
Mata Adrian mengerjap. Tepat saat ia membuka mata lebarnya, wajah kecil nan cantik milik sang istri tengah berada didada bidangnya.
Membelai perlahan puncak kepala wanita yang dicintainya itu. Adrian sampai menelengkan kepalanya, hanya karena ingin benar-benar menikmati wajah damai dan nyenyak milik sang istri yang sudah pasti kelelahan akibat hukuman yang ia berikan semalaman.
Hukuman? Ya, hukuman yang membuat ketagihan sang pelaku. Hukuman semalaman berada dibawah kungkungan sang suami yang tersulut gairah akibat ulah Ara yang kabur dan memaksa makan donat.
Cinta, selalu membuat alasannya sendiri untuk membenarkan perbuatannya. Seperti saat ini yang dilakukan Adrian, bagaimana bisa ia menghukum sang istri dengan alasan sesepele itu. ðŸ¤
Cup! Tak tahan juga lelaki itu untuk tidak mengecup bibir ranum sang istri yang sama sekali tidak terganggu dengan gerakan yang ia lakukan pada tubuhnya. Tangannya yang menjadi bantal dari kepala sang istri terasa kebas dan entah untuk berapa lama lagi hal itu akan berlangsung. Namun, ia juga tak tega mengangkat kepala sang istri dan memindahkannya ke bantal. Bukan tidak tega, tapi tidak rela tepatnya.
Melihat jarum jam yang masih menunjuk di angka 3, dan pergulatan mereka baru selesai satu jam sebelumnya. Lelaki itu hanya turun sebentar dari ranjang untuk minum, kemudian kembali pada posisi semula. Meletakkan kepala sang istri dilengannya dan menggulung tubuh yang polos tanpa sehelai benang pun itu ke dalam pelukannya. Kembali bersama merajut mimpi sambil menunggu sang fajar bangun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Pagi, Mom," sapa Adrian pada sang ibu yang baru memasuki ruang makan.
"Pagi, Add.." Lina segera duduk ditempatnya. Kemudian setelah beberapa saat, wanita paruh baya itu tampak menoleh ke kanan dan ke kiri mencari anggota keluarga yang lain.
"Dani kemana?"
"Dia ada kelas pagi. Jadi ia makan pagi di sekolahnya," jawab Adrian sambil tetap menikmati makan paginya.
"Istrimu?" pertanyaan sang ibu membuat Adrian tidak segera menjawab, namun malah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kelelahan mungkin, Mom. Setiap hari ia bangun pagi. Biarkan saja, aku tidak tega membangunkannya," jawab lelaki itu beralasan.
"Oh ya? Kau tidak mengerjainya semalam kan?" tanya Lina berbisik sambil mendekatkan wajahnya ke anak lelakinya itu.
"Mommy," Adrian mendelik kemudian segera menghabiskan makan paginya sebelum sang ibu menginterogasinya dengan pertanyaan dewasa.
"Hei, kau mau kemana?" melihat sang anak bangkit dan mengambil tasnya dengan buru-butu Lina langsung berdiri untuk menghalau.
__ADS_1
"Tentu saja ke kantor Mom, kemana lagi?"
"Jawab dulu pertanyaan Mommy," Adrian langsung menarik tangan sang ibu untuk berpamitan kemudian berlari keluar menuju mobil.
"Oh iya, moodnya sedikit buruk kemarin, Mom. Coba tanyakan keadaannya hari ini. Bye Mommy," lelaki itu berbalik sebentar hanya untuk menitip sang istri pada ibunya. Kemudian masuk ke mobil bersama Elang.
"Cepat berubah?" gumam Lina sambil masuk ke dalam rumah. Kemudian nyonya besar keluarga Ilyasa itu menuju dapur mencari bibi Yulia.
"Apa ada yang aneh kemarin dengan menantuku, Yul?"
"Aneh? Sepertinya tidak Nyonya. Hanya saja kemarin sore Nyonya Ara sempat mengeluh perutnya kembung dan terus bersendawa," jawab bibi Yulia yang terheran dengan pertanyaan sang nyonya.
"Apa mungkin?" gumam Lina yang kemudian tersenyum sumringah.
Terdengar bunyi langkah kaki seseorang berlari turun dari lantai atas.
"Mommy, maaf aku terlambat bangun. Aku.." Ara kebingungan menjelaskan alasan bangun siangnya. Tidak mungkin bukan mengatakan yang sebenarnya, meski sang mertua akan mengerti. Wanita yang masih mengenakan piyamanya dengan rambut yang diikat sekenanya ini nampak baru saja bangun dan langsung menuju dapur sepertinya.
