
"Kamu mau apa Ell.." seru Egi.
"Tugas kamu jaga dia. Jangan sampai lepas. Dan elo Dim. Jaga Hana." ucap Ella dengan pandangan mengarah ke tempat para musuh sembunyi di balik meja.
Ella dan Viki saling pandang. Dan mengangguk.
"Kalian berdua hati-hati." ucap Dimas.
Ella dan Viki berdiri dan menembaki mereka yang berada di balik meja. Mereka berdua saling menjaga. Mereka berani melakukannya karena mereka yakin, jika musuh sudah berkurang. Karena berondongan timah panas dari luar.
"Elll..." seru Egi.
"Seharusnya biar aku yang lakuin. Kenapa mesti kamu." Egi merasa tidak berguna membiarkan Ella maju bersama Viki.
"Percaya saja dengan mereka. Lagi pula di luar bantuan sudah datang." ucap Dimas.
"Berhenti." terdengar suara dari luar yang menyuruh menghentikan tembakan.
"Masuk." terdengar kembali suara dari luar yang memberi perintah untuk masuk ke dalam ruangan.
"Tahan tembakan." ucapnya lagi.
Ternyata mereka adalah anak buah dari Tuan Haris di bawah pimpinan Paman Haki dan juga anak buah Vano bersama Reza.
Sebenarnya Vano ingin menjemput paksa Ella. Dia sengaja membawa anak buahnya karena dia mengetahui jika Ella bersama dengan Egi, Dimas, dan Viki.
Dan akan memakan waktu jika dia datang sendirian. Bukan Vano takut untuk menghadapi mereka. Tapi dia tidak suka membuang-buang waktu.
Tapi ternyata sampai di tempat, dia malah bertemu dengan paman Haki dan anak buahnya. Dari paman Haki, Vano mengetahui semuanya.
Keduanya ingin masuk begitu saja ke dalam bersama anak buah masing-masing. Tapi tidak mungkin. Sebab, di dalam ada Ella dan juga teman-temannya.
Oleh karena itu, mereka harus memastikan terlebih dahulu jika mereka dalam keadaan aman sebelum melancarkan serangan.
"Periksa semua." perintah Vano pada bawahannya.
Dimas menggendong Hana keluar dari tempat persembunyian mereka. Begitu juga dengan Egi yang masih bersama dengan tawanannya.
Setelah mereka memeriksa semuanya, ternyata ada beberapa yang masih hidup. Dan mereka di kumpulkan menjadi satu. Termasuk tawanan di tangan Egi.
Ella berlari ke arah Dimas. "Hann.." seru Ella.
"Dia pingsan." kata Dimas.
"Kita tidak mungkin membawa ke rumah sakit. Apalagi Hana terluka karena tertembak." ucap Egi.
"Dim, elo bawa ke rumah gue. Gue udah telepon dokter keluarga gue. Elo ceritakan semua sama papa mama." jelas Ella pada Dimas setelah mematikan panggilan teleponnya.
Tanpa berpamitan pada Ella, Dimas keluar menggendong Hana dengan setengah berlari. Seolah dia berlari tanpa membawa beban di tubuhnya. Jelas tergambar di raut wajahnya rasa cemas pada diri Dimas akan keadaan Hana.
"Elo selesaikan urusan elo. Biar gue dan Dimas yang mengurus temen elo." ucap Viki.
Ella memandang beberapa bawahan paman Haki. "Kalian ikuti mereka sampai rumah."
"Baik Non."
"Gue titip Hana." ucap Ella.
"Percayakan sama kita." ucap Viki.
"Gue rasa dia suka sama temannya Ella." gumam Viki melangkahkan kakinya lebih cepat untuk mengejar Dimas.
__ADS_1
"Tapi apa mungkin. Mereka kan baru bertemu." tambah Viki.
Vano mendekat dan memeluk Ella. "Kamu baik-baik saja kan?" Vano mencium dahi Ella dan menatapnya dengan tatapan cemas.
"Iya." Ella menyingkirkan pelan tubuh Vano dan berjalan menuju beberapa musuh yang masih hidup.
Doorrr.. doorr... darah muncrat dari kepala seorang lelaki yang Ella tembak tepat di dahinya.
Egi menelan kasar ludahnya. Baru kali ini dia melihat Ella melakukan hal yang menurutnya sangat menakutkan. Apalagi Ella adalah seorang perempuan.
Egi mengenal sosok Ella sebagai perempuan yang baik, sopan, dan anggun. Ternyata semuanya tidak seperti yang ada di bayangannya.
Berbeda dengan Vano. Dia malah menarik kedua ujung bibirnya.
Tuan Haki membisikkan sesuatu pada orang di sampingnya.
"Baik. Kalian ikut gue." ucapnya setelah mendapat perintah dari paman Haki.
Begitu juga dengan Vano. "Za, bawa beberapa orang keluar."
"Baik Tuan." Reza membawa beberapa bawahan Vano untuk berjaga di luar bersama orang-orangnya paman Haki.
Ella memandang ke arah lelaki yang tadi sempat di tawan oleh Egi. "Ambil ponselnya." suruh Ella pada bawahannya.
"Ini Nona." ucapnya seraya menyerahkan ponsel pada Ella.
Ella memandang pada Paman Haki setelah membuka ponsel lelaki tersebut. "Bawa mereka paman." pinta Ella.
