Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 101 Berhasil!


__ADS_3

"Aku, di kamar tamu?" ucap Andina ketika Ardi membawanya masuk ke sebuah kamar di lantai bawah yang berdekatan dengan dapur.


Bibi Yulia yang tengah merapikan ranjang di kamar itu hanya menoleh, namun tidak menjawab pertanyaan Andina. Wanita paruh baya itu tentu tahu sosok mantan istri Adrian itu seperti apa.


"Hei, aku bertanya pada Bibi. Bukankah disini hanya ada kita berdua?" ucap Andina menghampiri wanita paruh baya yang dulu juga pernah melayaninya saat masih menjadi nyonya Adrian.


"Maaf, bukankah sudah tepat. Anda tamu jadi sudah selayaknya berada di kamar tamu," jawab Bibi Yulia tegas. Dahinya berkerut menahan emosi pada wanita yang tidak tahu diri itu.


"Apa di kamar atas tidak ada yang kosong, hingga aku harus disini? Bagaimanapun aku pernah menjadi nyonya di rumah ini. Aku juga yang melahirkan pewaris untuk keluarga ini," ucap Andina berbangga mengungkit masa lalu dan perannya dalam keluarga ini.


"Mantan, Din. Sekarang kamu hanya mantan nyonya disini. Dan sebaiknya kamu tahu diri. Karena jika tidak, pintu depan terbuka lebar untukmu pergi." Ternyata Lina yang kebetulan lewat hendak ke dapur malah mendengar langsung ucapan Andina. Hatinya meradang, padahal ia hanya kasihan pada mantan istri anaknya itu. Tapi sepertinya, Andina semakin tidak tahu diri melebihi sebelumnya.


Wanita cantik itu kaget, tidak menyadari kehadiran sang mantan mertua yang tiba-tiba menyahut ucapannya.


Ia bergegas menghampiri Lina yang berdiri di depan pintu seraya memberikan tatapan tajam padanya.


"Mommy," suara yang tadinya lantang saat berbicara dengan Bibi Yulia kini berganti lemah lembut saat berhadapan dengan Lina. "Bukan maksudku seperti itu. Aku hanya bertanya saja. Siapa tahu, ada pengecualian," ucap Andina mengelak. Namun tetap saja terasa tidak nyaman untuk Lina. Karena ibu kandung Dani itu meminta perlakuan yang lebih dari keluarga yang bahkan telah ditinggalkannya bertahun-tahun yang lalu.


"Statusmu sudah berubah, Din. Kau memang ibu kandung cucuku, tapi bukan lagi istri dari anakku. Jadi apa kau sudah tidak punya malu dengan menjilat ludahmu sendiri," seringai ejekan ditunjukkan Lina pada mantan menantunya itu. Bahkan setelah mengucap demikian, Lina segera beranjak dari tempat itu. Bukan ke dapur melainkan kembali lagi ke atas.


"Mommy. ishhh...sialan, kenapa dia susah sekali dirayu," Andina mengumpat setelah ia menutup pintu kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya sementara ini. Sementara? sepertinya wanita itu akan melakukan segala cara untuk berada lebih lama disana.


Andina duduk melamun di atas ranjang. Otaknya memutar membuat rencana agar esok ia tidak pergi dari rumah ini. Rumah dengan segala fasilitas yang ia rindukan. Karena ia hidup pas-pasan selama ini ketika berada di luar negeri.


Drrrt... Drrrttt


Ponselnya berbunyi, bersamaan dengan munculnya nama pemanggil yang membuat ia melonjak kegirangan.


"Halo. Halo. Ya ampun kamu dimana sih, Din. Aku mencari ke seluruh sudut UGD tapi tak menemukanmu"

__ADS_1


"Ssttt... tenang, jangan teriak-teriak kau merusak gendang telingaku," andina mengucap lirih padahal tidak ada siapapun disana. "Maafkan aku ya, aku melupakanmu tadi,"


"Tenang-tenang. Kamu kabur kemana?" ucap suara kemayu di seberang yang terdengar gusar.


"Aku di rumah Adrian."


"Hah? Kamu mimpi ya? Kamu pasti demam, Din,"


"Tidak, aku serius. Aku di rumahnya sekarang. Oh, iya apa kau punya teman IT, Be?"


"IT? Tentu saja punya. Untuk apa?"


"Baiklah, hubungi dia dan katakan aku ingin menyewanya," ucap Andina santai.


"Okay, kau yakin akan tinggal disana?"


"Apa rencanamu? Adrian bukan orang sembarangan, Din. Jangan bertindak gegabah atau kau kehilangan semuanya, bahkan anakmu," Abe menasehati sahabatnya itu.


