DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 152


__ADS_3

Pagi hari Vano dengan wajah kesal menjemput Lena di rumah sakit. Telinga Vano seperti tertutup saat mulut Oma Yeti tak berhenti mengecoh. Karena Vano tidak menjawab panggilan telepon darinya.


"Ella." gumam Lena kaget melihat Ella dengan santai duduk di kursi penumpang. Pastinya dengan senyum mengembang sempurna di bibir seksi nan merah miliknya.


"Hay Len, apa kabar?" sapa Ella dengan melambaikan tangan.


Betapa terkejutnya Lena, mengetahui jika Ella berada di dalam pesawat. "Apakah selama ini, Ella berada di negara ini. Tapi, kenapa dia sama sekali tidak menjenguk Oma." batin Lena, dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala Lena.


"Tunjukkan tempat duduknya." ucap Vano pada seorang pramugari yang berdiri di belakang Lena.


"Ba-ba-baik." pramugari tersebut menjawab perkataan Vano dengan gugup, ekor matanya melirik ke arah Ella yang tersenyum penuh makna padanya.


Sang pramugari seperti pencuri yang ketahuan, dia gugup karena tertangkap basah sedang mengagumi karisma dan pesona seorang Vano Reyandli.


"Tunggu apalagi." ucap Vano seakan tak terbantahkan. Melihat sang pramugari dan Lena masih berdiri di tempat.


Jika sang pramugari masih terkejut karena tatapan yang Ella berikan pada dirinya. Lain halnya dengan Lena. Dirinya memandang Vano dan Ella bergantian. Kenapa selama ini dirinya dan Oma tidak tahu menahu jika menantu dari Tuan Danto berada di sini.


Lantas apakah kedua orang tuan Vano. Tuan Danto dan Nyonya Risma juga mengetahuinya, atau mereka juga tidak tahu. Sama halnya dengan dirinya dan Oma Yeti.


Pantas saja, Vano terkadang sulit di hubungi. Dan dia juga hanya menjenguk Oma sebentar. Dan meninggalkan Oma lagi, dengan alasan pekerjaan. Apa semua karena keberadaan Ella di negara ini.


"Mari Nona. Silahkan ikut saya." ajak sang pramugari dengan sopan pada Lena.


Bukannya beranjak dari tempatnya berdiri, Lena malah mengeluarkan sebuah pernyataan. Dipikirnya kalimat yang keluar dari mulutnya akan menyulut emosi Ella.


"Van, bukankah Oma sudah menitipkan aku padamu. Kenapa kamu malah seakan mau menyingkirkan ku." ucap Lena dengan lembut.


"Tenang saja, jika terjadi kecelakaan pada pesawat ini. Aku akan mengebumikan jenazahmu dengan baik. Di dekat makam ayahmu." ucap Vano dengan senyum misterius. Seakan dirinya tahu rahasia dari Lena.


Jahat sekali Vano, seakan mendoakan pesawatnya akan mengalami kecelakaan. Dan Lena sendiri yang akan menjadi korbannya. Sementara yang lain, tentu saja selamat.


"Sayang, jangan seperti itu. Biarkan Lena duduk di ruangan ini. Tolong. Kasihan jika dia sendirian di ruangan lain." ucap Ella dengan raut wajah menggemaskan.


Ella, kamu tidak sebaik itu sayang. Pasti Ella ingin melakukan sesuatu pada Lena. Otak Ella memang selalu bekerja dengan baik.


"Apapun permintaan kamu." Vano membelai lembut pipi Ella. Membuat Lena muak melihatnya.


Dengan sombongnya, Lena duduk di sebelah tempat duduk mereka. Melirik sinis pada Ella. Apalagi Vano memperlakukan Ella dengan sangat manis.


"Kenapa kau tetap di situ." tegur Vano merasa tidak suka dengan sang pramugari tersebut.


"Maaf, permisi." ucapnya segera keluar dari ruangan yang di tempati Vano bersama Ella dan juga Lena. Tidak lupa sang pramugari menutup sekat ruangan tersebut.

__ADS_1


"Bukankah dia cantik. Dan juga seksi." sindir Ella pada Vano.


Vano terkekeh pelan mendengar ucapan sang istri. "Tidak ada yang cantik dan seksi selain dirimu." Vano mengecup pelan pipi Ella.


"Jadi kami tidak perlu cemburu. Ataupun khawatir." gombal Vano. Ella mencebikkan bibirnya.


"Van, selama Oma di rawat di rumah sakit. Aku akan tinggal bersamamu." ucap Lena. Berharap kali ini Ella akan tersulut emosinya.


Tapi sayangnya Vano maupun Ella tidak menyahut perkataan Lena. Membuat Lena gondok setengah mati. "Bagaimana jika Oma tahu, bahwa Ella selama ini berada di negara ini." celetuk Lena, terdengar seperti kalimat ancaman.


"Kam..." Vano hendak berbicara, namun tangannya di elus oleh Ella. Membuat Vano menghentikan kalimatnya.


"Silahkan. Akan lebih baik untuk aku." ucap Ella santai.


"Oma pasti akan anfal lagi. Yang lebih parah, pasti Oma akan kehilangan nyawanya. Dan pastinya, aku akan sangat senang. Aku juga tidak akan rugi apapun. Dan aku yakin, harta Oma akan jatuh semua pada suami tercintaku." imbuh Ella.


"Oh,,,, senangnya hidup ini. Apalagi pundi-pundi uang dan kekayaan dari suamiku bertambah." Ella berkata sambil merentangkan tangannya.


