DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 179


__ADS_3

Vano mendengus kesal, jika sudah kedua orang tuanya ikut campur. Akan sulit bagi Vano untuk bertindak. Apalagi ini menyangkut masa lalu mereka.


Vano memutar matanya jengah. "Kenapa tidak langsung tembak saja. Selesai sudah." gumam Vano masih terdengar papanya dan mertuanya.


"Jangan macam-macam." tegur Tuan Danto pada putranya.


"Kapan papa pulang? Bagiamana dengan Oma?" tanya Vano, lantaran melihat sang papa di depannya. Bukankah seharusnya beliau masih ada di luar negeri. Menemani Oma Yeti.


"Pekerjaanku bukan hanya berdiam diri, duduk manis dan menunggu Oma Yeti." celetuk Tuan Danto.


Vano tidak tahu dari mana kedua orang tuanya mengetahui jika Morgan berada di markas Ella. Padahal dirinya ataupun Ella tidak memberitahu keduanya.


Kenapa perlu di beritahu. Bukankah mereka masih bawahan Tuan Haris. Pastinya akan berbicara apapun pada Tuannya.


Saat memarkirkan mobilnya di depan markas, Vano tidak sengaja bertemu keduanya. Nampak mereka juga baru datang. Terlihat keduanya baru saja membuka pintu mobil, keluar dari dalam mobil.


Niat hati ingin ingin menyiksa Morgan. Membuatnya menjerit, merasakan betapa lembutnya jari-jari Vano. Seketika menguap sudah saat dirinya melihat wajah papanya dan juga mertuanya.


Dan ternyata tebakan Vano tidak meleset. Kelihatannya Morgan hanya akan di kurung dalam jeruji besi. Tidak ada yang lainnya.


Entahlah, kenapa kedua orang tua ini masih tetap saja melunakkan hati pada seseorang yang jelas-jelas sudah membahayakan nyawa mereka. Dan keluarga mereka.


Padahal tangan Vano sudah sangat gatal ingin memberi lukisan pada kulit Morgan. Yang dengan berani mengusik kehidupan istrinya. Tapi semua hasratnya hanya akan terpendam dalam angan saja.


"Jika sudah menjadi lawan. Jangan pernah pandang masa lalunya." celetuk Vano mulai tidak sabar.


"Van, lebih baik kamu berangkat ke kantor." ucap Tuan Danto.


"Ckk, papa ini. Bandot tua itu Vano yang tangkap. Seharusnya papa tahu aturan mainnya." protes Vano.


"Tolong Van, mengerti posisi kami." pinta Tuan Haris, mertua Vano.


Vano hanya menghela nafas. Jika dengan papanya mungkin Vano akan membantah. Tapi sekarang, yang bersuara adalah papa mertuanya. Orang tua dari sang istri.


"Apa papa lupa, bagaimana dia hendak mencelakai istriku. Putri papa. Lewat orang-orangnya. Apa orang seperti dia pantas mendapat kesempatan kedua." ucap Vano tidak terima.


"Kami harus meluruskan dulu kesalahpahaman ini Van."


"Tidak ada salah paham di sini. Yang ada hanya nyawa yang akan melayang. Jika bandot tua ini di biarkan berjalan dengan kakinya." desis Vano


"Bunuh saja aku. Sekalian biar kalian puas." teriak Morgan keras, menggema di ruangan.

__ADS_1


Morgan tersenyum misterius pada Vano. Sepertinya dirinya sudah mengetahui kelemahan papanya dan juga mertuanya.


"Brengsek." umpat Vano dalam hati, melihat ekspresi wajah Morgan.


"Selama kalian berdua masih terjebak dengan masa lalu. Kalian tidak akan pernah bisa bertindak. Apalagi di hadapan kalian ini orang licik. Jika tidak di habisi sekarang. Pasti akan menjadi batu sandungan ke depannya." seru Vano sambil mendongakkan kepalanya ke atas.


Mata Vano menyipit melihat sesuatu yang membuatnya merasa penasaran. Vano sedikit mengubah posisi berdirinya. Melihat ke arah atas. Lebih tepatnya, kesudut bagian atas. Vano tersenyum simpul. Mengelus rahangnya.


"Baiklah, terserah papa. Mau papa apakan bandot tua ini. Lebih baik Vano ke kantor saja. Masih ada pekerjaan yang harus Vano selesaikan." ucap Vano.


"Baiklah." ucap Tuan Danto.


"Hati-hati." ujar Tuan Haris.


"Jangan menyesali keputusan yang akan kalian buat." ucap Vano meninggalkan mereka.


Vano melangkahkan kakinya meninggalkan ruang bawah tanah. Belum juga kaki Vano meninggalkan markas, sudah terdengar suara teriakan dari Tuan Danto dan Tuan Haris.


"Morgaaaaannnnn!!!!!" teriak Tuan Haris dan Tuan Danto bersamaan.


Vano tersenyum simpul dan melangkahkan kakinya meninggalkan markas. Seolah telinganya tuli, tidak mendengar teriakan papa dan mertuanya di ruang bawah tanah.


