakan mengerti isyarat dari Dami. Dia segera berjalan ke arah Vano. Sedangkan Vano menghentikan langkahnya karena suara teriakan dari Deon.


"Lebih baik elo pulang Van. Za, tolong." ucap Ibra, meminta tolong pada Reza untuk membawa Vano pergi dari sini.


Bukannya melangkahkan kakinya ke depan, Vano malah membalikkan badannya dan memandang tajam ke arah Deon. "Siapapun yang bekerja sama dengan perusahaan Deon, akan menerima akibatnya." ucap Vano.


Blummmm... membuat semua orang membeku dan terdiam akan pernyataan dari Vano. Atau lebih tepatnya, ancaman.


"Van." ucap Ibra.


Vano menghiraukan panggilan dari Ibra, dan memilih meninggalkan tempat tersebut. Dan Reza, sebelum mengikuti langkah atasannya. Dia melihat ke arah Deon dengan tangan seperti menggorok leher.


Mati elo.


Jika Vano sudah membuat pernyataan seperti ini, maka bisa dipastikan. Tidak akan ada yang mau bekerja sama dengan Deon. Dan bisa di pastikan, mereka yang sudah terlanjur bekerja sama dengan Deon, akan lebih memilih memutuskan kontrak kerja sama.


"Cari di mana Ella berada." ucap Vano pada Reza ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Baik Tuan."


*****


"Bicaralah, tidak perlu khawatir." kata Tuan Haris pada Hana.


Hana memandang ke arah Tuan Haris dan Nyonya Ane bergantian. Dengan wajah tenang dan senyum di bibirnya, Nyonya Ane menatap Hana.


"Maaf Ell, gue nggak bisa bohong sama orang tua elo." batin Hana.


Sebenarnya Tuan Haris dan Nyonya Ane sudah tahu tentang masalah putrinya dan Vano dari orang suruhannya. Bahkan mereka juga tahu jika Vano pernah berhubungan dengan beberapa perempuan selama masih menjalin hubungan dengan Ella.


Tidak hanya itu, mereka juga tahu jika Ella selalu menuruti perkataan dan perintah Vano. Lantas, kenapa mereka sebagai orang tua Ella, seolah hanya diam saja menyaksikan semuanya.


Seandainya mereka menyuruh Ella berhenti mencintai Vano, apa putrinya akan mau. Apa Ella akan menuruti perkataan mereka. Karena mereka sadar, jika putrinya sangat mencintai Vano. Dan putrinya memiliki sifat keras kepala.


Dan satu-satunya cara mereka hanya memantau. Seandainya Vano berbuat sesuatu yang membahayakan Ella, sudah dipastikan Tuan Haris akan bertindak.


Pernah, Tuan Haris ingin mengambil sikap pada Vano, dengan berpura-pura berkata pada Ella. Bahwa dirinya akan menyuruh Vano untuk menjaga Ella. Ternyata Ella menolaknya. Dan penolakan dari Ella membuat Tuan Haris senang.


Menjadikan Tuan Haris percaya pada Ella. Jika sekarang putrinya bisa mengambil sikap. Dirinya tidak perlu melakukan apapun. Karena Tuan Haris percaya, jika Ella dapat menyelesaikan masalahnya dengan Vano. Tanpa dirinya ikut campur dan terlibat di dalamnya.


*****


Vano,,, kamu lagi cari Ella ya. 😅😅😅


Datang saja ke rumah author. Nanti author kasih tahu di mana Ella. 😁😁


Sini Vano, sini,,, author tunggu.

__ADS_1


Jangan lupa bawa sesuatu.


Kan kamu kaya...😜😜


__ADS_2