
"Aa..!" Ella terperanjat saat Vano mengalungkan lengan kekarnya di leher Ella.
"Vano..." rajuk Ella memukul pelan tangan Vano di lehernya.
"Haaaa... Serius banget Nyonya. Suami datang sampai tidak tahu." ucap Vano mencium berkali-kali pipi sang istri dengan gemas.
"Maaf." Ella melepas tangan Vano di lehernya. Beranjak, dan mengambil tas milik Vano. Keduanya jalan beriringan masuk ke dalam kamar.
Ella segera masuk ke dalam kamar mandi. Menyiapkan air mandi untuk Vano. Sementara Vano, melepaskan pakaiannya. Hanya meninggalkan boxer yang menempel di tubuhnya.
"Kamu mandi dulu, airnya sudah siap." Ella mengambil pakaian kotor milik Vano yang di letakkan Vano di kursi, menaruhnya ke dalam keranjang untuk pakaian kotor.
"Sudah bertemu Jo?" tanya Ella.
"Dia ada di tangan yang tepat." ucap Vano.
"Soal papa, aku yang akan berbicara." jelas Ella.
"Tidak perlu. Sekarang, kamu cukup diam, dan menyaksikan. Aku yang akan menyelesaikan semuanya."
"Terimakasih, dengan begini aku lebih fokus pada kegiatan baruku."
Vano memandang Ella dengan menelisik. Ella mendekatkan dirinya pada tubuh Vano yang sudah bertelanjang dada. "Kursus memasak." bisik Ella.
Ella sedikit meremas junior milik Vano, dan berlari menjauh. "Aku keluar sebentar. Ponselku tertinggal di bawah." ucap Ella yang sudah keluar dari kamar, menyisakan kepalanya yang menyembul dari balik pintu.
Vano tersenyum memandang istrinya yang berlari keluar. Menggelengkan kepala dengan tingkah nakal sang istri. "Nakal." ucap Vano memandang ke arah juniornya dan masuk kedalam kamar mandi.
"Nyonya. Maaf." ucap seorang pembantu terkejut dengan kedatangan Ella kembali, karena dirinya baru saja mematikan televisi yang masih menyala, dan ditinggal pergi begitu saja oleh Ella.
"Kenapa?" tanya Ella tidak paham, kenapa pembantunya meminta maaf.
"Saya akan nyalakan lagi televisinya." ucapnya dengan takut, dia mengira jika Ella akan menonton televisi lagi.
"Tidak perlu. Saya mau ambil ponsel." cegah Ella sembari tersenyum dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Dan kembali ke dalam kamar.
"Saya kira mau nonton televisi lagi." gumam pembantu tersebut bernafas lega.
Segera Ella mengambil pakaian ganti untuk Vano. Kemeja berwarna biru dengan celana kain warna hitam. Dan meletakkannya di tepi ranjang bersama dengan ****** ***** serta sabuknya.
Menunggu Vano mandi, Ella membuka ponselnya. "Hana." gumamnya ada pesan tertulis dari Hana. Mengatakan jika besok siang pertemuan akan di adakan di perusahaan yang menjadikan Ella sebagai modelnya.
Ella segera membalas pesan dari Hana.
OKE.... klik, Ella mengirim kata yang sangat singkat pada asistennya tersebut.
Selesai Vano membersihkan badan, sekarang giliran Ella. Sedangkan Vano memeriksa kembali berkas yang di bawanya dari kantor.
Vano telah selesai memeriksa berkas, tapi dilihatnya sanga istri masih berada di depan cermin. Tidak ingin mengganggu kenyamanan Ella, Vano memainkan ponselnya, sambil menunggu Ella.
"Sudah siap?" tanya Vano yang melihat Ella di depan cermin, membenahi penampilannya. Ella berdiri membalikkan badan, menatap ke arah Vano dengan senyum termanis.
Segera Vano memasukkan ponsel ke dalam sakunya. Dan menghampiri sang istri. Keduanya pergi ke rumah orang tua Vano tanpa sopir.
__ADS_1
"Sayang." sambut Nyonya Risma melihat Ella dan Vano datang. Nyonya Risma langsung berdiri dan memeluk menantu kesayangannya.
"Ella baik ma." ucap Ella.
"Vano anak kandung mama. Mungkin mama sedang amnesia." celetuk Vano.
Karena Nyonya Risma sepertinya hanya menyambut kedatangan Ella. Namun sang mama hanya acuh dengan perkataan putranya. Sebenarnya Vano hanya bercanda. Vano tersenyum melihat kedekatan istri dan mamanya.
Sebelumnya, Ella sudah di beritahu oleh sang mertua jika Lena berada di rumahnya. Tentu saja karena Oma Yeti berada di sini.
Dan ternyata, bukan hanya Lena yang ada di rumah sang mertua. Tante Dewi dan putranya, Marcell juga ada di tengah-tengah mereka.
"Oma baik?" tanya Ella.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Ella, Oma malah memandang ke arah Vano yang acuh. "Jika ingin menjenguk Oma jangan terlalu malam." ketus Oma Yeti.
Merasa tidak di anggap, Ella hanya diam. Duduk di samping Vano dan Nyonya Risma. Semua yang ada di ruangan juga terdiam dengan pikiran masing-masing.
Lena yang duduk di samping Oma Yeti tersenyum samar. Tampaknya hati Lena senang mendengar Oma Yeti berkata pedas.
"Ini masih sore. Lagipula Oma juga pasti belum makan malam." ucap Vano datar. Seketika Oma kicep mendengar perkataan menohok dari cucunya. Juga Lena, terlihat tidak suka dengan perkataan Vano.
"Sayang, kalian belum makan malam kan?" tanya Nyonya Risma.
"Belum ma, Ella kan mau makam malam sama mama." ucap Ella tersenyum.
