DUNIA MELLANIE

DUNIA MELLANIE
DM eps 35


__ADS_3

"Kamu di mana?"


"Oke."


Vano kembali memasukkan ponselnya setelah selesai menghubungi Vera. Kemarahan Vano sudah berada di ubun-ubun.


Di tempat pemotretan, Vera segera berkemas dan membersihkan diri. "Gue balik dulu." Vera meninggalkan asistennya yang masih sibuk merapikan peralatan dirinya.


Mendengar Vano ingin menemuinya, Vera langsung bergegas meninggalkan tempat pemotretan yang baru saja selesai. Dia ingin bertemu dengan Vano di apartemen miliknya.


"Elo betah banget kerja sama orang kayak gitu." kata seseorang di studio pemotretan pada asisten Vera.


"Cari kerja susah. Buat orang seperti gue yang penting menghasilkan uang. Dan pastinya halal." ujarnya.


Di dalam mobil, senyum di bibir Vera tampak merekah. Ini pertama kalinya Vano menghubunginya. Dan meminta bertemu dengannya.


Mulutnya bersenandung ria menyanyikan lagu selama berada di dalam mobil. Hatinya berbunga-bunga. Dia berpikir pasti Vano sudah menerima kehadirannya.


"Ella, sakit hati gue terbayar lunas." teriaknya dengan lantang di dalam mobil.


"Setelah ini akan tersebar berita yang akan menghebohkan. Vano Reyandli, pengusaha kaya raya dan tampan lebih memilih Vera dari pada Mellanie." ujar Vera dengan tertawa lepas.


"Siapa Mellanie,,, halooo. Sebentar lagi nama elo akan tenggelam. Apalagi, jika orang suruhan gue berhasil. Fantastic. Ella,,, elo akan berakhir. Dan masa keemasan gue, sudah ada di depan mata." ucap Vera merasa dirinya sudah bisa menguasai Vano sepenuhnya.


Tidak terima dengan kegagalan pertama yang di lakukan orang suruhannya, Vera mencari kembali orang untuk menculik Ella. Vera hanya menginginkan video di mana Ella di lecehkan oleh orang suruhannya. Dengan begitu, Vano akan meninggalkannya.


Sampai di dalam apartemen, Vera langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian yang seksi. Menampilkan beberapa bagian tubuhnya. Dia berharap penampilannya akan menjadi sambutan yang sangat manis untuk Vano.


Vera membuka pintu begitu Vano datang. "Honey, ayo." dengan manja Vera membawa Vano masuk ke dalam.


Tangannya bergelayut dengan manja di lengan Vano. "Aku punya wine terbaik." Vera hendak berjalan meninggalkan Vano. Tetapi lengannya di cekal oleh Vano.


"Kenapa honey?" Vera merasa Vano tidak ingin di tinggalkan oleh dirinya.


Vera merapatkan badannya ke tubuh Vano. Kepalanya di sandarkan pada dada.


Awww.... Vera berteriak saat rambut di kepalanya tertarik ke belakang. Tangan Vera reflek memegang rambutnya. "Van... sakit." erang Vera.


"Sudah ku katakan, jangan macam-macam denganku." tangan Vano beralih mencengkeram erat dagu Vera dan membawanya menghadap dirinya.


"Sakit Van, lepas. Apa salahku."


"Karena tanganmu telah lancang." Vano mengambil tangan Vera dan memelintirnya.


"Aw,,,, Van,,, sakit. Lepas." rintih Vera.


"Lepas." Vano tertawa smirk dan menghempaskan tubuh Vera ke belakang.


"Apa salahku." tanya Vera dengan nada setengah berteriak.


"Salahmu. Salahmu. Ada pada otakmu. Dan lihat ponselmu." sarkas Vano.


Degg,,,,


"Tidak mungkin." batin Vera menggeser tubuhnya ke belakang.

__ADS_1


Mata Vano memancarkan amarah. Seakan sudah bersiap untuk menghabisi lawannya. Rahangnya mengeras sempurna.


"Bagaiman Vano bisa mengetahui tentang foto tersebut." batin Vera takut.


"Honey, dengarkan dulu penjelasan ku." Vera hendak merayu Vano.


Vera berdiri dan mendekat ke arah Vano berdiri.


"Aku.... Van.. Ah ah ah..." teriak Vera saat Vano mencekik lehernya.


"Kamu hanya sampah untukku. Jadi kamu harus tahu batasan dan tempat mu." Vano menyeret Vera keluar dari apartemen.


Di lorong apartemen mereka berpapasan dengan beberapa orang. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani ikut campur meskipun melihat Vano dengan tega menyeret Vera.


Vera selalu meminta tolong saat mereka berpapasan dengan beberapa orang, dengan wajah yang sudah basah karena air mata. Tapi tidak ada satupun yang memandang ke arah Vera.


Mereka enggan berurusan dengan Vano. Karena mereka tahu siapa Vano. Mereka memilih untuk berpura-pura tidak melihat saat Vano menyeret Vera. Dan menulikan pendengaran mereka ketika Vera meminta tolong.


Vano menghempaskan tubuh Vera ke dalam mobil. "Mau di bawa gue." batin Vera.


