
Dokter tersebut hendak melanjutkan perkataannya. Dia mengambil nafas terlebih dahulu. Seperti sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka kembali mulutnya. "Saat ini, Nyonya Ella dalam keadaan koma." ucap sang dokter.
"Tuan." ucap Paman Haki, saat tiba-tiba Tuan Haris mencengkeram erat baju sang dokter. Paman Haki memegang pundak Tuan Haris. Mencoba menenangkan majikannya tersebut.
"Kamu bilang Ella selamat. Sekarang kamu bilang dia sedang koma. Jangan mempermainkan saya dengan bualan mu itu." sarkas Tuan Haris, melepas cengkeraman tangannya dengan kasar, dan sedikit mendorong tubuh sang dokter ke belakang.
"Saya bisa membuat izin kerja kamu di cabut sekarang juga. Bahkan lebih dari itu. Jika kamu, berani mempermainkan saya." ancam Tuan Haris dengan tatapan mata menyalang.
Ancaman yang membuat para dokter merasakan gemetar pada seluruh bagian tubuhnya. "Maaf Tuan, Nyonya Ella memang selamat. Tapi beliau masih dalam keadaan koma." timpal dokter lain, berusaha membuat tenang Tuan Haris.
"Ellaa..." ucap Nyonya Ane dengan air mata jatuh ke pipinya. Segera Tuan Haris membawa sang istri ke dalam pelukannya.
Dan Nyonya Risma hanya bisa membungkam mulutnya, dan menangis. "Kapan Ella akan sadar?" tanya Tuan Danto.
"Maaf Tuan, kami tidak bisa memastikannya." ucap sang dokter.
Segera dokter lain menimpali rekan dokter tersebut. Melihat tatapan mata Tuan Danto yang mengintimidasi. "Tapi kami berjanji, akan terus merawat dan memantau perkembangan Nyonya Ella. Kami akan memberikan yang terbaik untuk Nyonya Ella." sahut sang dokter, sebelum Tuan Danto mengeluarkan perkataannya lagi.
"Itu memang tugas kalian." ujar Tuan Danto. Membuat beberapa dokter sampai mengusap butiran keringat sebesar biji jagung yang menetes dari keningnya. Entah dari mana keringat tersebut berasal.
Padahal mereka berada di luar ruangan. Dan pastinya angin berhembus dengan leluasa. "Pastikan putri kami akan cepat sadar dari komanya." ucap Tuan Haris.
"Jangan sampai kami mendengar sesuatu yang tidak ingin kami dengar di telinga kami mengenai putri kami. Kalian pasti tahu akibatnya." ancam Tuan Haris. Masih memeluk Nyonya Ane.
Tampak kedua pundak Nyonya Ane masih bergetar dalam rengkuhan sang suami. Orang tua mana yang tidak merasa terpukul mendengar jika anak kesayangan mereka sedang di ambang hidup dan mati.
"Baik Tuan." jawab para dokter serempak.
Lagi pula, jawaban para dokter sangat tidak masuk akal. Menyanggupi untuk memberi kabar baik untuk keluarga Ella. Padahal semuanya sudah di tentukan oleh takdir Tuhan.
Jawaban para dokter hanya untuk membuat mereka selamat. Dan yang terpenting, sekarang mereka merasa sedikit bisa bernafas lega.
"Vano.. bagaimana putra kami. Vano?" tanya Nyonya Risma. Karena para dokter hanya mengabarkan tentang Ella yang sedang dalam keadaan koma. Dan calon cucu mereka yang tidak dapat di selamatkan.
Deg,,,, semua dokter hanya saling lirik. Kaki mereka sudah mati rasa. Tapi sebisa mungkin mereka tetap harus kuat berdiri menopang badan.
"Apa kalian bisu!!!" hardik Tuan Danto, karena semua dokter hanya diam dan malah saling melempar lirikan.
Membuat salah satu dokter membuka suara. "Tu-Tuan Vano." ucap dokter dengan kalimat terbata. Seolah enggan untuk membuka mulutnya.
