
Beberapa tahun kemudian..
Saat ini triplets sudah duduk di bangku sekolah menengah atas yang cukup terkenal di negara mereka.
Triplet dan kedua orang tua nya beserta kedua adik kembarnya memutuskan untuk menetap di negara kelahiran sang Papa, bersama Lexa dan juga grandpa mereka.
"Mom, kenapa kita nggak tinggal di rumah lama kita aja sih."tanya Langit pada Sang Mama.
"Nak nurut aja ya apa kata Papa, ini yang terbaik buat kita semua."ujar Lana.
"Hmm, baiklah."jawab lesu Langit.
*Tunggu aku kembali, ku harap kau bersabarlah.*batin Langit.
Sedangkan di belahan negara lain, ada seorang gadis yang harus merelakan orang yang dia cintai mengikuti kedua orang tua nya untuk menetap di negara kelahiran sang Ayah.
*Ku harap kau menepati janji mu untuk menjemput ku dan kembali bersamaku.*batin gadis itu.
****
Sudah satu bulan lamanya Triplets menduduki bangku SMA, semenjak menetap di sini Langit jauh berubah. Yang awalnya dingin dan irit bicara, bukannya malah berubah tapi malah bertambah dingin dan cuek pada sekitar.
"Bang lo kenapa, lo nggak seneng kita sekolah di sini."tanya Fuji.
"Bukan itu."
"Terus."
"Rindu mansion lama aja."
"Kalau rindu akhir tahun ini kita ke sana gimana."
"Oke."
"Lo irit amat sih ngomong nya, yang hangat dikit dong. Kalau lo kayak gini siapa yang mau sama cowok kulkas duabelas pintu kayak lo."
"Bodo, apa peduli gue."
"Ihh lo nggak asik Bang."ujar Fuji yang langsung pergi dari hadapan Langit.
*Gue rindu lo.*
"Lo lagi apa di sana, apa lo masih inget sama janji kita atau jangan-jangan lo udah lupa sama janji lo ke gue. Bahkan satu bulan ini lo nggak ada ngasih kabar ke gue."ujar seorang gadis di belahan dunia sana yang sedang merindukan sosok laki-laki yang selalu melindunginya dari apapun.
"Bang, lo di panggil Papa."ujar Fuji.
"Ngapain."
__ADS_1
"Ya mana gue tau, lo tanya aja sendiri."
Tanpa pikir panjang lagi, Langit langsung bangkit untuk menemui Papa nya.
"Mah, Papa mana kata Fuji Papa nyariin aku."ujar Langit pada Lana karna tak menemukan keberadaan Papa nya.
"Papa lagi di taman belakang sayang."
"Ooh aku temuin Papa dulu Mah."
"Ya udah sana."
Langit langsung menuju taman belakang di mana Papa nya berada.
"Pah, Papa nyariin aku."ujar Langit saat sudah berada di hadapan Papa nya.
"Iya, duduk sini ada yang mau Papa bicarakan sama kamu."ujar Kenzo.
Langit langsung duduk di kursi kosong sebelah Papanya, ada rasa penasaran apa yang ingin di bicarakan oleh Papanya.
"Papa mau bicarain apa sama aku."tanya Langit yang sudah tak bisa membendung rasa penasarannya.
"Papa mau kamu ke Negara Jakarta."ujar Kenzo yang langsung pada intinya.
"Ngapain."ujar Langit yang sekarang entah bagaimana perasaannya, antara senang dan sedih semua menjadi satu.
"Lulus aku masih lama Pah."
"Iya Papa tau, makanya Papa bilang dari sekarang biar kamu bisa persiapkan diri kamu dengan baik."
"Hanya aku sendiri."
"Ya."
"Lintang."tanya Langit.
"Dia kan mengurus anak cabang Grandpa di Negara California."
"Papa yakin dia mau."
"Mau tidak mau Papa tidak peduli, ini semua demi kebaikan kalian. Papa hanya ingin kalian mandiri."
