
"Kenapa lama?" ucap Ella dengan manja.
"Apotik di dekat sini tutup sayang." Vano berjalan ke dapur, mengambil air untuk Ella meminum obat.
"Biasanya kamu menyuruh Reza. Di mana dia?" Ella mengambil obat dan segelas air yang di berikan oleh Vano. Lalu meminumnya.
"Reza sedang sibuk."
Beruntung Ella tidak bertanya lebih jauh tentang Reza. Karena sebenarnya, Vano menyuruh Reza menyelidiki kedua sahabat Ella. Denis dan Viki. Tidak lupa, Jo juga masuk dalam penyelidikan Reza.
Vano mendekat ke arah Ella dan memeluknya dari belakang. "Ell,, aku kangen." Vano menaruh kepalanya di pundak Ella yang tidak sakit.
"Kangen. Kangen bagaimana?" tanya Ella dengan nada cuek.
"Ya kangen." Vano semakin mengeratkan pelukannya.
"Kangen apanya?" tanya Ella mencoba memancing Vano.
"Kangen sama kamu lah. Kangen kamu yang manja sama aku."
"Aku kira kangen sama tubuh aku." celetuk Ella.
Jlebbb,,,, perkataan Ella seperti anak panah yang mengarah tepat ke mulut Vano. Membuat Vano terdiam seketika. Keadaan menjadi hening. Vano menghela dan menghembuskan nafas dengan pelan.
"Itu juga. Tapi sekarang aku nggak kepengen itu dulu. Kamu kan lagi sakit. Lagian,,, aku kangen kamu yang selalu manja sama aku. Benar Elll... Aku nggak bohong sayang."
"Bukankah kamu tidak suka perempuan manja."
Seketika Vano teringat beberapa bulan yang lalu. Di mana Vano menghardik Ella karena dirinya merasa terganggu dengan sikap Ella yang senang bergelayut di lengannya.
Terganggu dengan sikap manja yang selalu Ella perlihatkan di depan Vano. Terganggu dengan celotehan yang dikeluarkan dari mulut Ella.
Tapi Ella tidak pernah mengambil pusing dan seakan acuh akan semua perlakuan dan perkataan Vano terhadapnya. Hingga dirinya benar-benar menemukan bukti bahwa Vano berhubungan dengan beberapa perempuan di belakangnya.
Itulah awal mula sikap Ella berubah terhadap Vano.
"Maaf." Vano menyisihkan anak rambut yang berada di pipi Ella, membawanya ke belakang telinga Ella.
"Aku salah. Aku merasa kehilangan saat kamu tidak berada di sampingku. Ada sesuatu yang kurang di sekitarku sayang." Vano mencium pipi Ella.
"Van,,," panggil Ella dengan lembut.
"Apa sayang." ucap Vano dengan jari jemarinya bermain dengan rambut indah sang model.
"Bagiamana dengan perempuan di luar sana. Seandainya saja, ada perempuan yang datang. Dan minta pertanggung jawaban."
"Pertanggung jawaban."
"Mungkin saja, rahim dari salah satu mereka tertanam benih kamu." Ella berucap dengan menahan rasa takut dan khawatir akan jawaban dari Vano.
"Tidak mungkin terjadi." Vano mencium kening Ella berkali-kali."
"Aku tidak pernah memasukkan juniorku ke dalam vagin-na mereka. Bagaimana mereka akan hamil."
"Anak-anakku hanya akan keluar dari rahim kamu. Satu-satunya perempuan yang akan menjadi Nyonya Muda Subagyo. Tidak ada yang lain sayang." Vano mencium pipi Ella dengan singkat.
"Meski begitu, aku tidak mau berbagi. Jika kamu masih mempunyai perempuan lain selain diriku. Aku tidak segan-segan menjauhi kamu." ucap Ella.
"Bahkan lebih dari itu. Aku bisa menghancurkan hidup kamu." ucap Ella tegas.
Vano terdiam. Seketika Vano teringat bagaimana Ella membunuh musuhnya dengan mudah. Tanpa ekspresi apapun. Padahal dirinya adalah perempuan. Membuat Vano sedikit bergidik.
"Aku berjanji. Kesalahan waktu itu, tidak akan pernah terjadi." ucap Vano dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Aku percaya, tapi ingat Van. Kesempatan hanya akan datang sekali."
"Iya sayang. Aku berjanji, tidak akan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya."
"Van..." panggil Ella lembut.
"Apa. Hemmm."
"Kamu mandi gih. Bau. Kamu tadi kan belum mandi." celetuk Ella.
Vano langsung melepaskan pelukan pada Ella. Memandang tajam ke arah kekasihnya. "Padahal suasananya romantis, serius. Kenapa kamu,,, iiissshhh." Vano beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.
Ella tertawa melihat tingkah Vano. "Semoga kamu benar-benar berubah Van. Berubah jadi lebih baik." gumam Ella memandang Vano yang baru saja hilang di balik pintu.
Di dalam kamar, Vano melihat ponsel Ella di atas meja menyala. Vano mendekat dan melihatnya.
"Egi, mau ngapain dia." gumam Vano melihat ada sebuah pesan tertulis dari Egi di ponsel milik Ella.
KITA AKAN TETAP BERSAHABAT ELL,,,
JANGAN LUPAKAN AKU.. OKE 👍👍
"Bersahabat. Kamu pikir aku percaya. Mana mungkin kamu tidak tertarik dengan Ella." gumam Vano sinis.
Rahang Vano mengeras tatkala melihat di log panggilan ada nama Egi. Apalagi tertulis jika panggilan tersebut baru saja berlangsung.
"Apa yang mereka bicarakan." gumam Vano melemparkan ponsel ke atas kasur.
