Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas
#93


__ADS_3

Satu Bulan kemudian..


"Mas apa Langit masih ada kesempatan untuk sadar, ini udah satu bulan lamanya Langit dengan kondisi kayak gitu Mas."ujar Lana yang terus memandang kondisi putra pertamanya.


"Kita harus yakin sayang kalau Langit bisa sembuh lagi."ujar Kenzo yang tak tau perkataannya bisa jadi kenyataan atau tidak.


"Aku rindu anakku Mas."


"Mas juga sayang."


Sedangkan di ujung lorong rumah sakit,sepasang suami istri itu menjadi perhatian bagi kedua anak nya Fuji dan Lintang.


"Bang kasihan Mama sama Papa nangis terus mikirin kondisi Bang Langit."ujar Fuji pada Lintang Abang kedua nya.


"Kita harus banyak berdoa biar Bang Langit cepat sadar."


"Waaaaa ngapain kalian ngintip di sini."Alexa yang baru saja datang melihat kedua adiknya hanya berdiri di lorong rumah sakit jadi terlitas lah untuk mengerjai kedua adik kesayangannya ini.


"ASTAGA KAKAK INI NGANGETIN AJA SIH, KALAU AKU JANTUNGAN GIMANA KAKAK MAU TANGGUNG JAWAB."ujar Fuji yang kaget setengah mati dengan teriakan Kakaknya.


"Hahahahah ya kalian ngapain di sini kayak detektif aja."


"Aku sama Bang Lintang lagi liat Mama sama Papa kasian Kak, tiap hari Mama nangis liat kondisi Bang Langit yang belum ada perkembangan. Kan kasian dedek bayi dalam perut Mama pasti ikutan sedih juga."


Lexa langsung mengalihkan pandangan dan benar saja kalau Abang dan juga istrinya masih setia berdiri di depan ruang rawat Langit hampir setiap hari.


*Kamu liat Dek banyak orang yang berharap kamu cepat sadar, kasian Mama sama Papa kamu sedih terus liat kondisi kamu.*batin Lexa.


"Kalau nggak gini aja bentar lagi kan ulang tahun Mama gimana kalau kita bikin surprise aja mau nggak."ujar Lexa.


"Apa nggak terlalu cepat Kak, Bang Langit aja belum sadar pasti nanti Mama nangis lagi inget Bang Lang yang belum sadar juga."


"Kita berdoa agar Langit cepat sadar, biar bisa rayain ulang tahun Mama sama-sama."


Hari semakin larut dan sekarang sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Lana di kagetkan dengan para Dokter dan Suster yang berlarian ke ruang rawat putranya.


Lana yang panik langsung menuju ke kamar Putranya, hal yang pertama Lana lihat adalah anak nya di periksa secara signifikan oleh Dokter. Hingga akhirnya semua alat yang ada di tubuh anak di cabut, Lana melihat raut wajah Dokter itu sedih sambil menggeleng pada rekan kerja nya yang membantu memeriksa kondisi putra pertama orang paling terkenal di dunia ini.


Melihat reaksi para Dokter dan Suster itu, Lana langsung panik bukan main karna ini menyangkut kondisi Putra nya.


Namun sesat kemudian, Lana mendengar suara serat anak kecil memanggil namanya.


"Ma-ma."


Deg

__ADS_1


"Oh Tuhan ini suara Putra ku, apa dia sudah sadar, jangan ambil dia dari sisi ku Tuhan ku mohon."ujar Lana.


"Sayang kamu di sini, Mas udah nyariin kamu dari tadi."


"Mas, kok alat di tubuh Langit di cabut semua Mas. Langit nggak akan pergi ninggalin kita kan Mas hiks,."


"Kita tunggu ya sayang penjelasan dari Dokter dulu, inget sayang kamu lagi hamil kamu nggak boleh stress sayang."


"Tapi ini menyangkut anakku Mas, gimana aku bisa tenang."


"Kita tunggu penjelasan dari Dokter ya."


Kenzo langsung memeluk istrinya untuk menenangkan agar sedikit mengurangi stress istrinya.


