DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 169


__ADS_3

"Ada apa Han?" tanya Ella saat dia sedang dalam perjalanan menuju ruang penyiksaan. Ella menghentikan langkahnya.


……………


"Baiklah, kita bertemu sekarang." ucap Ella, mematikan panggilan telepon dari Ella.


"Saya ada urusan sebentar. Jangan sampai mereka berempat mati sebelum saya menginginkannya." ucap Ella.


"Baik Nona."


Ella kembali ke atas. Menerima panggilan telepon dari Hana, membuat Ella menunda keinginannya untuk menyiksa keempat pengkhianat tersebut.


Ella menghentikan langkahnya. Sepertinya Ella melupakan sesuatu. "Ada apa Nona?" tanyanya.


"Keluarga mereka. Kenapa saya sampai lupa dengan keberadaan mereka. Selidiki dan pantau keluarga para pengkhianat. Dan juga, cek kesehatan mereka. Aku curiga, mereka juga sudah terkena racun." ucap Ella.


Ella berpikir, meskipun tubuh keempat pengkhianat itu bersih dari racun. Kemungkinan besar keluarganyalah yang akan terkena racun.


"Baik Nona."


"Maaf Nona." kata seorang bawahan Ella, membuat Ella berhenti dan membalikkan badan.


"Apa tidak sebaiknya Nona mengganti pakaian. Di luar ada banyak anak buah dari Tuan Vano." ucapnya mengingatkan Ella.


Ella melihat pakaian yang melekat pada tubuhnya. "Terimakasih, sudah mengingatkan." Ella tersenyum dan kembali ke dalam kamar.


"Sama-sama Nona." ucapnya.


Beruntung ada yang mengingatkan Ella. Jika tidak, pasti Vano akan marah. Dan lebih parahnya, dia akan mengurung Ella di dalam rumah.


Karena pasti anak buah dari Vano akan melaporkan jika Ella keluar dari markas. Dan pastinya, laporan tersebut di lengkapi bukti berupa foto. Dan itu bukan salah mereka. Karena mereka hanya menjalankan tugas dan perintah dari boss mereka.


Ella mengeluarkan ponsel. Menghubungi anak buahnya yang di tugaskan untuk mendatangi rumah Paman Haki. Memberitahunya untuk menyimpan dahulu, apapun yang di temukan olehnya di rumah paman Haki. Dan langsung memberikannya pada dirinya. Bukan pada orang lain.


"Aku hanya akan keluar sebentar." ucap Ella pada bawahannya. "Jaga markas." imbuh Ella.


Karena Ella merasa masih sedikit ngilu di beberapa anggota badannya, dia pergi di antar oleh bawahannya.


"Kita pergi ke restoran R&N." ucap Ella memberitahu pada sang pengemudi.


"Baik Nona."


Perjalanan memakan waktu kurang lebih sekitar lima belas menit. Dan mereka sampai di tempat tujuan. "Tetap di dalam." ucap Ella saat bawahannya hendak keluar dan membukakan pintu untuk dirinya.


Ella keluar dan masuk ke dalam restoran. Mengedarkan pandangan mencari Hana. Dari arah berlawanan, Hana melambaikan tangan.


"Sudah lama?" tanya Ella mendaratkan pantatnya. Duduk di kursi depan Hana.

__ADS_1


"Ell, kenapa pipi kamu?" tanya Hana khawatir.


"Sedikit goresan. Santai saja." jawab Ella.


"Ada apa?" tanya Ella.


"Denis mengajakku nanti malam." ucap Hana. Dan Ella masih diam. Membiarkan Hana menyelesaikan perkataannya.


"Nanti malam, akan ada pertemuan keluarga di rumah Denis. Dia mengajakku. Sebenarnya, aku ingin menolaknya. Tapi aku tidak tega melihatnya. Melihat matanya, saat dia memintaku untuk menemaninya." Hana memandang jus di dalam gelas, dan memainkan sedotan di dalamnya.


"Kamu tahukan Ell, mamanya Denis tidak menyukaiku. Aku harus bagaimana?" tanya Hana.


Terlihat jelas rasa khawatir di raut wajah Hana. Ella menggenggam telapak tangan Hana yang masih bebas. "Sekarang aku ingin bertanya. Jawab sesuai apa yang kamu rasakan." ucap Ella.


"Apa kamu mencintai Denis?"


"Iya. Sangat."


"Seandainya Denis menginginkan kamu menjadi istrinya, apa kamu bersedia."


"Pasti."


"Lantas, apa yang kamu risaukan." ucap Ella.


