
"Bagaimana sayang?" tanya Vano.
"Terimakasih sudah membantu." Ella memeluk tubuh suaminya. Vano langsung menuju ke markas Ella setelah pulang dari perusahaan.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi." pinta Vano pada istrinya sambil mengganti pakaian yang di bawakan oleh Reza. Setelah selesai, Vank duduk di tepi ranjang.
"Ada musuh yang menyelinap masuk. Semua bawahan ku yang tinggal di rumah paman Haki terkena racun." Ella merebahkan badannya. Dengan paha Vano menjadi alas kepalanya. "Termasuk paman Haki." imbuh Ella.
"Racun." gumam Vano. "Bagaimana bisa?" tanya Vano merasa penasaran.
"Racun yang tidak berbau dan tidak merubah rasa. Orang yang mengkonsumsinya tidak akan sadar jika sudah terkena racun dalam tubuhnya. Karena sifat dari racun ini seperti menumpuk." Ella membawa tangan Vano untuk di peluknya.
"Jika seseorang di berikan racun ini. Maka, lama kelamaan akan mengalami kelelahan dan rasa malas yang luar biasa. Dan tahap akhir adalah stroke. Berlanjut kematian."
"Ell, kamu tahu dari mana tentang racun tersebut."
"Aku mempunyai anak buah yang bisa meneliti kandungan apa saja yang ada di dalam racun tersebut. Dia mengambilnya dari darah orang yang sudah teridentifikasi oleh racun itu."
"Tapi bawahanku menemukan ini di rumah paman Haki." Ella bangun dari tidurnya. Mengambil sesuatu dari saku jaket yang di gantungnya di dekat almari. Karena saat ini, Vano dan Ella masih berada di markas.
"Ini." Ella menyerahkan botol kecil yang berisi sedikit racun tersebut. Vano memperhatikan botol tersebut.
"Ada apa?" tanya Ella, saat Vano melihatnya dengan raut wajah aneh.
"Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang mengirimiku email. Mereka mengajakku untuk bekerjasama. Dan ini barangnya." jelas Vano, melihat ke arah botol tersebut.
"Kamu yakin?" tanya Ella.
"Yakin. Bahkan botolnya juga sama persis. Seperti ini." ucap Vano dengan yakin.
Vano dan Ella saling pandang. Keduanya tersenyum penuh arti. Sepertinya keduanya punya pemikiran yang sama. Pucuk di cita, ulampun tiba.
"Aku akan membantumu. Tapi harus ada balasannya." Vano melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik sang istri. Memainkan alisnya dan tersenyum mesum.
"Van,,, kamu aneh deh. Aku kan istrimu." ucap Ella cemberut. "Kamu bisa minta itu kapan saja." imbuh Ella.
"Tapi itunya harus berbeda." ujar Vano memainkan matanya.
"Apanya. Jangan aneh-aneh deh. Awas ya. Kalau sampai kamu ulangi lagi. Aku sunat itu kamu." Ella memandang sinis ke arah junior milik Vano.
"Astaga. Siapa yang minta itunya orang lain."
"Tapi, tadi kamu bilang itunya harus berbeda." ujar Ella kesal, hendak melepaskan rengkuhan tangan Vano, tapi tidak bisa. Karena Vano memegangnya dengan erat.
"Ngawur." Vano mencium lembut dahi Ella.
"Aku mau kamu yang memimpin. Bagaimana? Setuju?" ucap Vano meminta keputusan Ella.
Ella mengangguk. "Serius." ucap Vano kembali menyakinkan jawaban dari Ella.
"Iya. Bawel." sahut Ella.
"Aw..." seru Ella saat tangan Vano meremas pantatnya.
__ADS_1
"Tapi tidak sekarang." ucap Ella mengingatkan.
"Siap Boss." Vano mengangkat tangannya di dahi.
Segera Vano memainkan jarinya yang lincah di atas keyboard. Menghubungi seseorang yang pernah menawarkan kerjasama pada dirinya lewat email.
"Masuk juga tikusnya." ucap Vano ketika emailnya langsung mendapatkan balasan.
"Kamu memang yang terbaik sayang." Ella mencium pipi Vano.
"Dia ingin bertemu nanti. Lewat tengah malam." Vano memandang ke arah Ella.
"Kenapa tidak." ucap Ella menyeringai. Segera Vano membalas email tersebut. Menyetujui permintaannya untuk bertemu nanti malam. Pukul satu dini hari.
"Kita akan pulang ke rumah. Setelah itu, aku akan menemui mereka." ucap Vano menarik Ella untuk duduk di pangkuannya.
"Kamu. Sendiri. Menemui mereka." tanya Ella.
"Iya." Vano menggesekkan hidungnya ke hidung sang istri.
"Aku ikut."
"Tidak perlu."
"Tidak bisa. Aku harus ikut." kekeh Ella.
"Parcayakan semua sama aku. Oke." bujuk Vano.
"Eh,, eh,, eh,, maksudnya." tanya Vano.
