
"Viki sudah bercerita?" tanya Jo.
"Begitulah." jawab Ella santai.
"Siapa lagi yang tahu?"
"Fotographer tadi."
"Denis."
"Yap."
Jo menatap Ella. Dirinya merasa heran kenapa mereka masih bisa berteman dengan orang seperti Viki. Yang juga seperti dirinya. Penyuka sesama.
"Kita bersahabat sejak SMA. Dan kita bukan penghianat yang akan meninggalkan teman karena sisi negatifnya." jelas Ella seperti tahu kenapa Jo memandang ke arah dirinya seperti menyelidik.
"Dulu, kita sering menasehati bahkan memberi terapi pada Viki. Dan kamu tahukan apa jawabannya." ucap Ella.
"Iya." kata Jo lirih.
"Apa orang tua dan keluarga Viki tahu?"
"Kamu kan kekasihnya, kenapa bertanya pada saya."
"Huss,,, jangan keras-keras." Jo langsung berdiri dan berjalan ke pintu. Memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan mereka.
"Dia bilang hanya dua orang di negaranya yang tahu." Jo memandang ke arah Ella dan kembali mendudukkan pantatnya di kursi.
"Saya dan Denis." kata Ella.
Jo memandang lurus ke depan. Tatapan sedih dan terlihat kosong. Membuat Ella mengernyitkan dahi.
"Kenapa kamu? Lapar?" tanya Ella nyleneh.
"Bisakah kalian menganggap ku sebagai teman. Seperti Viki."
"Teman Viki teman kita juga. Santai saja."
Jo tersenyum mendengar penuturan Ella. "Kalau begitu, biar lebih akrab gunakan kalimat biasa saat berbincang. Bagaimana?" tanyanya dengan antusias.
"Gue,,,elo. Bisa kan." harap Jo.
"Bisa."
"Makasih."
Sejenak keadaan menjadi sunyi, hingga Jo kembali membuka mulutnya. "Gue sedikit iri dengan Viki. Memiliki teman seperti kalian. Bisa menjaga rahasia satu sama lain." ungkap Jo.
"Emang elo nggak punya teman?"
"Ada, tapi mereka sama sekali tidak tahu siapa gue yang sesungguhnya." ujar Jo.
Karena dirinya bekerja di dunia modeling, dan di sorot banyak mata, Jo beberapa kali berkencan dengan perempuan. Hanya untuk menutupi jati dirinya.
Apalagi wajah Jo yang tampan. Dengan mudah bisa mendapatkan perempuan mana pun.
Tapi hubungan mereka pasti tidak akan lama. Teman-teman tahulah karena apa.
Seseorang menyembulkan kepalanya dari luar pintu. "Kalian, ayo. Sudah di tunggu." ucap Hana.
"Bikin kaget." seru Ella. Hana hanya tersenyum.
Pemotretan berjalan dengan sangat lancar. Saat beristirahat untuk berganti pakaian banyak yang membicarakan hasil pemotretan Ella dan Jon untuk tahap pertama.
"Gila, serasi sekali."
"Tidak salah perusahaan memasangkan mereka berdua."
"Astaga,,, tampan dan cantik."
"Bayangkan jika mereka beneran menikah. Anaknya akan seperti apa."
__ADS_1
"Bikin iri."
Denis hanya mendengus mendengar cuitan dari mereka. "Serasi. Serasi dari mana. Ella akan gila jika menikah dengan Jo." batin Denis. Membayangkan Ella yang tidak akan pernah mendapat jatah ranjang sama sekali jika menikah dengan Jo, membuatnya bergidik ngeri.
"Ada apa?" tanya Hana yang tiba-tiba berada di sampingnya.
"Ha,, ini. Lihat. Sangat serasi." kilah Denis dengan memperlihatkan hasil jepretannya tadi.
"Lantas kenapa bergidik?"
"Ha,,,"
"Ha,, ha,, ha,,." ucap Hana dengan gemas mengikuti kata-kata Denis.
Di luar ruang ganti, Jo menunggu Ella berganti pakaian dengan sabar. "Sudah?" tanyanya.
"Habis pemotretan mau kemana?" tanya Jo sembari berjalan pelan di samping Ella.
"Makan." jawabnya singkat.
"Emmm, dengan Viki juga?"
"Kenapa harus tanya. Kan sudah tahu." ucap Ella.
Selesai pemotretan, tampak Ella, Denis, Hana dan juga Jo berjalan bersama menuju tempat parkir.
"Apa Viki sudah elo hubungi?" tanya Ella.
"Sudah Ell." jawab Jo.
Denis dan Hana yang berjalan di belakang mereka merasa heran. Mereka saling pandang dan menerka-nerka tentang Ella dan Jo.
"Langsung akrab. Apa karena mereka sama-sama model. Apa benar, jika dia sama seperti Viki. Mempunyai kelakuan menyimpang." batin Denis.
"Ella memang hebat. Padahal baru saja bertemu. Bisa langsung akrab. Eh,, kenapa dia tahu Viki. Apa karena Jo mengenal Viki, makanya dia mudah akrab dengan Ella. Tapi Denis, biasa saja. Apa karena Ella seorang perempuan." batin Hana.
"Maaf, mengganggu sebentar." ucap seseorang menghentikan langkah kaki mereka.
"Tuan Ibra." sahut Jo.
"Kami ada perlu dengan Nona Ella." Ibra langsung berbicara tujuannya.