"Pas kalau begitu, pembantu sedang menyiapkan makan malam. Lagian mama kangen banget sama kamu." Nyonya Risma memeluk erat tubuh menantunya.
"Semoga saya bisa mendapat menantu seperti Ella." celetuk Tante Dewi dengan senang.
"Nggak akan ada. Dia cuma satu di dunia." ujar Nyonya Risma memeluk tubuh menantunya dari samping. Tante Dewi tersenyum mendengar perkataan mantan kakak iparnya tersebut.
"Besok senggang?" tanya Nyonya Risma.
"Nggak ma, pagi Ella sudah mulai masuk kursus. Siangnya, Ella ada janji sama perusahaan yang mau menyewa jasa Ella sebagai model. Setelah itu, Ella langsung ke acara penggalangan dana. Mama Ane yang ngundang Ella." jelas Ella.
"Kursus apa sayang?" tanya Nyonya Risma penasaran.
Ella menengok ke arah Vano yang melihatnya dengan intens. Tangan Vano mengacak pelan rambut sang istri dan tersenyum.
Pemandangan yang sangat membuat hati Tuan Danto dan Nyonya Risma menghangat. "Kursus memasak." jawab Ella lirih. Nyonya Risma terkejut tidak percaya.
"Kamu yakin, mau masuk dapur. Nanti badan kamu bau lo.." celetuk Tante Dewi.
"Yakin tante. Kata mama, perempuan harus bisa membuat perut suami kenyang." ucap Ella tersenyum. Vano mencium kepala Ella bagian samping.
"Kamu nyindir mama..." ucap Nyonya Risma.
"Tante juga." imbuh tante Dewi.
"Ada apa?" tanya Ella dengan wajah polos. Sontak membuat semua orang tertawa. Bahkan Vano dan Marcell.
Tapi tidak dengan Oma Yeti dan Lena. Mereka hanya diam tidak bereaksi. Kehadiran Ella membuat perhatian semua orang tertuju pada Ella.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Mama senang mendengarnya." puji sang mertua.
"Mama harus mencoba nasi goreng buatan istriku." celetuk Vano, seketika mendapat pelototan dan cubitan di lengannya dari Ella.
"Kenapa? Rasanya enak." puji Vano pada Ella di depan keluarganya.
"Sungguh?" tanya tante Dewi seperti tidak percaya.
"Harus di coba kalau begitu." ucap Tuan Danto yang sedari tadi hanya tersenyum dan menjadi pendengar.
"Nggak kok pa, rasanya masih kalah dengan nasi goreng buatan Mama Ane." jelas Ella.
"Kamu, jangan bandingkan dengan mama kamu Ell. Dia memang jago masak." ungkap Nyonya Risma memuji besannya.
"Jadi sebentar lagi model ternama akan masuk kursus memasak. Pasti senang sekali yang akan jadi guru kamu. Apalagi kalau lelaki." goda tante Dewi.
Vano menatap ke arah sang istri. "Nggak tante. Pengajarnya perempuan." ucap Ella.
Selesai berbincang, mereka makan malam bersama. Di meja, Marcell selalu memandang ke arah Ella. Dan semua itu tak luput dari pandangan Vano dan Tuan Danto.
Keduanya sadar jika Marcell tidak mengalihkan pandangannya pada istri Vano. Saat Vano hendak berdiri karena merasa kesal, tangannya di pegang oleh Ella di bawah meja.
Yang menandakan jika Ella juga tahu apa yang sedang ada dalam pikiran Vano. Karena sebenarnya Ella juga sadar jika Marcell terus menatapnya.
"Kenapa Ell?" tanya Vano saat tiba-tiba Ella menutup mulutnya. Tanpa berkata apapun Ella beranjak dari tempat duduknya. Dan berlari ke kamar mandi terdekat. Di susul oleh Vano yang merasa khawatir.
"Tidak punya sopan." ucap Oma Yeti.
"Mama." tegur Nyonya Risma pada ibunya.
"Lebih tidak sopan jika Ella muntah di depan mama." ucap Tuan Danto dingin. Membuat menjadi hening. Bahkan suara sendok pun tak terdengar. Suara bariton Tuan Danto mampu membuat semuanya terdiam.
"Pa, biar mama tengok ke belakang." ucap Nyonya Risma khawatir. Tuan Danto hanya mengangguk.
Segera Nyonya Risma menuju ke tempat Ella dan Vano. Terlihat Vano memijat tengkuk Ella, sementara Ella memutahkan seluruh makanannya.
"Ada apa Van?" tanya Nyonya Risma khawatir melihat Ella dengan wajah pucatnya.
"Nggak tahu ma." jawab Vano juga khawatir dengan keadaan sang istri. Vano dengan pelan mengikat rambut istrinya, menjadi satu di belakang. Bahkan, tanpa jijik, Vano mengelap mulut Ella.
"Terimakasih Tuhan." batin Nyonya Risma melihat Vano memperlakukan Ella dengan lembut, terlihat Vano juga sangat menyayangi Ella.
Padahal beberapa hari yang lalu Nyonya Risma di buat meradang dengan pemberitaan mengenai Vano yang berada di klub malam bersama perempuan.
"Mungkin masuk angin ma." ucap Ella dengan wajah pucat.
"Tidur sini saja ya. Mama nggak tega lihat kamu." kekeh sang mama.
"Terserah kamu." ucap Vano saat Ella menatap pada dirinya.
"Antar Ella ke kamar. Biar dia istirahat. Setelah itu, kamu temui mama." pinta Nyonya Risma.
Nyonya Risma tersenyum melihat Ella dan Vano berjalan menjauh darinya. Kenapa malah tersenyum, mantunya kan sedang sakit.
__ADS_1