Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 180 Nasihat


__ADS_3

"Akan coba kupikirkan," ucap Lola, gadis yang sesekali nampak menghapus air matanya itu sudah tidak terdengar isakannya. Hanya nampak bahunya yang sesekali bergoyang, akibat helaan napasnya yang terdengar meskipun lirih.


Adrian tahu, gadis di depannya ini masih gamang. Karena dengan menceritakan semuanya kepada polisi, itu berarti benar-benar sudah harus siap menghuni jeruji besi yang dingin.


"Terserah! Aku tak memaksa. Semua tinggal keputusanmu. Karena aku tidak akan pernah mencabut laporanku apapun alasannya. Jika kau jujur dan mengakui kesalahanmu tentu hukuman yang kamu terima tidak seberat seharusnya. Tapi jika kau malah berbelit dan beralasan, sudah pasti akan begitu juga hukumanmu." Adrian berdiri menatap lurus pada Lola, membuat gadis itu salah tingkah.


Tanpa pamit Adrian langsung berbalik meninggalkan Lola yang terpekur sendiri memikirkan nasibnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Sesuatu yang dingin, Ara rasakan menempel di pipinya. Wanita itu masih terpejam saat ini, rasanya ingin membuka mata dan melihat siapa yang iseng malam-malam begini, namun karena lelah ia enggan melakukannya. Dan malah terlihat menikmatinya.


Aroma yang menyeruak dan tercium dihidungnya membuat wanita itu betah. Ya, ia mengenali aroma parfum bercampur keringat milik lelaki yang ia cintai itu.


Dengan enggan, Ara membuka matanya perlahan, kemudian satu tangannya menangkap pergelangan tangan si empunya pemilik telapak tangan yang masih mengusap lembut pipinya itu.


"Aku mengganggumu?" Ara menggeleng.


"Jam berapa ini, Mas? Aku ketiduran rupanya, padahal aku ingin menunggumu." Dengan tangan yang masih memegang pergelangan tangan Adrian, jemari Ara dari tangan lainnya mengucek matanya yang sedikit lengket untuk dibuka.


"Baru jam 23.00. Aku yang datang terlambat, harusnya kau tak usah menungguku, Sayang?"


"Mas pasti lelah. Aku tidak bisa mengurus Mas sama sekali. Sudah makan? " Ara merasa bersalah, ia cemberut seakan marah pada dirinya sendiri.


"Sudah, kamu?" Sekarang giliran istrinya itu yang mengangguk. "Gantian aku yang mengurusmu sekarang."


"Mengurus apa? Aku tidak butuh apapun, Mas. Istirahatlah. Besok kau harus kerja lagi." Wanita itu membelai puncak kepala suaminya, kemudian memgambil anakan rambut yang mengganggu pandangannya pada wajah tampan itu.


Seperti tengah membawa beban berat, kepala Adrian langsung menempel pada tempat kosong disamping istrinya. Dalam keadaan kepala yang miring, lelaki itu tak berhenti tersenyum pada sosok yang sehari-hari mengurusnya tanpa kenal lelah dan berkeluh kesah itu.


"Tidurlah. Tadi Elang membawa kasur lipat. Bibi Yulia memaksanya untuk dibawa, katanya untuk istirahat Mas disini," tunjuk Ara pada kasur kecil yang diletakkan Elang dibawah hospital bed yang Ara tempati.


"Tak bolehkah aku tidur disitu?" tunjuk Adrian dengan dagunya pada tempat kosong disisi kiri istrinya.


"Mas ingin disini?" Ara menepuk bagian kosong disebelahnya itu, dan Adrian menjawabnya dengan mengangguk.

__ADS_1


"Kemana sahabatmu, Sayang. Katanya mau menginap dan merawatmu. Aku tak melihatnya." Adrian menyapukan matanya ke seluruh ruangan.


Krusek...


Krusek....


"Aku disini, Tuan." Mela tersenyum ceria sambil menampakkan giginya. Rupanya gadis itu berbaring di sofa yang tidak jauh dari bed istrinya. Pantas saja tidak kelihatan, ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Kamu bawa apa, Mel?" Ara mengernyit, melihat sebuah penampakan suatu benda dipelukan sahabatnya itu.


"Tara ...." Mela menarik keluar sesuatu yang ia sembunyikan dan sempat berisik tadi. Ya ampun, rupanya gadis itu menyembunyikan popcorn didalam selimutnya. Mela meringis malu saat menunjukkannya.


Adrian hanya bisa menggeleng heran saat melihatnya. Anak gadis sudah waktunya tidur malah makan, sambil berbaring pula.


"Mela!" Ara mendelik melihat tingkah sahabatnya itu.


"Maaf. Aku belum bisa tidur, Ra. Aku tidak ingin mengganggu kalian nanti. Makanya aku bekal ponsel dan popcorn, mau nonton film horor sambil memakannya. Cuma bedanya tidak di bioskop tapi di dalam selimut he he he."


"Ya ampun anak ini," ucap Ara yang mau tidak mau memaklumi tingkah Mela.


"Ini sekalian masukkan ke dalam selimutmu." Adrian mengambil botol air mineral dari kantong kresek di atas nakas dan melemparnya begitu saja ke arah Mela, untung saja gadis itu cekatan menangkapnya.


"Maaf Sayang, aku bercanda," ucap Adrian mengusap rambutnya asal.


"Tidak apa-apa, Ra. Suamimu perhatian sekali denganku," ucap Mela menghibur Ara, gadis itu sama sekali tidak sakit hati dengan perlakuan Adrian padanya.


