DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 199


__ADS_3

"Ini." ucap Nyonya Risma. Menyodorkan sesuatu pada Vano, sekarang beliau berada didepan pintu kamar Vano. Berbicara dengan sang putranya.


"Apa ini ma?" tanya Vano.


"Masa kamu nggak tahu." Nyonya Risma malah menggoda putranya. Vano hanya menggaruk tengkuknya dan tersenyum.


"Kamu kasih Ella. Mama mau turun dulu." ucap Nyonya Risma. Lantaran di bawah masih ada tante Dewi dan putranya, Marcell.


Segera Vano menutup pintu kembali dengan pelan. Menghampiri Ella yang sedang berbaring di atas kasur. Meski belum terlelap, tapi Ella memejamkan kedua matanya.


Ingin rasanya Vano memberikan benda kecil pipih yang di berikan oleh mamanya tadi pada Ella. Meski dalam kemasan, Vano tahu persis apa isinya, bahkan bentuknya. Tapi ada perasaan tidak tega untuk membangunkan sang istri.


"Ada apa Van?" tanya Ella dengan mata masih terpejam. Sepertinya Ella mengetahui jika Vano berada di sampingnya. Karena kasur yang sedang di tidurinya sedikit bergoyang.


"Ada apa?" tanya Ella kembali dengan membuka kedua matanya.


"Aku kira kamu tidur sayang." ucap Vano lembut, membelai rambut sang istri.


"Apa itu?" tanya Ella melihat Vano memegang sesuatu di tangannya.


"Dari mama. Untuk kamu." Vano menyerahkan benda tersebut pada Ella.


"Tespeck." gumam Ella saat memegang benda yang masih terbungkus rapi dalam kemasan.


Terlihat perubahan di wajah Ella. "Aku nggak hamil. Cuma masuk angin." ucap Ella dingin.


Lantaran dirinya dua minggu yang lalu periksa kesuburan pada Dokter kandungan. Dan Dokter tersebut tidak mengatakan jika Ella sedang hamil.


Jadi menurut Ella, mustahil dirinya hamil. Sebenarnya bukan Ella tidak ingin hamil saat ini. Tapi dia takut jika kenyataan tidak sesuai apa yang di harapkan dan dipikirkan.


SAKIT.


"Aku dua minggu yang lalu pergi ke dokter kandungan. Memeriksakan kesuburan. Dan dokter tidak memberitahu jika aku sedang hamil." terang Ella.


"Kamu datang ke dokter?" tanya Vano melihat ada rasa sedih di wajah Ella. Sang istri hanya mengangguk pelan.


"Sendiri?" tanya Vano memegang tangan Ella. Lagi-lagi Ella mengangguk.


Vano membawa Ella ke pelukannya. "Kenapa tidak bilang. Hemm.. kita bisa pergi berdua." ucap Ella. Dirinya yakin jika sang istri sedang dalam perasan sedih.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau menggunakannya. Tidak apa-apa." Vano mengurai pelukannya pada Ella. Mengambil tespeck yang Ella taruh di sampingnya, dan meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur mereka.


Vano tidak ingin menambah beban pikiran pada Ella. Apalagi sang istri sedang tidak enak badan. Dan jika tebakan mamanya benar, berarti sekarang sudah ada Vano junior di dalamnya.


"Sebentar, aku panggilkan dokter."


"Jangan, cuma masuk angin. Istirahat juga sembuh." tolak Ella.


Vano menghembuskan nafas. "Tapi kamu harus makan." ucap Vano, karena Vano melihat Ella mengeluarkan semua makanan yang baru saja di makannya.


Ella menggelengkan kepalanya. "Aku mual lihat makanan." ucap Ella lirih.


"Sedikit saja." Vano mengecup punggung telapak tangan Ella. "Nanti kamu sakit." bujuk Vano.


"Kamu mau makan apa?" tanya Vano.


