
"Bolehkan sayang?" bujuk Ella pada sang suami. Mengutarakan maksudnya untuk melukis. Mengusir rasa bosan.
"Kamu yakin? Aku takut, kamu nanti akan lelah." tanya Vano.
"Astaga Van,, apaan lelah. Cuma menggambar saja. Lagian yang namanya menggambar kan duduk santai sayang. Mana ada jalan-jalan kayak di catwalk." ucap Ella menyakinkan Vano dengan sedikit merajuk.
"Ya, bolehkan. Aku bosan." bujuk Ella sembari memeluk tubuh kekar suaminya dari belakang. Berharap Vano mengizinkannya.
"Dimana?" tanya Vano. Melepaskan pelukan Ella dan beralih memandang wajah cantik istrinya.
Terlihat Ella diam, menatap ke arah Vano dengan mengernyitkan dahinya. Tampak dirinya bingung dengan pertanyaan Vano.
Vano terkekeh melihat raut wajah Ella yang lucu. Ditariknya hidung mancung milik sang istri. Membuat Ella memberengut kesal. Dengan tangan menggosok hidungnya yang sedikit sakit karena ulah suaminya.
"Maksudku, melukis di mana?" tanya Vano memeluk tubuh sang istri dari depan.
"Di rumah."
"Emm,,, Jika begitu, tunggu satu hari lagi. Aku akan menyiapkan sebuah ruangan untuk kamu, khusus melukis." ucap Vano menyisihkan anak rambut di pipi Ella, membawanya ke belakang telinga.
"Nggak perlu sampai segitunya Van. Aku bisa melukis di taman belakang."
"Tidak bisa." sanggah Vano. Ella menghela nafas. Jika Vano sudah berkata A, maka dia akan melakukannya.
"Bukankah akan terlihat berlebihan." keluh Ella.
Ella hanya ingin mengisi waktu senggangnya, bukan untuk menjadi pelukis profesional. Ella bisa melakukannya di mana saja.
"Aku hanya ingin kamu dan anak kita aman dan nyaman. Hemmm.." Vano menggesekkan hidung mancungnya pada hidung Ella.
"Baiklah." ucap Ella pasrah. Dari pada Ella membantah atau tidak menuruti perkataan Vano, bisa jadi Vano malah tidak mengizinkannya.
Vano membawa Ella duduk di kursi. Dengan Vano jongkok di depan Ella. Memandang perut rata milik sang istri. "Anak papa, jangan nakal ya. Kasihan mama." Vano mengusap perut Ella yang masih rata dan menciumnya dengan lembut.
Ella memandang ke arah Vano. "Tuhan benar-benar tidak tidur. Terimakasih, telah memberikan hadiah atas kesabaranku selama ini." ucap Ella dama hati.
Tangan Ella terulur mengelus pelan rambut Vano yang masih dalam keadaan jongkok. "Iya papa, baby nggak akan nakal. Papa tenang saja. Baby akan jaga mama." ucap Ella menirukan suara anak kecil.
Vano mendongakkan kepala, membuat dirinya dan Ella bertatapan. "Kok baby?" tanya Vano.
"Kitakan belum tahu jenis kelaminnya, makanya aku panggil baby." ucap Ella.
"Jangan baby. Aku tidak suka."
"Lalu?"
"Kakak."
"Kakak. Kenapa?" tanya Ella, merasa aneh dengan panggilan yang akan di berikan pada calon bayinya.
"Karena dia akan punya adek lagi." Vano mengecup punggung telapak tangan Ella dengan pelan dan lembut.
"Lahir saja belum, kamu sudah memikirkan untuk memberi dia adik." celetuk Ella.
"Haruslah, kasihan jika dia sendiri. Seperti kita. Kesepian." sahut Vano dengan pandangan mata mengarah ke perut Ella.
"Oke. Kakak." jawab Ella, menyetujui panggilan untuk calon bayinya di dalam perut. Ella dan Vano tersenyum bersama.
"Kita akan membuat rumah ini menjadi ramai dengan anak-anak kita." Vano duduk di samping Ella. Mengecup lembut bibir seksi sang istri.
Vano melihat ke arah jam yang terpasang di dinding kamarnya. "Sebentar, aku buatkan susu." Vano berdiri hendak turun ke bawah.
