
Berkali-kali Ella menetralkan degup jantungnya. Saat ini Ella berada di dalam kamar mandi. Dan Vano, masih terlelap dalam tidurnya.
Ella memegang tespeck pemberian mertuanya. Ada rasa ragu intuk memakainya. Tapi dirinya juga tidak ingin membuat kecewa.
"Setidaknya gue harus mencobanya." ucap Ella mengambil keputusan. "Apapun hasilnya." imbuh Ella.
Dengan jantung berdebar, Ella menunggu hasilnya. "Kenapa gue gugup." batin Ella melihat ke arah benda pipih panjang yang sudah di celupkannya ke dalam wadah urin miliknya.
Ella memejamkan mata dan tersenyum. Bahkan dirinya juga menangis. "Garis dua." ucap Ella dengan bibir bergetar.
POSITIF
"Terimakasih Tuhan." Ella mengelus perutnya yang masih rata.
Dengan perasan yang tidak bisa di jabarkan, Ella keluar dari kamar mandi. Naik ke atas ranjang kembali.
Vano terbangun merasakan pergerakan Ella. "Sayang, kamu baik-baik saja?" dengan khawatir Vano bangun dari tidurnya. Terlebih dia melihat air mata di pipi Ella.
Ella tersenyum. Tanpa berkata apapun Ella memberikan benda pipih tersebut pada Vano. Bukannya menerimanya, Vano malah tersenyum. "Jika tidak mau menggunakannya tidak apa-apa. Aku tidak marah." ucap Vano dengan lembut.
Vano mengira jika Ella berpikir dia marah karena dia tidak mau memakai alat untuk mengetes kehamilan.
"Sudah aku pakai." ucap Ella dengan lembut.
"Sudah kamu pakai?" tanya Vano memastikan apa yang di dengarnya. Dan Ella mengangguk.
Mata Vano beralih memandang ke arah benda yang masih berada di tangan Ella. Memang benda tersebut sudah tidak berada dalam kemasannya.
Vano hanya diam. Memandang Ella dan benda tersebut bergantian. Seperti Ella saat ingin memakai alat tersebut.
Vano juga ragu untuk mengambil alat tersebut dari tangan Ella. "Apa hasilnya?" tanya Vano, lantaran Ella memegangnya dengan cara menyembunyikan hasilnya di bawah.
"Ini. Ambil" ucap Ella dengan tenang.
"Bagaimana hasilnya?" bukannya mengambil benda tersebut, dan melihatnya sendiri, Vano malah bertanya lagi pada Ella.
"Kamu lihat sendiri. Tapi jangan kecewa." ucap Ella membuat Vano menatap Ella dengan tatapan yang rumit.
"Negatif." tebak Vano.
"Makanya, kamu lihat sendiri." kekeh Ella tidak mau memberitahu hasilnya pada Vano.
"Aku ambil nih." tanya Vano.
Vano menarik nafas pelan dan membuangnya dengan kasar. Tangan Vano terulur mengambil benda kecil dan pipih tersebut dari tangan istrinya.
"Kenapa lebih mudah menarik pelatuk pada pistol." gumam Vano membuat Ella terkekeh.
Mata Vano mengerjap saat dia mengetahui hasilnya. Beralih memandang Ella. Dangan pandangan yang mengisyaratkan pertanyaan. "Positif." ucap Vano lirih.
"He-eh." jawab Ella pelan.
"Serius." tanya Vano dengan badan condong ke depan.
"Iya." ucap Ella. Padahal Vano sudah melihat hasilnya sendiri.
Dengan spontan, Vano menangkup kedua pipi Ella, mengecup seluruh wajah Ella berkali-kali. Memandang Ella, lalu memeluknya. Vano tidak bisa berkata apapun.
Rasanya mulutnya kelu, bibirnya juga hanya bisa tersenyum. Bahkan, mata Vano sampai berkaca-kaca.
"Kamu senang?" tanya Ella.
"Banget." ucap Vano. "Sebentar." imbuhnya.
Vano mengambil ponsel dan menghubungi Reza. "Berikan bonus untuk seluruh karyawan." ucap Vano pada Reza melalui ponsel. Tanpa mendengar perkataan Reza, Vano mematikan sambungan teleponnya.
"Vano." ucap Ella.
"Sebagai rasa syukur dan terimakasih pada Tuhan." ucap Vano.
"Kamu tahu betapa senangnya aku. Setidaknya, mereka juga merasakan senang. Meskipun aku yang lebih merasakan kebahagiaan ini." imbuh Vano.
Ella benar-benar tidak menyangka akan mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut suaminya. "Kamu benar-benar sudah berubah." batin Ella.
"Ambilkan ponselku." ucap Ella, karena ponselnya berada di meja samping tempat tidur. Dan Vano berada lebih dekat dengan tempat itu.
__ADS_1
"Mau apa?" tanya Vano melihat sang istri memfoto benda pipih, kecil, dan panjang tersebut.