"Soto ayam kampung." celetuk Ella. Entah mengapa dirinya menginginkan makanan itu sekarang.


"Baik. Kamu tunggu." Vano mengecup pelan kening Ella. Dan segera keluar dari kamar. Mencari apa yang didinginkan istrinya.


Sepeninggal Vano, Ella bangun dan menyenderkan badannya di headboard. Matanya memandang ke arah Vano meletakkan benda kecil yang di berikan mama mertuanya.


"Aku hanya takut. Takut mengecewakan kalian." batin Ella. Dirinya takut jika dia tidak hamil. Membuat suami serta kedua mertuanya akan kecewa.


Ella memejamkan mata. Mengingat perlakuan Vano barusan. Begitu lembut. Padahal Ella tidak ingin memakai benda tersebut.


Alih-alih marah, Vano malah menenangkan Ella. Dan menuruti perkataan Ella. Tidak sedikitpun menuntut Ella untuk melakukan apa yang diinginkannya.


Tangan Ella terulur mengambil benda kecil tersebut. Memasukkannya ke dalam laci meja. Ada rasa bersalah pada diri Ella.


Ella juga yakin jika sebenarnya Vano kecewa dengan dirinya. Tapi dia hanya tidak ingin menunjukkan dan memperlihatkannya pada Ella.

__ADS_1


"Padahal aku dan kamu itu punya keinginan yang sama. Mempunyai anak." gumam Ella dengan mata melihat ke arah perutnya yang rata.


Ella merebahkan tubuhnya kembali. Memejamkan mata walau tidak sedang tidur. Meski sudah tidak mual, Ella masih merasa pusing.


"Mau kemana Van?" tanya sang mama melihat Vano berjalan dengan tergesa turun dari tangga. Karena saat ini semua sudah selesai makan malam. Dan sedang berada di ruang tengah.


Termasuk Oma Yeti dan Lena. Padahal Oma Yeti baru saja sembuh. Nyonya Risma sudah mengingatkan jika sebaiknya Oma istirahat lebih awal. Akan tetapi Oma Yeti sangat keras kepala.


Alhasil, Nyonya Risma yang kalah. Dan Tuan Danto tidak ikut campur. Karena beliau juga malas berdebat dengan mertuanya untuk masalah sepele.


"Mau membelikan makanan untuk Ella ma." jawab Vano.


"Kamu mau beli sendiri?" tanya Nyonya Risma tidak percaya.


"Iya." jawab Vano singkat. Karena biasanya, Vano selalu menyuruh pembantu atau asistennya, Reza untuk membelikan atau mengerjakan sesuatu.


Nyonya Risma tersenyum mendengar jawaban dari putranya. "Ella minta apa?" tanya Nyonya Risma antusias.


"Soto ayam kampung." jawab Vano membuat semuanya melongo.


"Manja sekali. Sakit perut begitu saja." cicit Oma Yeti. Namun sayang, tidak di anggap oleh semua orang.


"Kamu tidak perlu beli. Sebentar." ucap Nyonya Risma memanggil pembantunya.


"Apa ayam kampungnya masih?" tanya Nyonya Risma, karena beliau membeli daging ayam kampung tadi pagi.


"Masih Nyonya."


"Sekarang kamu panggil yang lain. Kalian buat soto ayam kampung. Sekarang. Jangan terlalu banyak." perintah Nyonya Risma.


"Baik Nyonya."


"Yang enak ya, buat menantu saya." jelas Nyonya Risma dengan penekanan.


"Bereskan. Mama." ucap Nyonya Risma menepuk pelan dadanya sendiri.


"Pasti nanti Ella akan minta tambah. Buatan sendiri pastinya lebih fress dan enak." Nyonya Risma mengangkat kedua jempol tangannya ke atas.


Nyonya Risma melirik ke arah mamanya. "Kamu temani istri kamu dulu. Istri sakit malah ditinggal. Sana." ucap Nyonya Risma menepuk pelan pundak Vano.


