
"Hei ... ma-afkan aku," ucap akio yang terbata disela rintik hujan yang turun. Hiro yang terus saja mendorong nampak tidak memperdulikan ucapan kakak kelasnya itu. Bahkan sesekali dokter itu nampak berlari agar mereka lekas sampai di hotel.
"Hi ... ro ...."
"Bicara sekali lagi, kubuat kau pingsan! Napasmu sudah sesak begitu. Tidak bisakah kau sekali saja tidak membuat tante khawatir?" jawab Hiro dengan napas terengah.
Sangat jelas jika Akio kedinginan, dan lelaki itu nampak tidak baik-baik saja.
Tiba di depan hotel, Hiro berteriak pada semua orang yang berkerumun di arah yang ia tuju. "Mohon maaf, darurat, beri kami jalan." Lelaki itu tidak perduli dengan banyaknya pasang mata yang menatapnya. Di otaknya hanya terbersit bahwa Akio harus segera sampai di kamar karena semua peralatannya ada disana. Sampai-sampai, iapun tidak perduli ketika payung yang ada di tangan Akio terlepas dan jatuh.
Kembali lelaki itu berlari pada jalanan lantai keramik yang memudahkannya mendorong kursi roda Akio dan segera memasuki lift.
"Tahan sebentar Ki, tahan." Akio hanya mengangguk saat genggaman kedua tangannya di tangkup oleh Hiro dan lelaki itu menggosoknya untuk memberi kehangatan.
Pusing, dan berkunang-kunang itu yang dirasa Akio. Sama persis ketika ia drop kemarin dan dibawa ke rumah sakit. Apakah ia harus jatuh lagi karena penyebab yang sama?
"Kamu kenapa bandel sekali? Sudah kubilang kondisimu sedang buruk ditambah lagi Indonesia sedang musim hujan sekarang. Harusnya tadi kamu dikamar saja seperti kataku. Tapi dasar kamu!" Hiro terus mengomel pada kakak kelasnya itu. Bukan tanpa sebab, ia hanya ingin Akio tetap terjaga dan sekalian menumpahkan kekesalannya karena sejujurnya, rasa khawatirnya lebih besar dari rasa marahnya.
Ting! Bunyi pintu lift terbuka membuat Hiro melepaskan tangannya. Kemudian lelaki itu langsung bersiap dan segera keluar.
Suara gesekan antara kursi roda dan lantai hotel terdengar berisik akibat dipacu oleh Hiro yang seperti kesetanan.
"Kii ... Bangun Ki ... Kio ...." Akio terdiam, memejamkan mata dan lemas, ingin sekali menjawab panggilan sang adik kelas, namun apa daya, tenaganya seperti terkuras habis dengan napas satu-satu yang ia punya.
"Tante ... Tante ... Buka pintunya cepat!" Hiro menggedor kamar Akio. Dari dalam muncullah Aimi yang kaget begitu melihat Akio tergeletak di kursi roda.
"Kau menemukannya dimana, Nak? Kio kenapa? Ki ... Bangun ... Ki," teriak Aimi panik. Ia segera membantu Hiro membawa Akio kedalam, kemudian membaringkannya di ranjang.
__ADS_1
"Tolong gantikan pakaiannya Tan. Semuanya basah. Ia kehujanan tadi," ucap Hiro yang setelahnya langsung melesat keluar mengambil stetoskopnya.
"Ya ampun." Aimi mengambil pakaian hangat dan segera menggantikannya pada Akio. Sementara sekembalinya Hiro, lelaki itu dengan segera memasangkan selang oksigen, kemudian memeriksa tanda vital Akio.
"Untung saja. Ia hanya pingsan Tan," ungkap Hiro mengambil napas lega. Kalau sampai drop lagi, entah apa yang akan terjadi pada kakak kelasnya itu. Apalagi saat ini adalah hari-hari menjelang operasi.
"Dimana kamu menemukannya, Nak?" Aimi mengulangi pertanyaannya. Kemudian, wanita Jepang itu membelai wajah tirus Akio yang semakin terlihat memprihatinkan.
"Taman kota, Tan." Hiro yang masih memegang stetoskopnya tidak habis pikir, apa yang dilakukan Akio di taman pada saat hujan seperti ini.
"Lagi?" Hiro mengangguk.
Ya, waktu drop yang pertama, Akio juga ditemukan tengah berada di taman. Namun bukan lokasi yang sama, taman yang pertama agak jauh dari hotel.