"Fuji."
"Dia akan tetap di sini, karna dia anak perempuan satu-satunya. Dan untuk twins biar mereka selesaikan dulu sekolah mereka di sini, nanti saat sudah lulus Papa juga akan menyuruh mereka untuk membantu kamu dan Lintang."
"Terus Kak Lexa gimana Pah."ujar Langit yang ingin bagaimana nasib Kakak nya itu.
__ADS_1
"Dia ingin melanjutkan sekolah nya ke Paris."
"Apa harus secepat ini kita berpisah Pah."ujar Langit menatap lurus ke depan saat harus membayangkan kalau harus berpisah dengan orangtuanya dan kedua adiknya secepat ini.
"Papa tidak punya pilihan lain lagi, kalian lah yang akan meneruskan ini semua. Papa sudah tidak muda lagi, Papa ingin menikmati masa Tua Papa bersama Mama tanpa pusing memikirkan urusan perusahaan."ujar Kenzo yang saat ini usia nya memasuki kepala 40+, tidak ada bagi nya untuk bermalas-malasan lebih cepat lebih baik agar anak-anak nya bisa segera mandiri.
"Baik kalau itu yang Papa inginkan, Langit akan berusaha semaksimal mungkin."
"Papa percaya padamu Nak."
Kedua masih betah duduk di halaman belakang, berbeda dengan Lintang yang tak sengaja mendengar pembicaraan Papa dan Abangnya.
"Apa harus secepat ini gue pisah sama mereka semua."ujar Lintang yang tak sanggup membayangkannya karna dari kecil mereka selalu bersama-sama sampai sekarang.
****
"Pah, boleh lintang bicara bentar sama Papa."tanya Lintang pada Kenzo.
"Ke ruang kerja Papa."jawab Kenzo, mereka berdua langsung menuju ke ruang kerja Kenzo.
Setelah berada di dalam, Lintang menjadi sangat gugup untuk memberi tahu alasan apa untuk mengajak Papa nya bicara berdua begini.
"Katakan saja tak apa."ujar Kenzo.
"Lintang nggak mau pergi ke California Pah, Lintang mau di sini ngurus perusahaan Papa."ujar Lintang.
"Kenapa, apa kmu sudah punya pacar di sini makanya nggak mau pergi."
"Tidak."
"Lalu."
"Lintang belum siap aja harus tinggal terpisah dari kalian semua, dari kecil kita semua selalu bersama tapi kenapa saat sudah besar harus tinggal terpisah begini, ini semua sangat berat buat Lintang Pah."
Setelah mendengar alasan putra nya, Kenzo langsung bangkit dan duduk di samping putranya itu.
"Dengerin Papa, semua ini Papa lakuin untuk kebaikan kalian. Papa tidak masalah kalau kamu tidak mau mengurus perusahaan Grandpa di sana, tapi satu hal yang harus kamu tau, Papa begini karna ingin membuat kalian mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Papa tidak ada niatan untuk memisahkan kalian semua. Karna suatu saat kalian kan memilih jalan hidup kalian masing-masing, tidak mungkin kan kalian akan jadi perjaka tua tidak memiliki istri dan anak."
"Tapi itu masih lama, kamu masih kelas 3 SMA, dan untuk menikah itu hal yang sangat mustahil di umur kami yang terbilang cukup muda. Biarkan kami memilih sendiri kemana kami akan pergi setelah lulus nanti Pah."
"Baik, jika itu mau kalian, Papa akan dukung tapi dalam hal positif. Kalau masih ingat aturan yang Papa kasih buat kalian. Kalian harus menjaga teguh aturan Papa, karna Papa tidak ingin kalian melakukan kesalahan yang akan berakibat fatal untuk diri kalian sendiri."
"Aku akan berusaha Pah."
"Papa harap kamu tidak pernah membuat Papa kecewa, karna kamu dn Langit yang akan menjadi penerus Papa nanti."
"Baik Pah."
__ADS_1
************