Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 243


__ADS_3

Seorang lelaki berjalan gontai menuju halaman panti asuhan. Dengan mengenakan pakaian kasual, pasti tidak ada yang menduga jika lelaki tampan itu hampir berusia setengah abad. Apalagi beberapa rambut putihnya yang menyembul, membuat kharismanya meningkat beberapa kali lipat. Sangat rupawan.


"Ck! Kenapa Daddy tampan sekali hari ini. Aku tidak akan mengajak Daddy kencan atau makan malam untuk merayakan ulang tahun Daddy. Ini hanya pertemuan keluarga biasa." Dani berdecak sambil mengejek. Ia merasa minder dengan ayahnya sendiri.


"Apa kamu takut kekasihmu akan menyukaiku? Oh ... Tentu saja dia harus menyukai daddy, jika dia benar-benar ingin menjadi bagian dari keluarga kita," sahut Adrian tidak mau kalah.


"Sudah, ayo masuk!" ajak Dani yang sudah berdiri di dekat pintu mobilnya.


Adrian segera masuk di kursi belakang tanpa ia tahu jika Dani tidak mengajak serta Leo untuk menyetir mobilnya.


"Daddy anggap aku sopir? Pindah ke depan! enak saja," sungut Dani yang mengomel tidak jelas kepada ayahnya.


"Mana daddy tahu jika kita cuma berdua. Kau juga tidak kalah tampan dengan daddy, Boy. Kita seperti kembar," celetuk Adrian.


Dani hanya bersedih membalas candaan sang ayah. Mereka memang seperti kembar, hanya usia yang membedakan.


Dani mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Sepanjang perjalanan, Adrian terus saja bertanya kemana tujuan mereka. Dan sang anak selalu saja menjawab 'rahasia', hingga membuat lelaki itu bosan sendiri.


"Daddy suka bunga?" Entah apa yang ingin pemuda itu bahas, mendadak ia bertanya tentang bunga.


"Hemm, itu juga karena...." Adrian membuang tatapan matanya keluar. Ia tidak melanjutkan ucapannya.


"Seseorang yang akan ku kenalkan dengan Daddy juga menyukai bunga. Kalian pasti cocok," ucap Dani yang terfokus di jalanan. Tanpa menyadari jika sang ayah tengah menatapnya karena terkejut.


"Bukankah kau mau mengenalkan daddy dengan kekasihmu? Kenapa daddy merasa malah daddy yang akan kau comblangi," tanya Adrian menyenggol lengan pemuda itu.


"Jangan berburuk sangka dahulu. Sebentar lagi kita sampai," jawab Dani santai.


Adrian terdiam. Dalam hatinya masih menebak-nebak rencana sang anak yang main rahasia dengannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Dari wajahmu aku sudah bisa menebak apa jawaban Ara." Lelaki itu melirik adik sepupunya yang tengah serius menatap ponselnya.


"Kau belum tahu siapa Adrian?" lanjut lelaki itu yang mendekatkan wajahnya pada Ori. Hingga terlihat seperti berbisik.


"Hemm?" Ori yang tidak begitu menanggapi ucapan kakak sepupunya, mendadak tertarik ketika yang disebut adalah nama lelaki yang disebut suami dari wanita yang ia jaga selama ini. "Kakak tidak pernah mengatakannya, memang siapa dia?"


"Pengusaha ternama di Jakarta. Teman baikku dulu dan sekarang." lelaki itu menerawang jauh, seakan-akan mengingat suatu kejadian yang lampau.


"Kenapa harus mengatakan dulu dan sekarang? Katakan saja teman baik, Kak. Terlalu ribet," ketus Ori.


"Karena hubunganku dengannya memang tak selalu baik-baik saja. Hingga kejadian yang melibatkan istriku itu, benar-benar menyadarkanku. Dia selalu membantuku. Meski hubungan kami sempat memburuk. Dan itu karena istrinya. Wanita itu berpengaruh besar pada hidupnya." Lelaki itu menoleh, menatap Ori yang hanya terpaku serius mendengar ceritanya.


"Dia yang menyelamatkan nyawaku. Mungkin kau tidak akan bertemu denganku lagi, jika Adrian tidak datang malam itu," lanjut lelaki yang selalu merasakan perih saat mengingat kejadian menyakitkan itu.