"Dok, kenapa semua alat di tubuh anak saya di cabut Dok."ujar Kenzo pada Dokter setelah keluar dari ruang rawat putranya.


"Maaf Tuan, Nyonya, putra kalian telah meninggal dunia karna terjadi komplikasi di otaknya. Kami para perawat di sini turut berduka cita atas meninggalnya Putra Tuan dan Nyonya."


Penjelasan Dokter itu membuat Lana berhenti bernafas sebentar dan sesaat kemudian jatuh pingsan, untuk Kenzo langsung sigap menangkap tubuh istrinya.


"Anda jangan becanda ya Dok."ujar Kenzo.


"Kami serius Tuan."


Tanpa berkata lagi, Kenzo langsung membawa istrinya ke ruangan tempat dia dan istrinya istirahat selama berada di rumah sakit.


"Mama pingsan Nak."


"Pingsan kenapa Bang, kok bisa."ujar Lexa yang merasa heran kenapa Mama nya bisa pingsan.


"Mu-mungkin kelelahan jagain Langit."ujar Kenzo berbohong.


"Jangan berbohong Pah, kau tak ahlinya."ujar Lintang.


"Nanti kalian juga tau sendiri."ujar Kenzo yang tak berani mengatakannya sekarang pada anak-anak nya.


"Apa ini ada sangkut pautnya dengan kondisi Langit."tebak Lexa yang tepat sasaran.


Kenzo hanya diam saja mendengar jawaban adiknya itu, karna itu memang benar adanya.


"Jawab Bang."


"I-iya."


"Bang Langit kenapa Pah."ujar Lintang yang langsung khawatir dengan kondisi Abangnya itu.

__ADS_1


"Langit, Langit udah pergi ninggalin kita semua."


Deg


Semua orang yang ada di sana terkejut bukan main mendengar ucapan Kenzo.


"Heh ini nggak lucu Bang, jangan coba membohongi kami."ujar Lexa.


"Ken."panggil seseorang memanggil Kenzo dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Gimana kondisi Langit, gue dapat kabar kalau dia udah me.."


"Iya."


"Apa."


"Tolong urus semuanya Mike, gue harus jagain Lana."


"Lo yang sabar ya."


"Gue Ayah yang nggak becus, jagain anak aja nggak bisa apalagi jagain diri gue sendiri."ujar Kenzo.


"Ini takdir bro."


"Huwaa jadi bener Bang Langit pergi ninggalin Fuji.. huwaa Bang Langit jahat katanya mau jagain Fuji sampai Fuji dewasa nanti. Hiks Om Mike boleh bawa Fuji ketemu sama Bang Langit."ujar Fuji yang tak kuasa menahan tangisnya kalau ini semua kenyataan.


"Lintang juga Om."


"Aku juga Bang."


"Ya sudah kalau gitu ayo ikut Om, biarin Papa sama Mama kalian di sini dulu."


*Ya Tuhan kenapa secepat ini kalian ambil Langit dari kami.*batin Lexa.


Tiba lah mereka di depan ruang rawat langit dan benar saja semua alat di tubuh Langit sudah di lepaskan. Tubuh mungil itu di tutupi kain putih sampai kepala.


"Ini pasti mimpi kan Bang."ujar Lexa yang masih tak percaya melihat ini semua.


"Ini nyata Lexa, Langit udah pergi ninggalin kita semua."


"Nggak mungkin ini pasti prank kan, Langit anak yang kuat Bang hiks, nggak mungkin dia pergi secepat ini hikss. Aku belum siap kehilangan Langit Bang hikss."tangis Lexa akhirnya pecah melihat tubuh adiknya yang sudah di tutupi kain.


Sedangkan Fuji dan Lintang hanya diam seperti patung melihat tubuh Abangnya yang di tutupi kain, rasanya baru kemarin mereka bermain bersama, tertawa bersama dan sekarang semua itu hanya tinggal kenangan saja.


Langit sudah pergi jauh dari mereka, tempat yang tak bisa mereka gapai dengan cara apa pun kecuali kematian.

__ADS_1


*Bang Fuji mohon kembalilah, Fuji masih butuh Abang.*batin Fuji.


__ADS_2