"Baik Non." jawab paman Haki.
Beberapa orang membawa mereka ke markas Tuan Haris. "Non, mari paman antar pulang." tawar paman Haki pada Ella.
"Tidak perlu." ucap Vano sebelum Ella membuka mulutnya.
Vano berdiri di samping Ella. "Aku kira kamu bakal menyelesaikannya sekarang." ujar Vano.
Ella menatap ke arah Vano. "Itu urusanku." ucap Ella.
Vano membelai pipi Ella dengan jari jemarinya. "Katakan jika butuh bantuan." ucapnya.
Ella memalingkan wajahnya. Menjauhkan pipinya dari tangan Vano. "Sayangnya aku bukan wanita lemah." ucapnya.
Egi hanya diam melihat interaksi keduanya. Hingga dirinya angkat suara. "Ell." panggilnya dengan lembut.
"Hemm." Ella menoleh ke arah Egi.
Egi mendekat dan menggenggam telapak tangan Ella
"Kamu pasti capek. Lebih baik kamu istirahat." ucap Egi.
Ella tersenyum dan mengangguk. "Boleh." ucap Ella.
Vano melepas tautan tangan Ella dan Egi. "Tuan Egi tidak perlu repot. Ella adalah kekasih saya." ucap Vano dengan penekanan.
Egi memandang Ella dengan senyum simpul. "Bagaimana?" tanyanya.
"Bukankah sudah kukatakan. Boleh." ucap Ella dengan memandang Egi dan seketika mengalihkan pandangan ke arah Vano.
Egi menggandeng tangan Ella. Meninggalkan Vano yang masih menatap ke arah mereka berdua dengan emosi yang siap meledak.
Reza memejamkan mata sebentar dan menarik nafas dalam-dalam, kemudian membuangnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kenapa Nona Ella sekarang mempunyai hobi baru." batin Reza melirik ke arah Vano yang sedang menahan amarah.
Ella berjalan dengan sesekali melihat ke arah Egi. "Maaf." ucap Ella lirih.
Egi malah mendekatkan kepalanya dengan wajah Ella. "Apa?" tanya Egi pura-pura tidak mendengar. Padahal Egi mendengar dengan jelas perkataan maaf dari Ella.
Ella menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Egi. "Maaf." ucap Ella dengan raut wajah merasa bersalah.
Egi melepaskan tautan tangannya dengan tangan milik Ella. Dia bersedekap dan membalas tatapan dari Ella.
"Lalu?" tanya Egi.
Ella menggeleng pelan. "Tidak tahu." ucapnya sendu.
Egi mendekatkan wajahnya dengan wajah Ella. "Wanita ini, menggemaskan." batin Egi melihat wajah imut Ella karena rasa bersalah pada dirinya.
Egi sadar jika Ella memanfaatkannya untuk membalas Vano. Dan itu semua bisa membuat Vano marah. Tapi dia tidak peduli. Egi berfikir, mungkin kedekatan dengan cara seperti ini malah bisa membuat dia dan Ella kedepannya akan lebih dekat lagi.
Egi akan memanfaatkan kesempatan sebaik dan sekecil mungkin untuk dapat bersama dengan Ella. Dia tidak perlu khawatir. Karena posisinya dan Vano sama-sama kuat dalam hal bisnis.
Lagi pula Egi bukan merusak hubungan Ella dan Vano. Tapi dia manfaatkan celah untuk mendekati Ella karena kesalahan yang di buat oleh Vano sendiri.
Egi kembali menarik wajahnya untuk menjauh dari wajah Ella. "Tidak gratis." Egi tersenyum misterius dan meninggalkan Ella.
Ella mengejar Egi dan menyeimbangkan langkahnya di samping Egi. "Apa?" tanya Ella.
"Akan ku beritahu nanti."
"Jangan aneh-aneh." ujar Ella.
"Aneh-aneh. Aneh-aneh bagaimana?"
"Ya aneh-aneh. Pokoknya aneh-aneh."
"Contohnya." tanya Egi semakin gemas dengan tingkah Ella.
"Ahh tahu." sekarang Ella lah yang mempercepat langkahnya.
"Hei. Tunggu." Egi berteriak dan mengejar Ella.
Dari arah lain, tampak Vano memperhatikan interaksi keduanya. "Aaaa....."
Dor dor dor dor dor.....
Vano melepaskan arah tembakan ke sembarang arah. Reza hanya terdiam dan sedikit memejamkan mata. Vano memasukkan kembali pistolnya ke dalam jas miliknya dan melangkahkan kaki. "Apa kamu sudah bosan bekerja." seru Vano sambil berjalan.
Reza segera mengejar Vano dan mendekatkan langkah kakinya pada atasannya tersebut. "Setelah ini apa lagi." batin Reza.
*****
Kawan, kita bersama-sama berdo'a ya.
Semoga Hana baik-baik saja. .. 🤲🤲
Kasihan jika Ella harus kehilangan Hana.
Nanti, Ella nggak punya CCTV hidup lagi...
Bercandaaaaa. Han,,,, maafin author. ✌️✌️
Semangat Hannnn....nnaaaaa...
__ADS_1
Sobat mau tahu, apa hobi baru Ella.... Yappppp....
pastinya membuat Vano murka karena tindakannya. 🤭🤭