"Tenang saja. Aku tahu apa yang kulakukan," ucap Andina mengakhiri percakapannya dengan sahabatnya itu.


Bagaimanapun, Andina lama tinggal di luar negeri. Dia tidak tahu menahu seperti apa perkembangan perusahaan dan pribadi mantan suaminya kini. Meski bukan pengusaha yang banyak mejeng di TV maupun media sosial, namun lelaki itu adalah salah satu eksekutif muda yang disegani. Tentu saja ia banyak rekanan dan kenalan. Yang dengan senang hati akan membantunya tanpa diminta. Dalam artian, dia bisa mengunci ruang gerak musuhnya. Seperti apa yang dilakukannya pada Angelica kini.


\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=


"Kenapa malah menciumku?" Ara menghentikan tangisnya, dan menatap heran sang suami yang mencuri kecupan dibibirnya hingga dua kali.


"Sudah kuduga pasti berhasil," senyum Adrian mengembang dengan mata berbinar. Kesedihan tak lagi nampak dimatanya, seperti saat dia bercerita tadi.


"Apanya yang berhasil?" Ara memukul lengan suaminya yang tak henti menatapnya geli. Ia merasa asing dengan tatapan Adrian yang menggoda itu.

__ADS_1


"Aku pernah baca di internet kalau wanita itu menangis maka ciumlah dia dan tangisnya pasti akan berhenti," Adrian berdecak heran sekaligus takjub dengan pembuat artikel yang ia baca.


"Apa? Ya ampun, Mas. Tangisku berhenti karena kaget tiba-tiba kau menciumku," mata Ara membola tidak percaya dengan tingkah Adrian yang bahkan mengandalkan artikel di internet untuk menenangkannya.


"Yang penting berhasil. Hatiku sakit melihatmu menangis. Jadi jangan melakukannya lagi," Adrian menyeka jejak jejak buliran bening yang jatuh dipipi sang istri.


Mendadak suasana menjadi melankolis. Ucapan Adrian seperti sebuah siraman es di tubuh Ara. Dingin namun menyejukkan di musim panas seperti ini.


Gadis itu mengerjap, ia tidak sedang mimpi bukan? Apakah perjuangannya sungguh-sungguh berhasil. Karena Adrian terus dan terus saja mengungkapkan cinta padanya, meski hanya dari perhatian-perhatian kecil yang sebenarnya sangat sepele namun juga sangat manis.


Lelaki ini, sungguh bisa membuat dunianya jungkir balik. Bagaimana mungkin dari seorang tawanan kemudian tanpa pacaran langsung berganti status menjadi istri. Takdir benar-benar lucu. Hingga kemudian malah membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya cinta kepada mantan bos yang menjadi suaminya kini.


"Kita sedang serius, Mas,"


"Aku juga serius, Sayang. Aku tidak pernah menyesal dia meninggalkanku. Apalagi sekarang aku memilikimu," tatapan penuh cinta Adrian membuat sang istri tertegun. Bahagia berkali-kali lipat rasanya. "Aku hanya kecewa, sebagai orang yang pernah menjadi suaminya dulu. Tidak lebih,"


Ara menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk Adrian. Dan lelaki itu menyambut dengan melingkarkan lengannya dipinggang sang istri.


"Aku bahagia menjadi bagian dari keluargamu Mas," ucap Ara menahan isaknya. Ia terharu dengan cinta Adrian yang total tanpa ragu padanya. Tanpa perduli akan masa lalu Ara dan yang mereka berdua alami sebelumnya.


"Berhenti menangis atau aku cium lagi?" lelaki itu memberikan ancaman. "Meski sebenarnya, aku lebih senang menciummu," Adrian mendekatkan wajahnya. Meniup lembut wajah sang istri yang merona merah. "Tapi aku tidak suka kau menangis. Jadi boleh kan?"


"Seharusnya Mas mengatakan bolehkah bukan boleh kan,"


"Aku tidak sedang bertanya atau meminta izin, Sayang. Bukankah ini semua milikku?" Adrian mengedikkan dagunya beberapa kali. Menunjuk hampir seluruh bagian tubuh sang istri.


"Ini bukan milikmu, Mas," Ara berkelit, membuat senyum Adrian memudar seketika. "Ini milik.. anak lelaki Mommy Lina," gadis itu menahan tawa, mengejek sang suami yang sudah hampir keluar tanduknya.


"Sayang? Kau tidak akan kulepaskan malam ini," ucap Adrian mengejar sang istri yang langsung masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2