Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 172 Bertemu


__ADS_3

Dasi itu. Garis-garis warna gold dengan kombinasi hitam, persis dasi yang disiapkan istrinya tadi pagi. Lagipula mengapa Ara tidak mengatakan kalau itu pemberiannya?


Ahh ... Adrian mengetuk-ngetuk penanya berulang kali ke atas meja kacanya. Sungguh ini lebih dari sebuah bencana untuknya. Namun sebenarnya wanita sudah berulang kali menyindir nya tadi. Dan sungguh, poor Adrian. Ia tidak peka.


Keterlaluan jika berpikir berlebihan, ini hanya masalah kecil. Namun jika dianggap tidak ada masalah pun juga tidak bisa. Terkadang hal-hal kecil seperti ini membutuhkan perhatian lebih darinya.


Hah! Lelaki itu jadi salah tingkah sendiri di dalam ruangannya. Ia yang sedari pagi didera meeting dan meeting baru saja bisa meletakkan bokongnya di singgasananya saat ini. Ya, sekarang jam istirahat dan makan siang. Dan lelaki itu malah terkulai di atas mejanya.


Bahkan untuk makan siang pun rasanya tidak napsu. Hanya satu hal yang berputar-putar di benaknya, ia hanya ingin segera bertemu sang istri di rumah. Ya, segera. Urgent.


Tok.. tok..


Elang masuk setelah pintunya membuka. Lelaki itu telah membawa berkas baru dan siap untuk meeting selanjutnya.


"Tuan Eddy sudah menunggu, Tuan."


"Ya.Semuanya sudah siap?"


"Sudah, Tuan."


Adrian berdiri, ia fokus pada apa yang akan ia kerjakan sekarang. Karena sungguh, ia ingin lekas pulang hari ini. Memeluk istrinya, dan meminta maaf dengan segala cara. Semoga wanita yang selalu mengertinya itu, masih juga mau mengerti kesalahannya kali ini.


Tentu saja yang ia khawatirkan bukanlah meetingnya hari ini. Ia terbiasa dengan itu semua. Bahkan ketika didera masalah yang berat sekalipun, lelaki itu masih bisa profesional. Mengatasi permasalahan di kantor dan menyelesaikan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.


Namun kali ini, yang ia pikirkan adalah ketika ia pulang ke rumah dan harus menghadapi sang istri. Makhluk berjuluk wanita yang rumit pemikirannya. Salah-salah ia bisa di depak keluar kamar untuk beberapa hari.


Ya, seperti emak-emak yang maunya belok kiri tapi lampu sign nya nyala ke kanan. Kira-kira seperti itu rumitnya.


"Maksimalkan waktu meeting hari ini Lang. Jangan sampai memakan waktu jadwal selanjutnya."


"Iya, Tuan."


Kemudian Adrian dan sang asisten menghilang di balik pintu dari sebuah ruangan paling luas di kantornya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ibu mengenal Bapak Ferry?"

__ADS_1


"Iya, Pak."


"Seberapa dekat?"


"Tidak dekat, Pak. Ia teman lama saya, dan akhir- akhir ini baru bertemu kembali."


"Ibu tahu kasus yang menjerat Pak Ferry saat ini?"


Begitu saja menganggukkan kepalanya, kemudian saat menyadari Laila segera menarik kembali anggukannya. Ia menggeleng dengan yakin di hadapan penyidik yang menginterogasinya.


"Iya atau tidak?"


"Tidak, Pak."


"Tapi Pak Ferry mengenal anda dengan baik, Bu Laila?" Sedikit menggertak, polisi laki-laki yang menginterogasi sambil mengetikkan jawaban Laila itu menatap tajam wanita paruh baya yang membuatnya kesal itu.


"E ... Anu ...." Laila menggesekkan jari telunjuk ke bawah cuping hidungnya. Seperti film kartun Vicky Viking, ia berharap idenya langsung muncul dan bisa menjawab dengan tepat tanpa di telisik lebih jauh lagi oleh lelaki berseragam di depannya itu.


"Anu apa Bu? Ayo segera dijawab. Apa perlu saya tambah isi gelasnya lagi. Biar tidak kering tenggorokannya?" Polisi itu menyindir Laila yang sudah menghabiskan dua kali isi, air di dalam gelasnya.


"Tidak baik-baik amat, Pak. Kami hanya ada sedikit kerjasama," jawab Laila cepat. Wanita paruh baya itu menenggak kembali hingga habis isi dalam gelasnya untuk yang ketiga kali.


