Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
bab 105


__ADS_3

"Bagaimana Dani hari ini, sayang?" tanya Adrian disela-sela makan malamnya ditemani sang istri disampingnya.


"Emmm, seperti yang Mas lihat," jawab Ara singkat. "Sebenarnya ada sedikit masalah hari ini. Tapi, aku takut apakah aku berhak menceritakannya," ucap Ara yang membuat sang suami menghentikan gerakan sendoknya ke dalam mulut.


"Masalah apa, sayang?" wajahnya menoleh menatap sang istri penuh tanya.


"Dani mengusir Mbak Andina, Mas,"


"Apa? Bagus itu," lelaki itu melanjutkan kembali makannya. Tanpa perduli wajah sang istri yang menatapnya heran dengan jawaban yang asal itu.


"Kok bagus? Kan kasihan Mas, katanya di Indonesia dia tidak ada saudara," gadis itu mencebik, kemudian dipukulnya pelan lengan sang suami.


"Ya, memang harus begitu. Dia pantas mendapatkannya." Ucap Adrian yang kemudian mengusap sisa makanan di mulutnya dengan tisu.


"Mau seperti apapun itu ibunya, Mas. Mau tinggal dimana kalau tidak disini?"


"Aku sudah menyuruh Ardi untuk mencarikan penginapan,"ucap Adrian yang kemudian menenggak habis jus berwarna pink merah di hadapannya.


Dalam hati, gadis itu bersyukur. Adrian masih mempunyai hati meski tidak lagi perduli akan keberadaan mantan istrinya itu.


Ara tidak lagi ingin mendebat. Bagaimanapun, ia orang baru yang tidak tahu menahu bagaimana Andina dulunya. Jadi ia memutuskan untuk diam dan menjadi penengah saja.


Di gazebo belakang rumah, pasangan suami istri itu bercengkerama. Mereka memutuskan untuk kesana karena keduanya belum mengantuk, meski hari sudah hampir larut malam.


Kesempatan bagi Ara untuk mendekatkan hubungan Ayah-anak serta dirinya pula dengan anak sambungnya itu. Gadis itu meminta beberapa film terbaru dari berbagai genre, yang rencananya akan ia tonton bertiga saat akhir pekan nanti.


"Pesanlah sendiri. Sekarang serba online, kan?" ucap Adrian menjawab permintaan sang istri.


"Tapi aku tidak tahu caranya,"


"Kemarikan ponselmu," Adrian membuka sebuah situs website kemudian menyerahkan kembali ponsel itu pada istrinya.


"Wahhh.. ini baru semua. Lalu siapa yang membayarnya, Mas?" Tuk! pukulan sayang diberikan Adrian di kening Ara, karena lelaki itu gemas dengan sang istri. Bertanya untuk hal sepele semacam itu.


"Tentu saja aku. Suamimu ini sanggup membelikan dengan bioskopnya sekalipun. Ini, pilih sesukamu," titah Adrian yang kemudian merebahkan diri di dekat sang istri dengan kepala berada dipangkuan gadis itu.


Adrian ingin melepaskan penat karena seminggu ini, ia benar-benar harus berjuang menyelesaikan berkas-berkas penting yang tertunda karena cutinya.


Minggu depan juga begitu, jadwalnya penuh dengan janji-janji dengan klien. Bahkan, ia tidak tahu apakah hari libur nanti ia bisa di rumah. Namun untuk saat ini, ia hanya mengiyakan saja permintaan sang istri yang memintanya mengosongkam jadwal di hari libur.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Ini, sepertinya banyak sekali. Tapi tidak apa-apa, kita punya cukup waktu untuk menghabiskan film ini," ucap Ara sambil tersenyum geli sendiri. Sungguh, ia memilih lebih dari 20 judul film terbaru yang ia tebak harganya pasti tidak murah.


"Yahh dia tertidur," ucap Ara, ketika mendapati sang suami tidak menjawabnya, dan malah memejamkan mata dengan dengkuran halus yang lirih.


"Mas, Mas," ia goyang -goyang tubuh suaminya pelan. "Kita pindah ke dalam, ya," ucap Ara membelai rambut Adrian.


"Hemm, sudah?" dijawab anggukan oleh sang istri. "Sini, aku bayar dulu. Supaya cepat dikirim," ucap Adrian yang segera mengambil alih ponsel sang istri.


Mata lelaki itu membola melihat jumlah yang tertera disana. "Kau yakin akan membeli semuanya? Apa tidak terlalu banyak?" tanya Adrian memastikan.


"Mahal, ya Mas? Maaf, dikurangi saja kalau begitu," ucap Ara tiba-tiba karena merasa tidak enak. Namun, ketika ia hendak mengambil ponselnya, lelaki itu menolaknya.


"Bukan jumlah rupiahnya, sayang. Maksudku jumlah filmnya. Lihat, kau mengambil hampir 27 judul. Apa kau sanggup untuk menontonnya?" tanya Adrian lagi.


"He-em. Aku yakin. Lagipula, aku sudah janji dengan Dani untuk nonton bertiga di akhir pekan nanti," ucap Ara yang membuat senyum Adrian sedikit memudar.


"Akhir pekan?"


