
Saat ini dokter tengah memeriksa kondisi Hana. Di mana Hana menggerakkan bibirnya dengan perlahan. "Baik. Kondisi Nona Hana semakin membaik. Semoga, nanti malam Nona Hana bisa segera terbangun dari tidurnya." jelas sang dokter tersenyum ramah.
"Terimakasih." ucap Denis. "Tapi jika sampai besok calon istri saya belum sadar. Kami akan memindahkannya ke rumah sakit lain." lanjut Denis, memandang ke arah Hana yang sedang terbaring lemas.
Sang dokter terkejut, tapi sebisa mungkin beliau tetap tersenyum dan mencoba mengerti kenapa Denis berkata seperti itu. "Silahkan. Untuk kami para dokter, yang terpenting adalah keselamatan nyawa pasien kami. Dan juga kesembuhannya." ucap sang dokter dengan bijak.
Seperti yang di katakan sang dokter. Tengah malam, Denis mendengar suara lenguhan lirih. Segera Denis yang sedang menghadap laptop karena mengerjakan pekerjaannya menatap ke arah ranjang pasien.
Denis segera bergerak untuk mendekat ke arah Hana. "Hana." ucap Denis tersenyum senang, melihat sang kekasih membuka kedua matanya dengan perlahan.
Begitu pula bu Ningsih yang tengah berbaring di ranjang sebelah Hana. Karena memang Denis meminta satu ranjang lagi. Denis tidak tega jika membiarkan calon mertuanya tidur di kursi.
Bu Ningsih langsung turun dan juga menghampiri sang putri. "Panggil dokter Den." suruh Bu Ningsih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Booommm,,,,, pagi hari. Seperti yang di perintahkan oleh sang majikan. Miko kembali mengeluarkan sesuatu yang membuat publik kembali tercengang.
Jika kemarin publik di buat terkejut karena perusahaan papanya Lyra yang berganti kepemilikan dan juga skandal sang pengusaha tersebut.
Pagi hari ini, publik kembali di kejutkan dengan foto syut dan video panas yang beredar di semua stasiun televisi maupun media sosial lainnya.
Dengan pemainnya seorang perempuan cantik dan seksi. LYRA. Dengan lelaki yang berbeda pada setiap foto maupun video di waktu berbeda.
Tak hanya sampai di situ, siang hari. Publik kembali di kejutkan dengan bukti saat Lyra menyuruh seseorang untuk menghabisi nyawa orang.
Tapi pihak media sosial tidak menyebutkan siapa korban yang di celakai oleh Lyra. Dan tentu saja, semua karena campur tangan Denis dan Tuan Bara.
"Saatnya mengeksekusi musuh." ucap Denis lirih menyeringai.
Belum reda keterkejutan publik, keesokan harinya di temukan mayat seorang perempuan cantik. Meninggal di sebuah apartemen. Dengan luka sayat di pergelangan tangan.
__ADS_1
Dengan keadaan telanjang, dia berada di dalam zaquci. Seluruh badannya tenggelam di dalam air. Dengan warna air yang sudah berubah menjadi warna merah. Darah.
Dia adalah LYRA.
Kini, semua menduga jika Lyra bunuh diri karena stres dan juga depresi. Padahal, kenyatannya. Lyra meregang nyawa karena perintah yang di berikan Denis pada bawahannya.
"Jangan salahkan aku. Karena kamu sendiri yang mengusik ketenangan ku. Membuat calon istriku sempat tak berdaya." gumam Denis.
Sementara, keadaan Hana berangsur-angsur membaik. Dan sekarang, Hana sudah keluar dari rumah sakit. Dan di rawat di kediaman Bu Ningsih.
Yang membuat Hana bahagia adalah mama dari Denis. Setiap hari, beliau datang untuk menemui Hana. Memberikan perhatian pada calon menantunya tersebut.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Nyonya Monic. Yang saat ini beliau berada di rumah Bu Ningsih. Bersama dengan sang suami dan juga Denis, tentunya.