"Tidak, Pak! Menipu siapa? Saya tidak menipu siapapun." Gugup dan cemas menumpuk jadi satu. Laila nampak gelisah diatas kursinya.


"Tante jujur saja! Saya mempunyai banyak bukti persekongkolan Tante dengan Ferry." Adrian datang terlambat. Ia yang tadi dihubungi oleh kepolisian untuk dimintai keterangan tentang penipuan yang dilakukan oleh kedua orang itu, langsung meluncur setelah meeting usai.


"Add, kamu bicara apa? Kamu seharusnya menolong tante, mengapa malah menjerumuskan seperti ini." Laila yang gusar sampai memelototkan matanya akibat marah dengan ucapan sang keponakan.


Wanita paruh baya itu tidak terima dengan perlakuan Adrian. Laila berteriak-teriak dan mengumpat seluruh orang yang ada disana. Mengganggu ketenangan disana, hingga ia akhirnya diseret untuk dimasukkan ke jeruji besi.


"Semua bukti sudah diserahkan oleh asisten saya, Pak. Sangat jelas disana keterlibatan dua orang itu dan juga beberapa orang yang lain. Jika tidak ada yang lain saya mohon diri," ucap Adrian pamit.


"Silahkan Pak Adrian. Terimakasih kerjasamanya."


Adrian melangkah keluar bersama Elang. Di persimpangan jalan menuju parkir, ia melihat sosok yang dikenalnya.


Lelaki itu bertemu Lola yang baru saja datang dari luar. Alih-alih menghampiri, lelaki itu justru berbalik dan mengurungkan niatnya untuk melewati jalan yang sama dengan sepupu jauhnya itu.

__ADS_1


" Add? Adrian ... Tunggu ... Tunggu sebentar aku mau bicara,


." Lola berlari mengejar sosok Adrian yang memutar ke arah lain karena melihatnya.


Adrian tidak menanggapi. Lelaki itu semakin mempercepat langkahnya. Hingga ia sampai di mobil, tanpa terkejar oleh Lola.


"Langsung jalan, kita pulang," titah Adrian pada sang asisten.


"Add ...." Brakk!! Dug dug. "Buka kacanya ...." Suara pukulan pada kaca bagian luar terdengar keras di telinga Adrian. Namun lelaki itu bergeming. Ia masih tetap pada keputusannya untuk pulang.


"Adrian!! Bren***k!!! Awas kau!!" Lola berteriak seraya mengumpat sepupunya itu dengan lantang.


Gadis itu menendang angin, arahnya sembarangan dan brutal pada bekas yang tertinggal dari mobil Adrian. Hingga kakinya terantuk besi pembatas parkir.


"Auw ... Aduh ... Aduh, sial. Semua ini gara-gara Adrian. Aku jadi ketiban sial seperti ini!" cercanya entah pada siapa. Karena ia tengah sendirian sekarang. Merutuki nasibnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Apa bunga cukup untuk meminta maaf?"


"Iya, Tuan?"


Adrian sedang menggumam saat ini. Sebelum ini, tiba-tiba terpikirkan olehnya untuk membeli bunga. Atribut yang sengaja ia siapkan untuk aksi permintaan maafnya pada sang istri.


"Bunga ini. Apa bisa mewakili perasaanku?" Adrian mengendus wangi bunga yang ia beli, membayangkan reaksi sang istri saat menerimanya.


"Bisa, Tuan."


"Kalau kau seorang gadis, apa kau akan senang menerima sebuah bunga dari kekasihmu, Lang?"


"Mungkin saja Tuan,"


"Mungkin? Ahh ... iya aku lupa kalau kau jomblo abadi," tersenyum mengejek Adrian meletakkan kembali bunga itu di tempat kosong disampingnya.


"Yaa ... masalahnya saya kan bukan seorang gadis Tuan. Jadi saya tidak tahu mau menjawab apa?"


"Berbicara denganmu membuat tekanan darahku naik, Lang. Sudah kamu diam saja!" Dan Elang pun menghentikan mobilnya sesuai perintah. "Kenapa malah berhenti? Ayo cepat, istriku pasti sudah menungguku."

__ADS_1


"Tadi, Tuan mengatakan saya harus diam."


"Ya ampun Elang! Mengapa kamu bodoh sekali hari ini?"


__ADS_2