DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
HANA 03


__ADS_3

Denis mengepalkan tangannya, meninju ke bawah. Ke arah kursi empuk yang di dudukinya. "Dan seharusnya elo juga tahu, penyebab awal Ella mengalami kecelakaan." imbuh Viki.


Denis menggelengkan kepalanya pelan. "Elo benar-benar. Apa sih yang elo tahu. Lyra dan balas budi yang harus elo bayar." ucap Viki dengan nada kesal.


"Karena Ella tahu tentang hal tersebut. Dia kecewa sama Vano dan Hana. Karena mereka membohongi dirinya." imbuh Viki.


Denis mengusap wajahnya kasar. Di sini, dia merasa menjadi orang paling tolol dan bodoh. Dia sama sekali tidak tahu apa-apa.


"Sekarang gue mau tanya. Setelah Hana berkata jujur tentang semuanya, apa elo masih mau sama dia?" tanya Viki.


Denis menatap ke jauh ke depan. "Awalnya gue juga ragu sama perasaan gue sendiri. Tapi ternyata gue nggak bisa. Nggak bisa tanpa Hana."


"Seharusnya gue ada untuk dia di saat seperti itu. Seharusnya gue menemani dia. Bukan malah menjauh. Sumpah, gue menyesal." jelas Denis.


Tampak raut sesal di wajah Denis. Dan Viki, dapat melihatnya dengan jelas. "Awalnya gue juga sempat menyalahkan Hana atas kejadian ini. Tapi, gue berpikir logis saja."


"Hana pasti juga tidak mau semua terjadi. Dan pasti, seandainya Hana tahu, semua bakal terjadi. Maka gue yakin, jika Hana tidaka akan bermalam di apartemen milik Ella." ujar Viki.


"Iya. Makasih, sekarang gue sedikit merasa lega." ucap Denis tersenyum. Merasa jika batu yang menghimpit dadanya telah terangkat.


"Sekarang elo mau apa?" tanya Viki.


"Bertemu dengan Hana. Dan meminta maaf. Gue benar-benar egois. Gue berharap, Hana menerima gue kembali." ucap Denis berharap.


"Memang kalian sudah putus?" tanya Viki, seolah dirinya tidak tahu apapun. Padahal Hana sudah menceritakan jika dirinya dan Denis sudah lama tidak berkomunikasi.


"Jangan mengada-ada!!" seru Denis tidak terima. "Kita tidak akan pernah putus." sangkal Denis.


Viki tersenyum samar. Sekarang, dia sudah yakin. Jika Denis, benar-benar mencintai Hana. "Oke." ucap Viki mengangkat kedua tangannya.


"Tapi, ada sesuatu hal yang mungkin akan menjadi masalah besar dalam hubungan gue sama Hana." ujar Denis. Dan Viki, hanya terdiam. Menyimak perkataan Denis selanjutnya.


"Ternyata, selama ini mama gue nggak pernah suka sama Hana." jelas Denis.


"Maksud elo?" tanya Viki. Karena yang Viki lihat saat beberapa pertemuan, mama Denis selalu menyambut Hana dengan wajah senang.


"Hana datang ke kantor gua bersama Ella. Dan......" Denis menceritakan semuanya pada Viki.


"Gila, tante Monic ternyata parah juga." geleng Viki tidak percaya. Jika sampai Nyonya Monic meneror Hana dengan berbagai perkataan pedas dan juga foto.


"Dan Hana. Selama ini dia diam. Tidak menceritakan apapun sama elo. Dan hanya Ella. Hanya Ella yang tahu. Dan Ella memaksa Hana." imbuh Viki.


"Sabar banget Hana ngadepin tante Monic."


"Parah. Padahal perusahaan elo akan tetap berdiri kokoh. Tanpa elo harus menikah dengan putri pemilik perusahaan besar lainnya." Viki masih tidak percaya dengan tindakan mamanya Denis.


"Sekarang elo mau apa?" tanya Viki.


"Gue akan temuin Hana. Minta maaf. Minta kesempatan. Dan gue, akan berada di depan dia. Mengejar restu dari mama." tegas Denis.

__ADS_1


"Semangat. Perjuangkan cinta elo." ucap Viki.


"Pasti. Gue tidak akan pernah berdiri di belakang ataupun di samping Hana. Tapi gue berjanji, akan berdiri di depan Hana."


"Gue akan melindungi dia. Apapun yang terjadi." ucap Denis dengan sungguh-sungguh.


Seperti yang sudah di rencanakan. Keesokan harinya, Lyra mengajak Denis pergi ke salon tempat Hana bekerja. "Untuk apa?" tanya Denis kesal.


Lantaran Lyra kekeh tetap mengajak Denis untuk pergi ke sana. Padahal Denis tengah sibuk dengan pekerjaannya.


"Kemarin ada barang aku yang tertinggal di sana." ucap Lyra dengan manja.


"Kamu bisa pergi sendiri." ucap Denis, tanpa melihat ke arah Lyra. Dirinya fokus pada pekerjaannya.


"Nggak mau. Nggak ada temannya." ucap Lyra beralasan.


"Ada sopir." ujar Denis.


"Oke. Nanti aku pergi sama tante Monic saja." ucap Lyra, mengeluarkan jurus terakhirnya. Membawa-bawa nama mama dari Denis.


Brak.....Denis meletakkan pena dengan keras dan kasar. "Makan siang." tegas Denis.