Wanita paruh baya itu langsung menarik sang menantu menuju kotak obat. Dari dalam kotak putih yang menempel di dinding itu, Lina mengambil sebuah alat. Memberikannya pada sang menantu, dan menyuruh untuk menetesinya dengan urine pertama.
"Mommy aku hanya terlambat saja, belum tentu aku hamil," ucap Ara meringis. Ia takut membuat kecewa sang mertua karena memang sejak masih gadis, siklus haidnya termasuk siklus panjang dan selalu melebihi tanggal seharusnya.
"Coba saja cek dulu," Lina berucap sambil menyunggingkan senyum dibibirnya dan kemudian mendorong menantunya masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Ara keluar dengan menenteng alat kotak itu di tangannya. Dan ia langsung menunjukkan kepada sang mertua meski dengan keraguan.
"Maaf ya, Mom." Ucapnya hati-hati, semenjak dari dalam kamar mandi saat melihat hasil pemeriksaan yang bergaris satu ia pun juga sedikit kecewa. Meski belum berharap hamil, namun dalam hatinya bahagia melihat sang mertua yang begitu antusias menanti kehadiran sosok kecil di rahimnya.
"Tidak apa-apa sayang, anggap saja belum beruntung. Berarti harus dicoba lagi nanti malam dan malam-malam berikutnya," gluk! Ara menelan salivanya dengan cepat mendengar ucapan sang mertua yang mengingatkan betapa mesumnya sang suami. Membayangkan tadi malam saat suaminya itu menghajarnya di ranjang tanpa melepasnya sekalipun membuatnya sedikit merinding. Nanti malam dan malam-malam berikutnya? Sebuah kata-kata yang berarti akan membutuhkan waktu yang panjang. Semacam lembur, mungkin.
Astaga.
__ADS_1
"Iya Mom," bingung akan menjawab apa, Ara hanya mengangguk dan berucap singkat demi melegakam hati sang mertua. Dalam hatinya hanya berdoa, semoga nanti tidak dibahas lagi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ini terakhir Lang?"
"Iya, Tuan. Saya sudah menghubungi Tuan Tony untuk setengah jam lagi langsung menghubungi Tuan untuk mengatur strategi. Armada kita sudah sangat siap. Juga penjagaan terhadap Tuan Muda dan rumah," jawab Elang menjelaskan tugasnya.
"Bagus. Benar-benar perketat untuk keluargaku. Aku tidak ingin mereka menggunakannya sebagai kelemahanku," ucap Adrian sambil mengetuk-ngetuk meja dengan penanya. Ia masih memikirkan kata-kata yang akan ia sampaikan melaui pesan suara kepada sang istri, agar sekali kirim wanita itu mengerti dan tidak usah menghubunginya meminta penjelasan lagi.
Setengah jam kemudian ponselnya berbunyi. Dan itu adalah panggilan dari Tony. Lelaki berjambang itu memberitahu bahwa ia yang akan maju lebih dulu menyergap markas Danang, dan Adrian akan menyusul beberapa menit kemudian setelahnya.
Karena Adrian hanya bersifat membantu, maka ia mengikuti strategi Tony. Hal itu dilakukan untuk mengetahui seberapa kuat komplotan lelaki tambun itu.
Sebelum berangkat Adrian merekam suaranya dan mengirimkan pesan itu pada sang istri. kemudian lelaki itu mengaktifkan mode silence pada ponselnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Drrtt. Drrtt.
Ara yang sibuk di dapur menyiapkan makan malam sampai tidak menyadari akan pesan yang masuk dalam ponselnya.
Bibi Yulia yang kebetulan lewat karena ponsel itu diletakkan di atas meja, memberitahu sang nyonya.
"Terimakasih, Bi. Aku sampai tidak mendengar karena asyik menyiapkan makanan," ucap Ara yang segera meninggalkan dapur setelah membaca sekilas bahwa pesan masuk berasal dari sang suami.
Wanita itu menuju gazebo dan duduk disana. Tidak biasanya sang suami mengirim pesan, apalagi pesan suara. Lelaki itu selalu tidak sabar menunggu jawaban hingga ia memilih untuk langsung menelepon. Ara segera membuka pesan sang suami dan mengeraskan suaranya.
"Sayang, aku ada urusan sebentar. Membantu teman sedang dalam kesulitan. Makan malam lah lebih dulu, mungkin aku pulang sedikit larut. Tidak usah menungguku, segeralah istirahat. Aku janji memberi kabar setelah masalah ini selesai. Ti amo,"
Pesan Adrian selesai setelah ia mengucap cinta pada sang istri. Urusan apa hingga sang suami tidak sempat menghubunginya. Namun, ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi karena mungkin akan mengganggu. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu kabar saja.
__ADS_1