
Lyra menghapus air matanya. Menghadap ke arah kaca, menatap ke arahnya sendiri dari pantulan kaca. "Mana mungkin gue nglepasin ikan yang sudah masuk ke dalam jaring. Jangan harap." ucap Lyra menyeringai licik.
"Dan jika elo, tetap berniat mengambil Denis dari gue. Gue pastikan hidup elo akan berakhir tragis. Hana. Elo sama sekali bukan saingan gue." Lyra membelai pipinya sendiri.
Ponsel Lyra berdering. "Mama." gumam Lyra, segera mengangkat panggilan telepon dari sang mama.
"Ada apa ma?" tanya Lyra, begitu panggilan teleponnya tersambung.
………………
"Mama tenang saja, pasti Denis akan menjadi milik Lyra." ucap Lyra dengan percaya diri
……………
"Maksud mama?" tanya Lyra.
………………
"Baik ma." ucap Lyra, mengakhiri pembicaraannya dengan sang mama.
"Sial. Kenapa bisa secepat ini. Gue harus segera meminta tante Monic untuk menikahkan Denis dengan gue. Kalau tidak." ucap Lyra menggeleng.
Ternyata perusahaan milik sang papa sedang di ambang kebangkrutan. Tapi semuanya masih aman. Tidak sampai tersebar keluar. Sehingga tidak ada yang tahu selain keluarga.
"Gue nggak mau hidup sengsara. Nggak. Gue harus bergerak cepat." ucap Lyra dalam hati.
"Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan kekayaan keluarga Subara." desis Lyra.
Seseorang membuka sedikit pintu Lyra dari luar. Mendengarkan semua perkataan Lyra. "Jangan harap menjadi Nyonya Muda di keluarga Subara. Ular." ucapnya dalam hati.
Segera bergegas meninggalkan tempatnya berdiri. "Tuan harus segera mengetahuinya." dia ternyata adalah kepala pelayan di rumah Denis. Yang ditugaskan oleh papa Denis untuk mengawasi setiap gerak-gerik Lyra.
Denis menghentikan mobilnya di sebuah warung makan. Dimana, warung makan ini adalah tempat Denis dan Hana pertama kali makan bersama.
Dan saat itu, mereka belum menjadi pasangan kekasih. "Kita makan di sini ya." ajak Denis, membuka sabuk pengamannya.
Denis segera turun, dan berjalan sedikit memutar. Membuka pintu mobil samping. Membantu Hana untuk keluar dari dalam mobil. "Silahkan Nyonya." ucap Denis dengan lembut.
Hana memandang Denis yang makan dengan lahap. "Sayang, kenapa kamu tidak makan?" tanya Denis, menyadari Hana hanya sesekali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Melihat kamu makan aku sudah kenyang." celetuk Hana.
Denis hanya tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi pada Hana. "Maaf, aku benar-benar lapar. Hanya tadi pagi makan roti." jelas Denis jujur.
Hana merasa khawatir dengan sang kekasih. "Begitu sibuknya. Tapi kamu harus tetap makan. Kamu harus menjaga kesehatan kamu. Nanti kalau kamu sakit bagaimana?" ucap Hana.
"Beres. Kan ada kamu yang akan menjaga dan merawat aku." sahut Denis mengerlingkan sebelah matanya.
Ponsel Denis berdering. "Sebentar. Aku angkat telepon dulu." pamit Denis, tapi Denis tetap mengangkat panggilan telepon dari Miko. Asistennya.
"Bagaimana?" tanya Denis begitu menerima panggilan telepon dari Miko.
………………
"Dasar perempuan iblis." geram Denis.
………………
"Iya, aku tidak lupa. Tunggu aku di apartemen saja." ucap Denis, mematikan ponselnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Denis dan Hana mampir ke toko kue. "Jangan banyak-banyak." ucap Hana. Karena menurut Hana, Denis membeli kue terlalu banyak.
"Tidak masalah. Kan untuk calon mertua." ucap Denis, membuat Hana tersenyum samar.
"Ayo." Denis menggandeng lengan Hana. Membawanya kembali masuk ke dalam mobil.
"Apa ada masalah di kantor?" tanya Hana, karena Denis bahkan tidak sempat makan siang. Dan telepon tadi, Hana mendengar jika asisten Denis sepertinya sedang melaporkan sesuatu yang penting.