Lyra tertawa penuh kemenangan. "Baiklah." ucap Lyra, dengan mata memandang ke arah jam dinding di ruangan Denis. "Satu setengah jam lagi." imbuh Lyra. Kembali ke ruangannya.


"Mama." geram Denis. Stok kesabarannya menghadapi Lyra sudah mulai menepis.


Sekitar satu jam lebih, Lyra kembali ke ruangan Denis. "Waktunya makan siang." ucap Lyra dengan semangat.


Tanpa banyak berkata, Denis berdiri dan berjalan keluar perusahaan. Lyra bahkan tidak peduli sama sekali dengan ekspresi yang di tampilkan oleh Denis.


"Sebaiknya gue turuti saja. Setelah itu gue bebas." ucap Denis dalam hati.


Jika bukan sang mama yang menyuruhnya untuk memperlakukan Lyra dengan baik, Denis juga tidak akan melakukannya.


Balas budi. Itulah kalimat yang selalu Nyonya Monic katakan pada Denis.


"Stop. Ayo, kamu temani aku." ucap Lyra, dengan cepat Lyra mengambil kunci mobil yang masih berada di tempatnya.


"Lyra!!" gerak Denis.


Dengan acuh, Lyra malah keluar dari dalam mobil. "Dengan begini, Denis nggak akan bisa pergi." batin Lyra, segera memasukkan kunci mobil ke dalam tas miliknya.


"Bukankah salon ini tempat Hana bekerja." batin Denis.


"Ayo..." Lyra menyeret lengan Denis. Segera Denis melepaskannya dengan kasar.


Entahlah, apa sekarang yang sedang dipikirkan oleh Denis. Padahal dirinya tahu, jika Hana bekerja di salon tersebut. Namun Denis tetap masuk. Dan menemani Lyra.


"Baiklah. Ayo." ucap Lyra, meski mendapat penolakan dari Denis, Lyra tidak masalah. Karena tujuan Lyra datang adalah untuk Hana.

__ADS_1


"Hana, kita lihat. Bagaimana perasaan elo, setelah melihat gue sama Denis." ucap Lyra dalam hati. Lyra bermaksud akan pamer kemesraan di depan Hana.


"Itu dia." Lyra segera memegang lengan Denis. Mengajaknya mendekat ke arah Hana.


"Maaf, kemarin saya menjatuhkan anting di sini." ucap Lyra dengan suara lembut. Serta bergelayut manja di lengan Denis.


Deg,,,,, Hana membalikan badan. Melihat Denis dan Lyra. Tepat di depannya.


Denis dan Hana bersitatap sejenak, tapi segera Hana mengalihkan pandangannya. "Ada apa?" tanya rekan kerja Hana.


"Kemarin aku ke sini, dan antingku terjatuh di sini." ucap Lyra.


"Anting." gumamnya. Namun Hana masih terdiam. Dan Denis, dengan fokus menatap ke arah perempuan yang masih dia anggap sebagai kekasihnya tersebut. Tak ada ucapan atau sapaan pada Hana.


"Tapi sepertinya tidak ada anting yang terjatuh di sini Nona." ucapnya.


Karena biasanya, para karyawan akan memberikan barang tersebut pada Virna. Pemilik salon.


"Maaf Nona. Lagi pula, bukankah kemarin anda hanya berdiri di sana. Tanpa melakukan perawatan apapun di salon kami." timpal Nora, yang baru saja bergabung bersama mereka.


Nora melihat jika lelaki yang datang bersama perempuan tersebut, sedari tadi menatap ke arah Hana. Nora mencuri pandang ke arah Hana yang melihat ke arah lantai.


Lyra menatap dengan tatapan tak suka pada Nora. "Perempuan brengsek." umpat Lyra dalam hati.


"Khemm,,, baiklah. Mungkin saya salah menduga. Jika begitu, kamu pergi dulu." ucap Lyra dengan manja. Tetap memegang lengan Denis.


"Gue rasa sudah cukup." batin Lyra tersenyum sinis. Apalagi Lyra melihat, jika Hana sama sekali tidak memandang ke arah Denis.


"Ayo." Lyra hendak mengajak Denis pergi. Tapi sepertinya Denis sama sekali tidka berkeinginan untuk meninggalkan tempat itu.


"Denis,,, ayo,,,,," rengek Lyra dengan suara manja. Membuat Nora beserta karyawan lain memutar bola matanya dengan jengah.


"Kamu pergi dulu." ucap Denis.


"Apa,,, apa maksud kamu?" tanya Lyra.


"Kunci mobil sudah ada di tanganmu. Aku tidak perlu mengantarkanmu untuk kembali." sahut Denis.


"Denisss!!!!" seru Lyra dengan suara tertahan.


Denis melepaskan cekalan tangan Lyra dari lengannya. "Aku menginginkan perawatan." ucap Denis. Membuat semuanya melihat ke arahnya. Tapi tidak dengan Hana.


"Dan aku ingin, Nona Hana yang melayaniku." ucap Denis, tersenyum samar.


"Denisss!!!" geram Lyra, menghentakkan kakinya di lantai.


Nora tersenyum. "Baik Tuan. Ayo Han, kamu layani dia." ucap Nora. Mendapat tatapan horor dari Hana, tapi Nora malah mengangkat kedua bahunya. Fan berlalu meninggalkan mereka.


"Perawatan apa yang ingin anda lakukan Tuan?" tanya Hana, sembari menunduk.

__ADS_1


"Tuan." batin Denis, hatinya terasa pedih mendengar Hana memanggilnya dengan sebutan tersebut.


__ADS_2