
Vano enggan untuk membuka pintu kamar mandi. Dirinya takut jika tidak bisa mengendalikan diri saat melihat Ella dalam keadaan tanpa sehelai benang melekat di badannya.
Vano memutuskan untuk memanggil Ella dari luar. "Jangan lama-lama sayang mandinya, nanti kamu sakit. Ini sudah malam." teriak Vano dari luar.
Ella yang sedang memakai handuk di dalam tersenyum mendengar suara Vano. "Dia tidak masuk." gumamnya.
"Kenapa terasa sedikit sakit ya." Ella menggerakkan pelan tangannya, membuat pundaknya merasakan sedikit nyeri.
"Apa dokternya sudah datang?" tanya Ella keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuh seksinya.
Glekkk....
"Begini saja, sudah membuat junior gue menegang. Apalagi jika tadi gue masuk dan melihat tubuh Ella yang toples. Pasti." batin Vano sembari menggelengkan kepala.
"Vann..." panggil Ella saat
melihat Vano hanya diam sembari menatapnya.
Vano menahan gairahnya. Mengambil nafas, dan mencoba menguasai dirinya. "Kenapa tidak pakai baju. Mau menggoda aku. Hemmm." Vano mencubit gemas hidung mancung sang model.
"Sulit pakai baju. Sakit." Ella sedikit meringis, mengusap lengan atasnya.
"Astaga sayang,," Vano merasa khawatir melihat luka di pundak Ella.
Segera dia mengambil ponsel. Saat dirinya hendak menghubungi dokter, Vano mendengar bunyi bel apartemen. "Sebentar, mungkin itu dokternya."
Vano bergegas membuka pintu. Mengerutkan dahi saat mengetahui siapa yang datang. "Kenapa kamu?" tanyanya.
"Maaf Tuan, Dokter Indri sedang di luar kota. Beliau menyuruh saya untuk menggantikannya." ucapnya dengan sopan.
"Kenapa penggantinya lelaki." batin Vano melihat Dokter muda dan tampan di depannya dengan seksama.
"Kamu tunggu di sini." ucap Vano dengan nada datar tanpa ekspresi mempersilahkan sang Dokter untuk menunggu di ruang tamu.
"Bagaimana?" tanya Ella.
"Kamu pakai baju dulu." Vano bermaksud membantu Ella menggunakan pakaian.
"Van nanti saja, setelah di periksa Dokter Indri." Ella menolak saat Vano memakaikan pakaian untuknya.
Dokter Indri adalah salah satu Dokter pribadi keluarga Tuan Danto. Selain Dokter Indri masih ada satu lagi Dokter pribadi keluarga Vano. Dan beliau adalah seorang dokter berjenis kelamin lelaki.
"Bukan dokter Indri yang datang." ucap Vano.
Ella masih memandang ke arah Vano. "Aku sendiri juga tidak tahu kemana dokter Indri. Beliau tidak memberitahu sebelumnya. Nanti akan saya tanyakan." jelas Vano kesal karena yang datang malah dokter lelaki, muda tak kalah tampan dari Vano.
"Ehhh, ternyata beliau mengirimi ku pesan. Tapi belum aku buka dan baca. Dokter Indri sedang berada di luar kota. Ada kepentingan keluarga." jelas Vano sembari membaca pesan yang di kirim oleh dokter Indri.
Ella membuka lemari, mencari pakaian yang nyaman ia pakai. "Lebih baik aku pakai ini saja." Ella mengambil kemeja supaya lebih mudah memakainya.
"Biar aku bantu." Vano membantu Ella memakai pakaiannya.
"Biar aku saja Van." Ella merasa sungkan pada Vano.
"Tidak apa-apa sayang."
Dengan telaten, Vano memakaikan pakaian pada Ella. Bahkan dia juga memakaikan pakaian dalaman ke tubuh Ella. Padahal pundak Ella tidak terlalu sakit, dia masih kuat hanya untuk memakai pakaian saja.
__ADS_1
Tapi dia membiarkan Vano melakukan semuanya. "Sampai di mana kamu bisa menahan hasrat kamu Van. Jika kali ini kamu bisa menahannya, aku akan memberi kamu kesempatan." batin Ella memandang Vano yang dengan telaten memakaikan celana pada dirinya.
"Sudah sayang." Vano menghela nafas panjang. Ella yang melihatnya tersenyum samar. Ella paham betul jika Vano saat ini tengah berperang dengan hasratnya.
"Sebentar Van, aku mau merapikan rambutku."
"Tidak perlu sayang, begini saja." Vano memeluk Ella dari belakang. Mana mungkin Vano membiarkan Ella berdandan. Tanpa Memakai riasan saja Ella sudah terlihat cantik, apalagi berdandan.
"Ayo sayang, kasihan dokternya menunggu lama." Vano membawa Ella keluar untuk menemui dokternya.
