
Ella ingin menghampiri mereka. Tapi tangan Vano melingkar erat di pinggang rampingnya, sehingga menahan langkah kaki model cantik tersebut.
Ella memandang ke arah Vano. Dengan Vano menatap ke arah dua lelaki yang berjalan beriringan menuju ke tempat mereka.
"Sayang,," bisik Ella membuat Vano seketika menoleh ke arah istrinya. "I love you." ucap Ella lirih. Seketika bibir Vano membentuk bulat sabit. Dan mengecup singkat pipi Ella.
Ella harus pandai-pandai menjaga emosi dari suaminya. Apalagi ini di tempat umum. Dirinya tidak ingin menjadi bahan tontonan.
"Dia yang cemburuan, gue yang harus jaga emosinya." batin Ella.
"Ingat, sekarang status kita suami istri. Okey." ucap Ella mengingatkan Vano. Karena dua lelaki yang hendak menghampiri mereka adalah lelaki yang mempunyai perasaan khusus pada Ella.
Belum sempat mereka menyapa Ella dan Vano, Ella membuka mulut terlebih dulu.
"Egi...." sapa Ella dengan raut wajah senang. Dengan tangan tetap melingkar sempurna di lengan Vano. Ella tidak ingin suaminya menunjukkan taringnya di depan banyak orang. Apalagi mereka datang ke acara sebagai tamu.
Dan Vano tetap melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik istri. Seolah menegaskan kepada dua lelaki di hadapannya, jika Ella adalah miliknya. Seutuhnya.
Senyum yang terukir di bibir Ditya lenyap seketika saat telinganya mendengar Ella menyebut nama sahabatnya. Pandangan Ditya spontan beralih ke Egi dengan raut wajah bingung.
"Apa mereka saling kenal?" batin Ditya.
"Elo kok bisa ada di sini?" tanya Ella.
"Sayang, katanya lapar." ucap Vano mendahului Egi yang ingin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Ella.
Egi tersenyum melihat tingkah Vano dan menggelengkan kepala. Padahal Vano sudah menjadi suami Ella. Lantas kenapa mesti bersikap demikian.
"Iya, sebentar ya." ucap Ella lembut.
"Bagaimana kalau kita duduk di sana sambil makan dan ngobrol." saran Egi.
"Boleh." ucap Ella, dan beralih memandang Vano. Meminta persetujuan dari suaminya.
"Van, ajak Ella ke sana. Biar gue ambilkan makan." tawar Vano.
"Tidak perlu. Biar saya yang mengambilkan makanan untuk istri saya." ketus Vano.
Ditya terdiam. Dirinya masih bingung dengan situasi di depannya. Tapi Ella yang sepertinya mengetahui raut wajah Ditya sedikit masam, Ella segera mengalihkan perhatiannya.
"Tuan Ditya, apa kabar?" tanya Ella.
"Baik." jawab Ditya tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah. Ell,,.sayang. Kamu tunggu di meja dulu. Kita akan mengambil makan." ucap Vano mengelus bahu Ella.
Tanpa berkata apapun, Vano memegang tangan Egi dan Ditya. Menarik keduanya untuk mengambil makanan.
"Ehh,,,," kata Ditya kaget, Vano menyeretnya tanpa bertanya dulu. "Tuan, saya tidak ingin mengambil makan." ujar Ditya. Vano diam dan acuh, seolah telinganya rak mendengar perkataan Ditya.
"Sudahlah, nurut saja." ucap Egi lirih. Ditya menatap Egi, terlihat dengan jelas jika Egi sepertinya sudah sangat mengenal watak dari suami Ella ini.
Beberapa undangan melihat ke arah ketiganya. Mungkin di benak mereka juga bertanya apa yang terjadi.
Keduanya pasrah di bawa Vano untuk menuju ke tempat di mana makanan berada. Hingga sampai dekat dengan meja tempat makan, barulah Vano melepas cekalan tangannya.
"Kalian ambil makanan kalian sendiri. Untuk Ella, dia urusan saya. Karena dia istri saya." ucapnya tegas.
Ella duduk dengan santai menunggu ketiga lelaki yang sedang mengambil makanan. "Maaf, boleh saya duduk di sini?" tanya seorang lelaki yang terlihat masih muda.
"Silahkan. Tempat ini memang di sediakan untuk tamu undangan." ucap Ella tanpa ekspresi.
"Sendiri?" tanyanya setelah mendaratkan pantatnya.
"Tidak." ucap Ella singkat.
"Jangan bilang jika kamu tidak sendiri, karena ada aku di sini." kekehnya, bermaksud menggoda Ella.
"Tidak Tuan, saya datang ke sini memang tidak sendiri. Melainkan bersama suami saya. Dan dia sedang mengambilkan makanan untuk saya." jelas Ella tanpa ekspresi.