"Katakan. Cepat. Jika tidak ingin lidahmu aku potong!!" gertak Tuan Danto. Sontak, para dokter menelan ludah mereka dengan kasar.
"Maafkan kami. Kami sudah berusaha dengan maksimal. Tapi..." ucap dokter dengan nada bergetar.
Dokter tersebut mengambil nafas dan memejamkan mata. Melanjutkan kembali perkataannya "Kami tidak bisa menyelamatkan Tuan Vano." imbuh sang dokter.
"Vanooooo.....!!!" teriak Nyonya Risma dengan histeris. Hingga beliau tak sadarkan diri.
Kabar tentang sang anak yang tidak bisa di selamatkan oleh tim medis, membuat Nyonya Risma merasa dunia runtuh. Bagai sebuah batu besar menghantam kepala Nyonya Risma.
"Ma..." ucap Tuan Danto. Segera memeluk tubuh sang istri yang sudah tak sadarkan diri, dengan kedua mata merah.
Antara menahan amarah dan juga menahan tangis. "Bawa ke ruang rawat." ucapnya pada bawahan Vano yang berada adi sana.
"Kalian. Apa gunanya menjadi dokter. Haaaah!!" hardik Tuan Danto meluapkan emosinya.
"Maafkan kami Tuan. Kami sudah berusaha." ucap sang dokter, dengan jantung berdetak tak karuan. Karena rasa takut.
Tuan Danto menatap tajam dengan nafas memburu ke arah para dokter. Hingga akhirnya beliau memejamkan mata dan duduk di kursi yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Nyonya Ane semakin terisak di pelukan sang suami. Mendengar kabar tentang keadaan menantunya. Dan Hana, duduk tersungkur di lantai. "Apa ini Tuhan. Ella terbaring koma. Janinnya tidak bisa di selamatkan. Dan Vano,, Vano." ucap Hana lirih, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Hana menaruh kepalanya di kursi. Reza menepuk pelan pundak Hana. Bahkan air mata Reza sudah menetes di pipi. Biarlah anak buahnya melihatnya menangis. Dia bahkan tidak peduli.
Bahkan semua bawahan Vano menampakkan wajah sedih dengan mata merah. Mereka juga merasa terpukul, atas apa yang baru saja mereka dengar. Jika mereka kehilangan majikan mereka.
"Ma..." seru Tuan Haris. Saat tubuh sang istri tiba-tiba merosot kebawah saat berada dalam pelukannya. Ternyata Nyonya Ane juga tidak kuat menerima kenyataan yang sedang dihadapkan pada keluarganya.
Ella, sang putri tengah terbaring dalam keadaan koma. Dan Vano, menantunya. Telah dipanggil oleh Tuhan lebih dulu.
"Biar saya Tuan." ucap Paman Haki. Dengan mata berair, menopang tubuh dari Nyonya Ane.
"Bawa ke dalam ruangan Nyonya Risma." pinta Tuan Haris lirih. Karena akan lebih mudah menjaga keduanya jika ruangan mereka menjadi satu.
"Baik." ucap Paman Haki membopong tubuh Nyonya Ane. "Kalian ikut saya." perintah Paman Haki pada beberapa bawahan Vano.
Paman Haki juga harus mengamankan ruangan yang dipergunakan untuk merawat Nyonya Risma dan juga Nyonya Ane. Dirinya tidak ingin sesuatu menimpa keluarga ini lagi.
"Jelaskan." ucap Tuan Haris pada sang dokter. Sementara Tuan Danto duduk dengan telapak tangan menutupi wajahnya.
Dokter tersebut menghela nafas panjang. "Ada tiga peluru yang bersarang di tubuh Tuan Vano. Kami sudah berhasil mengeluarkan dua di antara peluru tersebut. Tapi, satu peluru mengenai bagian dari tubuh Tuan Vano yang vital. Kami tidak bisa berbuat banyak." jelas sang dokter dengan hati-hati.