"Ma, sabar. Biarkan kesehatan Hana kembali seperti semula. Barulah kita membicarakan tentang pernikahan mereka." saran Tuan Bara.
"Iya bu. Tidak perlu tergesa-gesa." imbuh Bu Ningsih tersenyum, melihat calon besannya yang sangat tidak sabaran.
"Oh,,, jadi kamu tidak mau menikah dengan Hana." kesal Nyonya Monic.
"Bukan begitu ma." ujar Denis.
"Tenang sayang, mama punya banyak kenalan. Mereka semua anak dari teman arisan mama. Kamu tinggal pilih. Mereka tampan-tampan." ucap Nyonya Monic melirik sinis kepada Denis.
Sontak perkataan Nyonya Monic membuat semuanya tertawa lepas. Kecuali Denis. "Maaaa,,,, Denis anak kandung mama." sebal Denis.
"Awas saja, jika mama berani melakukannya." geram Denis tidak terima.
Menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari. Demikian juga dengan kesehatan Hana yang sudah membaik seperti sedia kala.
Kini, Hana dan Denis sudah memutuskan untuk secepatnya segera menikah. "Tidak perlu tegang." Bu Ningsih memegang pindak putrinya, yang kini sudah memakai pakaian pengantin.
__ADS_1
Hana, dengan balutan baju pengantin. Menatap lurus ke depan. Di mana ada pantulan dirinya dan juga sang ibu di dalam cermin tersebut. "Apa Ella akan datang?" tanya Hana lirih dengan raut wajah sendu.
"Meski Non Ella tidak datang. Tapi ibu yakin, dia juga pasti akan merasa senang. Melihat sahabatnya menikah." tutur Bu Ningsih.
Ijab di mulai. Dengan lantang dan tegas, Denis mengucapkan ijab. Menjadikan Hana sebagai miliknya yang sah. Tak lupa, Denis di dampingi sahabatnya. Viki.
Siang hari, mereka melakukan ijab. Kemudian malam hari mereka mengadakan pesta pernikahan yang sangat mewah dan megah.
"Apa!?" tanya Hana, saat ini dia sedang berada di dalam kamar. Berdua dengan Denis.
Bukannya menjawab, Denis malah semakin intens dan tersenyum aneh memandang wajah perempuan di hadapannya. Yang saat ini sudah berstatus sebagai Nyonya Denis Subara.
"Apa?!" tanya Hana dengan kedua mata melotot, serta bibir yang cemberut.
"Kenapa tu bibir, minta di cium." goda Denis.
"Iihh,,,, nggak ada. Sudah sana pergi." usir Hana, lantaran Hana ingin berganti gaun.
"Ckk,, kita sudah sah menjadi suami istri. Ayolah." goda Denis, memainkan kedua alisnya naik turun.
"Kenapa? Hey." Denis merasa cemas, saat melihat perubahan wajah sang istri.
"Hussttt... Ada apa?" Denis memeluk tubuh Hana, menenangkan Hana yang tiba-tiba menangis.
"Aku, sudah tidak perawan." ucap Hana lirih. Denis mengurai pelukannya.
"Memang kenapa, apa itu penting. Asal kamu tahu, aku juga sudah tidak perjaka. Bukankah kita impas." ujar Denis untuk membuat Hana tidak merasa bersalah.
"Sudah. Jangan pernah mengungkit hal itu lagi. Kita sekarang suami istri. Jangan pernah menoleh lagi ke belakang." ucap Denis, mengusap dengan lembut pipi Hana. Untuk menghilangkan air mata yang sempat menetes di pipi Hana.
Di luar, sudah mulai terdengar suara gaduh. Tak main-main, Denis menjaga gedung tempat di selenggarkannya pernikahan mereka dengan sangat ketat.
__ADS_1
Terlebih Hana yang juga sudah di anggap anak sendiri oleh Tuan Haris dan Nyonya Ane. Membuat acara pernikahan Hana dan Denis tak kalah meriah dengan acara pernikahan Ella dan Vano.