"Sekalian ini." Lelaki itu meletakkan headphone di meja sebelah sofa tempat Mela berbaring. "Jangan mondar-mandir atau melepas headphonemu, kalau kamu tidak ingin mendengar sesuatu yang horor," ancam Adrian dengan tatapan tajam.


"Mass ...." Ara gemas melihat tingkah suaminya itu. Memang apa yang akan mereka lakukan hingga suaminya itu menyebutkan kata horor untuk mengancam sahabatnya.


"Siap, Tuan. Saya akan pura-pura tidak mendengar apapun yang akan kalian lakukan." ucap Mela dengan senyumnya yang terpaksa. "Duhhh nasib jomblo, tahu begini aku membeli obat tidur tadi," gumam gadis itu.


"MELA!! Aduh ... duh ...." Ara memegang bagian tubuhnya yang terluka, rupanya hanya sedikit mengeluarkan tenaga untuk berteriak membuat lukanya nyut-nyutan.


"Sayang, jangan banyak gerak dulu." Adrian langsung menghampiri sang istri yang meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Jangan berteriak dulu, Ra. Itu bisa membuat bagian tubuhmu yang terluka menjadi tegang hingga akhirnya sakit. Aku ikhlas dan pasrah dua hari ini menjadi obat nyamuk bagi kalian. Bye, aku tidur duluan," ucap Mela cepat dan cengengesan, gadis itu lalu melambaikan tangannya dan segera menyusup ke dalam selimutnya. Berikutnya yang terdengar hanya senandung lirih Mela yang sesekali cekikikan bersamaan dengan bunyi krusek-krusek sebagai iklannya.


"Aku keluar dulu, ya. Ada yang harus ku bicarakan dengan Daniel," pamit Adrian pada istrinya.


"Siapa Daniel, Mas?"


"Dokter Kim. Kami sudah lama menjadi partner. Dan saat aku mengatakan ingin memanggilnya nama, ia langsung mengatakan ingin dipanggil Daniel, nama baptisnya," jelas Adrian.


"Ohhh ... Hah? Ini sudah hampir tengah malam, Mas. Ia masih menunggu Mas diluar?" Adrian mengangguk. "Mas tidak kasihan dengannya? Dia dari tadi sore loh. Lalu Elang?"


"Apalagi Elang. Dia tidak akan beranjak dari sana jika aku tidak menyuruhnya pergi." Ara ingin mendebat, namun sejenak kemudian wanita itu ingat, jika Elang adalah bawahan suaminya, tentu saja ia akan menurut apa perintah sang majikan.


"Kasihan Dokter Kim, Mas. Tahu begitu biarkan ia menunggu di dalam saja tadi, untuk teman Mela ngobrol."


"Tidak apa-apa. Aku selalu membayarnya penuh meskipun ia tidak melakukan apapun selain menungguku." Syukurlah suaminya itu profesional dan menghargai hak orang-orang di sekitarnya.


"Baiklah, jangan lama-lama, Eh ...."


"Sayang, kau romantis sekali. Belum juga pergi sudah mengatakan jangan lama-lama. Tapi sayang sekali waktunya tidak tepat," ucap Adrian setengah menggumam. Ya, sepertinya ia memang harus puasa dahulu beberapa waktu, sampai istrinya benar-benar sembuh.


"Sebentar mas, bagaimana kabar Dani?"


"Anak itu baik-baik saja. Ia juga sudah mewakili kita untuk mengucap belasungkawa pada Om dan Tante."


"Syukurlah."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kalau kubawa paksa pulang istriku kau bisa merawatnya di rumah kan? Aku lebih tenang jika istriku dirawat di rumah saja," ucap Adrian. Mereka duduk berdua sekarang sedangkan Elang, lelaki itu telah pamit beberapa menit yang lalu setelah Adrian menyuruhnya pulang.


"Kenapa harus pulang paksa Add? Disini istrimu lebih mendapatkan perawatan yang intensif. Ini rumah sakit terbaik di kota ini loh," ucap Dokter Kim alias Daniel menanggapi permintaan Adrian.


"Banyak sekali kejadian yang membuatku tidak tenang akhir-akhir ini. Aku bisa memperketat penjagaan istriku, tapi mereka juga manusia biasa bukan? Aku lebih tenang jika ia dirawat di rumah. Kau kan dokter, Dan. Untuk apa aku membayarmu kalau kau tak bisa merawat istriku?"


"Add, kau tetap akan membutuhkan tenaga dokter lain. Aku ahli Ortopedi bukan Bedah. Aku hanya bisa merawat lukanya dan memeriksa obat-obatan yang diberikan padanya. Lagipula apa benar kau memperbolehkan aku merawat luka istrimu?" tanya Daniel ragu. Lelaki posesif di depannya ini bahkan dulu pernah berucap sengit padanya saat akan merawat Ara sebelum wanita itu menjadi Nyonya Adrian, apalagi sekarang.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Adrian tanpa berpikir lebih dahulu. "Tidak! Biar aku yang merawatnya," ucap lelaki itu kemudian setelah mengingat letak luka sang istri dibagian yang tidak pernah terbuka oleh orang lain.


Daniel menepuk-nepuk punggung Adrian. "Ara itu mandiri, dia pasti bisa merawat lukanya sendiri. kau hanya perlu membantunya sedikit, Add. Dan buang rasa khawatir yang berlebihan itu,"


__ADS_2