"Vano Reyandli." Ella menyebut nama suaminya, sebelum lelaki yang duduk di sampingnya bertanya. Membuat lelaki tersebut kembali memandang ke arah Ella.
"Itu nama suami saya." kata Ella dengan senyum di bibirnya. Seolah ingin memberi tahu jika yang sedang duduk di sebelahnya adalah Nyonya Vano Reyandli.
Seketika wajahnya pias mendengar nama seorang pengusaha muda sukses di sebutkan oleh Ella. Terlebih semua pengusaha juga kenal bagaimana sifat dari seorang Vano.
"Khemm,,, baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu. Saya harus menemui seseorang." pamitnya meninggalkan Ella.
Ella tersenyum miring. "Ckkk,,, penakut. Baru mendengar namanya saja sudah ketakutan. Sok-sok mendekati istrinya." gumam Ella melihat lelaki tersebut menjauh dari tempat duduknya.
"Sendiri." cibir seorang perempuan seusia Ella. Perempuan yang tadi sempat menyapa Vano. Kayla.
Ella memutar matanya jengah. Baru saja dia mengusir nyamuk. Sekarang malah lalat yang datang menghampirinya. Banyak sekali makhluk menyebalkan di acara pesta ini.
"Suami saya sedang mengambilkan makanan. Dia menyuruhku untuk menunggu di sini." Ella melihat tiga lelaki dengan makanan dan minuman di tangannya menuju ke tempatnya.
"Terimakasih." ucap Ella saat Vano menyerahkan sepiring makanan pada Ella.
__ADS_1
"Banyak sekali sayang." Ella melihat piringnya penuh dengan berbagai makanan.
"Berdua." Vano mendaratkan pantatnya di dekat Ella.
Begitu juga dengan Egi dan Ditya. Mereka juga duduk di kursi sebelah Ella. Tapi Egi memberi jarak pada Ella. Karena dia tahu betul sifat suami dari perempuan yang pernah mengisi hatinya. Dan Ditya, dia duduk di samping Egi.
"Nona Kayla, silahkan bergabung bersama kami. Kelihatannya anda tidak mempunyai teman." ucap Ella dengan nada lembut, tapi sebenarnya sedang mengejek.
"Bolehkan sayang?" tanya Ella pada Vano.
"Segera makan, nanti perutmu sakit." kata Vano, enggan menjawab pertanyaan Ella.
"Permisi." ucap Kayla sinis meninggalkan mereka. Ella dan yang lain hanya diam dan membiarkannya pergi.
"Egi, tadi elo belum cerita. Kok elo bisa ada di sini?" tanya Ella sembari memasukkan sendok berisi makanan ke dalam mulutnya.
"Biasa, gue ada pekerjaan disini. Ketemu klien. Cuma seminggu gue di sini."
"Sorry Ell, gue nggak datang ke acara pernikahan elo." imbuh Egi.
"Nggak masalah, gue senang lihat elo di sini. Iya kan sayang."
Vano hanya mengangkat alisnya dan mencium pundak Ella. Sengaja memamerkan kemesraan pada dua lelaki di depannya.
"Memang dia kamu undang?" tanya Vano mendapat pelototan dari Ella.
"Sorry." Ella mengucapkan maaf, tapi hanya mulutnya yang terbuka tanpa bersuara. Dan Egi hanya tersenyum dan melirik ke arah Vano.
Selama mereka duduk bersama, Ella dan Egi berbincang ringan dan saling bertanya keadaaan dan kondisi dari lawan bicara.
Sementara Vano, jangan tanyakan lagi. Tangannya tak mau tinggal diam. Dia selalu melakukan apapun yang dia suka. Mengelus paha Ella. Memainkan jari di lengan Ella, dan juga di pipi istrinya.
Bahkan beberapa kali Vano mendaratkan bibirnya di kulit Ella yang terlihat. Seperti pundak, punggung tangan, pipi, dan kening.
Dan Ditya, dirinya hanya diam. Sesekali dia membuka mulut dan bersuara saat Ella bertanya padanya. Bahkan raut wajahnya tampak masam dan kurang bersahabat.
Pikirannya kacau. Bukan hanya karena hatinya panas melihat Vano selalu bersikap mesra pada Ella. Tapi juga dirinya merasa gerah melihat Ella dan Egi begitu akrab.
Vano melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. "Sayang, kita pulang. Sudah malam." bisik Vano.
"Iyakah." Vano mengangguk sambil tersenyum.
"Astaga, saking asyiknya ngobrol sama elo, gue nggak nyadar kalau sudah malam." ucap Ella pada Egi.
__ADS_1
Sebenarnya waktu belum terlalu larut, namun Vano sudah malas melihat kedekatan Ella dan Egi.
"Oke Eg,,, gue pulang dulu. Nanti kita saling bertukar kabar."