Nyonya Risma tidak ingin putranya terpancing emosinya, lantaran mendengar perkataan mamanya.


"Risma, saya tidak suka kamu terlalu memanjakan menantumu. Nanti pasti dia akan semakin bertingkah." celetuk Oma Yeti.


Vano yang masih di lantai atas, belum masuk ke dalam kamar mendengar perkataan Oma Yeti. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal sempurna. Vano memejamkan mata, menetralisir emosinya yang hendak membuncah.


"Memanjakannya. Kapan?" tanya Nyonya Risma kembali mendaratkan pantatnya di kursi empuk dekat suaminya.


Nyonya Risma menatap ke arah Tante Dewi. Dirinya merasa tidak enak, lantaran Tante Dewi harus mendengar perdebatan mereka.


Tanpa di sangka, Tante Dewi tersenyum. Dengan menganggukkan kepalanya. Seperti memberi tahu pada Nyonya Risma, supaya dia tak segan berkata apapun. Hanya karena dirinya dan putranya berada di rumahnya.


"Apa mama pernah melihat Risma membelikan baju mahal untuk Ella? Apa mama pernah melihat, Risma memberikan uang pada Ella. Mama lupa. Siapa Ella?" tegas Nyonya Risma.


"Dia seorang model kelas atas. Dengan bayaran tinggi. Pewaris tunggal perusahaan raksasa milik Tuan Haris. Putri dari Nyonya Ane. Pemilik yayasan sosial terbesar di kota ini." ucap Nyonya Risma menggebu-gebu.


"Keluarga kita lebih kaya dari mereka." cibir Oma Yeti tak mau kalah.


"Kata siapa?" tanya Tuan Danto mengeluarkan suaranya.


"Mama hanya tahu mengambil uang dan menghabiskannya bersama asisten pribadi mama. Sebaiknya, mulai sekarang mama lebih sering melihat berita. Siapa yang menjadi pengusaha terkaya dan keluarga paling berpengaruh saat ini." jelas Tuan Danto dengan tenang.


Seolah Tuan Danto menegaskan jika sekarang keluarga besannya berada di atas keluarganya. Tidak ada rasa malu saat Tuan Danto berbicara. Karana pada kenyataannya, apa yang di ucapkan adalah suatu kebenaran.


"Sebaiknya mama yang jangan terlalu memanjakan asisten mama. Mana ada asisten duduk bersama keluarga." sindir Nyonya Risma.


"Katanya asisten. Mana hasil kerjanya. Nol." sinis Nyonya Risma.


"Kalau Risma sih wajar, jika memanjakan Ella. Karena dia menantu keluarga Reyandli. Istri satu-satunya dari putra kami. Vano Reyandli. Dan pastinya, dia juga akan melahirkan penerus keluarga kami." ucap Risma menohok pada Lena.


Lena hanya diam, tapi tangannya terkepal sempurna mendengar sindiran dari Nyonya Risma.

__ADS_1


"Namanya muka badak. Ya nggak akan pernah malu." gumam Nyonya Risma masih terdengar semua orang. "Parasit." imbuh Nyonya Risma.


Vano tersenyum mendengar kedua orang tuanya membela istrinya. Dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, dan menemani Ella.


"Risma!!!" bentak Oma Yeti.


"Lena, bawa Oma Yeti ke dalam kamar." ucap Nyonya Risma menatap tajam ke arah Lena.


"Kamu itu pelayan pribadinya Oma Yeti. Seharusnya lebih peka." hardik Nyonya Risma pada Yeti.


"Ma, sebaiknya mama istirahat. Sudah malam." tutur Tante Dewi dengan lembut.


"Huffttt..." Nyonya Risma menghela nafas panjang dan mengeluarkannya. Beliau mengambil minumannya di atas meja. Meminumnya sampai tandas.