"Jadi karena itu, Kak Toni memintaku menjaganya?"

__ADS_1


Toni mengangguk. "Dia mengenalku meski kami tidak dekat. Jika aku yang melakukannya, sudah bisa dipastikan Ara tidak akan mau menerimanya dan bahkan akan kabur lagi. Hanya itu cara satu-satunya untuk menolongnya."


"Dengan menjaganya?"


"Hemm ... Bukankah kita tidak boleh mencampuri urusan pribadi orang lain? Terlepas dari apapun alasan mereka terpisah," ucap Toni bijak.


"Jadi aku kalah. Bahkan aku mengetahui sendiri apa jawaban Ara tanpa mendengar dari bibirnya langsung. Menyedihkan!" Ori meletakkan ponselnya diatas meja. Kemudian lelaki berprofesi dokter itu mengacak rambutnya frustasi.


"Bukankah kau hanya nyaman dengannya? Seharusnya kau tak sesedih itu. Lagipula bukankah saat kau mengatakan jika kau menyukainya, Ara secara tidak langsung sudah menolakmu?"


"Semua ini salah Kak Toni. Kenapa harus aku yang kau suruh menjaganya, bukan salah satu bodyguard mu saja."


"Lalu kau enak-enakan menikmati uang saku dariku setiap bulan tanpa melakukan apapun untukku begitu? Padahal kau sudah bekerja tapi masih meminta jatah padaku," sengit Toni.


"Kau perhitungan sekali, Kak!" ucap Ori dengan nada tinggi. "Jadi sekarang aku harus mundur dan tidak boleh menemuinya lagi?" Terlihat wajah kecewa Ori.


"Terserah padamu. Sudah kukatakan untuk tidak memaksanya, bukan. Jadi jika dia mengatakan tidak, itu berarti kau harus tahu diri."


"Dia wanita paling dewasa yang pernah ku kenal, meski usianya masih dibawahku. Aku terlanjur nyaman dengannya." Ori menyugar kasar rambutnya. Ia kecewa, kecewa dengan waktu yang lebih dulu mempertemukan suami istri itu dibandingkan dirinya.


Dokter tampan itu tiba-tiba berdiri, kemudian memukul keras lengan kakak sepupunya itu. "Kau penyebab semuanya Kak ... Hahhhhh...." Ori kesal dan menumpahkannya pada Toni.


"Penganiayaan! Kupotong uang sakumu nanti." Toni menahan tangan ori yang hendak memukul lagi.


"Selalu mengancam begitu," ucap Ori dengan kesal. Dokter tampan itu menghabiskan semua minuman yang ada di depannya termasuk milik kakak sepupunya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Ha-Hai...." Ara terbata mengucapkannya. Ia baru saja keluar saat Merra mengatakan jika tamu yang ditunggu Merra sudah datang. Tanpa tahu dan menyadari siapa yang dimaksud gadis kecilnya itu.


Matanya menatap lekat lelaki yang ada di depannya saat ini. Begitu cepat waktu berlalu, dia yang dulu remaja sekarang sudah menjelma menjadi lelaki yang tampan. Setampan ayahnya.


Napas Ara mendadak sesak, dengan jantung yang memompa cepat. Apakah ia bermimpi? Namun tidak, ini nyata.


"Hai, Tante." Pemuda itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Ara. Sedangkan Ara, masih mematung di tempatnya.


Sungguh saat ini ia tidak baik-baik saja. Kenapa ia tidak bisa mencerna ucapan Merra tadi pagi yang mengatakan jika seseorang akan datang ke rumah, dan itu merupakan tamu istimewanya.


Ya, Merra selalu menyebutnya kak Dani, dan Ara tidak pernah menyangka jika Dani yang dimaksud adalah Dani Ilyasa, anak tirinya. Bukankah banyak sekali nama Dani di kota ini. Lagipula bukankah Dani ada di Jakarta bukan di Bandung.


"Ma, Kak Dani ingin berkenalan dengan Mama." Merra yang entah kapan sudah berada disampingnya, memegang lengan sang mama.


"I-iya Sayang." Wajah Ara yang putih semakin pucat, ia terlalu kaget dengan semua ini.


