
Dorr... Ella melepaskan tembakan ke udara. Menembak burung yang sedang bertengger di dahan daun.
"Sial." umpat Ella saat tembakannya meleset. Dan burung tersebut terbang menjauh.
Ella memutuskan untuk melakukan perburuan kecil di tengah hutan. Sendirian. Tanpa memberitahu siapapun. Karena memang dirinya tidak ingin di ganggu.
Semua Ella lakukan untuk melampiaskan amarahnya. Meskipun Ella sudah mengetahui jika Vano tidak melakukan apapun pada perempuan tersebut.
Bahkan Ella juga tahu jika semalam Vano menginap di apartemen. Sendirian.
Ella menyuruh bawahannya untuk segera menyelidiki semuanya. Dan ternyata Vano tidak melakukan sesuatu seperti yang di sebarkan media sosial padanya.
Itu cukup melegakan bagi Ella. Tapi ada rasa kecewa di hati sang model. Melihat sang suami lebih memilih untuk kabur ke bar, dan menenggak minuman laknat tersebut.
Daripada berbicara dengan dirinya. Dari hati ke hati. Padahal status mereka saat ini sudah menjadi pasangan suami istri.
Ella mengambil ponsel dan mematikannya. Dirinya tidak ingin ada satu orangpun yang akan mengganggunya saat ini. Ingin menikmati kebebasan tanpa siapapun.
Kembali Ella mengarahkan pandangan ke sembarang arah. Mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi target selanjutnya. Setelah burung tersebut melarikan diri dengan mudah.
"Ella, Ella. Kau dikalahkan oleh burung kecil." ucapnya terkekeh sembari tersenyum dan menggelengkan kepala.
Ella kembali melangkahkan langkahnya membelah hutan tersebut. Tersesat, Ella tidak takut tersesat. Dirinya seperti sudah hapal dengan seluk beluk hutan tersebut.
Ella pertama kali mengetahui hutan ini saat dirinya masih berseragam biru putih. Saat itu, SMP dimana dirinya bersekolah mengadakan kegiatan jelajah alam.
Dan Ella yang notabennya masih kelas satu SMP harus mengikuti kegiatan tersebut. Mereka melewati hutan ini. Catat, hanya melewati jalan luar hutan ini. Bukan masuk ke dalamnya.
Tapi bukan Ella namanya jika tidak merasa penasaran. Kelas dua SMP, dirinya kembali kesini. Bersama dengan sopir yang selalu menemaninya. Hingga beberapa kali. Dan pastinya tidak diketahui oleh sang papa.
Hingga saat SMA, Ella memberanikan diri kesini. Sendirian. Karena setelah berseragam putih abu-abu, Ella tidak lagi menggunakan sopir. Dirinya lebih senang bepergian sendiri.
Meski dirinya harus berdebat dengan sang papa. Atau paling tidak kabur dari sang sopir. Menggunakan akal liciknya untuk mengelabuhi sang sopir, sehingga dirinya lebih bebas kemanapun dia ingin pergi.
Ella menengadahkan kepalanya, melihat burung-burung yang beterbangan bebas di atas. Kaki Ella berlari kecil, menuju tempat seperti padang rumput. Namun tidak terlalu luas.
"Jika saja hutan ini ada yang menghuni, pasti sekarang akan ada anak-anak kecil yang bermain layangan. Di sini." gumam Ella setelah kakinya menginjak rumput tebak nan indah di bawahnya.
Mata Ella bagai burung elang yang sedang mengawasi mangsa. Tangannya sudah siap untuk membidik sasaran. Mencoba fokus.
Doorrr,,,,, "Kena." ucap Ella berlari ke arah di mana seekor burung jatuh ke tanah.
__ADS_1
Pemburuan liar. Ella tidak ingin di sebut seperti itu. Karena setiap ke sini, Ella hanya akan menembak paling tidak satu atau dua ekor burung. Dan itupun Ella tidak sering melakukan.
Jadi menurutnya, dia tidak membuat punah burung-burung yang berterbangan di atas kepalanya. Terserahlah apa yang di inginkan Ella.
Tangan Ella terukur mengambil burung yang sudah tidak bernyawa tersebut. "Maaf." ucapnya mengelus pelan bulu burung yang sudah tidak bernyawa tersebut, terdengar tulus. Ada-ada saja.
"Ini sudah akan membuatku kenyang, untuk makan siang." Ella melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Ella menyampirkan senapan di pundaknya. Bersama dengan tas ransel yang berada di punggungnya.
Di bawah pohon rindang, Ella mendaratkan pantatnya. Menyeka keringat di dahinya. Tangannya bergerak mengibas di depan wajahnya. Panas.
Mengambil pisau dari dalam ransel miliknya. Berjalan menuju suara gemericik air yang tak jauh dari tempatnya duduk.
Dengan lihai dan cepat, Ella membersihkan kotoran dalam tubuh burung tersebut. Selesai, dia kembali membawanya kembali.
"Gue sudah seperti di film-film. Makan burung dari hasil tangkapan."cicitnya, mulai mengumpulkan dahan dan ranting kering di sekitarnya.
