
Vano dan Ella bergandengan tangan masuk ke dalam gedung, tempat acara di adakan. Raut wajah keduanya bagaikan langit dan bumi.
Ella dengan wajah cantiknya, selalu memperlihatkan senyum ramah pada setiap orang. Semakin menambah kecantikannya. Sementara Vano, seperti biasa. Raut wajahnya datar dan dingin. Tapi semua itu tidak mengurangi nilai dari ketampanan suami sang model.
"Sudah lama kita tidak bertemu." sapa Dami, sahabat sekaligus rekan kerja Vano.
Vano hanya tersenyum dan merangkul sahabatnya tersebut. "Nona Ella." Dami mengulurkan tangan, bermaksud ingin berjabat tangan dengan perempuan cantik dan seksi di depannya.
Bukannya uluran tangan dari Ella, Dami malah mendapatkan uluran tangan dari Vano. "Nyonya Vano." ucap Vano menggenggam erat telapak tangan sahabatnya.
Ella hanya tersenyum sambil mendengus melihat tingkah sang suami. "Baiklah, Nyo-nya Va-no." ucap Dami dengan pelan. Seperti anak kecil yang baru belajar mengeja bacaan.
"Kalian datang berdua?" tanya Dami seperti sedang mencari seseorang di antara kami.
"Lebih baik berdua, dari pada datang sendirian." ejek Vano. Lantaran sahabatnya ini jarang sekali datang membawa perempuan di sampingnya saat menghadiri sebuah acara.
"Ckkk, lihat suamimu Nyonya." tukas Dami.
"Reza sedang ada pekerjaan." jelas Ella.
"Mana Ibra. Biasanya kalian selalu berdua." tanya Vano, lantaran dirinya belum melihat sosok Ibra.
"Katanya masih di jalan." jelas Dami.
Pandangan Ella terkunci pada sosok lelaki yang sedang menyendiri. "Viki." gumamnya masih terdengar Vano dan Dami. Membuat keduanya mengalihkan pandangan ke arah mata Ella memandang.
Segera Ella meminta izin pada suaminya. "Sayang, boleh ya. Aku mau ketemu Viki." mohon Ella pada sang suami.
Vano menghembuskan nafasnya. "Jangan lama-lama." ucap Vano.
Ella mencium singkat pipi sang suami. "Makasih. Love you." segera Ella melepaskan tangannya pada lengan Vano dan berjalan menuju ke tempat Viki.
"Tenang, nggak akan hilang." celetuk Dami saat manik mata Vano masih tidak lepas memandang tubuh Ella.
Sepeninggal Ella, keduanya berbicara tentang bisnis. Hingga sosok Ibra menghampiri mereka. "Kenapa elo?" tanya Dami, melihat nafas Ibra tersengal. Seperti baru saja berlari.
"Ckkk,,, tiba-tiba mobil gue mogok. Gilanya tidak ada taksi satupun. Cari taksi online nggak ada yang bisa. Terpaksa gue naik ojek. Itupun, ojeknya nggak bisa masuk sampai sini. Elo bayangin. Jalan dari sono, sampai sini." cerocos Ibra mendapat sambutan tawa dari Vano dan Dami.
"Mana istri elo?" tanya Ibra yang tidak melihat Ella. Vano hanya mengangkat dagunya untuk menunjukkan keberadaan sang istri.
"Nggak cemburu elo." ucap Ibra, lantara Ella tampak santai berbicara dengan Viki.
"Tidak." jawab Vano.
"Lagipula gue dengar mereka sudah berteman sejak SMA." ungkap Dami, mendapat anggukan kecil dari Vano.
"Tapi tetap saja. Lelaki dan perempuan." ujar Ibra mencoba memprovokasi Vano.
"Itu mulut jangan seperti kompor meleduk." timpal Dami mencela Ibra.
Saat ketiganya sedang asik berbincang, seorang perempuan datang menghampiri mereka. "Permisi, maaf menganggu." ucapnya membuat ketiga lelaki tersebut menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Boleh gabung, soalnya baru pertama datang ke negara ini. Dan langsung di suruh papa ke sini. Jadi, saya belum ada teman sama sekali." jelasnya dengan nada bicara lembut dan sopan.
"Silahkan." ucap Ibra yang memang seorang play boy.
"Ibra." tanpa menunggu lama Ibra mengulurkan tangan, memperkenalkan dirinya.
"Vanesa." ucapnya menyambut uluran tangan Ibra.
"Oh iya, dia Dami. Dan dia Vano." jelas Ibra memperkenalkan keduanya pada perempuan yang baru saja datang.
"Vano." katanya mengulang kembali perkataan Ibra seraya melihat ke arah Vano yang berdiri di depannya.
"Dia sudah beristri." jelas Ibra, karena sepertinya Vanesa tertarik dengan sosok Vano, itu yang dipikirkan Ibra.
Kedatangan perempuan tersebut, membuat Ibra lebih banyak bicara. Dan Dami mengeluarkan perkataannya sesekali saja. Sementara Vano, dia hanya tersenyum kaku dan enggan membuka suara.
Di sudut ruangan, Ella dan Viki tampak berbincang dengan menggenggam segelas minuman berwarna merah.
"Kenapa Vik?" tanya Ella saat Viki menatap ke arah Vano dan teman-temannya.
"Perempuan itu Ell." tandas Viki.
"Tenang, gue nggak akan cemburu." ucap Ella.
"Bukan itu maksud gue." sergah Viki, saat Ella langsung berbicara.
"Dia Vanesa. Artis yang berada di bawah naungan perusahaan gue di luar negeri. Beberapa minggu yang lalu gue menerima kabar jika dia hengkang dari manajemen perusahaan gue."