"Van, sekalian buatkan aku roti panggang. Suruh pembantu saja." ucap Ella. Vano hanya mengangguk dan tersenyum.
"Padahalkan bisa nyuruh lewat telepon." gumam Ella, melihat Vano memilih untuk pergi sendiri ke dapur.
Ella berdiri dan mengambil ponsel miliknya. "Bagaimana kabar Hana. Kok setelah kemarin dia nggak ada hubungin aku." batin Ella.
"Kenapa dia juga nggak nemuin aku." imbuh Ella melihat ke layar ponselnya.
Tidak lama, pintu kamar terbuka dari luar. Terlihat Vano membawa nampan berisi segelas susu ibu hamil dan juga roti panggang.
"Harumnya..." ucap Ella. Karena Ella tidak terlalu mengalami muntah dan mual parah. Dia hanya akan muntah saat pagi hari. Dan juga akan mual saat menvium bau yang tidak dia suka. Atau mungkin, bayinya yang tidka menyukainya.
"Ini aku sendiri yang buat Ell." ucap Vano dengan bangga, serta pamer pada sang istri jika dia bisa membuat roti panggang.
"Really." ucap Ella, seakan tidak percaya. "Sumpah." Vano mengangkat tangannya, membentuk huruf V.
__ADS_1
"Terimakasih papa." ucap Ella dengan antusias. Segera Ella mengambil dua lembar roti yang sudah bertumpuk menjadi satu dan memakannya. Setelahnya, dia teguk susu dalam gelas sampai tandas.
"Pintar sekali mama." Vano mengelus pelan punggung Ella.
"Lain kali akan aku buatkan lagi." ucap Vano dengan semangat. Ella tersenyum dan mengangguk.
"Pasti sekarang berat badanku naik." ucap Ella tersenyum, tapi seperti terpaksa. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Kenapa mesti risau. Itu wajar untuk ibu hamil." ucap Vano menenangkan.
"Kamu tidak masalah. Kamu tidak malu. Aku nanti gendut."
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang. Justru aku akan marah jika kamu tidak makan banyak. Pasti anak kita di dalam juga akan kelaparan. Apa kamu mau, anak kita tidak berkembang dengan baik."
"Vann...!!" tegur Ella.
"Makanya, jangan berpikir yang aneh-aneh. Yang terpenting, kamu dan calon bayi kita sehat." ucap Vano menenangkan.
"Diluar banyak perempuan cantik dan seksi." ucap Ella dengan bibir cemberut. Vano dapat menangkap makna dari perkataan sang istri.
"Mereka tidak seperti kamu. Jadi aku tidak tertarik." ucap Vano.
"Lagipula, kamu akan bertambah seksi jika mempunyai badan montok." goda Vano.
"Vann.." Vano membawa Ella ke dalam pelukannya. Mencium pucuk kepala Ella.
"Jangan berpikir macam-macam. Sebaiknya kita tidur. Tidak baik ibu hamil tidur larut malam. Kamu cuci tangan dan kaki kamu dulu. Jangan lupa gosok gigi. Setelah itu tidur." pinta Vano, karena dirinya sudah melakukannya tadi.
"Mau aku bantu?" tawar Vano melihat sang istri berjalan ke arah kamar mandi.
"Terimakasih Tuan. Tangan dan kaki saya masih lengkap." tolak Ella dengan raut wajah menggemaskan. Membuat Vano tersenyum.
Keesokan paginya, Ella terbangun karena suara berisik dari luar. Kamar Ella memang kedap suara. Dari luar, tidak ada yang bisa mendengar suara yang dihasilkan dari dalam kamar.
Tapi sebaliknya. Dari dalam kamar, Ella bisa mendengar suara yang terjadi di luar kamar.
Dilihatnya Vano sudah tidak ada di sampingnya. "Sudah pukul delapan lebih." gumam Ella melihat ke arah jam di dinding.
"Apa Vano sudah berangkat ya." gumam Ella.
Tapi tadi pagi, Ella bahkan tidak merasakan gerakan pada kasurnya, saat Vano bangun. Ella benar-benar tidur lelap sejak malam.
"Ckk,, suara apasih." keluh Ella. Segera dia bangun dari tidurnya. Masih dalam keadaan memakai kaos berukuran besar dengan celana kain pendek, Ella keluar dari kamar.
