DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 33


__ADS_3

Dimas tersenyum ke arah Ella dan menghampiri Ella. Tangan Ella refleks melepaskan tangan Vano yang berada di pinggangnya.


Mereka saling berpelukan. "Akhirnya, bertemu juga." ujar Dimas.


Vano mengepalkan kedua tangannya melihat Ella sedekat dan seakrab itu dengan lelaki lain.


Ella melepaskan pelukan Dimas. "Elo tahu nggak, Viki ada di sini." ucap Ella antusias.


Dimas langsung mencari keberadaan Viki di ruangan tersebut.


"Bukan di sini. Maksud gue dia sedang ada di negara ini. Katanya sih ada pekerjaan di sini." jelas Ella.


"Ckk, bilang yang benar. Dasar." tanpa segan Dimas menoyor kepala Ella dengan pelan. Ella cemberut dan mengusap kepalanya.


"Khemm."


Deheman dari Vano mengalihkan perhatian Ella.


(Ya ela babang Vano, suka sekali berdehem bang)


Ella kembali merapatkan badannya di samping Vano. "Dia kekasih gue." ucap Ella mengenalkan Vano pada Dimas.


"Masih. Gie pikir itu Vano yang lain. Soalnya tadi beliau akrab sekali dengan model di sampingnya. Saya pikir mereka berkencan." siapa yang tidak tahu hubungan keduanya. Bahkan Dimas juga tahu. Tapi entah kenapa dia melontarkan pertanyaan seperti itu.


Ella menatap pada Vano. Berpura-pura tidak tahu. Padahal Ella bukan perempuan bodoh.


"Maksud anda apa bertanya seperti itu?" tanya Vano menatap tajam ke arah Dimas.


Dimas tertawa mendengar pertanyaan dari Vano. "Saya cuma bertanya menurut pemikiran saya." jawabnya santai.


Merasa posisinya sudah tidak aman lagi, Vera segera mengalihkan topik pembicaraan. Dia tidak ingin kehilangan tambang emas seperti Vano di dalam hidupnya.


Untuk saat ini Vera merasa hubungan dia dan Vano cukup seperti ini dulu. Karena jika dia langsung membongkar semuanya, pasti Vano tidak akan segan-segan membuat kehidupannya hancur.


"Maaf, bisa kita mulai pemotretannya. Soalnya jadwal saya juga padat." ucapnya sombong.


"Silahkan kamu lanjutkan saya permisi dulu." kata Denis sinis.


Vera melihat perlengkapan pemotretan milik Denis sudah masuk ke dalam wadahnya semua. "Hey, apa maksud kamu. Kamu itu di bayar untuk pekerjaan kamu. Yang profesional dong." Vera tidak terima dengan apa yang dilakukan Denis.


"What's going on?" tanya Egi pada Denis. (apa yang terjadi?)


"Gue ke sini karena elo. Karena kita masih saudara. Tapi gue sekarang mau cabut dulu. Gue nggak bisa kerja dengan model yang nggak profesional." Denis memandang sinis pada Vera.


"Apa maksud kamu." seru Vera tidak terima.


"Jika anda punya otak. Gunakan otak anda untuk berpikir dengan baik." sarkas Dimas.

__ADS_1


"Apa maksudnya semua ini." Vano meras tidak mengerti dengan perdebatan Vera dan Dimas.


Sementara Ella masih tersenyum melihat perdebatan di depannya.


"Saya tidak bisa bekerjasama dengan model seperti ini. Silahkan cari fotographer lain."


"Bro,, elo mau kemana. Elo jangan gila. Tinggal cekrek. Beres." kata Egi.


"Elo bilang apa. Cekrek. Beres." Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


Ella maju dan mendekat ke arah Dimas. "Please. Lakukan. Ayolah." bujuk Ella.


"Mungkin Nona Vera belum pernah bekerja sama dengan fotographer seperti kamu. Ya,, mungkin selama ini beliau hanya di foto oleh fotographer di negara kita saja. Dan biasanya, fotographer di sini sabar-sabar. Kamu maklumlah." ucap Ella.


"Hah, ****. Maksud kamu apa." seru Vera tidak terima dengan perkataan Ella.


"Biar saya yang menyelesaikan masalah yang anda buat." jari Ella berada di depan bibirnya. Menyuruh Vera untuk diam.


Vera menahan amarahnya. Ella seperti sengaja bertindak seperti itu. Padahal di sekitar mereka ada banyak orang yang menyaksikan perdebatan mereka.


"Iblis berwajah malaikat. Sekali bertindak, Ella dapat banyak pujian. Dan elo, akan jatuh ke kubangan lumpur. Gue nggak tahu apa yang sudah elo lakukan pada model gue. Tapi yang pasti, elo salah berurusan sama orang." batin Hana melihat ke arah Vera.