"Kenapa dia bisa ada di sini. Sedang apa. Apalagi dia datang ke acara ini. Dia bukan pengusaha Ell." ucap Viki penasaran.
Ella memandang ke arah Vano dan yang lain. "Maksud elo, dia sama seperti Jo. Dibawah naungan perusahaan milik elo." tebak Ella.
"Benar." kata Viki.
Tanpa sengaja manik mata Ella bertatapan dengan seseorang, tapi sayangnya orang tersebut segera menghindar dan berjalan menjauh dari jangkauan mata Ella.
"Siapa dia, sangat familiar" ucap Ella mengingat siapa sosok lelaki yang di lihatnya barusan.
"Ada apa Ell?" tanya Viki melihat Ella mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Sebentar." kata Ella.
Ternyata Ella menghubungi sang papa. Menanyakan keberadaan Jo dan perkembangannya.
Ella mematikan panggilan teleponnya begitu mendengar perkataan sang papa. Jika Jo masih berada di tempatnya.
Ella tersenyum mengerikan, sepertinya dia mempunyai rencana. "Ada apa Ell?" tanya Viki sedikit bergidik ngeri.
"Kita harus memastikan sesuatu bukan." ujar Ella. Dan sepertinya Viki mengerti maksud dari Ella. Bersahabat sejak lama dengan Ella membuat Viki seakan mengerti apa yang akan dilakukan sahabatnya tersebut.
"Pasti." Viki memandang tajam ke arah Berta.
__ADS_1
Keduanya melangkah ke tempat Vano dan yang lain tengah berbincang. Vano mengernyitkan alisnya melihat Ella berjalan dengan Viki. Apalagi tangan Ella melingkar di lengan Viki.
Meskipun Vano sudah tahu tentang Viki, namun dirinya tetap merasa cemburu dengan kelakuan keduanya. Bagaimana bisa mereka melakukan itu. Di depan umum.
"Sayang." ucap Ella melepaskan tangannya dan beralih mendekat ke arah Vano. Sedikit menggeser tubuh dari Vanesa.
"Kenapa? Tidak suka aku datang. Baiklah, ayo Vik kita pergi." ajak Ella saat melihat raut wajah Vano terlihat masam saat memandangnya.
"Jangan macam-macam Ell, jangan pancing emosiku." Vano menatap tajam ke arah Ella dan Viki bergantian. Dan yang menyebalkan untuk Vano adalah, Viki malah mengerlingkan matanya saat Vano memandangnya.
"Vanesa." sapa Viki, sontak semuanya terkejut saat Viki mengenal perempuan cantik tersebut.
"Kamu mengenal perempuan cantik ini Vik?" tanya Ella berpura-pura.
"Tuan Viki." ucap Vanesa, menutupi perasaan gugupnya. Semua gestur tubuh dari Vanesa tak bisa lepas dari pandangan Ella. Dan sepertinya Vano menyadari sikap aneh Ella dan Viki.
"Dia artis luar negeri yang berada di bawah naungan perusahaan ku. Tapi sekarang, dia sudah mengundurkan diri. Sungguh, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Di acara ini." jelas Viki.
Tampak Vanesa tersenyum kaku. "Artis. Berarti anda datang ke sini bersama teman. Bukan begitu Nona Vanesa." tanya Ella, seketika membuat mulut Vanesa terdiam.
Bahkan dirinya sampai lupa jika tadi dia berkata pada Ibra dan yang lain jika dirinya datang atas permintaan sang papa.
Dirinya tidak menyangka jika akan berada dalam situasi seperti ini. Dihadapkan pada sosok Ella yang ternyata kejelian dan cara berpikirnya melebihi ekspetasinya.
"Oo,,, atau anda mulai merambah ke dunia bisnis. Hebat sekali anda Nona." puji Ella.
"Vik,,, Nona Vanesa hengkang pasti gara-gara elo kurang ngasih cuan. Pelit sekali kamu Vik." imbuh Ella.
Vanesa masih diam. Sepertinya dirinya masih merasa bingung akan berbicara apa. Sementara Dami dan Ibra merasa ada yang berbeda dari sosok Vanesa semenjak Ella dan Viki datang.
Ella tersenyum samar melihat tangan Vanesa mencengkeram erat tas kecil yang di pegangnya. Hingga kuku-kukunya berubah warna.
"Mana teman anda Nona VANESA." kata Ella dengan penekanan suara saat memanggil namanya.
"Khemmm,,, maaf. Sepertinya saya harus pamit dulu. Mari semua." pamitnya, dan segera pergi meninggalkan mereka.
"Dasar bodo. Tingkah mu malah membuat gue semakin curiga." batin Ella tersenyum miring.
"Ell, gue pamit." ucap Viki.
Ella memeluk Viki, dan membisikkan sesuatu. "Elo harus hati-hati. Gue merasa ada yang janggal." bisik Ella.
Viki melepaskan pelukan Ella. Tersenyum dan mengangguk kecil. "Semua, saya pamit dulu. Selamat malam." ucap Viki.
"Tapi acara belum mulai." ucap Dami.
"Sudah ada Rey di sini." ucap Viki. Rey adalah asisten dari Viki.
Vano memandang ke arah Ella. Dan sepertinya Ella sadar akan tatapan mata Vano, seperti menginginkan sebuah penjelasan.
"Iya, dia Vanesa. Beberapa minggu yang lalu dia mengundurkan diri dari manajemen Viki. Dia juga sahabat Jo." ucap Ella lirih.
__ADS_1
Vano sepertinya tahu pemikiran Ella. Dan dirinya juga mempunyai firasat yang sama dengan sang istri.