Ella tersenyum miring. "Kalian duluan saja. Tunggu gue di parkiran." ucap Ella.
"Ayo." Denis memegang lengan Hana, karena kekasihnya tersebut terlihat enggan meninggalkan Ella bersama kedua lelaki itu.
"Tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir. Kitakan tahu, siapa Ella." imbuh Denis. Karena Hana masih menengok ke belakang, melihat ke arah Ella.
Denis mengelus lembut rambut Hana dan berjalan beriringan dengan Hana. Jo yang berada di belakang mereka hanya diam dan mendengar percakapan mereka. Sesekali dia juga menengok ke belakang.
"Sebaiknya kita berbicara di tempat lain." ajak Ibra.
Ella dan Dami mengekor di belakang Ibra. Sesekali Dami menoleh untuk melihat wajah cantik dan tubuh seksi Ella. Tidak di pungkiri, dirinya seorang lelaki tulen. Pasti akan tertarik dengan perempuan seperti Ella.
"Jangan terlalu jauh." kata Ella saat Ibra belum juga menghentikan langkahnya.
Ibra menghentikan langkahnya. Menatap keadaan sekeliling mereka.
"Jika kalian ingin bertanya tentang Deon. Maaf, saya tidak tahu." ucap Ella spontan.
Ella menebak jika mereka pasti ingin menanyakan tentang Deon, karena itu mereka ingin berbicara dengan dirinya tanpa ada yang tahu. Memangnya ada hal lain.
"Kamu bisa bertanya pada Vano." ucap Dami.
"Dia Dami." ucap Ibra saat Ella netra Ella melihat kepada Dami.
"Beberapa hari yang lalu Deon menyerang diriku. Setelah itu, Vano yang membawanya. Jadi saya tidak tahu kemana Deon sekarang." jelas Ella.
"Kamu bisa bertanya pada Vano." ucap Dami mengulang perkataannya.
"Masalah kalian, tidak ada hubungannya dengan diriku."
__ADS_1
"Tapi Deon menghilang."
"Bukan urusan saya." tegas Ella.
"Dia tidak bisa di hubungi. Perusahaannya tiba-tiba di jual." ucap Ibra.
"Kita tidak terlalu dekat karena sebuah masalah." sinis Ella.
"Tunggu." ucap Dami mencekal lengan Ella saat Ella hendak meninggalkan mereka.
Ella menepis kasar tangan Dami. "Saya..Tidak..Tahu..Dimana..Deon." ucap Ella dengan penekanan.
"Kamu adalah kekasih Vano. Berarti kamu juga ada hubungannya." kekeh Dami.
"Dam." Ibra memegang lengan Dami. Menyuruh sahabatnya meredam emosinya.
"Berarti mama dan papa Vano juga terlibat. Mereka kan kedua orang tuanya. Kenapa tidak tanyakan saja pada mereka di mana Deon." sinis Ella.
"Ell,, saya minta tolong. Hubungi Vano. Tanyakan tentang Deon." pinta Ibra dengan lembut.
Ella tersenyum sinis. "Saya bisa menebak. Kemana sekarang Deon berada." Ella menghentikan perkataannya. Melihat ke arah dua lelaki di depannya.
"Di perut hewan." ucap Ella santai.
Dami dan Ibra saling pandang. "Maksud kamu?" tanya Ibra dengan bingung.
"Seharusnya kalian para pengusaha, bisa tahu. Bagaimana iblisnya seorang Vano." kata Ella.
"Tidak mungkin, Vano senekat itu. Deon juga sahabatnya." ujar Dami.
"Deon mau menculik dan melecehkan saya. Padahal saya sudah memperingatkannya. Jadi, bukan salah Vano jika terjadi apa-apa sama Deon."
Ella dengan tenang membalikkan badan dan meninggalkan mereka.
"Jangan." Ibra menahan lengan Dami saat dia berniat menyusul Ella.
"Tapi...."
"Elo belum tahu siapa dia. Gue ngerasa dia punya sesuatu yang istimewa dalam dirinya. Jika tidak, mana mungkin Vano bisa bersamanya selama bertahun-tahun." ucap Ibra memotong perkataan Dami.
"Itu hanya karena dia anak Tuan Haris. Makanya Vano bisa bertahan dengannya. Perusahaan papanya termasuk perusahaan raksasa. Elo bayangkan, jika dua perusahaan besar bergabung."
"Gue berpikir bukan karena itu Vano mempertahankan dia." Ibra masih memandang tubuh Ella yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Kita akan cari cara menemukan Deon." ujar Dami.
*
*
"Halo, ada apa Eg?" tanya Ella pada Egi di seberang ponselnya.
"Baiklah. Aku akan ke sana sekarang." ucap Ella sembari mengakhiri panggilan telepon dari Egi.
*****
Ella dan Jo serasi, bisa perang saudara sama Viki ðŸ¤
Ibra,,, kelihatannya dia masih penasaran sama Ella.
Jangan kayak Deon deh, ambil aman saja. 😌😌
Kira-kira mau ngapain Egi ngajak Ella ketemuan.
Iiiiiihhhh,,,, kasih tahu othor dong Eggh... 🤗🤗
*
*
*
__ADS_1
Terimakasih teman-teman, sudah selalu mendukung othorrrr...
Jangan lupa tinggalin jejakkkk... 🥰🥰🥰