Vera merasa takut. Sebab dia tahu siapa Vano. Selama ini tidak ada yang berani menyentuhnya. "Bagaimana ini, apa yang harus gue lakukan. Gue nggak mau mati." batin Vera.


Vera memberanikan diri untuk kembali membuka mulutnya. Dia berencana merayu Vano.


"Honey, aku benar-benar nggak tahu soal foto kita. Sumpah." Vera memandang ke Vano penuh harap.


"Kapan aku menyebut tentang foto." ujar Vano.


Seketika raut wajah Vera berubah pucat. Dirinya mengutuk mulutnya yang berbicara tanpa berpikir.


Vano mengulurkan tangannya dan memegang leher Vera. "Diam. Jika masih ingin berada di dunia ini." Vano mendorong tubuh Vera ke belakang.


"Aaawww..." Vera memegang bahunya yang sakit karena terkena pintu mobil.


Di tempat lain, Ella dan Reza sudah sampai di sebuah tempat yang di minta oleh Ella. Gedung kosong.


"Keluar." Ella membuka bagasi.


Ella berjalan di belakang mereka. "Jalan." ucapnya.


Reza segera menghubungi Vano dan memberikan keberadaannya sekarang.


"Aaaa,,,,." teriak salah satu dari lelaki tersebut.


Sampai di dalam gedung Ella menyabetkan pisau lipat yang selalu di bawanya tepat di wajah lelaki tersebut. Darah menetes dari bekas sabetan tersebut.


Ella berjalan ke arah seorang lelaki yang memegang kakinya karena di tembak oleh Ella. Lelaki tersebut menyeret kakinya dan berjalan mundur. " Lepaskan kami. Akan aku beritahu siapa yang menyuruh kami." ucapnya.


Aaaaaa,,,,,, Ella menginjak telapak kakinya yang sebelumnya telah Ella lukai menggunakan senjata api.


Dari belakang salah satu dari mereka hendak menyerang Ella.


Doorrrr.... Ella mengambil pistol dari balik bajunya.


Ella menembaknya tepat di perut. Lelaki tersebut terperosot ke lantai dengan wajah pucat dan tangan memegang perutnya yang sudah mengeluarkan cairan merah dari dalam perut.

__ADS_1


Dari luar, Reza berlari setelah mendengar suara tembakan. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Ella.


Reza diam saat melihat semua yang terjadi di depan matanya. Manik matanya memindai semua orang yang berada di dalam.


Seseorang yang tergeletak dengan bersimbah darah. Seorang yang duduk dan meringis memegang telapak kakinya. Dan Ella yang berdiri tegap dengan kaki menginjak telapak kaki seseorang di depannya.


Ella mencekik lelaki di depannya. "Mana keangkuhan yang kau tunjukkan tadi."


Ella melepas lelaki di depannya, saat lelaki tersebut kehabisan nafas. Nafas lelaki tersebut tersengal-sengal dengan badan jatuh ke lantai. Ella beralih memandang seseorang lagi.


Berjalan dengan santai dan tenang mendekat padanya.


Tangan kiri memegang pisau lipat dan tangan kanan memegang pistol.


"Lepaskan aku. Akan kulakukan apapun yang kamu mau."


"Apapun." Ella tersenyum jahat dan berjongkok di depannya.


"Apapun." ujarnya menyakinkan Ella.


"Baiklah. Aku suka orang seperti kamu." Ella berdiri dan


Doorrr....


Ella kembali menembak seorang yang sempat dia tinggalkan. Dua lelaki kini sedang dalam keadaan sekarat. Sedangkan seorang lelaki hanya bisa memandang teman-temannya dengan perasaan takut.


Menyesal, kenapa dia ikut terlibat dengan masalah seperti ini. Niat hati ingin mendapatkan uang dan kesenangan, malah melihat teman-temannya meregang nyawa. Dan dirinya kini sedang berada di ujung tanduk.


Reza tercengang melihat Ella dengan mudahnya menembakkan senjata api dari tangannya. Bahkan tanpa rasa takut membunuh keduanya.


"Bawa Vera kemari." Ella memandang ke arah Reza.


"Dia dalam perjalanan ke sini bersama Tuan Vano."


"Baiklah. Kita tunggu." Ella menyandarkan badannya di dinding dan mengeluarkan ponselnya.


Ella seperti mengirimkan pesan tertulis pada seseorang. Dan kembali memasukkan ponsel ke dalam sakunya.


"Mengerikan. Ternyata dia tak kalah mengerikan dari Tuan Vano." batin Reza.


"Tapi sifatnya yang seperti ini, menambah kecantikannya." batin Reza.


"Sadar Reza, kubur keinginanmu itu. Kubur dalam-dalam. Kau seperti pungguk merindukan bulan. Bangunlah dari mimpimu." batin Reza memejamkan mata dengan menyandarkan badannya di dinding sebelah Ella.


*****


Apa yang akan Ella lakukan pada Vera. Kenapa dia harus menunggu kedatangan Vera.


🤔🤔


Dan Ella mengirimkan pesan tertulis pada siapa.


Aaahhhh,,,, author kepo nichhh...


😎😎

__ADS_1


__ADS_2