"Iya. Tapi masih bisa aku atasi." jawab Denis. "Lyra melakukan penarikan uang dari perusahaan. Entah dari mana dia mendapatkan tanda tanganku. Karena aku merasa tidak pernah menandatanganinya." jelas Denis.
"Saudara kamu yang cantik itu." ucap Hana, dengan nada terdengar tidak menyukai Lyra. Dan ekspresi wajah kesal.
"Ada yang tidak beres dari Lyra. Aku juga heran. Bagaimana mama bisa begitu menyayangi dan percaya pada Lyra. Mantra apa yang di berikan Lyra." ucap Denis dnegan nada kesal.
Seketika Hana menoleh ke arah Denis. Ekspresi wajah Hana datar. "Orang tuanya mempunyai perusahaan besar. Tapi dia kekeh ingin belajar bisnis di perusahaanku." Hana masih memandang ke arah Denis.
"Dan juga, dia tidak kekurangan uang. Untuk apa mencuri uang dari perusahaanku." imbuh Denis.
"Apa uangnya banyak?" tanya Hana penasaran.
"Lumayan." jawab Denis. "Tapi kamu tenang saja. Aku tidak akan bangkrut hanya karena kehilangan uang sebanyak itu." Denis menggenggam telapak tangan Hana. Menciumnya beberapa kali.
Denis berkunjung ke rumah Hana. Dirinya juga bertemu dan berbincang dengan Ibu Ningsih.
"Arik keman bu? belum pulang?" tanya Denis, karena tidak melihat kehadiran Arik. Adik dari Hana.
"Dia pergi sama mas Reza ke luar kota. Katanya ada pekerjaan di sana." jelas bu Ningsih.
Hana datang membawa dua cangkir gelas berisi teh hangat. Meletakkannya di depan Denis dan sang ibu.
"Maaf, jika saya beberapa minggu ini jarang datang berkunjung. Ada sesuatu yang harus saya selesaikan di perusahaan." jelas Denis.
"Iya ibu mengerti, nak Denis pasti sekarang sibuk. Tidak seperti dulu." ucap Bu Ningsih, mengingat sekarang Denis sudah mengambil alih perusahaan milik keluarganya.
"Maaf bu, kedatangan saya ke sini. Sekalian ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada ibu." ucap Denis, membuat Bu Ningsih dan juga Hana langsung memandang ke arah Denis.
Denis memandang ke arah Hana. Lalu beralih memandang ke arah bu Ningsih. "Saya ingin melamar Hana." ucap Denis.
Hana dan bu Ningsih terdiam karena keduanya terkejut. "Tapi maaf, saya belum mengajak kedua orang tua saya. Saya hanya ingin memberitahu ibu. Jika saya serius menjalin hubungan dengan anak ibu. Jika ibu menerima lamaran saya. Dalam waktu dekat, saya akan membawa kedua orang tua saya untuk datang ke sini." tutur Denis.
Terkejut. Tentu Hana sangat terkejut. Apalagi Denis tidak memberitahu dirinya soal lamaran yang mendadak ini.
Senang. Pasti Hana merasa hatinya berbunga-bunga. Karena selama ini, inilah salah satu momen yang paling di tunggu oleh Hana.
Bu Ningsih menatap ke arah Hana dan tersenyum. Beliau tahu jika mama Denis bekum bisa menerima putrinya. "Soal itu, ibu menyerahkan semuanya pada Hana. Dia yang akan menjalaninya. Sebagai orang tua, ibu akan bahagia. Jika anak ibu juga bahagia." ucap bu Ningsih bijak.
Bu Ningsih tidak menerima atau menolak lamaran dari Denis. Karena beliau merasa tidak berhak. Hana lah yang lebih berhak untuk memutuskan.
"Sa-" ucap Hana.
"Hana juga setuju bu. Iya kan Han?" tanya Denis, membuat perkataan Hana terhenti. Denis memegang telapak tangan Hana dengan erat.
Hanya hanya diam tanpa berkata apapun. "Nak Denis." panggil Bu Ningsih. Membuat keduanya memutuskan tatapan mereka.
"Ibu setuju-setuju saja dan merasa senang akan niat nak Denis. Tapi ada baiknya, kalian bicarakan dulu. Berdua. Dengan kepala dingin. Jangan memakai emosi." tutur bu Ningsih.
Denis tersenyum dan mengangguk. "Iya bu, terimakasih." ucap Denis.
Denis menatap pergelangan tangannya. "Maaf bu, apa saya bisa mengajak Hana keluar?" tanya Denis.