"Boy ... Daddy mau bunga ini. Katakan pada...." Adrian yang datang tiba-tiba dari samping rumah sambil membawa satu pot bunga tercekat ditempatnya.


Belum selesai rasa terkejut yang dialami oleh Ara, ia harus mengalami hal yang serupa lagi.

__ADS_1


Ia limbung melihat seseorang yang berarti dalam hidupnya yang telah lama hilang kini tengah ada di depannya. Dani sampai harus memegangi sang ayah, dengan menumpukan kedua tangannya menyangga tubuh kekar yang hampir jatuh itu.


"Sa-sayang?" Lelaki itu seperti bermimpi. Mendadak semua kenangan antara mereka berputar di kepalanya. "Ini benar kamu?" ucapnya lirih.


Ara tidak bisa menahan diri. Melihat suaminya yang ia rindukan itu berada tidak jauh darinya, membuatnya berkali-kali mengambil napas panjang untuk menenangkan hatinya.


Matanya basah. Sungguh saat ini, ia ingin sekali berlari memeluk lelaki itu. Namun seseorang yang ada di sampingnya membuatnya urung melakukannya.


Merra yang masih berusia 6 tahun tentu belum bisa mencerna peristiwa ini. Ia hanya menatap bingung ketiga orang yang ia kenal namun bertingkah aneh saat bertemu untuk pertama kalinya ini.


"Om mau bunga itu. Mama pasti memberikan diskon jika om yang membelinya," ucap gadis kecil itu polos.


"Ma-ma?" Adrian mengeja ulang panggilan Merra pada Ara.


"Iya, Om. Ini mama Merra, cantik ya," ucap gadis kecil itu cengengesan sambil bergelayut manja di bahu sang mama. "Ma, ini Kak Dani, Dan om ini ayahnya," Merra memperkenalkan mereka.


Tanpa gadis kecil itu tahu jika mereka bertiga sudah saling mengenal.


"Merra, ikut kakak ke Mall ya, sebentar." Dani mengangguk memberi kode pada gadis kecil itu.


"Kenapa ke Mall Kak. Kata kakak tadi, kita makan di rumah saja, tadi mama sudah memasak banyak dan enak-enak untuk kita," pamer Merra.


Ara hanya menunduk. Sementata Adrian menatap rindu istrinya, dan juga Merra. Gadis kecil yang ia rasa pernah ia lihat sebelumnya meski ia lupa dimana. Dan yang mengejutkan, gadis kecil itu telah memanggil Ara mama. Berbagai pertanyaan berputar di kepala Adrian.


"Kakak mau membeli hal lain, temani kakak, ya." pinta Dani yang terlihat akrab dengan Merra. Hingga Ara sampai bingung dengan kedekatan keduanya.


Seingat Ara, mereka hanya bertemu saat di sekolah saja. Karena jika diluar jam sekolah, Ara selalu tahu dan memantaunya.


"Baiklah, Kak. Boleh ya, Ma?" Gadis kecil itu selalu meminta izin sang ibu jika ingin kemanapun. Ara mengangguk.


"Masuklah ke mobil lebih dahulu. Nanti kakak menyusul," titah Dani.


Merra berlari menuju mobil Dani yang terparkir di depan rumah Ara. Dan menunggu sang kakak disana.


"Sepeninggal Tante, Daddy tidak baik-baik saja. Jika Tante berharap daddy bahagia dengan Tante menjauh darinya, Tante salah. Daddy hancur, namun tetap berusaha baik-baik saja di depanku. Karena aku," ucap Dani memecah keheningan dari mereka bertiga.


"Dad, Tante juga tidak pernah menikah dengan orang lain. Semua sudah aku periksa, Merra adalah adikku," ucapan Dani membuat Adrian terperangah.


"Sayang?" Adrian menatap tanya pada sang istri yang masih diam. "Siapa tadi namanya?"


"Merra. Ermerra Safior, Dad. Nama yang cantik bukan? Aku tinggalkan kalian berdua disini, selesaikan urusan kalian." Dani menepuk bahu sang ayah. Kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ingat! Aku tidak ingin kehilangan adikku!" suara Dani masih terdengar karena ia setengah berteriak mengucapkannya.


💞love you😍


Kira-kira Dani menginginkan keduanya kembali atau adiknya saja ya?? 🤔

__ADS_1


__ADS_2