Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
Bab 176 Wanita Berkerudung


__ADS_3

Dua hari berlalu sejak berita meninggalnya Akio. Adrian beraktifitas seperti biasa sedangkan Ara, dia menyibukkan diri untuk belanja kebutuhan rumah serta menghibur dirinya agar tak terlalu berlarut sedih.


Memang benar, kesedihan itu hanya milik orang yang ditinggalkan. Sedangkan yang meninggalkan, mereka sudah bahagia di dunianya yang baru.


Seperti hari ini, wanita itu mengitari Mall sendirian. Alih-alih ada Ardi atau Zen yang menemani, kedua orang itu diusirnya pergi karena ia yang rencananya akan bertemu dengan Mela seusai belanja. Mereka janjian untuk makan bersama.


Setelah keluar dari supermarket dan menitipkan belanjaannya, mata Ara menatap liar sekelilingnya.


Hanya beberapa minggu tidak menginjakkan kaki di gedung megah ini, ternyata banyak sekali store-store baru yang memanjakan mata disini. Ya, semuanya tentang kebutuhan wanita dari ujung rambut sampai untung kaki. Dari semua yang ukurannya besar sampai printilan yang paling kecil.


Memutar sedikit tubuhnya, Ara celingukan. Bukan sedang menunggu atau mencari seseorang, karena janjiannya masih beberapa jam lagi. Ia hanya bingung ke mana dulu ia akan pergi. Karena hampir semuanya ingin ia masuki.


Kemudian tatapan matanya berhenti pada sebuah store aksesoris, yang kesemuanya berwarna pink. Terpaku sejenak, tanpa sadar kaki wanita itu melangkah kesana.


"Selamat datang. Silahkan."


Sapaan penjaga pintu masuk store itu mengagetkan Ara. Ia hanya tersenyum membalas para karyawan dari tempat yang menjual aksesoris itu.


Kembali, pikirannya menuntun kakinya ke suatu sudut. Disana masih ia dapati benda yang sama. Hanya tinggal satu biji. Dan warnanya berbeda dengan apa yang ia miliki.


Mata Ara mengerjap. Mengingat kenangan setahun yang lalu, saat seseorang memintanya untuk memilihkan kado yang katanya untuk teman wanita spesialnya. Dan Ara, wanita itu memilih jepit kupu-kupu karena sedari tiba di tempat itu, benda itulah yang menarik perhatiannya.


Dan pada akhirnya, ia baru menyadari. Jika teman wanita spesial yang dimaksud lelaki itu adalah dirinya.


Ya, lelaki itu adalah Akio. Pengagum rahasia yang terlambat mengungkapkan perasaannya. Dan jepit kupu-kupu itu, masih tersimpan rapi ditempatnya.


Ara tersenyum, melihat benda itu rasanya sudah mewakilkan pertemuan mereka. Suatu hubungan yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun.


Ara menyayangi lelaki itu, namun tidak untuk memberi hatinya. Selamanya, hatinya sudah dimiliki oleh Adrian. Lelaki pertama yang memaksanya bersandiwara sebagai istri, namun malah akhirnya menjadi istri dalam artian sesungguhnya.


"Mbak, saya mau yang itu!" terdengar suara wanita berucap sedikit ketus pada pelayan.


"Sebentar, ya Mbak. Semua pelayan kami sedang melayani pelanggan." ucap pelayan yang berdiri dibagian kasir.


"Kamu kan juga pelayan! Saya buru-buru, ayo cepat layani atau saya tulis dan masukkan ke kotak saran kalau pelayanan kalian lama!"


"Mbak saya bertanggung jawab disini. Kalau kasir saya tinggalkan, siapa yang akan menjaganya?Lagipula Mbak juga harus antri dulu. Silahkan," ucap pelayan itu dengan sopan.


Wanita yang dimaksud nampak menghentak- hentakkan kakinya. Dengan mulut yang masih mengomel, ia menyingkir sambil bersilang tangan diatas dada, menatap satu persatu pelanggan disana.


Ara tak menoleh sedikitpun, ia fokus memilih hiasan rambut yang sedianya akan ia hadiahkan untuk mela. Karena Mela berkabar tadi jika ia sekarang diangkat menjadi asisten manager butik tempatnya bekerja.


Mata wanita yang marah-marah itu menangkap seseorang yang dikenalnya. "Wanita itu? Semua berawal dari dia. Semua kesialan hidupku. Lihat saja nanti." Ia bergegas pergi dan tidak jadi membeli barang yang ia mau tadi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali. Tangannya nampak membawa sesuatu yang ia sembunyikan dibalik tasnya.


"Mbak, saya mau yang ini ya," ucap Ara pada salah satu pelayan yang tidak jauh darinya.


"Dibungkus sekalian, Mbak?"


"Boleh. Jangan lupa kartu ucapannya ya," ucap Ara mengingatkan.


"Silahkan." Pelayan itu menyodorkan secarik kertas seukuran kartu nama bersama pena kepada Ara.


Setelah menerimanya, Ara kemudian menuliskan sesuatu pada secarik kertas itu. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya dari jarak dekat.


Drrrt


Drrttt


"Panjang umur dia," seloroh Ara. "Sudah Mbak, dibungkus yang cantik ya," ucapnya pada pelayan itu, kemudian sambil mengangkat panggilan Mela, Ara berputar melihat-lihat benda lainnya.