"Datanglah ke acara nanti malam. Berdirilah di samping Denis. Setiap hubungan pasti tidak akan berjalan sesuai keinginan kita Han." saran Ella.


Dan Hana yang memang mengetahui perjuangan Ella untuk tetap berada di samping Vano tersenyum mendengar penuturan sahabatnya tersebut.


Padahal dirinya dan Denis belum genap satu tahun berhubungan. Tapi Hana seakan merasa tidak kuat akan tekanan yang di berikan oleh mamanya Denis.


"Selama Denis masih mencintaimu, memperjuangkanmu, dan menginginkanmu untuk tetap berada di sisinya. Jangan pernah berniat untuk mundur, ataupun meninggalkannya sendiri. Jika kamu melakukannya, aku percaya. Jika suatu saat, kamu akan merasakan rasa bersalah yang luar biasa." tutur Ella.


"Terimakasih Ell." Hana menggenggam erat kedua telapak tangan Ella.


Hana merasa lega setelah menceritakan semua beban yang menghimpit dadanya. Sekarang Hana merasakan jika nafasnya kembali lancar.


"Apa perlu bantuan, untuk menyiapkan diri nanti malam." Ella mengerlingkan sebelah matanya. Menggoda Hana.


"Tidak perlu. Bukankah biasanya jari-jariku yang membuat wajahmu lebih cantik." canda Hana.


"Enak saja. Wajahku memang dari orok sudah cantik." puji Ella pada dirinya sendiri.


"Iya Ell, sebentar. Aku hampir lupa." Hana mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Tralalalaa." Hana mengeluarkan asesoris milik Ella yang sempat hilang. Dengan segera Ella mengambilnya dari tangan Hana.


"Astaga." gumam Hana."

__ADS_1


"Di mana?" tanya Ella, padahal mereka berdua sudah mencarinya. Tapi tidak ketemu. Dan sekarang, tiba-tiba Hana memberikan pada dirinya.


"Barusan......" Hana menceritakan kejadian yang baru saja dia alami. Sehingga menemukan asesoris milik Ella.


"Di taman. Lelaki. Siapa?" tanya Ella bertubi-tubi.


"Tidak tahu. Akupun juga tidak sengaja melihatnya." jelas Hana yang memang belum pernah bertemu Marcell sebelum di taman tersebut.


"Tidak penting dari mana, dan siapa yang menemukannya. Yang terpenting, ini sudah ketemu." ucap Ella senang.


"Maaf Han, aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku lakukan." pamit Ella.


"Baiklah. Berhati-hatilah." ucap Hana.


"Apa yang terjadi denganmu Ell. Bila saja kamu mau berbagi cerita denganku, mungkin aku bisa membantu." batin Hana melihat tubuh Ella menghilang di balik pintu, apalagi Hana melihat sepertinya Ella sedang tidak baik-baik saja.


Hana segera pulang dan mempersiapkan diri untuk acara nanti malam. Sementara Ella, dirinya menemui anak buahnya yang di tugaskan untuk mendatangi rumah Paman Haki.


Mobil yang membawa Ella berhenti di tepi jalan. Seorang lelaki masuk ke dalam, dan duduk di samping kemudi. Sementara Ella, duduk di kursi belakang.


"Bagaimana?" tanya Ella.


Dia mengambil sesuatu di dalam sakunya. "Saya menemukan ini Nona." ucapnya memberikan botol kecil berisi sedikit cairan di dalamnya.


Tangan Ella terulur mengambilnya. Manik matanya mengamati botol yang di taruh di dalam kantong plastik oleh anak buahnya. "Dari mana?" tanya Ella.


"Tempat sampah, di belakang rumah."


"Mungkin mereka belum sempat memusnahkannya." batin Ella.


"Ada yang lain?" tanya Ella lagi.


"Tidak ada Nona."


"Mungkin kamu ingin menyampaikan sesuatu?" tebak Ella, insting Ella selalu tepat. Anak buahnya menemukan sesuatu. Tapi sepertinya dia masih ragu untuk menceritakan pada Ella.


"Ada seperti bekas darah di samping rumah Paman Haki. Tapi, saya kurang yakin. Warnanya merah. Tapi tidak berbau."


"Apa kamu menyentuhnya?"


"Tidak Nona."


"Kembali ke markas." pinta Ella.


Di perjalanan Ella di kabari oleh bawahannya jika paman Haki sekarang sudah berada di rumah sakit. Di dalam tubuh paman Haki juga terdeteksi racun tersebut.


"Gue harus tahu, tentang racun itu. Brengsek, dengan mudah mereka bisa masuk ke dalam rumah." batin Ella.

__ADS_1


__ADS_2