Ingin sekali Vano segera menghampiri Ella dan bertanya. Tapi Vano menahannya. Dia tidak ingin amarahnya merusak semuanya.
Segera Vano membersihkan diri dan mengguyur kepalanya yang tengah panas karena Egi.
Setelah selesai, Vano segera menyusul Ella di ruang tengah. Vano tersenyum melihat Ella terlelap tidur. "Tidak akan aku biarkan kamu pergi dari hidupku Ell." Vano dengan pelan menggendong Ella dan membawanya ke kamar.
Entah kenapa Vano merasa senang dan tenang tidur bersama dengan Ella tanpa melakukan kegiatan kikuk-kikunya. Vano seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.
"Eeeeegggghhhh." terdengar lenguhan dari Ella.
Ella membuka mata pelan. Senyum merekah di bibir seksi sang model.
Pertama kali membuka mata, Ella di hadapkan dengan pemandangan yang menyenangkan hati. Sosok lelaki tampan dengan hidung mancung dan rahang dengan di tumbuhi bulu-bulu halus.
Tangan Ella terulur menyentuh wajah tampan sang kekasih. Dengan pelan, Ella memajukan wajahnya dan mengecup pelan bibir Vano.
Ella terkekeh pelan melihat Vano seakan tidak terganggu dengan tindakannya. Ella merapatkan tubuhnya pada Vano. Meletakkan kepalanya tepat di atas dada bidang Vano. Dengan tangan melingkar di perut kotak-kotak milik sang kekasih.
Dan Vano lagi-lagi tidak terganggu dengan tindakan kecil dari Ella. Bahkan Ella kembali memejamkan matanya. Padahal matahari sudah mulai menampakkan seringainya.
Kedua insan manusia tampak terlelap dalam mimpi masing-masing. Hingga suara dering ponsel mengganggu kenyamanan mimpi mereka.
Dengan malas, Ella menggerakkan badannya. Mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Halloo..." ucap Ella setelah mengangkat panggilan telepon.
"Bisa bicara dengan Tuan Vano." kata seseorang di seberang telepon.
Ella membuka matanya. Melihat ke arah ponsel.
"Pantas. Ternyata ponsel Vano." batin Ella dengan mata melihat ke arah ponsel yang dia pegang.
Terdengar di telinga Ella, seorang perempuan yang sedang menghubungi Vano.
"Siapa sayang?" tanya Vano ikut terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Ella menyerahkan ponsel kepada Vano seraya menggelengkan kepala.
"Imey, ada apa." gumam Vano.
Padahal Vano sudah mewanti-wanti untuk tidak mengganggunya hari ini. Dengan malas, Vano menerima panggilan telepon dari sekertaris seksinya.
"Ada apa Mey?"
……………
"Ya. Baiklah."
Vano memutuskan panggilan telepon sepihak. Dengan muka kesal dia menaruh ponselnya di kasur.
Ella mendekat badannya dan menaruh dagunya di pundak Vano. "Siapa?" tanya Ella.
"Imey, sekertaris kantor."
"Ada apa. Apa ada pekerjaan?" tanya Ella pelan.
Vano hanya mengangguk dan menatap lurus ke depan. "Sayang, kamu tunggu sebentar di apartemen ya. Aku mau ke kantor sebentar." Vano mengalihkan duduknya menghadap ke Ella. Tangannya terangkat membelai lembut pipi sang model.
Ella mengerucutkan bibirnya. "Hanya sebentar. Janji." Vano mencium pelan dahi Ella.
"Baiklah, aku juga akan pergi bersama Hana."
"No, kamu tetap si sini." kekeh Vano.
"Terserah kamu." Ella mengambil selimut dan merebahkan dirinya kembali. Menutupi semua tubuhnya dengan selimut. Hingga tidak ada yang terlibat.
Vano mengusap wajahnya kasar. Dia tahu jika Ella sedang ngambek. "Memang kamu mau ngapain sama Hana."
"Nggak ngapa-ngapain sih. Ngobrol doang." ucap Ella di dalam selimut.
"Kamu ikut ke kantor saja." Vano menarik pelan selimut yang menutupi kepala Ella.
Dengan wajah di tekuk Ella memandang ke arah kekasihnya. Membuat Vano merasa gemas dengan dirinya. "Kamu tuhhhh." Vano menangkup kedua pipi Ella. Sedikit menekannya, sehingga membuat mulut Ella terbentuk lucu.
Ella menyingkirkan tangan Vano di pipinya. "Membosankan."
"Tidak akan sayang. Aku janji." Vano ikut merebahkan badannya di samping Ella. Dengan menjadikan tangan sebagai tumpuan kepalanya.
"Lagi pula aku khawatir jika kamu pergi sendirian. Musuh masih mengincar kita Ell."
"Bagaimana jika sepulang dari kantor kita bertemu papa." saran Ella.
"Tapi Elll."
"Aku akan ikut ke kantor." ucap Ella dengan memainkan jarinya yang lentik di bibir tebal Vano.
"Tidak akan ada batasan jika kamu ingin bertemu denganku. Kapan saja. Asal,,,, aku sedang tidak bekerja. Oke." imbuh Ella.
Senyum Vano mengembang. Dirinya yakin, jika kali ini Ella memberikan kesempatan bagi Vano. "Janji."
Ella mendorong tubuh Vano yang tengah berbaring dengan posisi miring. Menjadikan posisi Ella berada di atas Vano.
"Eittsss... bukankah kita akan segera ke kantor." ucap Ella saat dirinya tahu Vano hendak menyerang bibir seksi Ella dengan bibirnya.
Vano memegang dagu Ella. "Kamu yang memulai."
"Elll...." seru Vano saat Ella mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Vano.
Ella berdiri seraya menggoyang-goyangkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri. "Kamu sedang di tunggu di kantor."
__ADS_1