Sebenarnya, sejak operasi baru saja selesai. Mereka merasakan ketakutan luar biasa. Apalagi mereka tidak bisa menyelamatkan janin di dalam rahim milik Ella.
Dan yang lebih parah, Vano juga menghembuskan nafas terakhirnya di ruang operasi. Semua orang tahu siapa sosok Vano beserta keluarganya.
"Reza, kamu urus semuanya. Jangan sampai polisi mengambil alih masalah ini." pinta Tuan Danto dengan suara gemetar.
"Baik Tuan." Reza membantu Hana untuk duduk di kursi, sebelum dirinya pergi melaksanakan perintah dari Tuan Danto.
"Maaf Tuan, Nyonya Ella akan kami pindahkan ke ruang rawat." ucap sang dokter. Tuan Haris hanya mengangguk pelan.
Segera para dokter tersebut meninggalkan tempat mereka. Bahkan mereka menghembuskan nafas panjang saat berjalan menjauh dari depan ruang operasi.
Seakan para dokter tersebut baru saja terbebas dari penjara, yang kapan saja siap untuk membuat mereka tak berdaya.
Tuan Haris memegang pundak Tuan Danto. Mencoba memberi beliau kekuatan. Dari arah lain, datang Viki dengan setengah berlari.
"Ommm..!!" seru Viki dengan nafas terengah-engah. Rey, asisten Viki memberitahu jika Ella dan Vano berada di rumah sakit.
Membuat Viki menghentikan rapat dan segera mendatangi rumah sakit dimana keduanya sedang di rawat. "Bagaimana kondisi Ella?" tanya Viki.
Tuan Haris menampakkan wajah sedihnya. "Omm..." ucap Viki lirih.
"Ella koma."ucap Tuan Haris lirih. Viki seketika memeluk tubuh Tuan Haris.
Air mata yang sedari tadi di tahan Tuan Haris, akhirnya tumpah juga. Menangis. Tuan Haris memeluk erat tubuh Viki dan menangis. Begitu pula Viki, dia juga meneteskan air mata.
"Janinnya tidak bisa di selamatkan." ucap Tuan Haris dengan lirih. Semua bawahan Vano membuang muka melihat Tuan Haris mengeluarkan air mata. Karena saat ini, mereka juga tengah menangis dalam diam.
"Tenang om, Ella pasti akan membuka matanya lagi." Viki mengurai pelukannya. Menghapus air matanya.
"Vano. Bagaimana dengan lelaki brengsek itu. Pasti dia selamat. Lelaki itu begitu kuat." ucap Viki. Tapi semuanya hanya diam.
Viki melanjutkan kalimatnya. "Om tenang saja. Ella pasti akan segera bangun. Apalagi Vano juga tidak apa-apa. Mana mungkin Ella akan pergi begitu saja. Dia cinta mati dengan Vano. Dia tidak akan rela, melihat Vano dengan perempuan lain." imbuh Viki, mencoba menguatkan hati Tuan Haris.
Meskipun sebenarnya Viki juga merasa khawatir pada sahabatnya, yang sudah di anggap seperti saudaranya tersebut.
Tuan Danto dan Tuan Haris menggeleng pelan saat keduanya melihat ke arah Viki. Dan Hana, tangisannya semakin kencang mendengar perkataan Viki.
__ADS_1
Bahkan mata Hana sudah bisa terbuka lagi. Hana memejamkan mata sambil menangis, dan menyenderkan badannya ke tembok dengan posisi miring.
"Om.." Viki bergantian memandang semua orang.
"Vano tidak bisa di selamatkan." ucap Tuan Danto lirih. Seketika tubuh Viki menegang, mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Tuan Danto.
"Jangan bercanda. Om...!!!" seru Viki. Tuan Haris membalikkan badan. Dan Tuan Danto menundukkan kepalanya.
"Tidak mungkin." ucap Viki lirih. Seakan semuanya seperti mimpi buruk baginya. Viki menepuk kasar pipinya.