Degggg,,,, Mata sang dokter terpesona melihat Ella. "Ternyata dia lebih cantik dari pada yang terlihat di majalah. Apalagi tanpa make-up sedikitpun di wajahnya." batin dokter.
"Khemmm. Segera selesaikan pekerjaanmu." Vano menyadari jika pandangan mata sang dokter terfokus pada Ella.
Apalagi terlihat dengan jelas pandangannya adalah pandangan kagum dan terpesona pada Ella. Dan itu membuat Vano meradang. Tapi karena dia memerlukan dokter tersebut, Vano harus menekan emosinya.
Sang dokter segera mengobati luka di pundak Ella. Dia ingin segera menyelesaikannya. Apalagi Vano selalu mengamati setiap gerakannya. Sang dokter seperti bekerja di bawah tekanan.
Ella menahan senyumnya, rasanya sangat bahagia melihat Vano merasakan cemburu pada dirinya.
"Jika sudah selesai, kamu lebih baik segera meninggalkan apartemen." ucap Vano.
"Ini resep obatnya Tuan. Anda bisa membelinya di apotik." jelas dokter menyerahkan kertas kecil bertuliskan resep obat untuk Ella.
"Tidak perlu kamu beritahu, aku juga sudah tahu jika harus membeli di apotik." sinis Vano.
"Van,,," tegur Ella. Tapi Vano hanya acuh dan mengalihkan pandangannya.
Setelah selesai, sang dokter segera meninggalkan apartemen Vano. Rasanya jika terlalu lama, maka pasti dirinya akan mati ketakutan karena tatapan intimidasi dari pemilik apartemen.
"Van, tadi kamu bawa apa ke kamar?" tanya Ella. Karena tadi Ella sempat melihat ada nampan berisi makanan di atas meja kamar Vano.
"Maaf, aku lupa sayang." Vano menaruh nampan di atas meja depan Ella.
"Yah,,, dingin." dengus Vano saat membuka penutup makanan.
"Siapa yang masak?" tanya Ella.
"He he he,,, pesan sayang. Aku kan nggak bisa masak." ucap Vano sembari tersenyum.
"Aku lapar Van. Bisa minta tolong." ucap Ella.
"Apa?"
"Suapin aku. Tanganku terasa sakit jika digerakkan. Itupun jika kamu mau. Maaf." ucap Ella.
"Sebentar sayang, aku akan pesankan lagi. Ini sudah dingin."
"Tidak perlu Van, ini saja. Aku sudah lapar."
"Baiklah." Vano dengan telaten menyuapi Ella.
Setelah selesai menyuapi Ella, Vano keluar untuk membelikan Ella obat di apotik terdekat. Dan Ella menunggu sambil melihat acara televisi.
"Seperti suara ponsel gue." gumam Ella berdiri dan mengambil ponselnya yang berada di dalam kamar.
Egi calling....
__ADS_1
Halo Gi,,,
^^^Elll....^^^
Ada apa?
^^^Aku mau pamit.^^^
Pamit,,,,
^^^Iya, besok aku mau ke luar negeri.^^^
Jalan-jalan.
Jangan lupa oleh-olehnya loww
^^^Mungkin aku akan lama di sana Ell.^^^
^^^Perusahaan almarhum papa sedang kesulitan.^^^
^^^Ell....^^^
^^^(Egi memanggil Ella karena Ella tidak bersuara)^^^
Kamu pergi bukan karena aku kan.
^^^Ngaco, ya nggak lah.^^^
Baiklah, hati-hati.
Maaf, tidak bisa mengantar.
^^^Iya, tidak apa-apa.^^^
^^^Ya sudah Ell,, aku tutup telponnya.^^^
Iya.
………………
"Semoga saja dia pergi bukan karena alasan waktu itu." gumam Ella.
"Oh, iya. Dian. Bagaimana keadaannya sekarang." batin Ella.
Segera Ella menghubungi bawahannya dan menanyakan keadaan Dian.
"Ternyata dia masih sama. Ulet juga." ucap Ella setelah mendapat laporan dari bawahannya jika Dian masih mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Aku harus memberitahu Hana, untuk melanjutkan rencana. Gue yakin, lama-lama dia akan membuka suara. Hehhhh,,,, mana mungkin dia setega itu membiarkan anak panti mati satu-persatu." ucap Ella dengan melihat ke layar ponselnya.
Di mana ada foto beserta video yang di kirim Hana kemarin. "Tampak seperti nyata."
Ella mencari kontak Hana dan mengiriminya pesan tertulis.
HAN, DIA MASIH BELUM BUKA SUARA. KAMU LANJUTKAN RENCANA KITA.
Tidak lama, terdengar bunyi dari ponsel Ella. Ternyata balasan dari Hana.
__ADS_1
BAIK BOSSS. DENGAN SENANG HATI.
Ella tersenyum setelah membaca pesan dari Hana. Meletakkan ponselnya di atas meja, dan berjalan kembali ke ruang tengah. "Vano lama sekali." batin Ella.