DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 45


__ADS_3

"Siapa mereka pa?" tanya Ella pada Tuan Haris saat mereka berdua berada di dalam ruang kerja Tuan Haris.


"Papa yang akan mengurus semuanya. Kamu tidak perlu khawatir."


"Mereka mengusik Ella pa."


"Akan ada seseorang yang menjagamu."


"Bukan itu yang Ella inginkan."


"Papa akan minta Vano menjaga kamu."


Ella tersenyum miring. "Menjaga Ella. Tidak perlu. Dia terlalu sibuk."


"Apa ada sesuatu?" tanya Tuan Haris menghentikan langkah Ella yang ingin keluar dari ruang kerjanya.


"Ella yang akan mengurus semuanya. Papa tidak perlu khawatir." ucap Ella menirukan perkataan Tuan Haris.


"Kenapa putri papa malah marah." Tuan Haris menggandeng lengan Ella dan mengajak Ella duduk di kursi.


"Kita disini bukan untuk membahas hubungan Ella dan Vano pa." Ella berdiri dan meninggalkan papanya dengan perasaan kesal.


"Sayang. Papa tidak ingin terjadi apa-apa sama kamu." ucap Tuan Haris saat Ella masih berada di ambang pintu.


"Vano bagaikan bayangan untuk Ella pa. Ella tidak bisa menggenggamnya. Tapi dia akan tetap mengikuti Ella. Untuk masalah ini, biar Ella yang akan menyelesaikannya sendiri." ucap Ella sembari meninggalkan tempatnya.


Ella yakin jika papanya pasti sudah mengetahui permasalahan antara dirinya dengan Vano. Ella tahu betul siapa papanya. Tidak mungkin jika beliau tidak mengetahui permasalahan Ella dan Vano.


Keluar dari ruang kerja Tuan Haris, Ella langsung menuju ke kamar Hana. Di lihatnya mata Hana yang sudah terpejam. "Maaf." ucap Ella lirih menatap Hana.


Ella mengecup lembut dahi Hana. Di betulkannya letak selimut di tubuh Hana. "Mimpi indah. Cepat sembuh." Ella membalikkan badan dan meninggalkan kamar Hana.


Mata Hana terbuka saat Ella sudah tidak berada di dalam kamarnya. "Gue beruntung bertemu kalian. Meskipun ada beberapa hal yang gue nggak suka. Seperti saat ini." Hana mendesah pelan.


Sebelumnya, Hana sudah menghubungi ibunya. Bahwa dirinya beberapa hari akan menginap di apartemen milik Ella. Dengan alasan pekerjaan.


Hana terpaksa berbohong, karena dia tidak mungkin bercerita yang sebenarnya pada sang ibu. Bisa-bisa ibunya menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya sekarang.


*


*


"Apa. Bagaimana dia bisa seenaknya sendiri?" tanya Egi dengan seseorang yang berada di ujung teleponnya.


Egi lantas mematikan sambungan telepon secara sepihak. "Kemana dia pergi. Vano. Mungkin dia tahu." gumamnya.


Egi kembali menghubungi seseorang. "Tarik semua foto Vera. Jangan sampai tersebar. Cari model pengganti. Hubungi perusahaan Vano." ucapnya dan kembali mematikan sambungan teleponnya.


Dengan tiba-tiba, asisten Vera memberitahu pihak perusahaan Egi bahwa Vera menghilang. Bahkan dirinya sudah berusaha mencari modelnya tersebut. Tetapi hasilnya nihil.


Sementara keluarga Vera hanya diam. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan Vera. Mereka sudah mendapat keuntungan dari hilangnya Vera. Tentu saja papanya Vera mendapat kerja sama dengan perusahaan Tuan Haris Subagyo.


Oleh sebab itu, asisten Vera pun hanya diam dan pasrah. Dia lebih memilih mencari pekerjaan baru, alih-alih sibuk mencari Vera.


*


*

__ADS_1


Dengan masih menggunakan piyama tidur, Ella turun dari tangga. "Astaga, anak mama. Mandi dulu baru turun." ujar Nyonya Ane saat Ella sudah berada di sampingnya.


Ella memeluk sang mama dari samping dengan manja. "Papa sudah berangkat ma?" tanyanya.


"Pergi olah raga sama teman-temannya tadi."


"Emmm."


"Sudah lepas, mama risih. Kamu, mandi sana." Nyonya Ane melepaskan pelukan dari putrinya tersebut.


"Tante." teriak seseorang dari ruang tamu.


Kepala Ella dan Nyonya Ane menengok ke arah sumber suara. "Elo, ngapain pagi-pagi ke sini?" tanya Ella setelah tahu siapa yang datang.


"Mau jenguk Hana." ucap Dimas cengengesan seraya menenteng kantong kresek berisi makanan di tangannya.


"Apa nih." Ella menyerobot kantong kresek di tangan Dimas.


"Ell,, itu buat Hana." Dimas ingin mengambil kembali kantong kresek di tangan Ella.