"Iya. Jangan bilang Mas juga harus bekerja di akhir pekan? " tebak Ara yang membuat Adrian sedikit gelagapan menjawabnya.


"Emmm, emmmm lihat saja nanti. Akhir pekan masih beberapa hari lagi kan?" jawab Adrian diplomatis.


Ara ingat, jika ia meninggalkan Dani sendirian untuk menghabiskan film Shaolin Soccer yang sepanjang ceritanya membuat terpingkal-pingkal hingga perutnya kram.


Ara mengambil langkah lebih dahulu. Berjalan di depan Adrian, kemudian berbelok ke ruang santai tempat ia meninggalkan anak sambungnya itu.


Ceklek!


Rupanya Dani sudah kembali ke kamarnya, dan ruangan itu sudah rapi kembali. Setelahnya, ia menurut digandeng Adrian ke lantai atas.


Didalam kamar, Adrian berbaring di ranjang. Matanya tak lepas menatap sang istri yang tengah berada di depan cermin menyisir rambutnya.


Tangannya bersilang didepan dada. Ada yang berbeda dari sang istri hari itu, namun entahlah pikirannya mendadak kosong hanya untuk menebaknya.


"Sayang," ucap Adrian yang membuat Ara menoleh menatapnya. "Perasaan ada yang beda denganmu, tapi apa ya?"


Ara mendengkus, apakah kesibukan Adrian seharian membuat lelaki itu benar-benar lelah hingga bersikap seperti ini. Baru sekali ini ia memakai pakaian seminim ini. Baju tidur terusan setengah paha warna hitam dengan tali spagheti. Bukan lingerie tapi, karena tidak menerawang. Padahal biasanya ia senang memakai piyama.


"Tidak ada yang berbeda, ayo kita istirahat saja," gadis itu beranjak dari depan meja riasnya kemudian membaringkan tubuhnya di samping sang suami yang menatapnya dengan heran.

__ADS_1


Srepp


Tanpa bicara lagi, Ara menarik selimut hingga ke leher dan memejamkan matanya.


"Aku belum mengantuk," ucap Adrian yang membuat dahi sang istri mengernyit meski masih dalam keadaan terpejam.


Kemudian gadis itu membuka kembali bola matanya dan menurunkankan selimutnya hingga ke bawah dada. Tubuhnya miring menghadap sang suami.


"Mata sudah merah masih bilang belum mengantuk. Lagipula tadi sudah tidur saat di Gazebo," protes Ara dengan mencebik.


Sang suami terdiam, dengan senyum samar yang menghiasi bibirnya. Lelaki itu tidak segera merespon ucapan sang istri yang protes padanya.


Menyadari itu, Ara mengibas-ibaskan tangan didepan mata Adrian. Sang suami masih tetap dengan respon yang sama. "Mas memikirkan apa sih? Kok menatap aku seperti itu?"


"Kamu," ucap Adrian tiba-tiba, membuat sang istri segera menyadari arti tatapan yang dilayangkan padanya.


Dengan segera ia menarik selimutnya kembali, hingga kekepala kemudian meringkuk diam.


"Hei.., " Adrian menggoyang-goyang bahu istrinya. "Buka selimutnya, sayang,"


"Tidak. Mas bohong kan, waktu mengatakan ada yang berbeda. Pasti hanya mau diperjelas saja," ucap sang istri bertahan dengan senjata pamungkas nya. Bersembunyi.


Lelaki itu mendekat, dengan lirih ia berbisik. "Aku tidak bohong. Kau cantik...dan sungguh seksi,"


"Dasar tukang gombal. Ucapan Mas tidak mempan padaku," ucap Ara setengah berteriak dari dalam selimut. Namun rupanya ia juga senyum-senyum sendiri mendengar pujian sang suami.


"Buka dulu selimutnya. Kalau bukan untukku lalu untuk siapa kau mengenakan baju itu, hemm," dengan sabar lelaki itu berbicara membujuk sang istri.


Ara di dalam merasa kepanasan. Walaupun ia tengah berada di ruang AC namun ternyata tebalnya selimut itu membuat tubuhnya gerah. Namun ia masih harus bertahan dengan keadaan itu. Sungguh, ia sangat malu pada sang suami yang malah menggodanya.


"Baiklah aku tinggal tidur saja kalau begitu. Selamat malam, sayang," lelaki itu sengaja memberikan sang istri ruang dengan sedikit menjauh.


Menunggu beberapa lama, tak tahan juga Ara didalam sana. Samar terdengar dengkuran yang ia yakini adalah suaminya. Berarti, Adrian sudah tidur, dan saatnya ia keluar dari selimut penyelamatnya yang sayang sekali membuatnya kepanasan.


Dibukanya selimut perlahan dan matanya langsung menuju sang suami yang berbaring disebelahnya dengan mata terpejam. Aman, pikirnya.


Gadis itu langsung membuka penuh penutup tubuhnya. Dengan masih terengah akibat kepanasan, ia buka mulutnya untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Tiba-tiba sebuah tangan besar mencekal lengannya. Dan ketika ia hendak berteriak, bibirnya sudah terkunci oleh bibir Adrian. Serangan mendadak yang manis, bukan?

__ADS_1


Ahhhh... ha ha ha😂


__ADS_2