Lelaki itu hanya pamit akan bertemu teman lamanya. Namun yang terjadi, sang ibu malah ditelepon orang yang tidak dikenal yang mengatakan bahwa Akio jatuh tidak sadarkan diri di taman.
Menghela napas panjang, Aimi yang kini duduk di tepi ranjang tak mengalihkan matanya sekalipun dari wajah pucat Akio yang terpejam. Hiro telah pamit untuk kembali ke kamarnya, namun wanita paruh baya itu seperti enggan beranjak dari samping sang anak.
Akio yang selalu sayang dengan siapapun. Akio yang selalu melindungi saudara-saudaranya bahkan pernah mengorbankan diri untuk keselamatan sang adik Shaikha. Lelaki tampan yang jago berenang itu pernah hilang terseret ombak di pantai, saat menyelamatkan sang adik yang tenggelam. Untung saja, Akio bisa ditemukan oleh tim penyelamat dua jam setelahnya dalam keadaan selamat.
Dan sekarang, melihat takdir Akio yang mungkin tinggal sebentar lagi berada di sisinya membuat hati Aimi perih. Hati ibu mana yang rela? Namun takdir, tidak pernah bertanya engkau rela atau tidak. Apapun yang menjadi ketetapanNya pasti akan terjadi, kecuali atas kehendakNya pula semua itu bisa berubah. Dan Aimi tidak bisa berbuat apapun. Sekalipun ia ingin sekali menggantikan setiap kesakitan yang dirasakan oleh Akio.
Anak adalah titipan, jika Tuhan menginginkannya kembali, mau tidak mau ikhlas atau tidak ikhlas akan tetap diambil. Sungguh, takdir bagai mempermainkannya seperti waktu itu.
"Nak ...." Aimi mengusap lembut pipi Akio yang hangat. Pipi yang dulu gembul perlahan menyusut karena usia, dan semakin menyusut lagi karena sakit yang lelaki itu derita.
"Ma ... Hem ...." Akio menyipitkan matanya, membuat nyaman tenggorokannya dengan berdehem, kemudian mengerjap. Pandangannya masih nampak kabur, namun karena sang ibu berada sangat dekat dengannya dan menggenggam tangannya, maka lelaki itu dapat mengenalinya.
__ADS_1
"Apa yang kau rasakan, Ki? Istirahatlah lagi, mama akan disini menjagamu," ucap Aimi yang masih dirundung rasa khawatir. Wanita paruh baya itu menaikkan selimut Akio hingga setengah dada.
"Ck ... Aku bukan anak kecil, Ma. I'm fine. Mama tinggal saja tidak apa-apa," balas Akio. "Sungguh, Ma. Aku hanya kehujanan sebentar. I'm okay," ucap lelaki yang selalu mengatakan hal yang sama itu. Namun nyatanya, ia selalu tidak baik-baik saja dan membuat orang di sekitarnya panik.
"Apa kabar Shaikha?"
"Mama hubungi dia sekarang ya?" dijawab gelengan oleh Akio. "Dia rindu denganmu sayang, dan kau sangat tega tidak mengizinkannya menghubungimu sama sekali."
"Aku juga merindukannya, Ma. Tapi aku tidak ingin konsentrasinya buyar setelah melihatku. Biarkan ia selesaikan ujiannya dahulu."
Shaikha adalah adik Akio satu-satunya. Hubungan mereka berdua sangat dekat. Shaikha juga kuliah di luar negeri atas dorongan sang kakak, sebenarnya dia sendiri tidak begitu berminat karena tidak ingin jauh dari keluarga. Mendengar sang kakak sakit, ia sudah bingung ingin pulang. Tapi Akio tidak mau menerima telepon gadis itu sama sekali.
"Itu masih bulan depan Ki, terlalu lama. Kasihan adikmu." Akio kembali menggeleng.
"Biarkan rindunya menumpuk. Nanti kita berkumpul berempat, dengan papa juga." Akio menerawang, rasanya tidak sabar menunggu mereka berkumpul kembali.
"Ki." Akio menoleh. "Sebenarnya siapa yang kau temui di taman?" tanya Aimi hati-hati. Anak lelakinya itu terlalu banyak rahasia setelah ia sakit.
"Kawan lama, Mam," jawaban Akio lancar, nampak tidak menyembunyikan sesuatu.
"Siapa?"
"Ada ... Dulu teman kuliah di Tokyo,"
"Wanita?"
"Mama menginterogasiku?" Akio melirik sang ibu yang menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Mama hanya ingin tahu. Kalau kau tidak ingin bercerita juga ti_"
"Aku ingin Mama tahu, tapi tidak sekarang." Akio memotong perkataan sang ibu.