"Capek ya mbak?" goda Tante Dewi.


"Awas, nanti darah tinggi." goda Tuan Danto.


"Selama ada Lena, hidup mama nggak akan benar." desis Nyonya Risma.


"Sebenarnya siapa sih si Lena itu? Katanya asisten, tapi mama memperlakukan melebihi anak dan cucunya." tanya Tante Dewi penasaran.


Meski sudah berpisah dengan putra dari Oma Yeti, Tante Dewi tetap memanggil Oma Yeti dengan sebutan mama.


"Mama merasa bersalah pada ayahnya Lena. Yang meninggal karena kecelakaan. Dulu, semasa masih hidup, beliau bekerja sebagai sopirnya mama." jelas Nyonya Risma.


Tante Dewi paham kemana arah cerita dari mantan iparnya tersebut. Tanpa Nyonya Risma menjelaskan atau menceritakan semuanya secara detail.


"Kenapa nggak dikasih uang santunan saja." celetuk Marcell yang sedari tadi diam.


"Tahu tuh Oma kamu. Coba kamu yang bilang. Kali aja Oma Yeti mau mendengar." saran Nyonya Risma.


"Mana ada. Yang ada kepala Marcell bakal dipukul sama tongkatnya." ucap Marcell membuat semua tertawa.


"Nyonya, sotonya sudah siap." ucap seorang pembantu, yang mendekat pada Nyonya Risma.


"Sebentar ya, mau memberikan sotonya pada Ella." ucap Nyonya Risma pada tante Dewi.


"Silahkan, lagipula kita juga mau pulang. Sudah malam." jelas Tante Dewi.


"Lho... Nggak nginep sini saja." tawar Nyonya Risma.


"Makasih. Lain kali, mungkin." ucap Tante Dewi tersenyum.


Seperginya tante Dewi dan Marcell, Nyonya Risma membawa sendiri sotonya ke dalam kamar Ella. Sedangkan Tuan Danto pergi ke ruang kerjanya.


"Di makan dulu. Mumpung masih anget." Nyonya Risma menyerahkan nampan berisi semangkok sup dan sedikit nasi di dalam piring pada Vano.


"Makasih ma." ucap Ella dengan lirih. Terlihat Ella nampak lemas.


"Hati-hati." ucap Nyonya Risma dan Vano saat Ella bangun dari tidurnya.


"Ella nggak mau pakai nasi." cicit Ella.


"Ell.." ucap Vano.


"Nggak apa-apa nggak pakai nasi. Kamu makan sotonya saja. Yang terpenting perut kamu sudah terisi." jelas Nyonya Risma, menadapat anggukan dari Vano.


"Hati-hati Van, masih panas. Kamu tiup sebentar." ucap Nyonya Risma saat Vano menyuapi Ella.


"Bagaimana?" tanya Nyonya Risma. Ella mengangguk sambil tersenyum. Membuat Nyonya Risma merasa lega.


"Benar-benar anaknya Vano." batin Nyonya Risma. Teringat saat dirinya mengandung Vano. Dan selama lima bulan Nyonya Risma tidak memakan nasi.


Nyonya Risma menarik kursi untuk di duduki dekat ranjang Ella. Melihat menantunya dengan lahap memakan sotonya.


"Lagi?" tanya Nyonya Risma melihat soto di mangkok hampir habis. Ella tersenyum dan mengangguk.


"Sebentar ya." segera Nyonya Risma mengambil telepon yang ada di meja sudut kamar Vano. Memberitahu tahu pada pembantu untuk membawakan lagi sotonya. Tapi dengan sedikit kuah.


Ella menghabiskan dua mangkok soto. Setelah itu dia tertidur. "Sebaiknya kita panggilkan dokter Van." saran sang mama.

__ADS_1


"Ella tidak mau." ucap Vano. Keduanya berbincang lirih, lantaran tidak ingin Ella terbangun.


__ADS_2