DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 146


__ADS_3

Vano datang ke rumah sakit dengan wajah di tekuk dan pastinya badmood. Emosinya sudah di ubun-ubun. Bahkan hampir meledak. Juka saja Ella tidak menenangkan hatinya.


Beberapa saat yang lalu, Vano duduk di tepi ranjang dengan senyum dibibir. Menunggu Ella yang sedang membersihkan badannya di kamar mandi. Karena keduanya baru pulang menghadiri acara pesta Tuan Mark.


Sementara dirinya sudah terlihat bersih dan segar. Menandakan jika Vano sudah membersihkan badan terlebih dahulu sebelum Ella.


Angan-angan jika malam ini pusaka miliknya akan di manjakan oleh sang istri sirna seketika saat Oma Yeti menghubungi dirinya dan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit malam ini juga.


Sebenarnya Vano bermaksud menghiraukan permintaan Oma Yeti supaya dia datang ke rumah sakit sesuai keinginan Oma. Tapi Ella dengan sabar memberi pengertian. Apalagi kini kondisi Oma sudah mulai membaik.


"Masih banyak malam-malam yang akan kita lewati bersama. Bukankah sekarang kita suami istri." bujuk Ella.


"Baiklah, kamu hati-hati." pamit Vano meninggalkan Ella sendirian di kamar hotel.


Ella tidak ingin jika Oma Yeti anfal lagi. Dan mereka akan semakin lama berada di sini. Padahal Ella benar-benar ingin pulang. Sesungguhnya Ella bisa pulang sendiri dan meninggalkan Vano.


Tapi Ella tidak melakukannya. Karena sekarang statusnya sudah berubah. Dan Ella ingin selalu berada di samping Vano. Toh, seandainya Ella tidak bekerja pun, Vano masih sanggup untuk membiayai kehidupan sang model.


Dirinya sangat ingin bertemu dengan Hana. Dan berbicara dengannya. Entah kenapa hati Ella merasa tidak tenang dan khawatir terhadap Hana.


Padahal saat Ella menghubungi, dan bertanya, Hana sudah bilang padanya jika dia baik-baik saja. Tapi entah mengapa Ella tidak percaya dengan ucapan Hana. Ella merasa ada yang di sembunyikan Hana dari dirinya.


"Van." ucap Oma Yeti saat Vano datang ke ruangannya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam. Oma Yeti memang super. Super menyebalkan.


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat tidak senang? Apa istrimu membuat ulah? Apa dia penyebabnya?" tanya Oma Yeti beruntun membuat Vano semakin kesal.


Apalagi Oma mengira jika Vano berwajah muram karena Ella. Padahal semuanya di karenakan dirinya sendiri. Yang menyuruh Vano datang di saat tidak tepat.


Di saat Vano sedang bersiap ***-*** dengan sang istri. Mana Oma tahu, diakan tidak tahu jika Vano menginap di hotel bersama istri tercinta.


"Ada apa Oma memanggilku?" bukannya menjawab pertanyaan Oma, Vano malah balik bertanya dengan wajah tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Oma sudah membaik. Kamu bisa kembali pulang. Lagi pula sebentar lagi Oma pasti akan keluar dari rumah sakit. Dan juga pulang." jelas Oma Yeti.


"Astaga." gumam Vano merasa kesal dengan kedua telapak tangan mengusap kasar wajahnya. Mencoba meredam rasa kesalnya pada perempuan tua di depannya.


Bagaimana Vano tidak bertambah kesal. Ternyata Oma Yeti hanya mengatakan hal yang menurut Vano tidak penting. "Kenapa Oma tidak bicara saja tadi saat Oma menelpon Vano." keluh Vano.


Vano mengalihkan pandangan ke kursi. Di mana ada mama dan papanya sedang duduk di sana. Tampak wajah keduanya juga sedang dalam keadaan badmood.


Bahkan, Nyonya dan Tuan Danto tidak menyapa, bahkan ikut berbicara saat Vano dan Oma Yeti berbicara. Vano merasa ada yang sudah terjadi. Dan pastinya sesuatu yang buruk.


"Kamu ajak Lena pulang." ujar Oma Yeti. Seketika Vano menatap ke arah Oma.


"Selama Oma di sini, Lena akan menjadi tanggung jawab kamu." Vano memandang tajam ke arah Lena yang sedang menundukkan kepala.


Vano mengambil dan menghembuskan nafas panjang. Tangannya terkepal sempurna. Dikira Vano tidak punya kerjaan. Di kira Vano pengasuhnya Lena. Kenapa Oma Yeti ada-ada saja, membuat Vano menjadi semakin kesal.


