
"Kenapa, sakit." Ella menatap remeh pada salah satu pemuda yang telah ia tendang perutnya.
Tampak pemuda tersebut meringis dengan tangan memegang perutnya.
Karena tidak terima, mereka membalas kembali perlakuan Ella pada salah satu temannya. Dua lawan tiga.
"Brengsek." ucapnya dengan tangan mengepal hendak meninju ke arah Ella.
"Jangan jadi banci." Arik menghalaunya dan memukul tepat di hidungnya. Darah keluar dari hidungnya.
Kedua pemuda berusaha menyerang Ella, tapi dengan mudah Ella dapat menahan, dan mengembalikan serangan pada mereka.
Sementara seorang menyerang ke arah di mana Arik berdiri. Meskipun Arik tidak terlalu piawai dalam bela diri, setidaknya bukan menjadi masalah baginya jika masih satu lawan satu. Dengan mudah Arik juga mengalahkannya.
"Model seperti kalian. Gue bisa habisi dalam sekejap." Ella memegang tangan salah satu dari mereka dengan memelintir lengannya ke belakang.
"Elo mau tahu, siapa gue." bisik Ella.
"Mellanie Putri Subagyo." imbuh Ella berbisik di telinga pemuda yang ia pelintir lengannya tersebut.
Ella melepaskannya dengan setengah mendorong dengan kasar tubuh pemuda tadi ke depan.
"Elo bawa nama bokap elo. Gue juga bawa nama bokap gue. Jadi gue ingetin, jangan pernah bawa nama bokap elo di jalanan. Cupu." ejek Ella.
"Jangan." salah satu dari mereka menghentikan kedua temannya yang hendak menyerang Ella dan Arik.
"Kita pergi." ucapnya menyuruh ke dua temannya naik ke dalam mobil mereka.
Terlihat wajah ketakutan dan juga cemas dari salah satu pemuda tersebut setelah mendengar nama orang tua dari Ella.
"Mellanie Putri Subagyo. Berarti dia juga calon istri dari Vano Reyandli. Gue baru tahu dia secantik itu. Beda sama yang di majalah. Pantes, sepertinya mukanya sangat familiar banget. ****." gumam pemuda tadi di dalam mobil.
"Non Ella nggak apa-apa?" Arik terlihat khawatir.
Dia bahkan mengamati seluruh tubuh Ella. Sampai memutari badan Ella.
"Apa sih Rik." ucap Ella merasa geli dengan tingkah Arik.
"Kenapa kamu bisa berurusan sama mereka sih." tanya Ella penasaran.
"Nggak tahu juga sih Non."
"Kakak Arik. Kakak." tegas Ella membenarkan panggilan Arik pada dirinya.
"Maaf." Arik menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Tiba-tiba mereka menghadang mobil Arik. Katanya sih mau pinjem. Tapi Arik nggak kasih."
"Mereka anak orang kaya Rik. Ngapain pinjem mobil segala."
"Tahu kak. Arik juga nggak akrab sama mereka. Cuma kenal doang. Beda jurusan."
"Kamu mau ke mana?"
"Arik habis kuliah. Terus sekarang mau jemput ibu."
__ADS_1
"Ibu ke mana?"
"Biasa, ibu dapat pekerjaan masakin orang mau punya hajatan. Hajatannya sih masih lusa, tapi ibu sudah setiap hari ke sana. Nggak tahu juga ngapain."
"Ya sudah sana. Nanti kamu di tungguin sama ibu. Aku mau ke rumah kamu. Jemput Hana."
"Belagu banget kak Hana. Minta jemput. Biasanya juga naik kendaraan umum jika mobilnya aku pakai."
"Apasih. Sudah sana. Nanti di tungguin ibu."
"Maaf ya kak. Gara-gara Arik, kak Hana jadi nggak punya kendaraan. Nanti kalau Arik sudah lulus, Arik akan cari kerja dan beli mobil buat kak Hana. Mobil ini Arik saja yang pakai."
"Iya, kakak do'ain semoga semua berjalan sesuai keinginan kamu. Pokoknya yang terbaik deh."
"Duluan ya kak Ella."
"Yokk." Arik masuk ke dalam mobilnya, begitu juga dengan Ella.
Setelah menjemput Hana di rumahnya, Ella dan Hana pergi menuju apartemen Santi.
"Elo yakin ini apartemennya." ucap Ella pada Hana setelah sampai di depan sebuah apartemen mewah.
Ella dan Hana melangkahkan kaki memasuki salah satu apartemen mewah di kota ini. Sampai di depan pintu apartemen yang mereka cari, mereka berhenti dan membunyikan bel.
"Masuk." Santi membuka pintu dan menyuruh mereka berdua untuk masuk.
Sebelum membuka pintu, Santi sudah mengetahui siapa yang telah membunyikan bel apartemennya lewat lubang kecil tertutup kaca di pintu apartemennya.
"Mau minum apa."
Karena tujuan dia ke sini ingin menanyakan kejadian di perusahaan Vano yang melibatkan dirinya. Dan Ella juga merasa, pasti Santi tahu apa tujuannya mendatangi kediamannya.
"Mau bertanya yang mana." Santi duduk, mencoba bersikap tenang dan menatap ke arah Ella.
"Se-muanya. Pasti kamu tahukan maksudku." Ella juga memandang tajam ke arah Santi.