"Kenapa gue jadi kepikiran untuk bisa memanah. Kelihatannya mengasyikkan." ucapnya dengan membakar dahan kering menggunakan korek api yang di bawanya.
Dan juga membayangkan seandainya dirinya bisa memanah. Pasti menakjubkan.
Karena Ella bukan orang yang sedang tersesat, yang tanpa persiapan. Dia tidak menggunakan dua buah batu yang di gesekkan, untuk menghasilkan api.
Duduk santai, menancapkan burung pada dahan yang sudah di lancipi ujungnya. Meletakkannya di atas api. Sambil membolak-balikkan burung tersebut.
Ella menancapkan dahan untuk memanggang burung ke dalam tanah. Tangannya mengambil sesuatu dari dalam tas.
Bibir Ella tersenyum saat benda yang dicari dan sudah di persiapkan berada di tangannya. Sebuah botol kecil berisi sesuatu yang pastinya akan membuat enak rasa daging burung tersebut.
Ella menabur-naburkan pada burung yang masih belum matang. Atau lebih tepatnya, bulunya baru saja hilang kerena terbakar. Dan kembali memanggangnya.
"Hemmm,,, harum." hidung Ella mengendus wangi dari hewan kecil buruannya tersebut.
Sekira sudah matang, Ella memakan hasil buruannya. "Enak." cicit Ella, sembari meniup-niupnua. Ella sudah lama tidak melakukan ini. Karena jadwal pemotretan yang padat.
Tubuh Ella waspada. Seakan merasakan ada bahaya yang mengintai dari belakang. Dengan pelan diletakkan makanan yang sedang dia makan dari tangannya.
"****." umpatnya lirih, menyadari jika pistolnya sudah dia masukkan ke dalam tas.
Dengan gerakan pelan, Ella mencari senjata yang mungkin terselip di pinggang atau bajunya. Dengan erat tangan Ella memegang pisau lipat. Mengeluarkan dari balik jaketnya dengan pelan.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Ella berdiri, menggerakkan badan dan seet..... melemparkan pisau lipat ke belakang.
"Waoww..." ucap seseorang yang sudah berdiri di belakang Ella. Gerakan tubuhnya yang gesit mampu menghindar dari serangan mendadak dari Ella.
Ella menatapnya tajam. Seakan dia adalah ancaman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Vano tengah uring-uringan. Anak buahnya satupun tidak bisa mendapatkan informasi keberadaan sang istri.
"Kenapa semakin lama kamu semakin menjauh dariku Ell. Kami seperti bayangan, yang tidak bisa aku kejar." Vano mencubit-cubit pangkal hidungnya, meredakan emosinya.
Tapi Vano tidak terlalu riskan dengan berita di media sosial. Karena mengetahui jika Ella sudah menyuruh bawahannya untuk menyelidikinya. Dan Vano yakin, jika Ella sudah mengetahui kebenarannya.
"Tuan, apa anda ingin ke markas sekarang?" tanya Reza.
"Apa dia sudah kamu tangkap?" bukannya menjawab, Vano malah balik bertanya pad Reza.
"Sekarang tikus itu sudah berada di markas." jelas Reza.
Tanpa berkata apapun, tangan Vano menyambar jas yang berada di sandaran kursi. Melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen. Dengan Reza mengekor di belakang.
Markas adalah tujuan utamanya. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Vano hanya diam. Menatap ke samping. Entah apa yang ada di dalam benaknya saat ini.
Reza yang sedang mengemudi di depan, selalu mencuri pandang ke arah atasannya tersebut. Dan Reza yakin, jika Vano sedang dalam dilema.
"Tuan,," sapa anak buah Vano menundukkan badan menyambut kedatangan boss mereka.
"Tuan Vano." ucapnya sembari merangkak ke arah Vano yang berdiri dengan angkuh. Badannya sudah penuh dengan luka lebam.
"Aku berjanji, tidak akan menyebarkan foto-foto anda yang lain. Jika anda melepaskan saya." ucapnya dengan bodoh meminta pengampunan dari iblis seperti Vano.
Vano memicingkan matanya mendengarkannya. Mengangkat dagu orang tersebut menggunakan ujung kakinya. "Apakah itu sebuah kesepakatan, atau ancaman?" tanya Vano remeh.
"Saya berjanji Tuan. Tapi, jika anda tetap mengurung saya di sini. Saya pastikan teman saya akan menyebarkan foto anda." ucapnya, mengulangi perkataannya yang bodoh.
Vano menoleh ke arah Reza. Dengan segera Reza membisikkan sesuatu pada anak buahnya yang berdiri di sampingnya.
"Baik." ucapnya, dan segera meninggalkan markas. Melakukan perintah dari Reza.
Vano berjongkok. "Jadi, jika aku melepaskanmu. Maka kamu berjanji untuk menyimpan foto-foto itu?" tanya Vano dengan lembut. Dan dengan bodohnya, orang tersebut mengangguk penuh keyakinan.
__ADS_1
Dirinya sangat yakin, jika Vano akan melepaskannya. Karena rasa takut dari ancamannya.