Melihat ke arah bawah. Tepatnya di lantai bawah. "Sedang apa mereka." gumam Ella. Merasa penasaran, Ella turun kebawah. Hanya menggunakan sendal yang dipakai di dalam kamar.
"Ada apa ini?" tanya Ella setelah dirinya sampai di tangga paling bawah.
Suara Ella, membuat semuanya sontak memandang ke arah Ella. Bukannya menjawab, mereka secara berjamaah malah terpaku memandang wajah istri dari Vano.
"Lanjutkan." suara seorang lelaki menginterupsi semuanya. Membuat mereka kembali membawa barang yang mereka pegang ke dalam salah satu ruangan.
"Pantas mereka sampai berhenti. Cantik natural." batin Rio. Segera Rio menggelengkan kepala, mengembalikan kewarasannya.
"Maaf Nyonya, Tuan menyuruh saya untuk mejadikan satu ruangan sebagai tempat untuk melukis Nyonya." jelas Rio mencuri pandang ke arah istri majikannya.
"Nyonya. Sudah bangun." ucap Bibik mendekat ke arah kami.
"Vano mana bik?" tanya Ella.
"Tuan..."
"Tuan sudah berangkat ke kantor Nyonya." jelas Rio memotong perkataan Bibik.
"Tuan berpesan tidak boleh membangunkan Nyonya. Jadi bibik tidak mau mengganggu Nyonya tidur." ucap Bibik.
"Ckk.. dia sudah sarapan." tanya Ella dengan bibir mengerucut lucu.
"Sudah Nyonya." jawab Bibik tersenyum.
"Hufttt,,, kenapa harus berekspresi seperti itu. Tahan Rio." batin Rio. Ekor mata Ella melirik ke arah Rio mendengar helaan nafas dari Rio.
"Ya sudah Bik, aku mau membersihkan badan dulu. Nanti turun buat sarapan." ucap Ella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kalian eksekusi dia. Aku tidak ingin mengotori tanganku." Vano berdiri dengan tatapan remeh memandang ke arah Jo, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
__ADS_1
"Berani menyentuhku, akan kupastikan. Hidup kalian akan seperti di neraka." teriak Jo.
Vano mendaratkan pantatnya di kursi single empuk. "Neraka. Benar perkataanmu. Setelah ini, anak buahku akan mengirimmu ke neraka."
"Jangan lupa menghubungiku, bagaimana rasanya berada di neraka. Oke." sarkas Vano.
"Akan aku pastikan, kamu akan menyesal. Kamu pikir setelah melenyapkanku, semua akan beres. Kamu salah. Di luar masih banyak yang mengincar kalian." oceh Jo.
"Takutttt.... " Vano tersenyum smirk. Berdiri, berjalan mendekat ke arah Jo.
Bammmm.... Vano menendang dengan kuat bagian kepala Jo. Membuat tubuh Jo terpelanting, hingga mulut dan hidung Jo mengeluarkan darah.
Vano melepas jas yang dia pakai. Dengan sigap bawahan Vano mengambil jas tersebut, dan meletakkan di sampiran tempat duduk yang Vano tempati.
"Kelihatannya tenagamu sudah pulih." ejek Vano karena Jo terus mengoceh, dengan tangan sibuk melipat lengan baju miliknya ke atas.
"Bagaimana kalau menemani aku latihan. Sebentar saja." kekeh Vano mengejek.
Dengan kaki masih dibalut perban, Jo berdiri. "Cihh,,, seharusnya aku membunuhmu lebih dulu." sarkas Jo.
"Ya,,, itulah kesalahanmu. Membiarkan malaikat pencabut nyawa sepertiku, berkeliaran di sekitarmu."
Jo berjalan dengan kaki masih pincang ke arah Vano. Tangannya menggenggam sempurna. Jo menyerang Vano.
"Aduhhh... Ayo Jo bangun." seru Vano. Seolah memberi semangat saat Jo tersungkur untuk kembali berdiri, karena Vano menghindar saat Jo hendak melayangkan tinjunya.
Jo bangun dengan tatapan penuh amarah. Kembali menyerang Vano. Tapi kali ini Vano tidak menghindar. Melainkan menangkap tangan Jo. Dengan mudah.
Vano memelintirkan kebelakang tangan Jo, dengan posisi Vano berdiri di belakang Jo. Satu tangan Jo di pegang di belakang tubuh Jo.