"Memang seharusnya itulah yang terjadi." gumam Vano. Melajukan mobilnya menuju perusahaannya.


Di dalam Vano melihat ada seseorang yang bersembunyi di balik tembok. Memasukkan pucuk senapan dalam lubang kecil. Mata Vano sangat jeli. Dan dia yakin, orang tersebut suruhan Ella.


Mana mungkin dia dan Ella membiarkan Morgan hidup. Tidak akan. Apalagi mereka sudah bersusah payah menangkapnya.


Lagi pula, jika saat ini Ella tidak melakukannya. Vano sendiri yang akan datang dan menghabisi Morgan. Tentunya, tanpa sepengetahuan papanya dan mertuanya.


"Morgan. Bangun." ucap Tuan Haris menepuk kasar pipi dari sahabatnya tersebut.


Kejadiannya sangat cepat. Sehingga Tuan Haris maupun Tuan Danto tidak mengira semua ini akan terjadi.


Di depan mata mereka. Morgan tertembak, tepat di jantungnya. Bahkan tidak terdengar suara tembakan tersebut. Yang ada Morgan langsung memegang dadanya yang sudah berdarah dan tersungkur ke bawah.


"Cari orang itu." perintah Tuan Haris. Membuat semua bawahannya langsung keluar. Mencari penyusup yang membunuh tawanan mereka.


"Mau apa kalian?" tanya rekannya di luar markas.


"Ada penyusup. Dia berhasil menembak mati tawanan. Morgan." ucapnya.

__ADS_1


"Kamu pikir akan ada penyusup masuk dengan mudah ke markas. Apalagi dia seorang diri. Kamu yakin?" tanyanya, tersenyum misterius dan memainkan alisnya.


Membuat semua rekannya seakan mengerti dan mengangguk. "Sebaiknya kalian masuk. Kalian tahukan apa yang harus kita katakan." ucapnya di balas anggukan dari semua rekannya.


Mereka melihat ke sekitar mereka. Memastikan orang suruhan Ella sudah pergi. Sebenarnya mereka juga tidak tahu siapa yang melakukannya.


Tapi tebakan mereka sama. Pasti bawahan Ella yang memakai pakaian yang menutupi semua tubuh mereka, kecuali mata.


Bahkan mereka juga tidak tahu seperti apa wajah mereka. Dan jenis kelamin mereka. Apakah perempuan, atau lelaki.


Sebagian bawahan Ella masuk kembali ke dalam markas. "Maaf Tuan, kami tidak bisa menemukannya." ucap seorang bawahan. Tuan Haris dan Tuan Danto hanya memandang tajam ke arah mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kesempatan hanya datang sekali. Bukan dua kali." ucap Ella melihat drama di layar laptopnya. Dimana Morgan sudah tidak bernyawa.


Memang benar Ella yang melakukannya. Dia menyuruh penembak handal miliknya untuk melenyapkan Morgan.


Ella sama sekali tidak menyukai rasa belas kasihan yang di berikan papanya serta papa mertuanya pada seseorang yang pernah melakukan kesalahan.


Padahal dulu papanya sudah memberi kesempatan pada Morgan untuk menjalani kehidupan baru. Nyatanya, bukan kehidupan baru yang dia ambil. Malah memupuk rasa dendam pada dua keluarga sahabatnya sendiri.


Seperti rencananya, Ella bersiap meninggalkan rumah. Menuju ke rumah sakit. Menjenguk bawahannya yang dirawat di sana. Dan juga Paman Haki.


"Bagaimana?" tanyanya pada Dokter yang merawat mereka.


"Progres yang sangat baik." ucapnya menyerahkan beberapa lembar kertas pada Ella.


"Kesehatan mereka berangsur baik." jelasnya.


"Racunnya." tandas Ella.


"Hampir hilang. Beruntung dosis yang mereka gunakan hanya sedikit. Mungkin mereka mencampur racun tersebut dalam makanan atau minuman berjumlah banyak. Namun mereka hanya menggunakan beberapa tetes." jelasnya.


Ella mengangguk kecil, menandakan dia mengerti perkataan sang dokter. "Terimakasih." ucap Ella menjabat tangan sang dokter. Kaki Ella berjalan melewati ruang dokter kandungan.


Seperti mempunyai magnet tersendiri. Ella berhenti, menoleh ke arah pintu. Pandangan matanya teralih pada perut rata miliknya.


Teringat setiap kali Vano menyentuh perut ratanya sehabis bergumul bersamanya.


Selama masih menjadi pasangan kekasih. Keduanya sering melakukan hal tersebut. Tapi Ella selalu rajin mengkonsumsi pil. Mencegah dirinya untuk hamil. Itupun atas kemauan Vano.

__ADS_1


Baru setelah Vano melamarnya. Berniat dengan sungguh untuk menikah dengannya. Ella memberitahu Vano jika dirinya sudah tidak mengkonsumsi pil tersebut.


__ADS_2