__ADS_1
"Kemana?" tanya Hana spontan.
"Aku ada acara pesta. Pertemuan setiap tahun, seperti berkumpulnya para pebisnis muda." jelas Denis.
"Aku tidak bisa. Aku ingin istirahat. Badanku capek sekali." ucap Hana tidak berbohong. Lantaran, sehari ini salon penuh dengan pelanggan. Membuat Hana dan karyawan lain juga harus bekerja ekstra.
"Serius?" tanya Denis pelan. Dirinya tidak mungkin memaksa Hana untuk ikut. Apalagi di sampingnya ada calon ibu mertua.
Hana mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu saya permisi bu." pamit Denis.
Hana mengantar Denis ke depan. "Beneran, kamu nggak maj menamai aku." rengek Denis dengan ekspresi lucu.
Hana tersenyum. "Sungguh, aku capek. Seharian pelanggan di salon penuh." ucap Hana.
"Ya sudah. Alamat, pergi sama Viki." dumal Denis masih bisa di dengar Hana.
Denis mencium kedua pipi Hana bergantian. "Mobilnya aku bawa. Besok aku jemput." ucap Denis.
"Awas sampai telat." ancam Hana.
"Tidak akan Tuan Putri." ujar Denis.
Segera Denis melajukan mobil yang di kendarainya menuju ke apartemen untuk berganti pakaian. Pulang ke rumah. Tidak.
Denis sangat malas pulang. Apalagi bertemu Lyra. Denis menebak jika sekarang Lyra pasti sudah mengadu pada sang mama.
"Kalian tunggu sampai malam. Gua nggak akan pulang." ucap Denis seperti peramal. Dirinya menebak jika kedua perempuan tersebut tengah menunggu kepulangannya.
"Semua gara-gara Hana." dumal Denis, karena Hana tidak mau dia ajak untuk pergi ke acara ini.
Viki hanya melirik ke arah Denis dan merasa acuh dengan wajah masam sahabatnya. "Kenapa, mau pergi dengan Lirang?" tanya Viki, menyebut nama perempuan tersebut dengan aneh.
"Mana ada. Hubungan gue sama Hana baru membaik. Lagi pula gue dari dulu sama sekali nggak tertarik sama Lyra." omel Denis.
"Kenapa sih elo." sungut Viki, karena sedari tadi Denis selalu menarik nafas dalam-dalam. Atau kalau tidak selalu berdecak. Dan juga memasang wajah sebal dan kesal.
Di depan kursi depan, kedua asisten Denis dan Viki hanya terdiam. Mendengar kedua atasannya tersebut selalu beradu mulut. Karena hal tersebut sudah terbiasa mereka dengar jika keduanya bersama.
"Elo nyadar nggak sih." ucap Denis dengan suara sedikit meninggi.
"Apa?" tanya Viki dengan santai dan tenang.
"Astaga. Kita pergi ke acara tersebut. Dan semuanya lelaki. Empat lelaki." kesal Denis.
Viki menggeleng pelan. Dirinya sama sekali tidak mengerti kenapa Denis malam ini selalu menggerutu.
Viki memutar kedua matanya jengah. "Biasanya juga seperti ini." dengus Viki kesal, mendengar keluhan dari sahabatnya tersebut.
Tiba-tiba wajah Denis murung. "Tidak. Ada satu perempuan di antara kita." ucap Denis lirih, teringat jika mereka selalu bertiga saat menghadiri acara seperti ini.
Karena waktu itu, Vano masih acuh pada Ella. "Santai, sahabat kita dalam keadaan baik-baik saja. Dia pasti kembali." ucap Viki dengan percaya diri.
Denis memandang tajam ke arah Viki. "Ada yang elo sembunyikan dari gue." tanya Denis dengan tatapan curiga.
Viki sadar jika dia salah bicara. "Akhirnya sampai." ucap Viki, turun dari mobil.
Viki tidak mungkin menceritakan jika beberapa waktu yang lalu dirinya dan Ella berkirim pesan. Meskipun hanya sekali.
"Jaga tu muka." ingat Viki pada Denis. Sebab banyak kamera yang pastinya akan meliput mereka.
__ADS_1
"Bawel." ketus Denis. Padahal sedari tadi, dirinyalah yang selalu cerewet di dalam mobil. Rey dan Miko hanya menggeleng pelan di belakang mereka, melihat kedua atasannya tersebut.