"Ya, kesepakatan yang baru saja kita buat ga-gal." Ella menyilangkan tangannya di depan dada.
"Dan." Ella menaruh jarinya di depan mulut Vano.
"Kayaknya aku pengen tidur di sini. Di markas. Seminggu,, mungkin." ujar Ella sambil berpikir, sambil memainkan ekspresi wajahnya.
"Elll..." seru Vano. Ella menatap ke arah Vano. Berharap Vano mengajaknya.
"Baiklah. Tetap di dekatku. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu." ucap Vano lembut.
"Mana mungkin wanita milik Vano akan menyusahkan." ucap Ella percaya diri. Dan memang benar apa yang di katakan Ella. Dirinya bisa menjaga diri dengan sangat baik.
"Sebaiknya kita beristirahat dulu." ajak Vano.
Vano merasa Ella harus terlebih dulu mengistirahatkan tubuhnya. Terlebih, sehari penuh Ella terus memeras otaknya untuk berpikir.
"Sini." Vano menepuk kasur.di sampingnya. Meskipun ranjang yan mereka pakai sekarang tidak sebesar ukuran ranjang mereka di rumah, tapi setidaknya masih muat untuk tidur dua orang, bahkan tiga.
"Padahal aku pengen melihat paman Haki di rumah sakit." rengek Ella.
"Besok saja. Tubuhmu perlu istirahat." Vano memeluk Ella. Membawanya ke dalam dekapannya.
"Pasti paman Haki juga mengerti." ucap Vano.
__ADS_1
"Bangunkan aku jika kamu mau berangkat." Ella mendongakkan kepala, melihat ke arah sang suami.
"Iya." Vano mencium pucuk kepala Ella. "Sekarang, pejamkan matamu." ucap Vano.
"Jangan lupa, bangunkan aku." ucap Ella mengingatkan Vano lagi.
"Iya Tuan Putri." ucap Vano.
Sekitar setengah jam, Vano mendengar suara dengkuran halus dari bibir seksi sang istri. Dengan pelan Vano menarik tangannya dari bawah leher Ella.
Vano mengambil selimut dan menutupkannya pada tubuh Ella. Sementara dirinya mengambil ponsel dan menghubungi Reza.
"Kamu tahu kan, apa yang harus kamu lakukan?" tanya Vano setelah menceritakan semua pada Reza.
Vano menginginkan Reza melihat dan mengawasi, juga mengecek lokasi yang akan menjadi titik temu dirinya dan seseorang nanti malam.
Vano tidak ingin sampai terjadi apa-apa. Apalagi dia akan datang membawa Ella.
Selesai berbincang dengan Reza, Vano kembali tidur di samping Ella. Menyusul Ella masuk ke dalam mimpinya. Jika bisa, dia juga ingin memasuki mimpi sang istri. Apa bisa....
*
*
*
Di kediaman Ella dan Vano.
Lena dibuat kesal oleh para pembantu di rumah Ella. Mereka sehari penuh tidak memasak apapun. Alhasil, Lena memesan makanan dari luar. Niat hati ingin menghemat uang, malah yang terjadi sebaliknya.
Mereka hanya masak sedikit untuk mereka makan bersama rekan-rekan mereka. Tanpa memikirkan apa yang akan di makan oleh Lena.
Dan sangat kebetulan, Ella belum mengisi kulkas dengan berbagai makanan. Membuat Lena semakin murka.
"Mereka sangat pelit sekali. Astaga." ucap Lena kesal, menutup pintu kulkas dengan kuat.
Dua pembantu mengintip Lena dari balik tembok. Mereka membungkam mulut mereka supaya tidak tersenyum.
"Bahkan sepotong roti saja tidak ada." sungut Lena. Melihat ke arah meja. Dengan ngedumel, Lena kembali ke dalam kamarnya.
Dua pembantu yang di balik tembok keluar dari persembunyian mereka. Saling mengangkat tangan dan bertos ria. Mereka mengambil roti yang sebelumnya sudah mereka sembunyikan. Dan segera mengembalikan ke tempat semula.
"Selama kamu di sini. Jangan harap bisa hidup dengan nyaman. Dasar pelakor." ucapnya.
Mereka tidak sengaja mendengar saat Lena berbicara dengan Oma Yeti siang tadi. Bahkan Lena sempat bilang pada Oma Yeti, jika dirinya pasti akan menjadi Nyonya Vano.
"Nyonya Vano. Cih,,, kamu itu selevel dengan kita. Nggak usah sok mau menggantikan Nyonya Ella." cibir mereka dalam hati.
Tenyata pekerja yang bekerja di rumah baru Vano dan Ella adalah saudara dari para pembantu yang bekerja di rumah Tuan Danto.
Dan pikiran mereka sudah di cuci otaknya oleh saudara mereka yang bekerja di rumah Tuan Danto. Tentang Lena.
Tapi sebenarnya mereka benar telah melakukan hal tersebut. Setidaknya Ella tidak perlu turun tangan untuk membuat kesal Lena setiap hari.
__ADS_1