"Khem. Kita. Maksud saya, saya dan Tuan Vano tidak ada hubungan apa-apa." Santi berusaha bersikap tenang.
Dia tidak ingin Ella merasa curiga. Posisi Santi saat ini tidak menguntungkan. Dia berhadapan dengan Ella. Selain model terkenal, dia juga anak pebisnis hebat. Dan jika dia sampai salah bicara, dia sendiri yang akan mengalami kesulitan.
Vano dan Ella. Keduanya sama-sama kuat dan bisa membuat dirinya berada dalam masalah. Dan Santi sadar akan hal itu.
"Oke. Makasih." Ella beranjak dari duduknya.
"Jangan coba-coba bermain denganku. Aku bisa membuat hidupmu lebih sulit. Tanpa menggunakan kekuasaan orang tuaku. Aku harap kamu paham." Ella tersenyum remeh dan memandang Santi dengan pandangan merendahkan.
"Elo cantik. Tapi sayang, pelacur lebih pintar dari pada elo. Mereka masih bisa menghasilkan uang. Elo." imbuh Ella mengibaskan tangan di depan muka Santi.
Ella dan Hana meninggalkan apartemen Santi dengan perasaan dongkol. Mereka tahu bahwa Santi berbohong. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Dan juga saat Santi menutupi kegugupannya.
"Brengsek. Dia menyamakan gue dengan pelacur. Sedangkan dia sendiri mendapatkan Vano dengan melemparkan tubuhnya di atas ranjang Vano. Seandainya saja gue punya kekuasan, pasti gue akan lawan elo." ucap Santi merasa kesal dengan perkataan Ella.
"Dia pikir kita bodoh. Bisa nipu kita. Salah alamat." ucap Hana dengan tangan memegang kemudi mobil.
"Kapan elo mau tunangan." ucap Hana menyindir Ella.
__ADS_1
"Nggak usah urusin hidup gue. Nyetir yang bener."
"Santai. Gue cuma ingetin. Siapa tahu ada Santi yang lain lagi."
"Brengsek elo." Hana tersenyum mendengar Ella mengumpat pada dirinya.
Sementara, Vano dan Reza sedang menuju ke restoran, tempat mereka mengadakan janji temu dengan Egi.
"Apa kamu sudah menghubungi Egi." tanya Vano dengan mata menatap layar gawainya.
"Sudah Tuan. Mereka menunggu di restoran" jawab Reza berbicara di balik kemudinya.
Sesampainya di restoran, Vano dan Reza segera masuk ke salah satu ruang di restoran tersebut.
"Selamat datang Van."
Egi berdiri dan mengulurkan tangan pada Vano begitu Vano dan Reza masuk ke dalam ruangan tersebut. Vano menyambut uluran tangan Egi, tetapi matanya memandang ke arah lain.
"Tuan Vano." Vera berdiri dan bersalaman dengan Vano.
"Kita bertemu lagi." ucap Vera berbisik sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Vano.
"Silahkan." Egi mempersilahkan Vano dan Reza untuk duduk.
Reza mengamati ekspresi dari wajah Tuannya saat mereka baru saja sampai di ruangan tersebut.
"Kenapa pandangan Tuan Vano langsung menuju Vera." batin Reza.
"Kenalkan. Dia Vera. Model yang kami pilih untuk membawakan produk kita. Bagaimana. Tapi jika Tuan Vano merasa keberatan. Kita bisa mencari penggantinya." jelas Egi.
"Saya setuju." ucap Vano dengan mata memandang ke arah Vera.
Reza menoleh ke arah Vano. Dia kaget saat Vano sendiri yang menjawab pertanyaan dari Egi. Itupun dia langsung menyetujuinya. Reza juga merasakan ada yang tidak beres pada Tuannya tersebut.
"Anda ingin bermain api lagi Tuan." batin Reza yang sudah mengetahui kebiasaan dari Tuannya tersebut.
"Kelihatannya, hubungan kita akan berlangsung sayang. Ella, kamu pasti akan tersingkir, secara perlahan." batin Vera dengan senyum indah di bibirnya.
"Baiklah kalau begitu, jadi Nona Vera akan menjadi model untuk produk kita. Dan Nona Vera, anda bisa berkomunikasi dengan orang yang akan kita tunjuk. Untuk informasi lebih jelasnya, saya akan menghubungi Nona Vera." ucap asisten Egi.
Vano dan Reza pamit undur diri terlebih dulu saat semua sudah mencapai kata sepakat.
"Kamu kembali ke kantor naik taksi saja. Saya akan menyetir sendiri. Handel semua pekerjaanku." ucap Vano di parkiran restoran.
"Baik Tuan." Reza menyerahkan kunci mobil pada Vano dan beranjak meninggalkan Vano.
Tidak lama kemudian, Vera masuk ke dalam mobil Vano dengan tenang.
"Mereka." ucap seseorang yang melihat Vera memasuki mobil Vano.
*****
Heh... Vano, belom kapok juga ya. Udah ketahuan sama Ella dan mamanya. Sekarang cari yang lain lagi. Sebenarnya apa sih yang elo cari. Heran deh gue.
Awas saja kalau sampai macam-macam lagi. Author coret-coret muka kamu. Biar nggak ada yang mau.
__ADS_1
Kalian juga low teman-teman,,, jangan lupa coret coret di komen. Biar author tuambah semuangat... ðŸ¤