"Mau aku kirim ke Mama Ane dan Mama Risma." ucap Ella masih fokus ke layar ponselnya.
"Ini kita masih di rumah Mama Risma." ujar Vano mengingatkan.
"Iya, aku masih ingat." jawab Ella singkat.
"Selesai." Ella meletakkan ponselnya. Menunggu reaksi kedua mamanya. Vano tersenyum, dan mencium kening Ella.
Tak perlu menunggu hingga tiga puluh detik, ponsel Ella telah berdering. Bahkan Mama Ane menginginkan panggilan video call.
"Halo mama." ucap Ella.
Belum sempat Ella berbincang dengan Mama Ane, pintu kamar Vano di buka dengan kasar dari luar. Karena Vano tidak menguncinya semalam. Pasti bisa di tebak siapa pelakunya.
"Sayang." seru mama Risma. Beliau langsung berhambur memeluk Ella.
"Selamat ya, selamat juga untuk mama. Mama mau jadi grandma. Pokoknya, selamat untuk semuanya. Astaga. Kamu akan jadi mama muda." ucap Nyonya Risma dengan antusias dan senang.
"Keluarga kita akan bertambah. ElVan junior akan hadir. Ella Vano." celetuk Nyonya Risma di sambut senyuman dari Ella dan Vano.
"Cucu grandma." Nyonya Risma mengelus pelan dan lembut perut rata Ella yang tertutup kain.
"Ehh.. Ella sampai lupa." ucap Ella teringat jika dia sedang melakukan video call dengan mama Ane.
Nyonya Risma mengetahui jika dilayar ponsel Ella ada wajah besannya. Tanpa berkata apapun, beliau langsung mengambil ponsel Ella dari tangan Ella. Tanpa meminta izin pada pemiliknya.
"Jeng, kita akan jadi nenek." ucapnya dengan senang. Bahkan, Nyonya Risma duduk di kursi yang ada di dalam kamar Vano. Keduanya berbincang dengan rasa senang mereka atas kehamilan Ella.
Vano dan Ella memandang Mama Risma, beralih mereka saling pandang dan tertawa lirih sambil menggelengkan kepala.
"Lihat mereka sangat bahagia." ucap Vano memeluk tubuh Ella dengan pandangan melihat ke arah sang mama.
"Kamu juga senangkan?" tanya Ella.
"Pastilah. Kenapa mesti bertanya. Dasar." Vano mencium pucuk kepala Ella.
"Semua keluarga pasti senang mendengar berita ini." imbuh Vano.
"Apa kamu mual lagi, pusing?" tanya Vano dengan nada khawatir.
Ella menggeleng pelan. "Oma Yeti." ucap Ella lirih.
Vano mengerti kenapa Ella menyebut Oma mereka. "Biarkan saja. Yang terpenting aku dan kedua orang tua kita. Jangan berpikiran yang membuat kamu jadi stres. Ingat sekarang kamu sedang hamil." tutur Vano dengan bijak.
Keduanya terdiam, dengan Vano memeluk Ella dari samping. Sementara Ella menyenderkan kepalanya di dada bidang milik sang suami. Dengan pandangan mereka mengarah pada Nyonya Risma yang masih betah berbincang dengan Mama Ane.
Hingga, terdengar suara ketukan pintu. "Nyonya di cari Tuan." ucap pembantu dengan sopan dari ambang pintu. Lantaran memang Nyonya Risma tidak menutup pintu kamar Ella dan Vano.
"Sudah ya jeng. Suami saya membutuhkan saya. Bye bye." Nyonya Risma mematikan ponsel Ella.
"Mama sampai lupa waktu." Nyonya Risma meletakkan ponsel Ella, mencium dahi sang mantu dan keluar dari kamar.
Saat sudah berada di ambang pintu, Nyonya Risma membalikkan badan. "Kamu harus istirahat sayang. Vano, jangan macam-macam. Istri kamu sedang hamil muda." ucap Nyonya Risma.
"Ma, tutup pintunya." seru Vano.
"Mau macam-macam bagaimana. Mungkin cuma satu macam." kekeh Vano mencium gemas pipi istrinya.
"Van..." Ella memukul lengan Vano.
"Bercanda sayang." ujar Vano, lantaran keduanya sudah mengerti arti dari perkataan sang mama.
"Kamu nggak mandi?" tanya Ella.
"Aku mau menemani kamu di rumah."
"Nggak kerja?"
"Nggak, ada Reza."
"Tapi tetap saja kamu harus mandi. Bau. Cepat mandi, sebentar lagi kita akan turun. Ikut sarapan." ucap Ella.
"Mandi bareng." ajak Vano.
__ADS_1
"Nggak Van." tolak Ella. Takut jika mereka sampai kebablasan. Apalagi Ella belum periksa ke dokter.
"Janji, nggak ngapa-ngapain." ucap Vano mengangkat tangannya, membentuk huruf V.
"Janji." Ella menyodorkan jari kelingking miliknya.
"Janji." Vano menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Ella.