"Bangun. Pasti ini mimpi. Ella,,, Vano,,, tidak. Ini pasti mimpi." ucap Viki. Tubuh Viki luruh, duduk di atas lantai. Memukul lantai berkali-kali.
"Hana...!" teriak seseorang dari arah lain. Segera tangannya mengamankan tubuh Hana yang hendak terjengkang ke belakang.
"Han,,," ucap Denis, menepuk pelan pipi Hana.
Denis memandang semuanya. Tuan Danto dan Tuan Haris hanya diam dengan wajah sedihnya. Dan Viki menangis duduk di bawah.
"Dimana tante Risma dan tante Ane?" tanya Denis.
"Beliau berada di ruang rawat. Karena tidak sadarkan diri." ucap bawahan Vano dengan mata juga memerah.
"Apa yang terjadi." gumam Denis.
"Tuan, biar Nona Hana kami bawa ke ruang rawat juga. Bersama Nyonya Risma dan Nyonya Ane." ucap bawahan Vano menawarkan bantuan.
Denis melepaskan tubun Hana. Dia menyerahkan Hana pada bawahan Vano. Sebenarnya Denis menginginkan dirinya sendiri yang menggendong Hana ke tempat tersebut.
Tapi ada yang mengusik hatinya. Melihat ketiga orang di depannya tampak tidak baik-baik saja. "Sebenarnya, apa yang terjadi Vik?" tanya Denis, ikut berjongkok di depan Viki.
Seperti Viki, asisten Denis memberitahu pada Denis. Jika Vano dan Ella kecelakaan. Mendapat kabar tersebut, Denis langsung bergegas pergi ke rumah sakit.
Tanpa mempedulikan Lyra yang tengah memanggilnya dengan rasa kesal. Lantaran saat itu mereka sedang bertemu dengan klien penting.
Viki mengangkat kepalanya, wajah Viki sudah penuh air mata. "Ella... Vano...." ucap Viki dengan nada bergetar.
"Katakan. Mereka baik-baik saja bukan?" tanya Denis, seolah dirinya menginginkan berita baik masuk ke dalam telinganya.
Viki menggeleng lemah. "Ella koma." ucap Viki menatap Denis.
Tubuh Denis seketika terhuyung ke belakang. Menabrak deretan kursi. Beruntung, Denis dalam keadaan jongkok. Sehingga dia tidak kenapa-napa.
Denis duduk di atas lantai. Dadanya terasa sesak. Seakan kadar oksigen yang masuk ke dalam tubuhnya berkurang.
"Vano... Vano tidak bisa di selamatkan." ucap Viki lirih.
Denis segera mendekat ke arah Viki. Memegang kerah pakaian Viki dengan erat. "Jangan bercanda Vik. Vano, dia iblis. Mana mungkin dia semudah itu meninggal." ucap Denis tidak terima.
"Dan Ella, dia sama seperti Vano. Mereka dua orang yang kuat. Jangan bercanda. Tidak lucu." Denis melepaskan kerah baju Viki.
Denis berdiri dan menatap Tuan Danto dan Tuan Haris bergantian. "Omm..." ucap Denis.
Tapi keduanya hanya diam dan membuang muka. "Astaga....!!!" seru Denis tertahan. Melihat Tuan Haris dan Tuan Danto hanya diam. Yang menandakan apa yang dikatakan Viki adalah benar adanya.
"Aaa... aaa... aaa..." Denis meninju tembok berkali-kali. Melampiaskan emosinya.
Semuanya masih terdiam. Tidak ada yang membuka suara. Ke empat lelaki yang biasanya akan berdiri dengan tegap dan memiliki wajah mengintimidasi bagi lawannya.
Saat ini tengah duduk terdiam. Tidak tahu apa yang sekarang tengah ada di dalam benak mereka. Seolah tidak ada tempat di dunia ini yang membuat mereka bahagia.
__ADS_1
Sementara di dalam ruang rawat. Tengah terbaring tiga perempuan yang tak sadarkan diri. Dengan tangan terhubung cairan infus.