"Hai, Mel."


"Hai ... ibu rumah tangga yang sibuk. Ya ampun aku tak sabar menunggu pesanmu. Lama sekali," ucap Mela dari seberang, nada suaranya memgejek sang sahabat.


"Ha ha ha kamu tidak sabaran, ya. Sebentar lagi, Mel."


"Sebentar? Dari tadi sebentar terus. Kamu belanja hanya untuk satu bulan kan bukan satu tahun? Aku sudah tidak sabar menghabiskan gaji pertamaku sebagai asisten manager denganmu Ra." Gadis itu terkekeh kecil.


"Percaya. Adrian pasti sering membelikanmu barang-barang mahal itu. Tapi kalau aku traktir jangan yang mahal-mahal ya, paling tidak sisakan buat makanku sehari-hari sampai akhir bulan," ucap Mela memelas dan setelahnya ia malah tertawa terbahak-bahak.


Ara menepuk jidatnya, meski Mela tidak melihatnya. "Dasar kamu ya! Kata kamu tadi ingin menghabiskannya denganku Mel, kenapa masih perhitungan lagi."


"Ya ampun, Bu Bos. Jangan samakan aku dengan dirimu. Kalau kamu kehabisan uang bisa minta suamimu. Kalau aku bisa gigit jari menunggu sampai gajian lagi. Dan gigit jari itu tidak mengenyangkan Ra."


"Makanya buruan nikah, Mel. Jangan menjadi jomblo abadi. Rugi tahu!"


"Aku sebenarnya juga ingin menikah, Ra. Tapi dengan siapa? Aku tidak memiliki kekasih dan sepertinya tidak ada yang sedang melirikku."


"Kasihan amat kamu, Mel. Eh, tapi sebelum dengan Adrian aku juga tidak memiliki kekasih. Kita sama-sama jomblo kan ya."


"Iya. Kamu memang selalu beruntung, Ra. Eh, bodyguard Adrian cakep-cakep. Boleh satu untukku, Ra?" pinta Mela sambil cengengesan.


"Jangan pesimis. Semua orang selalu beruntung jika pandai mensyukuri, Mel. Hah? Bodyguard. Yakin mau?"


"Iyalah pasti mau. Sepertinya bahagia sekali memiliki suami cakep, kayak kamu Ra."

__ADS_1


"Jadi istri kedua, mau?" Ara mulai usil dengan sahabatnya.


"Tidak mau! Aku tidak mau jadi pelakor, Ra. Memangnya mereka rata- rata sudah berkeluarga, ya?"


"Kasih tahu nggak ya?"


"Ya ampun Ara jahat banget," pekik Mela dari seberang.


"Kalau mereka duda, kamu tetap mau, Mel?"


"Mereka duda? Kenapa majikan dan anak buah duda semuanya."


"Suamiku duda tapi limited edition, Mel."


"Ihh duda di mana-mana ya sama saja. Pakai limited edition segala!" sahut Mela ketus.


"Ha ha ha ...." Ara terpingkal mendengarkan protes Mela. Sampai ia tidak menyadari ada yang mendekatinya dari arah depan. Mereka asyik mengobrol kesana kemari hingga fokus Ara tidak pada orang-orang disekitarnya.


"Hai, kau bahagia sekali nampaknya?" ucap wanita itu bersilang tangan diatas dada dan menghadang Ara.


Ara memperhatikan sosok di depannya itu, yang mengenakan kerudung yang salah satu ujungnya melambai-lambai hingga menutupi sebagian wajahnya. Kemudian matanya tertutup oleh kacamata hitam yang bertengger diatas hidungnya.


"Maaf, siapa ya?"


"Hah? Kau bahkan melupakan saudara dari suamimu sendiri?" Wanita itu semakin mendekat. Memangkas jarak antara mereka.


Dan sayangnya, Ara tidak peka. Ia hanya terpaku dengan pikiran yang masih penasaran siapa sosok dibalik kerudung itu.


"Gara-gara kamu! Adrian jadi pelit dengan kami,"


ucap wanita itu. Ia memperbaiki letak kerudungnya hingga wajah dibaliknya sama sekali tak bisa ditebak.


"Pelit? Aku tidak pernah ikut campur dalam urusan dengan keluarga besarnya. Dan aku juga tidak mempengaruhinya."


"Hah? Kau pikir aku percaya? Sejak kau menjadi menantu dalam keluarga itu, mereka berubah kepada kami. Padahal kau hanya orang lain sebelumnya, dan aku juga tahu kau tidak sepadan dengan keluarga kami."


"Maaf aku tidak mengenalmu, dan aku tidak ingin mencari masalah denganmu. Permisi." Ara berucap pamit. Untuk apa ia berdebat tentang sesuatu yang tidak ia lakukan. Membela diri sampai capek pun wanita yang menuduhnya itu tidak akan percaya.


"Kau! Jangan pergi!" bentak wanita itu. Ia menarik tangan Ara hingga Ara tersentak dan akhirnya hampir jatuh jika ia tidak bisa menguasai diri tadi.


"Kamu?" Kerudung wanita itu tersingkap akibat gerakannya yang cepat menahan Ara. "Lola?" Mata Ara membeliak melihat siapa wanita yang mengganggunya itu.


"Rasakan ini!"

__ADS_1


"Ahhhhhh ...."


Brukkkk!


__ADS_2