"Buat persahabatan kita. Proyek ini melibatkan banyak orang Dim. Gue nggak ingin akan banyak orang yang akan di rugikan. Apa gue perlu memohon." ucap Ella dengan melas.


"Jika dia tidak ingin meneruskan...."


"Oke bestie. Buat kamu." Dimas menerima kembali proyek tersebut.


"Thanks." bibir Ella mengembang sempurna.


Semua orang yang ada di ruangan bertepuk tangan dan berterimakasih pada Ella. Dimas dan beberapa orang kembali mempersiapkan peralatan yang sempat mereka rapikan.


Merasa di permalukan oleh Ella, Vera hendak berbalik dan meninggalkan kerumunan. Tapi Ella menghentikannya.


"Nona Vera." Ella berjalan mendekat ke arah Vera.


"Santai saja. Dimas memang orangnya seperti itu. Tidak usah di masukkan ke dalam hati." Ella mengelus pelan lengan Vera.


Ella kemudian memeluk Vera dan membisikkan sesuatu. "Ini hanya peringatan. Jangan pernah macam-macam denganku. Jika kamu masih nekat, kamu akan menyusul orang-orang suruhanmu. Ke neraka." bisiknya.


Vera melepaskan pelukan Ella. Kakinya mundur selangkah ke belakang dengan wajah pias. Sementara Ella tetap mengembangkan senyum di bibirnya.


Ternyata beberapa orang yang menyerang Ella kemarin adalah suruhan dari Vera. Dia ingin menjebak Ella dengan permainannya. Tapi siapa yang menyangka, jika semua tidak berjalan sesuai sekenario yang telah ia buat.


"Terimakasih Ell. Sebagai sahabat kamu pasti tahu betapa keras kepalanya Dimas." ujar Egi.


"Bukankah kita harus saling menolong." ucap Ella.

__ADS_1


Vano merasa Ella dan Egi sudah akrab. Padahal setahu Vano, mereka berdua belum kenal sebelumnya.


"Sayang, bisa kita pergi sekarang." ajak Vano pada Ella.


"Sebentar." kata Vano saat ponselnya berdering. Vano menerima telepon dari seseorang. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Vano hanya meletakkan ponsel di dekat telinganya. Kemudian dia kembali masukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Ayo." Vano mengambil tangan Ella dan menggandengnya.


"Maat Tuan Egi, kami permisi dulu." ujar Vano.


"Saya permisi dulu, sampaikan salam saya pada Dimas." ucap Ella.


"Silahkan." padahal Egi sangat berat hati melihat Ella pergi. Apalagi bersama dengan Vano. Meskipun dia kekasih dari Ella.


Langkah keduanya terhenti saat beberapa wartawan mendekat ke arah mereka. Dan melontarkan beberapa pertanyaan.


"Apa kalian berdua masih bersama?"


"Apa Tuan Vano ada hubungan dengan Nona Vera?"


"Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?"


Vano mencium bibir Ella dengan singakt dan menggenggam tangan Ella tanpa meladeni pertanyaan dari mereka. Baginya sikapnya barusan bisa menjadi jawaban dari semua pertanyaan wartawan.


"Ella akan pergi bersamaku." ujar Vano saat mereka berada di parkiran.


"Nanti malam Nona Ella akan melakukan peragaan busana milik Nyonya Tiwi." Hana mencoba mencegah Vano membawa Ella bersamanya.


"Saya tahu." Vano membuka pintu mobil dan menyuruh Ella untuk masuk.


Ella memandang ke arah Hana dan tersenyum dan memainkan kedua alisnya. Dia seperti mengisyaratkan pada Hana, bahwa semua akan baik-baik saja. Ella pun masuk ke dalam mobil milik Vano dengan tenang.


"Lindungilah Ella Tuhan." Hana melihat mobil Vano pergi meninggalkan tempat parkir.


Bagaimanapun kekhawatiran Hana akan keadaan Ella tetap ada di dalam hatinya. Apalagi Ella melakukan tindakan provokasi terhadap Vano saat berada di dalam.


Di dalam mobil, Ella hanya diam dengan tatapan lurus ke depan. Vano beberapa kali melirik ke arah Ella. Tidak ada satupun kalimat yang keluar dari bibir keduanya hingga mereka sampai ke tempat tujuan. Sampai di parkiran apartemen milik Vano, mereka berdua turun dari mobil.


Dan di sinilah mereka sekarang berada. Di apartemen milik Vano.


*****


Apa yang akan di lakukan Vano pada Ella πŸ€”πŸ€”


Kenapa Ella bisa setenang itu pergi dengan Vano. Apa Ella nggak takut, jika Vano marah dan meluapkan emosinya πŸ₯ΊπŸ₯Ί


Ella,,, semoga kamu baik-baik saja.

__ADS_1


Kalau Vano ngapa-ngapain kamu, kasih tahu author saja. Pasti author akan bela kamu 😊😊


__ADS_2