Dan satu lagi tangan Jo di tarik oleh Vano, mengikuti ke arah tangan Vano yang berada di depan leher Jo. Seperti sedang menjepit leher Jo menggunakan lengan Jo sendiri.
"Sekarang katakan permintaanmu. Ingin mati,,,, dengan cara bagaimana." bisik Vano membuat bulu kuduk Jo seketika meremang ketakutan. Dan juga beberapa bawahan Vano menelan ludah dengan kasar.
"Aaaaa....!!!!!" jerit Jo. Saat tangannya di belakang tubuhnya di pelintir oleh Vano hingga menimbulkan suara.
"Pasti patah." gumam seorang anak buah Vano bergidik.
"Akkkkhhhh,,,," Vano mengeratkan lengannya dan juga lengan Jo di leher milik Jo. Membuat Jo kesusahan untuk bernafas.
"Kenapa kamu sangat keras kepala. Padahal aku sudah bertanya baik-baik." sarkas Vano.
Merasa bahwa dirinya sudah berbaik hati memberikan pilihan untuk Jo. Dengan cara bagaimana dirinya memilih untuk mengakhiri hidupnya. Tapi Jo hanya diam saja. Membuat Vano merasa kesal.
Vano mendorong tubuh Jo dengan kasar. Membuat tubuh Jo kembali tersungkur ke tanah. "Hufft,,, ckkk." Vano menghembuskan nafas dan berdecak.
"Kenapa ada lelaki sepertimu. Apa kamu tidak punya kekuatan sedikitpun untuk melawan. Kamu tahu, aku sungguh sangat kecewa." seloroh Vano, bermaksud mengejek Jo yang menurutnya lemah. Bahkan sangat lemah.
"Kalian, lakukan. Karena dia sudah membuatku. Sangat kecewa. Lihatlah Jo,,,, bahkan aku sudah membuka jas yang menempel di tubuhku. Tapi aku sama sekali tidak berkeringat. Mengecewakan." kekeh Vano.
Sementara Jo, masih menatap Vano dengan tatapan mata menyalang. Menahan rasa sakit di lengannya yang pasti sudah patah.
"Lihatlah, matamu sangat ingin membunuhku. Tapi sayang, kamu tidak mampu. Dan tidak akan pernah bisa. Bahkan untuk memegang sehelai rambutku" ejek Vano.
"Lakukan." perintah Vano berjalan ke arah kursi, mengambil jas yang tersampir di sana. Tanpa melawan dan mengeluarkan sepatah katapun, Jo di seret oleh dua anak buah Vano.
Terdengar suara teriakan dari ruang bawah tanah. Dan itu adalah suara teriakan Jo yang terakhir. Vano tersenyum miring. "Pastikan bersih." ucap Vano meninggalkan tempatnya.
"Baik Tuan."
Segera Vano dan Reza menuju ke perusahaan. "Bagaimana?" tanya Vano pada Reza yang berada di kursi depan. Sedang memegang stir mobil.
"Sudah saya terima." ucap Reza.
Reza menghentikan mobilnya di pinggi jalan. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dia taruh di kursi depan sampingnya.
"Ini Tuan." ucap Reza, menyerahkan sebuah map. Berisi beberapa lembar kertas, dan juga beberapa foto.
Vano mengernyitkan dahinya. Melihat apa yang tertera di lembaran kertas tersebut. "Pantas, Mama Ane menyuruh Papa Haris untuk melepaskan keluarga Jo." gumam Vano.
Ternyata Mama Jo dan Mama Ane masih bersaudara. Dan keduanya tampak berhubungan baik. Tapi semuanya renggang saat Mama Jo menikah dengan Papa Jo.
Dan juga, mama Jo menitipkan beberapa aset pentingnya pada Nyonya Ane. Bahkan suaminya juga tidak mengetahuinya. Entahlah, Vano tidak ingin menyelidiki terlalu dalam keluarga Jo.
Yang terpenting, Jo sudah dia singkirkan. Dan sekarang dia akan mencari dengan siapa Jo bekerja sama. Kenapa bisa mempunyai rencana semulus ini.
"Katakan pada anak buahmu di sana. Untuk terus mengawasi mama Jo. Aku tidak ingin kecolongan." ucap Vano, dirinya yakin jika masih ada tikus lain yang masih bersembunyi.
__ADS_1