Menunjukkan betapa bahagianya jika Oma Yeti akan meninggal. Dan Vano menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Bisa-bisanya Ella berkata seperti itu.


Lena mencakar pegangan kursi yang didudukinya. Dirinya tidak berpikir sampai sana. Ingin sekali melihat Ella kesal, tapi nyatanya malah dirinya yang terkena duri karen ulahnya sendiri.


Oma Yeti meninggal. Tentu bukan itu yang di harapkan oleh Lena.


"Aku memang jahat. Setidaknya aku memiliki kekuasaan untuk melakukannya. Dari pada ingin menjadi iblis, tapi tidak punya kekuatan. Hanya angan-angan. Buang-buang tenaga." sindir Ella.


"Kenapa bibirmu sangat seksi sayang." Vano memegang dagu Ella. Mengarahkan wajah Ella pada wajahnya. Dengan pelan dan lembut, Vano mencium bibir seksi milik sang istri.


Ciuman lembut antara Vano dan Ella, lama-lama berubah menjadi *******. Di kursi samping, wajah Lena memerah melihat aksi keduanya.


Bahkan terdengar kecapan dari mulut Vano dan Ella. Membuat telinga Lena merasa sakit mendengarnya.


"Kalian. Apa yang kalian lakukan." teriak Lena. Vano dan Ella tidak menghiraukan teriakan dari Lena yang menggetarkan seisi pesawat.


Bukannya menghentikan aksi mereka, Ella malah berpindah ke pangkuan sang suami dengan bibir mereka tetap berpangutan.


Tangan nakal Vano menelusup ke dalam pakaian yang di kenakan Ella. Bergerak di dalam pakaian Ella. Dan Lena, langsung berdiri menahan rasa kesal bercampur amarah.


"Bisa-bisanya mereka melakukan kegiatan seperti itu di depan orang. Apa mereka tidak punya malu. Binatang." batin Lena.


Brakkk..... dengan sekuat tenaga Lena menutup kembali pintu penyekat yang telah dia buka sebelumnya karena tidak tahan dengan kelakuan Vano dan Ella.


Ella dan Vano menyudahi kegiatan mereka. Ella tertawa terbahak-bahak. Dan Vano hanya tersenyum memandang sang istri, yang menurutnya sangat jahil.

__ADS_1


Tidak terbayangkan, apa saja yang akan Ella lakukan jika Lena tinggal satu atap dengannya. Pasti Lena akan mengalami stres. Yang lebih parah, mungkin Lena akan struk.


Di luar seorang pramugari menghampiri Lena. "Maaf Nona, ada yang bisa saya bantu." tanyanya tanpa sengaja melihat Lena keluar dari ruangannya dan membanting pintu penyekat sekuat tenaga.


Pasti sekarang lengan Lena terasa sakit. Atau rasa sakitnya malah tidak terasa, karena rasa kesal bercampur marah dan dongkol di hatinya melihat Vano dan Ella melakukan kegiatan panas. Tepat di hadapannya.


"Diam!!!!" teriak Lena pada sang pramugari dengan mata melotot sempurna dan nafas tersengal.


"Baik. Saya permisi." ucapnya menjauh dari Lena yang seperti orang sedang kerasukan. Dirinya tidak ingin terkena imbas dari kemarahan sang penumpang.


Ella yang mendengar teriakan Lena dari dalam ruangannya kembali tertawa. Sampai-sampai air mata Ella keluar. "Sudah senang. Puas?" tanya Vano.


"Sumpah. Aku tidak sabar menantikan Lena akan tinggal serumah dengan kita sayang." ujar Ella.


"Pantas saja mama tidak ingin punya menantu selain kamu. Licik sekali." Vano menyentil pelan dahi Ella.


"Asal jangan sampai Lena mati." ucap Vano.


Ella mengangkat tangannya. Menggerakkan jari telunjuknya ke kanan lalu ke kiri secara berulang. "Terlalu mudah, sebelum Oma Yeti terbuka matanya. Lena tidak boleh mati." tekan Ella.


"Terserah kamu. Yang terpenting, kamu harus berhati-hati. Orang seperti Lena juga sangat licik. Terkadang dia malah akan semakin nekat, jika keinginannya tidak terwujud." pesan Vano.


"Baik sayang, istrimu ini akan selalu berhati-hati." Ella menangkup kedua pipi Vano.


"Van,,," ucap Ella.


"Mau kemana?" tanya Vano menahan Ella yang hendak berdiri dari pangkuannya.


"Kamu pasti capek jika aku terus berada di sini. Minggir." ucap Ella mencoba melepaskan tangan Vano dari pinggangnya.


"Tenang saja. Tidak akan capek." bisik Vano malah terdengar seperi ******* di telinga Ella.


"Lepas sayang, nanti kamu capek." rengek Ella.


"Tidak, apalagi jika kita melakukan itu." Vano memainkan alisnya turun naik.


"Jangan asal, tadi aku hanya mengerjai Lena." Ella memukul dada Vano.


"Sayangnya aku serius. Apa kamu tidak merasakan sesuatu di bawah?" tanya Vano tersenyum mesum.


Ella memutar bola matanya jengah. Sedari tadi Ella sudah merasakan jika junior milik suaminya menegang sempurna. Maka dari itu, Ella ingin segera menyingkir dari paha Vano.


Ella sama sekali tidak terpikir untuk melakukan olah raga panas di dalam pesawat. Di saat pesawat terbang di udara.

__ADS_1


__ADS_2