Keduanya mandi bersama tanpa tambahan aktifitas lainnya. Apalagi Ella mual, dan sempat muntah mencium aroma wangi dari sabun mandi yang dia dan Vano pakai.
Keduanya bahkan tidak memakai sabun di tubuh mereka. Hanya memakai di area tertentu. Takut jika Ella kembali muntah. Menjadikan mereka mandi dengan kilat.
"Bagaimana?" tanya Vano setelah mereka keluar dari kamar mandi.
"Sudah mendingan." ucap Ella meminum air putih hangat yang di berikan oleh Vano.
Waktunya sarapan. Semua anggota keluarga sudah berada di ruang makan. Kecuali Ella dan Vano. "Hehhhh,,,, tidak punya sopan. Apa dia lupa, sedang di rumah mertua." nyinyir Oma Yeti.
"Sebagai menantu yang baik seharusnya dia bisa menempatkan diri." omel Oma Yeti kembali.
"Jika Oma sudah lapar, Oma makan dulu. Tidak perlu menunggu kedua anak kami." ketus Nyonya Risma.
Nyonya Risma tersenyum melihat Ella dan Vano turin dari tangga. Dengan tangan Vano melingkar posesif di pinggang sang istri.
Vano menggeser kursinya ke belakang. Mempermudah untuk Ella duduk. Lena menatap ke arah Ella dengan tatapan benci. Melihat Ella diperlakukan seperti ratu oleh Vano.
"Kita kelaparan menunggu kedatangan Tuan Putri." celetuk Oma Yeti.
"Ell, kamu mau sarapan apa? Jika di meja tidak ada yang kamu inginkan, katakan pada pembantu." ucap Tuan Danto memandang Ella.
Karena Tuan Danto sudah di beritahu oleh Nyonya Risma jika Ella sedang hamil. Beberapa pembantu tersenyum dan menanti Ella membuka mulut.
"Dasar manja. Makanan seperti apa yang selalu dia makan. Bukan seperti manusia saja." ucap Oma Yeti.
"Mbok, apa soto tadi malam masih ada. Ella mau itu." ucap Ella menatap pembantu di belakang Oma Yeti.
"Nyonya muda, soto semalam sudah habis. Tapi tadi kami masak soto lagi. Jaga-jaga jika Nyonya menginginkannya." ucapnya dengan sopan.
"Terimakasih. Bisa bawa ke sini. Mbok racik sekalian. Kuahnya sedikit saja, jangan terlalu pedas." ucap Ella.
"Tanpa sambal." ujar Vano.
"Tanpa sambal." ucap Ella, mengulang kembali perkataan Vano. Karena pembantu tersebut nampak bingung.
"Baik, sebentar." ucapnya.
"Ma, pa. Makan dulu saja." ucap Ella.
"Iya sayang." ucap Nyonya Risma mulai mengambil piring kosong milik Tuan Danto, dan mengisinya dengan makanan.
"Biar aku sendiri." kata Vano, saat Ella ingin melakukan hal yang biasa dia lakukan setiap mereka makan.
"Lena. Kerjakan tugasmu!!" ucap Nyonya Risma menatap tajam ke arah Lena. Karena Lena nampak sibuk mengisi piringnya sendiri.
"Jika kamu sudah bosan menjadi baby sister Oma, kamu bisa pergi. Saya yang akan mencarikan pengganti kamu." imbuh Nyonya Risma.
"Risma." ucap Oma Yeti.
"Kenapa, apa Oma bisa mengambil sendiri makanan Oma. Jika tidak ada Lena, Risma yang akan melakukannya. Dengan senang hati. Tapi di sini ada Lena. Untuk apa dia." sengit Nyonya Risma.
"Kheemm..." Tuan Danto berdehem, memandang sang istri dan tersenyum.
Nyonya Risma kembali tenang. Melanjutkan sarapannya. "Tidak di beri nasi?" tanya Vano, karena Ella makan soto seperti semalam. Tanpa nasi. Ella hanya menggeleng.
"Tidak apa-apa Van. Waktu mama mengandung kamu, sekitar lima bulan mama juga tidka makan nasi. Jika mama makan nasi, pasti muntah." jelas Nyonya Risma.
Oma Yeti terdiam dengan tangan berhenti mengambil makanan di piringnya mendengar perkataan putrinya.
Meski Nyonya Risma tidak mengatakan secara langsung jika Ella hamil. Tapi perkataan yang keluar dari mulut Nyonya Risma sudah mengandung makna tersebut.
Dan Lena, dia menelan dengan kasar makanan yang ada di mulutnya mendengar perkataan Nyonya Risma. Sampai tenggorokannya terasa sakit.
"Ella hamil. Kenapa tidak memberitahu?" tanya. Oma Yeti setengah berteriak.
"Seandainya di beritahu, apa yang akan mama lakukan. Berita ini hanya untuk mereka yang menerimanya dengan suka cita. Bukan mereka yang tidak menyukai kehadiran menantu ku." ujar Nyonya Risma.
__ADS_1
Skakmat.....