Andai saja bukan ibu dari mamanya, pasti sekarang Vano akan berteriak di depannya. Dan Lena, jika bukan karena Oma Yeti, pasti Vano akan melenyapkannya.


Nyonya Risma berdiri dan berjalan menuju ke tempat Vano. Mengelus pundak sang putra. Mencoba menenangkan hati sang putra. Vano menengok ke arah mamanya.


"Dia memang perempuan yang hebat." ucap Vano lirih. Ujung matanya melirik ke arah Lena, sepertinya Vano mengerti apa yang di maksud oleh mamanya.


"Apa yang mereka rencanakan?" batin Lena. Lena yakin jika Vano tidak akan berani berbuat macam-macam padanya. Karena taruhannya adalah kesehatan Oma Yeti. Percaya diri sekali kamu Lena.


Meski Lena masih sedikit was-was dengan Vano, karena tindakan Vano kemarin pada dirinya.


"Baiklah, besok kita akan pulang." ucap Vano, menatap ke arah Lena dengan senyum yang menakutkan.


******


Suara ketukan pintu hotel mengganggu aktifitas Ella yang sedang memainkan game di ponselnya sambil rebahan. "Tidak mungkin Vano." ucap Ella. Karena sang suami baru saja keluar. Tidak mungkin kembali secepat itu.

__ADS_1


Ella memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Melihat siapa yang sudah mengetuk pintu selarut ini. Tidak mungkin juga resepsionis.


Ella melihat dari lubang kecil yang terdapat di pintu. Tidak ada siapapun di depan pintu kamar hotel tempat Ella dan Vano menginap. Lantas siapa yang sudah mengetuk pintu.


Ella segera kembali ke dalam kamar. Memakai jaket dan menyembunyikan pistol di dalam jaket. Tidak lupa Ella membawa pisau lipat miliknya.


Ella juga membasahi lengan jaketnya menggunakan cairan. Entahlah, cairan apa yang Ella tuangkan. Hanya Ella yang mengetahuinya.


Di intipnya kembali lewat pintu yang baru saja terketuk kembali dari luar. Dan hasilnya masih tetap sama. Zonk. Tidak ada siapapun.


Ella mengeluarkan pistolnya, melihat sisa mesiu yang tertanam di dalamnya. Lalu mengedarkan pandangan, melihat kamar hotel yang ditempatinya.


Kamar hotelnya tidak kedap suara. Pasti akan terdengar jika dirinya memakai senjata api di dalam. Ella menyandarkan dirinya di pintu dengan tangan memasukkan kembali pistol ke dalam jaketnya.


Berpikir sejenak, seringai menakutkan terbit di bibirnya. "Salahkan kalian, sudah mengganggu waktu bersantai diriku." gumamnya.


Ella menarik nafasnya beberapa kali. Dan kembali menarik nafas panjang. Tangannya terulur, membuka pintu kamar. Sepertinya Ella sudah bersiap dan mempunyai rencana.


Dan seperti yang di perkirakan Ella, seseorang membekap mulutnya dari samping. Dan jangan tanyakan ekspresi Ella saat menutup matanya.


Tersenyum menakutkan.


Ella di bawa keluar dari hotel lewat pintu belakang. Terlihat jika kedua orang yang menculik Ella sangat hapal dengan jalan yang berada di hotel.


Menandakan mereka sudah mempelajari tempat hotel tersebut. Atau malah ada pihak dalam yang ikut terlibat. Dan Ella tidak peduli.


Sampai mereka memasukkan Ella ke dalam mobil. Ella di baringkan di kursi mobil bagian belakang. Keduanya membuka penutup wajah dan duduk di kursi depan.


Ella masih tidak bernafas. Tangannya terulur pelan menggosok hidungnya menggunakan lengan jaket yang sudah di basahi di dalam kamar hotel tadi.


Ternyata cairan tadi adalah cairan untuk meredam obat bius yang sudah mereka tempelkan di hidung Ella.

__ADS_1


Ella kembali memejamkan matanya. Mendengarkan percakapan dua lelaki yang berada di kursi depan. Di mana salah satu dari mereka sedang menyetir dan pasti membawa mereka pergi ke suatu tempat.


Lumayan, Ella bisa menyalurkan hasratnya karena Vano meninggalkannya. Menyalurkan dengan cara berbeda. Dan pastinya Ella akan merasa senang. Karena tidak kesepian, sendirian didalam kamar hotel.


__ADS_2