"Sudah. Kamu itu." Nyonya Ane mengambilnya dari tangan Ella dan menyerahkan kembali ke Dimas.


"Sudah kamu temuin Hana." ujar Nyonya Ane.


"Makasih tante. Tambah cantik." ujar Dimas mencium pipi Nyonya Ane dan langsung berlari ke arah tangga.


Ella memandang ke arah sang mama.


"Kenapa sayang?" tanya Nyonya Ane.


"Biarkan saja. Kita sudah kenal Dimas kan sudah lama. Lagi pula, semua keputusan ada di tangan Hana. Biarkan saja dulu." jelas Nyonya Ane yang mengerti maksud dari pertanyaan Ella.


"Ok. Kita pantau." ujar Ella mengarahkan kedua jarinya ke arah matanya dan mamanya bergantian.


"Apasih kamu tu. Sudah sana mandi. Kasihan paman Haki. Nungguin kamu. Katanya hari ini mau latihan." ucap Nyonya Ane mengingatkan.


"Siap." Ella meletakkan telapak tangannya di dahi, seperti seseorang memberi penghormatan pada bendera. Lantas Ella segera pergi ke kamarnya.


*


*


Di sinilah Ella sekarang berada. Di rumah paman Haki.


"Capek?" Paman Haki menyerahkan sebotol air mineral pada Ella yang sedang beristirahat karena mereka sedang latihan bela diri.


"Lumayan." Ella meneguk air mineral yang di berikan oleh paman Haki sembari menyeka keringat di dahinya.


"Kenapa paman?" tanya Ella yang sadar jika paman Haki sedari tadi memperhatikan dirinya.


"Mereka bukan orang sembarangan Non. Non Ella harus lebih berhati-hati."


"Pengusaha?" tanya Ella.


"Iya, tapi mereka juga bergerak di dunia bawah tanah. Lebih tepatnya, rival Tuan Haris sewaktu dulu."


"Papa kan sudah lama berhenti."

__ADS_1


"Tidak semudah itu Non. Apalagi bisnis Tuan sekarang dalam masa tenang. Pasti mereka yang pernah merasakan sakit hati, ataupun pernah di kalahkan oleh Tuan akan muncul secara perlahan."


"Sulit juga ternyata. Ella pikir, setelah papa keluar semua sudah selesai."


"Tenang saja. Ada Paman di sini." ujar paman Haki sembari menunjuk ke arah dadanya sendiri.


"Dunia bawah tanah memang sadis."


"Non harus lebih kuat. Kelihatannya mereka sekarang menargetkan Non. Apalagi, semua orang juga tahu jika Non Ella kekasih dari Tuan Vano."


Ella memandang ke arah Paman Haki. Tatapan matanya seakan penuh tanya.


"Tuan Vano juga mempunyai bisnis ilegal Non. Yang artinya dia juga termasuk orang yang bekerja di bawah tanah. Sama seperti papa Non dulu."


Ella hanya mengangguk mendengarkan penjelasan dari Paman Haki. "Seberapa berkuasa dia." tanya Ella.


"Sepengetahuan Paman, Tuan Vano termasuk salah satu yang di takuti karena kekejaman tanpa ampun bagi musuh. Apalagi, di sebelahnya ada Reza. Mereka berdua seperti paket. Komplit."


"Komplit. Memang jamu paman." canda Ella.


*


*


"Bagaimana?" tanya Egi.


"Sepertinya kita harus mencari model pengganti Tuan" ucap Reza.


"Kemana perginya Vera. Kenapa tidak bisa di hubungi." ujar Egi kesal.


"Saya sudah berusaha mencarinya Tuan. Bahkan keluarga Non Vera juga tidak mengetahui keberadaannya." jelas asisten Vera.


Vano tersenyum samar mendengarkan setiap perkataan mereka. "Ella, kau menyelesaikannya secara tuntas dan sempurna sayang." batin Vano.


"Apa yang harus kita lakukan?" ucap Egi kesal.


Karena akan sulit menemukan pengganti Vera. Apalagi untuk model sekelas Vera. Tidak mungkin mereka menggunakan model yang menurut mereka masih di bawah ketenaran Vera.


"Akan sulit menemukan penggantinya. Apalagi jika model tersebut tahu, jika dia hanya sebagai pengganti dari Nona Vera." ucap Reza.


"Maaf, kenapa kalian tidak memakai Nona Ella saja." ujar asisten Vera.


Sontak semua mata yang ada di dalam ruangan menatap tajam ke arahnya.


"Maaf." ucapnya lirih sembari meremas ujung pakaiannya karena merasa terintimidasi dengan tatapan ketiga lelaki tersebut.


"Tapi benar juga. Hanya Nona Ella yang bisa menolong kita saat ini." gumam Reza.


******


tunggu tunggu tunggu...


Apa mereka akan minta bantuan Ella 🙄


Apa Vano setuju 😏


Yang terakhir... Ella mau nggak bantuin kalian... 🤔

__ADS_1


__ADS_2